Hp-ku berbunyi sore ini....
Tata: Jarum panjang di angka berapa waktu Mama pulang nanti?
Aku : Di angka 12 dan jarum pendek di angka 11.
Tata: Itu berarti sudah malam sekali?
Aku : Ha a.
Tata: Nanti pas Magrib Mama pulang sebentar?
Aku: Belum tau Ta, lihat pekerjaannya dulu, banyak atau sedikit.
Tata: Pulang ajalah Ma....
Aku: Kan ada kakak dan papa di rumah?
Tata: Iya, tapi Mama pulang ajalah...
Aku: Kenapa?
Tata: Tata suka lihat muka Mama tu... Mama bulek padek.
Aku: Hahaha.....
Jumat, 11 November 2011
Minggu, 06 November 2011
Duduk di Belakang
Suatu hari...
Ibu guru Tata: Mama, si Tata ini suka bicara sama temannya saat belajar, jadi saya pindahkan dia ke belakang.
Aku : Oh, maaf Bu... Nanti saya bilang padanya supaya tidak bicara saat belajar.
Keesokan harinya...
Aku cerah ceria menjemput dia pulang sekolah.
Aku : Halo Tata.... Gimana sekolahnya tadi Nak?
Tata : Biasa aja (ogah-ogahan)
Aku : Tadi dipindahkan lagi ke belakang?
Tata : Tidak
Aku : Oh, syukurlah... (lega)
Tata : Tapi Tata disuruh duduk di depan, di samping Ibu Guru, supaya nggak ngomong lagi...
Aku : Tata... hiks hiks... (lemass...)
Kamis, 03 November 2011
Komisi X DPR RI: Panitia PON Lebih Siap Ketimbang Panitia Sea Games
Anggota Komisi X DPR RI Dedi Gumelar, Kamis (20/10), menilai Panitia PON di Riau lebih siap ketimbang panitia Sea Games yang akan digelar di Sumatera Selatan.
Hal itu diungkapan Dedi Gumelar kepada wartawan Vokal sesaat sebelum menggelar pertemuan dengan Gubernur Riau dan panitia PON ke-18. Rombongan Pokja PON Komisi X yang dipimpin Utut Adianto ini sebelumnya telah meninjau beberapa venus PON di Rumbai, termasuk main stadion di Panam.
“Saya mengapresiasi panitia dan menurut saya Riau lebih siap ketimbang Sumatera Selatan sebagai tuan rumah Sea Games. Riau telah menyiapkan venus-venus ini dengan baik, bahkan di Jakarta saja tidak ada stadion sebagus Main Stadion yang dibangun Riau. Yang ada sekarang itu kan peninggalan jaman Soekarno,” kata Dedi.
Hal senada disampaikan Eko Purnomo, anggota Banggar DPR RI yang ikut dalam rombongan ini. Menurutnya venus yang dilihatkan ternyata lebih bagus dibandingkan gambar-gambar yang dilihatnya selama ini.
Namun ia juga memberi saran agar Pemprov Riau mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti air yang kuning atau listrik yang tidak memadai, sehingga mengganggu jalannya pertandingan.
“Jangan sampai sepulang dari Riau para atlet itu gatal-gatal,” kata Eko.
Menjawab itu, Gubri sambil tertawa sempat berkelakar bahwa air kuning itu karena pengaruh cahaya lampu. Namun secara serius kemudian ia menerangkan, Riau telah mengantisipasi masalah ini dengan menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Denmark untuk menghasilkan air bersih. Sementara masalah listrik juga telah diantisipasi dengan membangun pembangkit listrik 420 megawatt di Pekanbaru dan Dumai.
Gubri juga memaparkan tentang venus-venus yang telah disiapkan Riau untuk cabang-cabang olah raga yang akan dipertandingkan nanti. Hampir semua venus telah siap di atas 50 persen, bahkan ada yang sudah siap 100 persen.
