Sejak berkenalan dengan frozen yoghurt setahun lalu kira-kira, kami jadi menyukainya. Sayang harganya lumayan mahal, satu cup bisa Rp25 ribu-an. Itu bisa lebih lagi kalau diberi topping macam-macam.
Kalau si Tata disuruh membuat list tentang makanan kesukaannya, maka frozen yoghurt akan masuk top ten, di samping dendeng, es krim, pizza, nasi goreng, telur dadar/orak-arik, dll.
Sabtu (26/11), sesuai perjanjian, aku dan dia pergi ke Mal SKA untuk membelinya. Kakaknya tidak ikut, karena tidak memenuhi syarat. Apa itu? Senin lalu, aku membuat kesepakatan, kalau mereka mau frozen yoghurt pada hari Sabtu, maka mereka harus menabung uang jajan hingga Rp15.000. Apa pasal harus begitu? Aku sering khawatir si Tata ini jajan sembarangan di sekolah. Walaupun setiap pagi sudah sarapan mengenyangkan, kupikir karena euforia punya uang jajan dan boleh pergi sendiri ke kantin, ia jadi boros dengan uang. Berapa pun diberi, selalu habis. Suatu hari ia mencret dan saat kutanya, ngakunya cuma makan mie instan di sekolah. Setahuku, penjual mie instant itu mejeng di luar pagar sekolah. Anak-anak yang memesan mie goreng, akan bertransaksi melalui celah di pagar.
"Lain kali, jangan beli mie lagi di sana ya Ta. Kan di rumah sudah mama bikinkan? Gratis lagi," kataku.
Ia berjanji akan patuh.
Jadi Senin kemarin, aku buat kesepakatan itu. Rara gagal menabungkan uang jajannya, karena di sekolah ia ikut arisan dengan teman sekelas. Rara berharap nama akan keluar saat pencabutan arisan, sehingga bisa ikut makan frozen yoghurt. Namun sekitar pukul 10.00 pagi, ia mengirim sms, yang terima temannya Alex.
"Kalau begitu, Rara tidak ikut ke mal SKA ya," balasku.
"Iyalah, tapi makan frozen yoghurtnya di sana aja ya ma, jangan dibawa pulang," ia mengirim sms lagi."Dan belikan Rara kue pas pulang nanti."
Aku setuju.
Jadilah aku pergi berdua dengan si Tata. Kami tunggu kakaknya berangkat MDA dulu sekitar pukul setengah tiga, baru kemudian pergi. Tata senang sekali menikmati frozen yoghurtnya. Ia suka yang rasa strawberri dengan topping buah strawberry dan krim coklat. Sedangkan aku suka yang rasa leci dengan taburan kismis. Tapi hari itu kismisnya lagi kosong, jadi aku ganti dengan buah lengkeng.
Setelah membelinya di stand dekat Hypermart, aku bertanya pada Tata, apakah dia ingin kami duduk di dekat-dekat situ, atau ke lantai atasnya. Ke atas, jawabnya. Kami lalu mencari tempat duduk di atas, yang memang banyak tersedia di sana. Bangkunya cantik, terbuat dari kayu dan dapat menampung sekitar 8 orang. Kami dapat bangku di dekat gerai Rotiboy yang aromanya zuper zedap itu. Hm... ini jadi frozen yoghur aroma rotiboy deh...
Kami menikmatinya dengan senang hati. Alangkah nikmatnya itu frozen yoghurt... Dan sebagai hadiah buat si kakak di rumah, kami beli roti dan camilan lain, teman nonton Captain America di rumah nanti malam...
Minggu, 27 November 2011
Rabu, 23 November 2011
Ditemukan Jamur Raksasa Bertanduk di Pandau
Warga Desa Tanah Merah, kecamatan Siak Hulu, Kampar digemparkan dengan ditemukannya jamur bertanduk dan berukuran raksasa dengan lebar 1 meter di dalam kamar mandi rumah Fatima di Perumahan Utama Raya, Pandau.
Menurut Fatima yang pertamakali menemukan jamur raksasa itu, rumah kontrakannya itu sudah 3 bulan kosong. Meskipun demikian, dirinya tetap membersihkan rumah tersebut. Dua hari terakhir, ia memang tidak mendatangi rumah itu.
Ketika kemarin pagi ia masuk ke rumah kontrakan yang tepat berada di samping rumahnya itu, ia kaget melihat jamur raksasa bertanduk telah tumbuh di dalam kamar mandinya. Jamur berwarna putih itu dalam ukuran normal biasanya dapat dikonsumsi manusia sebagai lauk.
Kaget mendapati sesuatu yang tidak lazim itu, Fatimah segera pergi ke luar rumah dan memanggil warga untuk menyaksikannya. Sebentar saja, rumah itu sudah penuh sesak oleh warga yang penasaran ingin melihat jamur itu. Jamur terlihat indah, merekah dan terdiri dari tiga batang dengan satu bongkol.
"Saya tidak tahu jenis jamur apa yang tumbuh itu. Kemarin sekitar pukul 18.00 WIB saya melihat jamur ini tidak sebesar saat ini. Semalam tingginya sekitar setengah menter, saat ini sudah satu meter," kata Fatimah pada wartawan Vokal.
Mengantisipasi kemungkinan adanya racun pada jamur itu, Fatimah lalu menutup pintu kamar mandi itu sebatas pinggang anak-anak. Dengan demikian, jamur raksasa bertanduk itu dapat dilihat dari jarak yang relatif aman.
Hingga kemarin, belum ada satupun dinas terkait yang datang untuk mengecek keberadaan jamur raksasa itu. Memanfaatkan keadaan, Fatimah meletakkan kardus untuk menampung sumbangan dari warga yang ingin melihat jamur itu. Uang sumbangan itu akan digunakan Fatimah sebagai biaya kebersihan.
beritanya ditulis Andika
Menurut Fatima yang pertamakali menemukan jamur raksasa itu, rumah kontrakannya itu sudah 3 bulan kosong. Meskipun demikian, dirinya tetap membersihkan rumah tersebut. Dua hari terakhir, ia memang tidak mendatangi rumah itu.
Ketika kemarin pagi ia masuk ke rumah kontrakan yang tepat berada di samping rumahnya itu, ia kaget melihat jamur raksasa bertanduk telah tumbuh di dalam kamar mandinya. Jamur berwarna putih itu dalam ukuran normal biasanya dapat dikonsumsi manusia sebagai lauk.
Kaget mendapati sesuatu yang tidak lazim itu, Fatimah segera pergi ke luar rumah dan memanggil warga untuk menyaksikannya. Sebentar saja, rumah itu sudah penuh sesak oleh warga yang penasaran ingin melihat jamur itu. Jamur terlihat indah, merekah dan terdiri dari tiga batang dengan satu bongkol.
"Saya tidak tahu jenis jamur apa yang tumbuh itu. Kemarin sekitar pukul 18.00 WIB saya melihat jamur ini tidak sebesar saat ini. Semalam tingginya sekitar setengah menter, saat ini sudah satu meter," kata Fatimah pada wartawan Vokal.
Mengantisipasi kemungkinan adanya racun pada jamur itu, Fatimah lalu menutup pintu kamar mandi itu sebatas pinggang anak-anak. Dengan demikian, jamur raksasa bertanduk itu dapat dilihat dari jarak yang relatif aman.
Hingga kemarin, belum ada satupun dinas terkait yang datang untuk mengecek keberadaan jamur raksasa itu. Memanfaatkan keadaan, Fatimah meletakkan kardus untuk menampung sumbangan dari warga yang ingin melihat jamur itu. Uang sumbangan itu akan digunakan Fatimah sebagai biaya kebersihan.