Meskipun demikian, Gubri mengatakan panitia PON masih kekurangan dana sebesar Rp306 miliar untuk penyelenggaraan. Diharapkan Komisi X DPR RI dapat mengakomodir hal ini sehingga dana itu dapat dianggarkan di APBN 2012.
Sementara itu Ketua Tim Komisi X DPR RI Utut Adianto mengatakan, komisi ini membentuk kelompok kerja (pokja) PON baru pekan lalu. Pokja ini dibuat bukan untuk mengkritisi, sebaliknya mencarikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang mungkin ditemukan panitia PON. Pihaknya akan mendukung Riau untuk mendapatkan dana Rp306 miliar dari APBN untuk penyelenggaraan PON ke-18 pada September 2012 mendatang.
Terkait apresiasi Komisi X atas keberhasilan Riau mempersiapkan diri menghadapi iven besar itu, Gubri mengatakan, “Kita tidak boleh terlena dengan pujian itu. Masih banyak yang harus dikerjakan. Kita jadikan itu spirit untuk meningkatkan pembangunan Riau ke depan.”
Dalam pertemuan ini terlihat hadir Wakil Gubenur Riau HR Mambang Mit, Ketua Harian PB PON Syamsurizal, serta pihak-pihak terkait lainnya. Pertemuan yang direncanakan digelar pukul 9.30 itu, molor hingga pukul 11.45. Bahkan lokasinya dari Ruang Melati di lantai tiga kantor gubernur dipindahkan ke Ruang Pertemuan Gubernur di lantai delapan Gedung Sembilan Lantai. ***
Hal itu diungkapan Dedi Gumelar kepada wartawan Vokal sesaat sebelum menggelar pertemuan dengan Gubernur Riau dan panitia PON ke-18. Rombongan Pokja PON Komisi X yang dipimpin Utut Adianto ini sebelumnya telah meninjau beberapa venus PON di Rumbai, termasuk main stadion di Panam.
“Saya mengapresiasi panitia dan menurut saya Riau lebih siap ketimbang Sumatera Selatan sebagai tuan rumah Sea Games. Riau telah menyiapkan venus-venus ini dengan baik, bahkan di Jakarta saja tidak ada stadion sebagus Main Stadion yang dibangun Riau. Yang ada sekarang itu kan peninggalan jaman Soekarno,” kata Dedi.
Hal senada disampaikan Eko Purnomo, anggota Banggar DPR RI yang ikut dalam rombongan ini. Menurutnya venus yang dilihatkan ternyata lebih bagus dibandingkan gambar-gambar yang dilihatnya selama ini.
Namun ia juga memberi saran agar Pemprov Riau mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti air yang kuning atau listrik yang tidak memadai, sehingga mengganggu jalannya pertandingan.
“Jangan sampai sepulang dari Riau para atlet itu gatal-gatal,” kata Eko.
Menjawab itu, Gubri sambil tertawa sempat berkelakar bahwa air kuning itu karena pengaruh cahaya lampu. Namun secara serius kemudian ia menerangkan, Riau telah mengantisipasi masalah ini dengan menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Denmark untuk menghasilkan air bersih. Sementara masalah listrik juga telah diantisipasi dengan membangun pembangkit listrik 420 megawatt di Pekanbaru dan Dumai.
Gubri juga memaparkan tentang venus-venus yang telah disiapkan Riau untuk cabang-cabang olah raga yang akan dipertandingkan nanti. Hampir semua venus telah siap di atas 50 persen, bahkan ada yang sudah siap 100 persen.
Meskipun demikian, Gubri mengatakan panitia PON masih kekurangan dana sebesar Rp306 miliar untuk penyelenggaraan. Diharapkan Komisi X DPR RI dapat mengakomodir hal ini sehingga dana itu dapat dianggarkan di APBN 2012.