beritanya ditulis Andika
Selasa, 22 November 2011
My audiences
Amerika Serikat 279
Indonesia 222
Algeria 37
Malaysia 6
Jerman 3
Arab Saudi 1
There are my audiences for this week. Thanks a lot all! How nice to know you read it. Please sent your opinion about my blog. I will consider it to next written... ;)
Indonesia 222
Algeria 37
Malaysia 6
Jerman 3
Arab Saudi 1
There are my audiences for this week. Thanks a lot all! How nice to know you read it. Please sent your opinion about my blog. I will consider it to next written... ;)
Minggu, 20 November 2011
Ulang Tahunku
Tak ada yang terlalu istimewa dari perayaan ulang tahunku kali ini. Sebenarnya memang tak berharap banyak, tapi si Rara yang memproklamirkan diri sebagai orang yang suka memberi dan menerima hadiah, jauh-jauh hari sudah menghitung hari, tak sabar menunggu tanggal 15.
"Ada kejutan untuk Mama," katanya dengan mata berbinar-binar.
Aku tersenyum.
Namun pas hari H, tak seorang pun di rumah yang ingat kalau itu hari ulang tahunku. Aku ingat tapi tak terlalu ambil pusing. Pasalnya, banyak hal yang menyita perhatian, menu hari itu, cucian yang banyak, batuk yang sedang parah-parahnya, ah, mana pula kepikir soal ulang tahun?
Tapi sms masuk dari seorang teman, Imel Boim, yang mengucapkan selamat ulang tahun. Ujung-ujungnya, ngajak karaokean. Ia memang satu dari sedikit temanku yang suka nyanyi di tempat karaoke. Suaranya keras, berat dan tak bisa diajak duet. Bukan apa-apa, suara yang lain langsung 'tenggelam' oleh kekuatan vokal Imel. Jadi backing vokal pun tak bisa. Hehehe... peace Mel..
Ketika sore aku sudah berada di kantor, masuk sms dari Rara. "Selamat ulang tahun Mama... Mama pasti lupa kalau sekarang ulang tahun kan?" tebaknya. "Ingat, tapi Rara yang lupa, jadi Mama diam saja," balasku.
Lalu di facebook, ucapan selamat masuk dari mana-mana. Juga dari beberapa teman kantor, Desi dan Santi, mengucapkan selamat. Tapi aku harus buru-buru ikut rapat, jadi tak sempat salaman. Salamannya kami lakukan keesokan harinya.
Maghrib aku sempatkan pulang ke rumah, untuk makan malam. Kebetulan tugas di kantor sedikit ringan, jadi bisa ditinggal. Masih tak ada yang istimewa di rumah. Si Tata mengucapkan selamat, si Abang mengucapkan selamat dan Rara juga. Tapi tak ada menu spesial di atas meja.
Keesokan harinya, aku minta izin sama suami, untuk mengajak makan siang beberapa orang teman ke rumah. Di kulkas masih ada daging kurban yang lumayan banyak. Sayang kalau disimpan terlalu lama. Mending itu dimanfaatkan. Aku memilih hari Sabtu, karena hari itu aku libur.
Jumat siang, aku ambil dari kulkas sebongkah besar daging yang nyaris tanpa lemak. Aku sayat tipis lalu dilumuri ketumbar halus dicampur garam dan bawang putih. Itu resep dendeng dari Papaku. Kepandaian menyayat daging hingga menjadi lembaran tipis itu, aku peroleh juga dari Papa yang memang menyuka dendeng. Selain itu, mungkin ini juga bakat kultural sebagai keturunan orang Koto Anau, Solok, yang sebagian
besar memang berprofesi sebagai tukang daging, hahaha...
Oke, lanjut ke dendeng. Aku memasak dendeng secara praktis. Yaitu, setelah daging dibumbui, direbus hingga empuk. Sementara Papaku suka membuat dendeng dengan cara dijemur setelah dibumbui. Cara ini lebih makan waktu dan sangat bergantung pada sinar matahari. Tapi hasil keduanya hampir sama. Dendeng yang dikeringkan di terik matahari juga awet untuk disimpan lama. Bedanya, dendeng yang dikeringkan kalau
digoreng lebih garing kriuk-kriuk.
Keesokan harinya, aku sibuk mengurus ini itu. Anak-anak membantu sekedarnya. Beberapa orang teman yang diundang, menyempatkan diri untuk datang, sementara yang lain minta maaf tidak bisa hadir. That's fine...
Kami berempat di rumah itu penyuka dendeng. Tidak heran, Rara nambah tiga kali makan siang itu sedangkan Tata empat kali. Dendeng sekilo punah dalam sehari. Alhamdulillah juga, para tamu suka dendengnya. Kepuasan terbesar tukang masak tentu tak lain adalah bila melihat makanan yang dibuatnya disukai orang.
Malam harinya, aku dan anak-anak meminjam VCD The Spy Next Door, Pan's Labyrinth dan X-Men First Class. Dua film pertama sudah kami pinjam sebelumnya dan anak-anak masih ingin menontonnya.
Tapi untuk menontonnya terpaksa harus merayu si Papa dulu yang sedang menyaksikan pertandingan sepakbola antara Indonesia-Vietnam. Televisi kami hanya satu dan sekarang, sedang dikuasai si Papa.
Babak pertama yang cukup mendebarkan, dilewati dengan iringan rengekan dan rayuan si Tata.
"Pa, bolehlah kami nonton VCD..."
"Pa, please Pa..."
Kulit kuaci dan es krim berserakan di karpet.
"Manalah enak nonton bola sendirian di rumah?" aku mengompori. "Tadi kami liat di RM Rajawali 2000 sudah ramai orang mau nonton bola. Bayangkanlah serunya teriak-teriak kalau gol."
"Iya Pa, kami liat tadi jalanan jadi macet karena banyak yang parkir di pinggir jalan," sambung si Rara.
Tata sudah terkantuk-kantuk dan sepertinya pasrah tidak jadi nonton The Pan's Labyrinth malam itu. Untunglah, si Papa akhirnya mengalah dan memilih 'mengungsi' entah kemana saat istirahat setelah habis babak pertama.
"Papa kasi waktu 15 menit ya!" katanya sebelum berlalu.
Kami kegirangan dan langsung memutar film yang bersetting waktu Perang Dunia I di pedesaan Spanyol itu. Sebenarnya dalam titelnya disebutkan bahwa Pan's Labyrinth adalah film dewasa. Setelah aku tonton, memang ada beberapa adegan yang cukup sadis dan tak layak ditonton anak-anak. Sebagai solusi, pas adegan sadisnya, seperti saat sang pembantu merobek mulut tuannya dengan pisau lipat, filmnya kami percepat,
sehingga tak perlu dilihat anak-anak.
Hari Minggu, masih ada rangkaian acara ulang tahunku. Ini hadiah kejutan dari Rara. Sebenarnya ia ingin mentraktir aku dan adiknya makan pizza di Pizza Hut di Mal SKA atau Ciputra. Tapi karena mereka bertengkar sehingga aku marah dan menolak pergi, akhirnya diputuskan untuk memesan pizza via delivery.
Kami menikmatinya bertiga, sementara si Papa sedang ada urusan di luar. Tak lama kemudian, aku istirahat sebentar, sedang anak-anak pergi main ke rumah temannya. Sorenya, aku berangkat ke kantor dan memulai rutinitas seperti biasa.
Begitulah...
"Ada kejutan untuk Mama," katanya dengan mata berbinar-binar.
Aku tersenyum.
Namun pas hari H, tak seorang pun di rumah yang ingat kalau itu hari ulang tahunku. Aku ingat tapi tak terlalu ambil pusing. Pasalnya, banyak hal yang menyita perhatian, menu hari itu, cucian yang banyak, batuk yang sedang parah-parahnya, ah, mana pula kepikir soal ulang tahun?
Tapi sms masuk dari seorang teman, Imel Boim, yang mengucapkan selamat ulang tahun. Ujung-ujungnya, ngajak karaokean. Ia memang satu dari sedikit temanku yang suka nyanyi di tempat karaoke. Suaranya keras, berat dan tak bisa diajak duet. Bukan apa-apa, suara yang lain langsung 'tenggelam' oleh kekuatan vokal Imel. Jadi backing vokal pun tak bisa. Hehehe... peace Mel..