Sementara itu Ketua Tim Komisi X DPR RI Utut Adianto mengatakan, komisi ini membentuk kelompok kerja (pokja) PON baru pekan lalu. Pokja ini dibuat bukan untuk mengkritisi, sebaliknya mencarikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang mungkin ditemukan panitia PON. Pihaknya akan mendukung Riau untuk mendapatkan dana Rp306 miliar dari APBN untuk penyelenggaraan PON ke-18 pada September 2012 mendatang.
Terkait apresiasi Komisi X atas keberhasilan Riau mempersiapkan diri menghadapi iven besar itu, Gubri mengatakan, “Kita tidak boleh terlena dengan pujian itu. Masih banyak yang harus dikerjakan. Kita jadikan itu spirit untuk meningkatkan pembangunan Riau ke depan.”
Dalam pertemuan ini terlihat hadir Wakil Gubenur Riau HR Mambang Mit, Ketua Harian PB PON Syamsurizal, serta pihak-pihak terkait lainnya. Pertemuan yang direncanakan digelar pukul 9.30 itu, molor hingga pukul 11.45. Bahkan lokasinya dari Ruang Melati di lantai tiga kantor gubernur dipindahkan ke Ruang Pertemuan Gubernur di lantai delapan Gedung Sembilan Lantai. ***
Dapat Innova dari BRI, Karmilah Menangis
Karmilah (43), nasabah BRI Pangkalankerinci, menangis haru saat satu unit Kijang Innova warna hitam yang masih mulus, diserahkan kepadanya oleh Pimpinan Cabang BRI Pekanbaru Wiguno Aridarto, Senin (17/10/11) siang.
"Terima kasih ya Allah...." katanya terisak, saat petugas sekuriti BRI memarkirkan mobil itu di depan teras bank itu. Karmilah langsung memeluk mobil itu dengan kedua tangannya.
Karmilah merupakan satu dari sekian banyak nasabah BRI yang beruntung mendapatkan hadiah dalam penarikan Undian Simpedes BRI Periode I 2011 yang dilangsungkan pada Sabtu (18/9) silam di Bandar Seikijang. Ia berhasil mendapatkan hadiah utama berupa satu unit mobil Kijang Innova. Ia mengaku gemetaran saat diberitahu oleh Ketua KUD tempatnya bergabung, bahwa dirinya mendapatkan mobil. Kiranya itulah makna mimpi yang dialaminya beberapa hari sebelumnya.
"Saya mimpi menggendong anak di punggung saya. Berat sekali rasanya," katanya saat berbincang-bincang dengan wartawan Vokal.
Karmilah didampingi suaminya Kardiman dan beberapa kerabat, datang dari Pangkalankerinci ke Pekanbaru kemarin pagi. Hingga sore saat penyerahan hadiah, ia masih tak percaya dan deg-degan. Ia belum tahu hadiah itu akan diapakannya, karena ia dan suaminya yang berprofesi sebagai petani, sama-sama tidak bisa menyetir mobil.
"Belum tau mau diapakan, mungkin disimpan dulu, karena anak-anak saya sebentar lagi akan besar," kata ibu tiga anak ini.
Karmilah menjadi nasabah BRI sejak 2004 silam. Sepanjang kurun itu, ia menabung dan menarik dananya dari BRI untuk berbagai keperluan. "Kalau ada duit sisa, disimpan, kalau perlu, nanti diambil lagi. Ya gitu aja," katanya.
Pernah sekali ia meminjam dana untuk membeli tanah di BRI. Namun karena tanah itu tak sempat diurus, kemudian dijual lagi. "Duitnya disimpan lagi di BRI," terusnya.
Kepala Cabang BRI Pekanbaru Wiguno Aridarto, mengucapkan selamat kepada Karmilah dan suaminya yang mendapatkan hadiah utama itu. Dikatakannya, hadiah itu merupakan bentuk apresiasi BRI kepada para nasabahnya.
Harapannya, ke depan akan semakin banyak orang yang menabung di BRI. Apalagi banyak fasilitas yang disediakan bank pribumi ini untuk kelancaran transaksi para nasabahnya.