Ketika sore aku sudah berada di kantor, masuk sms dari Rara. "Selamat ulang tahun Mama... Mama pasti lupa kalau sekarang ulang tahun kan?" tebaknya. "Ingat, tapi Rara yang lupa, jadi Mama diam saja," balasku.
Lalu di facebook, ucapan selamat masuk dari mana-mana. Juga dari beberapa teman kantor, Desi dan Santi, mengucapkan selamat. Tapi aku harus buru-buru ikut rapat, jadi tak sempat salaman. Salamannya kami lakukan keesokan harinya.
Maghrib aku sempatkan pulang ke rumah, untuk makan malam. Kebetulan tugas di kantor sedikit ringan, jadi bisa ditinggal. Masih tak ada yang istimewa di rumah. Si Tata mengucapkan selamat, si Abang mengucapkan selamat dan Rara juga. Tapi tak ada menu spesial di atas meja.
Keesokan harinya, aku minta izin sama suami, untuk mengajak makan siang beberapa orang teman ke rumah. Di kulkas masih ada daging kurban yang lumayan banyak. Sayang kalau disimpan terlalu lama. Mending itu dimanfaatkan. Aku memilih hari Sabtu, karena hari itu aku libur.
Jumat siang, aku ambil dari kulkas sebongkah besar daging yang nyaris tanpa lemak. Aku sayat tipis lalu dilumuri ketumbar halus dicampur garam dan bawang putih. Itu resep dendeng dari Papaku. Kepandaian menyayat daging hingga menjadi lembaran tipis itu, aku peroleh juga dari Papa yang memang menyuka dendeng. Selain itu, mungkin ini juga bakat kultural sebagai keturunan orang Koto Anau, Solok, yang sebagian
besar memang berprofesi sebagai tukang daging, hahaha...
Oke, lanjut ke dendeng. Aku memasak dendeng secara praktis. Yaitu, setelah daging dibumbui, direbus hingga empuk. Sementara Papaku suka membuat dendeng dengan cara dijemur setelah dibumbui. Cara ini lebih makan waktu dan sangat bergantung pada sinar matahari. Tapi hasil keduanya hampir sama. Dendeng yang dikeringkan di terik matahari juga awet untuk disimpan lama. Bedanya, dendeng yang dikeringkan kalau
digoreng lebih garing kriuk-kriuk.
Keesokan harinya, aku sibuk mengurus ini itu. Anak-anak membantu sekedarnya. Beberapa orang teman yang diundang, menyempatkan diri untuk datang, sementara yang lain minta maaf tidak bisa hadir. That's fine...
Kami berempat di rumah itu penyuka dendeng. Tidak heran, Rara nambah tiga kali makan siang itu sedangkan Tata empat kali. Dendeng sekilo punah dalam sehari. Alhamdulillah juga, para tamu suka dendengnya. Kepuasan terbesar tukang masak tentu tak lain adalah bila melihat makanan yang dibuatnya disukai orang.
Malam harinya, aku dan anak-anak meminjam VCD The Spy Next Door, Pan's Labyrinth dan X-Men First Class. Dua film pertama sudah kami pinjam sebelumnya dan anak-anak masih ingin menontonnya.
Tapi untuk menontonnya terpaksa harus merayu si Papa dulu yang sedang menyaksikan pertandingan sepakbola antara Indonesia-Vietnam. Televisi kami hanya satu dan sekarang, sedang dikuasai si Papa.
Babak pertama yang cukup mendebarkan, dilewati dengan iringan rengekan dan rayuan si Tata.
"Pa, bolehlah kami nonton VCD..."
"Pa, please Pa..."
Kulit kuaci dan es krim berserakan di karpet.
"Manalah enak nonton bola sendirian di rumah?" aku mengompori. "Tadi kami liat di RM Rajawali 2000 sudah ramai orang mau nonton bola. Bayangkanlah serunya teriak-teriak kalau gol."