Penarikan Undian Simpedes BRI periode II 2011 akan digelar beberapa bulan mendatang. Hingga saat ini, belum ditentukan daerah mana yang akan menjadi tuan rumah. Setiap tahun, penarikan undian ini memang digelar di lokasi yang berbeda-beda, untuk lebih mendekatkan bank ini dengan para pelanggannya.
"Terima kasih ya Allah...." katanya terisak, saat petugas sekuriti BRI memarkirkan mobil itu di depan teras bank itu. Karmilah langsung memeluk mobil itu dengan kedua tangannya.
Karmilah merupakan satu dari sekian banyak nasabah BRI yang beruntung mendapatkan hadiah dalam penarikan Undian Simpedes BRI Periode I 2011 yang dilangsungkan pada Sabtu (18/9) silam di Bandar Seikijang. Ia berhasil mendapatkan hadiah utama berupa satu unit mobil Kijang Innova. Ia mengaku gemetaran saat diberitahu oleh Ketua KUD tempatnya bergabung, bahwa dirinya mendapatkan mobil. Kiranya itulah makna mimpi yang dialaminya beberapa hari sebelumnya.
"Saya mimpi menggendong anak di punggung saya. Berat sekali rasanya," katanya saat berbincang-bincang dengan wartawan Vokal.
Karmilah didampingi suaminya Kardiman dan beberapa kerabat, datang dari Pangkalankerinci ke Pekanbaru kemarin pagi. Hingga sore saat penyerahan hadiah, ia masih tak percaya dan deg-degan. Ia belum tahu hadiah itu akan diapakannya, karena ia dan suaminya yang berprofesi sebagai petani, sama-sama tidak bisa menyetir mobil.
"Belum tau mau diapakan, mungkin disimpan dulu, karena anak-anak saya sebentar lagi akan besar," kata ibu tiga anak ini.
Karmilah menjadi nasabah BRI sejak 2004 silam. Sepanjang kurun itu, ia menabung dan menarik dananya dari BRI untuk berbagai keperluan. "Kalau ada duit sisa, disimpan, kalau perlu, nanti diambil lagi. Ya gitu aja," katanya.
Pernah sekali ia meminjam dana untuk membeli tanah di BRI. Namun karena tanah itu tak sempat diurus, kemudian dijual lagi. "Duitnya disimpan lagi di BRI," terusnya.
Kepala Cabang BRI Pekanbaru Wiguno Aridarto, mengucapkan selamat kepada Karmilah dan suaminya yang mendapatkan hadiah utama itu. Dikatakannya, hadiah itu merupakan bentuk apresiasi BRI kepada para nasabahnya.
Harapannya, ke depan akan semakin banyak orang yang menabung di BRI. Apalagi banyak fasilitas yang disediakan bank pribumi ini untuk kelancaran transaksi para nasabahnya.
Penarikan Undian Simpedes BRI periode II 2011 akan digelar beberapa bulan mendatang. Hingga saat ini, belum ditentukan daerah mana yang akan menjadi tuan rumah. Setiap tahun, penarikan undian ini memang digelar di lokasi yang berbeda-beda, untuk lebih mendekatkan bank ini dengan para pelanggannya.
Wakil Gubernur Riau Ingatkan Pengawas Internal tak Buka Perut Sendiri
Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit, mengingatkan pengawas internal untuk tidak mempublikasikan temuan-temuan yang diduga merupakan penyimpangan penggunaan dana APBD.
"Apapun hasil temuan pengawas internal, tidak boleh dipublikasikan. Itu sama saja dengan membuka perut sendiri. Tugas pengawas internal itu menurut saya bukan mencari-cari kesalahan orang, tapi membenarkan apa yang tidak benar," katanya, Kamis (3/11/11), saat membuka secara resmi rapat koordinasi pengawasan daerah yang digelar Inspektorat Riau, di Hotel Pangeran, Pekanbaru.
Sebaliknya, pengawas internal harus bisa melihat apa yang terjadi di balik itu semua. Dikatakannya, pengawas internal harus sudah berperan sejak penyusunan APBD, agar dapat berjalan sesuai dengan peruntukannya.
Sementara itu Kepala Inspektorat Wilayah II Kemendagri Sutiyono, mengatakan, bila temuan-temuan penyimpangan itu sudah masuk ke BPK, maka ia akan dapat diakses oleh berbagai pihak. Menghindari munculnya lagi temuan-temuan itu, BPK Perwakilan Riau melakukan penajaman pengawasan, baik di tingkat provinsi, kabupaten, hingga lurah.
Sutiyono juga mengatakan, terhadap temuan-temuan yang tidak dapat ditindaklanjuti, maka akan dilakukan langkah-langkah seperti meminta pertanggungjawaban wakil gubernur di tingkat provinsi atau wakil bupati di tingkat kabupaten. Pimpinan satker terkait juga wajib untuk menindaklanjuti temuan itu selama 60 hari kerja.
"Atau dikenakan sanksi disiplin PNS," terusnya.
Sindir Syamsurizal
Mambang Mit dalam kesempatan itu juga mengatakan bahwa saat ini perlu perubahan paradigma pengawasan, sehingga kelak tidak ditemukan lagi hal-hal yang berindikasi negatif dalam penggunaan anggaran.
"Ini saya baca apa yang ditulis Kepala Inspektorat aja. Jadi banyak istilah teknisnya," katanya. Ia sempat pula menyindir tentang Kepala Inspektorat Syamsurizal yang terlalu banyak merangkap jabatan, sehingga tidak hadir di acara yang digelarnya sendiri.
Ia juga mengatakan bahwa Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang diberikan BPK seharusnya bukanlah tujuan akhir aparat menjalankan roda pemerintahan. "Yang penting dapat dipertanggungjawabkan," terusnya.
Mambang menilai saat ini ada gejala orang takut melakukan sesuatu dan hanya mengejar WTP, sehingga anggaran tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Kalau sudah begini, menurut Mambang, yang rugi pemerintah dan masyarakat.
Masih di BPK
Sementara itu Sekretaris Inspektorat H Dahlius, mengatakan, hingga saat ini tindak lanjut temuan BPK di beberapa satker masih berada di BPK. "Belum sampai ke Inspektorat," katanya.
Namun saat didesak, ia mengatakan, hingga saat ini sudah ada yang menyelesaikan tindak lanjut temuan itu, yaitu Biro Umum Setdaprov Riau. Sementara Setdaprov Riau secara keseluruhan belum tuntas. Demikian pula dengan Sekretariat DPRD Riau.
Sekdaprov Riau H Wan Syamsir Yus, akhir pekan lalu juga mengatakan bahwa temuan di Setwan masih separuhnya yang ditindaklanjuti.
"Apapun hasil temuan pengawas internal, tidak boleh dipublikasikan. Itu sama saja dengan membuka perut sendiri. Tugas pengawas internal itu menurut saya bukan mencari-cari kesalahan orang, tapi membenarkan apa yang tidak benar," katanya, Kamis (3/11/11), saat membuka secara resmi rapat koordinasi pengawasan daerah yang digelar Inspektorat Riau, di Hotel Pangeran, Pekanbaru.
Sebaliknya, pengawas internal harus bisa melihat apa yang terjadi di balik itu semua. Dikatakannya, pengawas internal harus sudah berperan sejak penyusunan APBD, agar dapat berjalan sesuai dengan peruntukannya.
Sementara itu Kepala Inspektorat Wilayah II Kemendagri Sutiyono, mengatakan, bila temuan-temuan penyimpangan itu sudah masuk ke BPK, maka ia akan dapat diakses oleh berbagai pihak. Menghindari munculnya lagi temuan-temuan itu, BPK Perwakilan Riau melakukan penajaman pengawasan, baik di tingkat provinsi, kabupaten, hingga lurah.