"Iya Pa, kami liat tadi jalanan jadi macet karena banyak yang parkir di pinggir jalan," sambung si Rara.
Tata sudah terkantuk-kantuk dan sepertinya pasrah tidak jadi nonton The Pan's Labyrinth malam itu. Untunglah, si Papa akhirnya mengalah dan memilih 'mengungsi' entah kemana saat istirahat setelah habis babak pertama.
"Papa kasi waktu 15 menit ya!" katanya sebelum berlalu.
Kami kegirangan dan langsung memutar film yang bersetting waktu Perang Dunia I di pedesaan Spanyol itu. Sebenarnya dalam titelnya disebutkan bahwa Pan's Labyrinth adalah film dewasa. Setelah aku tonton, memang ada beberapa adegan yang cukup sadis dan tak layak ditonton anak-anak. Sebagai solusi, pas adegan sadisnya, seperti saat sang pembantu merobek mulut tuannya dengan pisau lipat, filmnya kami percepat,
sehingga tak perlu dilihat anak-anak.
Hari Minggu, masih ada rangkaian acara ulang tahunku. Ini hadiah kejutan dari Rara. Sebenarnya ia ingin mentraktir aku dan adiknya makan pizza di Pizza Hut di Mal SKA atau Ciputra. Tapi karena mereka bertengkar sehingga aku marah dan menolak pergi, akhirnya diputuskan untuk memesan pizza via delivery.
Kami menikmatinya bertiga, sementara si Papa sedang ada urusan di luar. Tak lama kemudian, aku istirahat sebentar, sedang anak-anak pergi main ke rumah temannya. Sorenya, aku berangkat ke kantor dan memulai rutinitas seperti biasa.
Begitulah...
Jumat, 18 November 2011
Jam Berapa Mama Pulang Part II
Barusan ditelepon lagi sama anak di rumah, ditanya,jam berapa aku pulang? Apakah aku akan Shalat Maghrib di rumah? Aku jawab, tidak, karena ini sudah lewat waktu Maghrib dan aku sudah shalat di kantor.
Tata: Jadi Mama tidak pulang?
Aku : Tidak. Nanti malam kalau jarum panjang sudah di angka 12 dan jarum pendek di angka 11, Mama pulang. Oke?
Tata: Pulang ajalah dulu sekarang sebentar Ma..., biar Tata bisa melihat muka Mama yang bulek padek itu...
Aku : Hahaha... Nanti malam kalau Mama pulang dan Tata sudah tidur, Mama akan bangunkan Tata sambil bilang, "Ta, nih liatlah muka Mama yang bulek padek. Oke?"
Tata: Iyalaah... (lesu).
Aku: Nanti kita tidur sama-sama ya...!
Tata: Iyaaa... (semangat lagi)
Love you so much My Curly...
Tata: Jadi Mama tidak pulang?
Aku : Tidak. Nanti malam kalau jarum panjang sudah di angka 12 dan jarum pendek di angka 11, Mama pulang. Oke?
Tata: Pulang ajalah dulu sekarang sebentar Ma..., biar Tata bisa melihat muka Mama yang bulek padek itu...
Aku : Hahaha... Nanti malam kalau Mama pulang dan Tata sudah tidur, Mama akan bangunkan Tata sambil bilang, "Ta, nih liatlah muka Mama yang bulek padek. Oke?"
Tata: Iyalaah... (lesu).
Aku: Nanti kita tidur sama-sama ya...!
Tata: Iyaaa... (semangat lagi)
Love you so much My Curly...
Kamis, 17 November 2011
Siswa Caltex American School Sosialisasikan Green Dignity
Siswa-siswi Caltex American School, Rumbai, menyosialisasikan penggunakan kantong ramah lingkungan yang terbuat dari bahan parasut, di mini market (commissary) yang ada di Komplek PT CPI, Rumbai, Rabu (16/11).
Saat dikunjungi ke commissary itu, kemarin sore, terlihat beberapa siswa ekspatriat tengah duduk di dekat meja kasir, siap memberikan kantong plastik ramah lingkungan untuk para pembeli yang berbelanja seharga minimal Rp50.000.
Katie, pelajar asal Australia dan Joshua dan Singapura, mengatakan, ia dan teman-temannya ingin turut serta ambil bagian dalam penyelamatan bumi dari kerusakan. Meminimalisir penggunaan kantong plastik biasa adalah salah satu langkah yang mereka jalankan.
"This is a great plan to save the earth," kata Joshua.
Katie juga mengatakan akan membawa kantong-kantong plastik itu ke negaranya, saat pulang nanti, untuk kemudian dijual atau diberikan secara cuma-cuma sebagai hadiah kepada keluarga atau teman-temannya. Hasil penjualan kantong-kantong itu kelak akan disumbangkan ke Panti Asuhan Insan Permata, Rumbai, yang memasok barang-barang ini.
Sementara itu Joyce, salah seorang pengajar di Caltex American School mengatakan, program ini berawal dari ide Green Dignity yang dibawa oleh Mr Davis dari Amerika. "Ia menyarankan kami untuk melakukan ini, yaitu penggunaan kantong ramah lingkungan."
Kantong dimaksud berwarna hijau, terbuat dari parasut, mudah dibawa, kuat, tidak memakan banyak tempat dan dapat dicuci apabila kotor. Dengan demikian, para pembeli tidak harus selalu menggunakan kantong plastik baru setiap kali berbelanja di commissary.
Kantong itu dibeli seharga Rp15.000 persatuan, namun dibagi gratis kepada para pembeli yang belanja minimal Rp50 ribu. Dikatakan Joe Murphy, guru Sosial Studies Caltex American School, program ini memang baru diluncurkan hari itu, namun direncanakan akan berlangsung lama. Diawail di Rumbai dan bila mendapat sambutan akan diteruskan ke Minas, Duri dan Dumai.
Sementara itu salah seorang perwakilan Panti Asuhan Insan Permata Ana, mengatakan, ini merupakan order kedua yang dilakukan para siswa dengan pihaknya. Bila dijumlahkan, sedikitnya ada sekitar 400 kantong yang telah mereka pasok untuk kegiatan itu.
Ia berharap kerja sama ini dapat terus berkelanjutan, karena akan saling menguntungkan kedua belah pihak dan tentu saja menyelamatkan bumi dari ancaman kerusakan. ***
Pencairan Hingga Akhir November, 85 Persen Beasiswa Pemprov Sudah Disalurkan
Hingga Kamis (17/11), sudah 85 persen beasiswa Pemprov Riau yang disalurkan untuk mahasiswa Riau mulai dari jenjang pendidkan Strata 1 hingga Strata 3.
Demikian disampaikan Kasubag Pendidikan Biro Kesra Setdaprov Riau Fakhrul Chacha, kemarin. "Sampai saat ini sudah sekitar 85 persen dana bantuan pendidikan Pemprov Riau yang kami salurkan kepada para mahasiswa Riau," tegasnya.
Sayangkan Fakhrul tidak dapat merinci, dari jumlah itu, berapa persen untuk mahasiswa strata satu dan berapa untuk strata dua dan tiga. "Wah, kalau tidak saya tidak hafal. Tapi dapat dikatakan, merata," katanya.
Pencairan beasiswa ini semula dilakukan di Gedung Wanita di Jalan Pangeran Diponegoro. Namun sejak 10 November lalu, untuk menghindari keramaian, telah dipindahkan ke Biro Kesra Setdaprov Riau. Pihaknya masih akan menunggu hingga akhir bulan ini bagi yang belum mengurus pencairan dana bantuan itu.
"Bagi mereka-mereka yang namanya terdapat dalam pengumuman penerima beasiswa ini, kami beri waktu hingga akhir November ini untuk mengurus pencairannya," katanya.