Sutiyono juga mengatakan, terhadap temuan-temuan yang tidak dapat ditindaklanjuti, maka akan dilakukan langkah-langkah seperti meminta pertanggungjawaban wakil gubernur di tingkat provinsi atau wakil bupati di tingkat kabupaten. Pimpinan satker terkait juga wajib untuk menindaklanjuti temuan itu selama 60 hari kerja.
"Atau dikenakan sanksi disiplin PNS," terusnya.
Sindir Syamsurizal
Mambang Mit dalam kesempatan itu juga mengatakan bahwa saat ini perlu perubahan paradigma pengawasan, sehingga kelak tidak ditemukan lagi hal-hal yang berindikasi negatif dalam penggunaan anggaran.
"Ini saya baca apa yang ditulis Kepala Inspektorat aja. Jadi banyak istilah teknisnya," katanya. Ia sempat pula menyindir tentang Kepala Inspektorat Syamsurizal yang terlalu banyak merangkap jabatan, sehingga tidak hadir di acara yang digelarnya sendiri.
Ia juga mengatakan bahwa Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang diberikan BPK seharusnya bukanlah tujuan akhir aparat menjalankan roda pemerintahan. "Yang penting dapat dipertanggungjawabkan," terusnya.
Mambang menilai saat ini ada gejala orang takut melakukan sesuatu dan hanya mengejar WTP, sehingga anggaran tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Kalau sudah begini, menurut Mambang, yang rugi pemerintah dan masyarakat.
Masih di BPK
Sementara itu Sekretaris Inspektorat H Dahlius, mengatakan, hingga saat ini tindak lanjut temuan BPK di beberapa satker masih berada di BPK. "Belum sampai ke Inspektorat," katanya.
Namun saat didesak, ia mengatakan, hingga saat ini sudah ada yang menyelesaikan tindak lanjut temuan itu, yaitu Biro Umum Setdaprov Riau. Sementara Setdaprov Riau secara keseluruhan belum tuntas. Demikian pula dengan Sekretariat DPRD Riau.
Sekdaprov Riau H Wan Syamsir Yus, akhir pekan lalu juga mengatakan bahwa temuan di Setwan masih separuhnya yang ditindaklanjuti.
Anger Management
Suatu hari, sepulang dari menjemput si Tata dari sekolahnya di SD Muhammadiyah 2, Jalan KH Ahmad Dahlan, aku menemukan bahwa semua pensil yang tadi pagi aku raut hingga seruncing jarum, sudah patah semua. Tentulah awak jadi heran. Apa pasal nih?
Aku: Tata, ini kenapa kok pensil Tata patah semua? (sambil mikir, jangan-jangan kami telah membeli pensil kualitas buruk. Maklumnya, belinya di toko serba Rp5.000).
Tata: Begini Ma... Hm... jadi kalau Tata marah sama teman Tata si Nana atau sama Ibuk Guru, Tata patahkan pensilnya.
Aku: Astaga!
Aku: Tata, ini kenapa kok pensil Tata patah semua? (sambil mikir, jangan-jangan kami telah membeli pensil kualitas buruk. Maklumnya, belinya di toko serba Rp5.000).
Tata: Begini Ma... Hm... jadi kalau Tata marah sama teman Tata si Nana atau sama Ibuk Guru, Tata patahkan pensilnya.
Aku: Astaga!
Anak Buruh Bangunan Dapat Beasiswa Penuh dari Yayasan PCR dan BSM Pekanbaru
Ikhwanul Suenta berdiri paling kanan.
Namanya Ikhwanul Suenta, putra seorang buruh bangunan, eks siswa SMAN 9 Pekanbaru. Ikhwan, demikian ia biasa dipanggil, tampil sebagai pemuncak dalam raihan IPK selama masa matrikulasi sebagai calon penerima beasiswa penuh dari Yayasan Politeknik Chevron Riau bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri Cabang Pekanbaru. Ya, Ikhwan berhasil mendapatkan IPK 4,00. Angka sempurna.