Saat ditanya kendala yang dihadapi para calon penerima beasiswa ini saat proses pencairan, diakatakan Chacha hampir tidak ada, "Kecuali mereka agak kurang sabar. Ingin cepat-cepat bisa mencairkan bantuan itu. Padahal kami butuh waktu untuk mencari proposal yang bersangkutan di arsip kami," katanya.
Bahkan bagi mahasiswa strata satu, kalau saat pencairan semua syarat yang diminta dibawa lengkap, tak sampai 30 menit dana sudah dapat dicairkan. Sementara untuk jenjang pendidikan strata dua dan tiga, perlu tatap muka sekitar dua kali.
Sebagaimana diberitakan, tahun ini Pemprov Riau menganggarkan dana dari APBD Riau sebesar Rp10 miliar untuk membantu para mahasiswa, mulai dari jenjang pendidikan strata satu hingga tiga. Dana ini ternyata sangat diminati, terbukti dari banyaknya proposal yang masuk ke Biro Kesra Setdaprov Riau. Chacha mengatakan, untuk S1, ada 3.044 proposal yang masuk ke pihaknya sementara dari S2 dan S3 1.161 proposal.
Dari jumlah itu, hanya 775 proposal S1 yang disetujui untuk dibantu, sedangkan untuk S2 dan S3 sebanyak 573 proposal. Alasan Chacha, budget yang tersedia sangat terbatas. Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, dimana dana untuk bantuan pendidikan mencapai Rp17 miliar dalam APBD Riau.***
Demikian disampaikan Kasubag Pendidikan Biro Kesra Setdaprov Riau Fakhrul Chacha, kemarin. "Sampai saat ini sudah sekitar 85 persen dana bantuan pendidikan Pemprov Riau yang kami salurkan kepada para mahasiswa Riau," tegasnya.
Sayangkan Fakhrul tidak dapat merinci, dari jumlah itu, berapa persen untuk mahasiswa strata satu dan berapa untuk strata dua dan tiga. "Wah, kalau tidak saya tidak hafal. Tapi dapat dikatakan, merata," katanya.
Pencairan beasiswa ini semula dilakukan di Gedung Wanita di Jalan Pangeran Diponegoro. Namun sejak 10 November lalu, untuk menghindari keramaian, telah dipindahkan ke Biro Kesra Setdaprov Riau. Pihaknya masih akan menunggu hingga akhir bulan ini bagi yang belum mengurus pencairan dana bantuan itu.
"Bagi mereka-mereka yang namanya terdapat dalam pengumuman penerima beasiswa ini, kami beri waktu hingga akhir November ini untuk mengurus pencairannya," katanya.
Saat ditanya kendala yang dihadapi para calon penerima beasiswa ini saat proses pencairan, diakatakan Chacha hampir tidak ada, "Kecuali mereka agak kurang sabar. Ingin cepat-cepat bisa mencairkan bantuan itu. Padahal kami butuh waktu untuk mencari proposal yang bersangkutan di arsip kami," katanya.
Bahkan bagi mahasiswa strata satu, kalau saat pencairan semua syarat yang diminta dibawa lengkap, tak sampai 30 menit dana sudah dapat dicairkan. Sementara untuk jenjang pendidikan strata dua dan tiga, perlu tatap muka sekitar dua kali.
Sebagaimana diberitakan, tahun ini Pemprov Riau menganggarkan dana dari APBD Riau sebesar Rp10 miliar untuk membantu para mahasiswa, mulai dari jenjang pendidikan strata satu hingga tiga. Dana ini ternyata sangat diminati, terbukti dari banyaknya proposal yang masuk ke Biro Kesra Setdaprov Riau. Chacha mengatakan, untuk S1, ada 3.044 proposal yang masuk ke pihaknya sementara dari S2 dan S3 1.161 proposal.
Dari jumlah itu, hanya 775 proposal S1 yang disetujui untuk dibantu, sedangkan untuk S2 dan S3 sebanyak 573 proposal. Alasan Chacha, budget yang tersedia sangat terbatas. Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, dimana dana untuk bantuan pendidikan mencapai Rp17 miliar dalam APBD Riau.***
Langganan:
Postingan (Atom)