Sosoknya terlihat bersahaja, tenang, namun cerdas. Ia tampil sebagai pemuncak dari sembilan penerima beasiswa YPCR dan BSM. Pihak PCR mengatakan, selama enam minggu masa matrikulasi, Ikhwan dapat menyelesaikan tugas yang tidak dapat dikerjakan oleh mahasiswa lain.
Siapakah dia? Begini kisah hidup Ikhwan. Ayahnya Suparmansyah, meninggal pada Maret 2011 lalu karena kanker paru-paru, sebulan sebelum Ujian Nasional digelar. Tentulah ini ujian yang berat bagi seorang anak yang sedang beranjak dewasa. Satu penopang seolah patah, dengan kepergian sang ayah tercinta.
Kini ia tinggal dengan sang ibu, seorang guru di SMP Kalam Kudus dan adik perempuannya Galuh (13), di Jalan Teratai Gang Gunga Nomor 8 Pekanbaru. Sejak lama ia memang ingin sekolah di jurusan teknik. Alasannya sederhana, begitu tamat, kemungkinan mendapatkan pekerjaan lebih besar.
Dipilihnya PCR karena memang PCR bagus menurutnya. Namun ia sempat pesimis bisa masuk, karena terkendala biaya. Apalagi kalau mengingat kondisi ekonomi keluarganya. Untunglah kemudian ia melihat ada pengumuman di facebook tentang penerimaan mahasiswa baru PCR dan beasiswa dari BSM.
"Saat saya katakan pada Mama, Beliau mendukung saya 100 persen. Maka saya lengkapi persyaratannya dan mengikuti tes," katanya.
Alhamdulillah, Ikhwan diterima di sini. "Saya pikir, ini jalan terbaik dari Tuhan untuk saya. Ini waktu yang sangat tepat. Ketika Papa sudah tidak ada, saya dapat beasiswa penuh," terusnya.
Hingga saat ini, Ikhwan masih tinggal dengan ibunya. Setiap pagi, ia mengantarkan ibunya ke SMP Kalam Kudus untuk mengajar, lalu pergi ke kampusnya di Rumbai. "Mama tidak bisa bawa motor. Jadi saya yang bertugas mengantarkan Mama ke sekolahnya setiap pagi, sebelum berangkat ke kampus," katanya.
Saat ditanya apa cita-citanya, dimana ia ingin bekerja setelah tamat nanti, Ikhwan mengatakan, "Dimana saja tidak masalah. Di dalam negeri atau di luar, tidak apa-apa. Pokoknya, empat tahun lagi, saat Mama pensiun dan saya lulus, saya ingin Mama istirahat di rumah, biar saya yang kerja," katanya tegas.
Suaranya penuh percaya diri. Ada tekad kuat yang memancar dari nada bicaranya. Melihat apa yang sudah dicapainya saat ini, rasanya cita-cita mulia Ikhwan akan diraihnya.
Ikhwan juga menceritakan pengalamannya mengikuti matrikulasi selama satu semester (6 minggu) di PCR. "Sempat kaget. Dulu di SMA, sistem belajarnya keras, ternyata sampai di sini, lebih keras lagi. Tugas dari dosen cukup banyak. Kami sering tidur larut malam agar dapat menyelesaikan tugas," katanya.
Kamis (3/11/11), Ikhwan bersama delapan rekannya yang lain dari berbagai daerah di Riau, menerima beasiswa dari BSM. Beasiswa itu mencakup seluruh biaya kuliah selama masa pendidikannya. Syaratnya, IPK mereka harus di atas 3,00. Bila kurang dari itu, maka beasiswa akan diputus sementara waktu.***
Namanya Ikhwanul Suenta, putra seorang buruh bangunan, eks siswa SMAN 9 Pekanbaru. Ikhwan, demikian ia biasa dipanggil, tampil sebagai pemuncak dalam raihan IPK selama masa matrikulasi sebagai calon penerima beasiswa penuh dari Yayasan Politeknik Chevron Riau bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri Cabang Pekanbaru. Ya, Ikhwan berhasil mendapatkan IPK 4,00. Angka sempurna.
Sosoknya terlihat bersahaja, tenang, namun cerdas. Ia tampil sebagai pemuncak dari sembilan penerima beasiswa YPCR dan BSM. Pihak PCR mengatakan, selama enam minggu masa matrikulasi, Ikhwan dapat menyelesaikan tugas yang tidak dapat dikerjakan oleh mahasiswa lain.
Siapakah dia? Begini kisah hidup Ikhwan. Ayahnya Suparmansyah, meninggal pada Maret 2011 lalu karena kanker paru-paru, sebulan sebelum Ujian Nasional digelar. Tentulah ini ujian yang berat bagi seorang anak yang sedang beranjak dewasa. Satu penopang seolah patah, dengan kepergian sang ayah tercinta.
Kini ia tinggal dengan sang ibu, seorang guru di SMP Kalam Kudus dan adik perempuannya Galuh (13), di Jalan Teratai Gang Gunga Nomor 8 Pekanbaru. Sejak lama ia memang ingin sekolah di jurusan teknik. Alasannya sederhana, begitu tamat, kemungkinan mendapatkan pekerjaan lebih besar.
Dipilihnya PCR karena memang PCR bagus menurutnya. Namun ia sempat pesimis bisa masuk, karena terkendala biaya. Apalagi kalau mengingat kondisi ekonomi keluarganya. Untunglah kemudian ia melihat ada pengumuman di facebook tentang penerimaan mahasiswa baru PCR dan beasiswa dari BSM.
"Saat saya katakan pada Mama, Beliau mendukung saya 100 persen. Maka saya lengkapi persyaratannya dan mengikuti tes," katanya.
Alhamdulillah, Ikhwan diterima di sini. "Saya pikir, ini jalan terbaik dari Tuhan untuk saya. Ini waktu yang sangat tepat. Ketika Papa sudah tidak ada, saya dapat beasiswa penuh," terusnya.
Hingga saat ini, Ikhwan masih tinggal dengan ibunya. Setiap pagi, ia mengantarkan ibunya ke SMP Kalam Kudus untuk mengajar, lalu pergi ke kampusnya di Rumbai. "Mama tidak bisa bawa motor. Jadi saya yang bertugas mengantarkan Mama ke sekolahnya setiap pagi, sebelum berangkat ke kampus," katanya.
Saat ditanya apa cita-citanya, dimana ia ingin bekerja setelah tamat nanti, Ikhwan mengatakan, "Dimana saja tidak masalah. Di dalam negeri atau di luar, tidak apa-apa. Pokoknya, empat tahun lagi, saat Mama pensiun dan saya lulus, saya ingin Mama istirahat di rumah, biar saya yang kerja," katanya tegas.
Suaranya penuh percaya diri. Ada tekad kuat yang memancar dari nada bicaranya. Melihat apa yang sudah dicapainya saat ini, rasanya cita-cita mulia Ikhwan akan diraihnya.
Ikhwan juga menceritakan pengalamannya mengikuti matrikulasi selama satu semester (6 minggu) di PCR. "Sempat kaget. Dulu di SMA, sistem belajarnya keras, ternyata sampai di sini, lebih keras lagi. Tugas dari dosen cukup banyak. Kami sering tidur larut malam agar dapat menyelesaikan tugas," katanya.
Kamis (3/11/11), Ikhwan bersama delapan rekannya yang lain dari berbagai daerah di Riau, menerima beasiswa dari BSM. Beasiswa itu mencakup seluruh biaya kuliah selama masa pendidikannya. Syaratnya, IPK mereka harus di atas 3,00. Bila kurang dari itu, maka beasiswa akan diputus sementara waktu.***
Langganan:
Postingan (Atom)


