Yayasan Politeknik Chevron Riau (YPCR) bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Pekanbaru, Kamis (3/11), menyerahkan beasiswa senilai Rp100 juta untuk sembilan mahasiswa baru kurang mampu PCR. Beasiswa ini berbentuk grant, artinya semua biaya pendidikan yang ditetapkan kampus terhadap mahasiswa, ditanggung sepenuhnya oleh kedua belah pihak, hingga selesai masa kuliah.
"Tentu ada syaratnya sehingga beasiswa itu dapat berkelanjutan. Kami menginginkan para mahasiswa memiliki IPK 3,00 setiap semester. Kalau di bawah itu, beasiswa akan ditangguhkan," kata perwakilan Yayasan PCR Robinar.
Pimpinan Cabang BSM Pekanbaru Atep Heri Herlambang, mengaku sangat senang dengan program ini. Dikatakannya, ini merupakan pilot project mereka di Riau dan diharapkan menjadi pilot project pula di tingkat nasional.
"Selamat buat para penerima. Kalian adalah yang terpilihnya dari yang dipilih. Selesaikan kuliah dengan cepat dan jadilah duta yang dapat menjadikan PCR semakin unggul," pesannya pada para mahasiswa baru itu. Ia juga memesankan untuk tidak melupakan almamater mereka setelah masuk ke dunia kerja nanti.
Setelah itu, seorang dosen pembimbing para mahasiswa ini Zainal, menyampaikan laporan akademis para anak didiknya itu selama satu semester (enam pekan) matrikulasi.
"Rata-rata nilai mereka 73,13. Memang masih jauh dari ekspekstasi, tapi mereka akan mendapatkan lebih banyak setelah kuliah di sini nanti," katanya.
Zainal juga memaparkan bahwa selama masa matrikulasi, para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Riau ini, diberi pemahaman tentang sistem belajar di PCR. "Banyak yang kaget dan canggung dengan ritme perkuliahan di sini. Tapi lama kelamaan mereka akan beradaptasi dengan lingkungannya," katanya.
Ikhwanul Suenta, mahasiswa PCR yang berasal dari SMAN 9 Pekanbaru, keluar sebagai pemuncak, karena berhasil mendapatkan IPK 4. Selain Ikhwanul, masih ada delapan penerima beasiswa lainnya, yaitu Septio Wardana, Siti Iswahyuni, Timang Sugara, Rian Rivandi, Ary Surbakty, Daud Suheri, Susiyanti dan Ade Patria.
Timang Sugara, salah seorang penerima beasiswa asal Pekanbaru, menceritakan, ia mengetahui tentang pengumuman penerimaan mahasiswa baru dari kalangan kurang mampu itu melalui koran. Seorang temannya menyuruhnya membaca koran yang sudah dua hari lalu terbit dan berisi pengumuman itu. Timang segera mencarinya dan menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.
"Ternyata itu hari terakhir pendaftaran. Saya segera menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan," kenangnya.
Saat ditanya apakah ia mengalami kesulitan saat menjalani tes, Timang mengatakan tidak terlalu sulit. "Tesnya biasa saja. Saya cuma tidak bisa menjawab soal yang memang saya tidak tahu. Kebetulan saya kan jurusannya waktu SMA Kimia, jadi kalau soal Fisika lumayan tahu. Tapi kalau soal akuntansi, nah itu baru saya gak tahu," katanya sambil tertawa.
Timang, Ikhwan dan teman-temannya menerima dana Rp100 juta untuk bersama dari Yayasan PCR dan BSM. Dana itu diserahkan secara simbolis oleh Pimpinan Cabang BSM Pekanbaru Atep kepada Robinar, disaksikan Ketua Yayasan PCR Azhar.
Pemberian beasiswa di suatu lembaga perguruan tinggi merupakan suatu keharusan, merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 30 Tahun 2010 serta selaras pula dengan tujuan PCR yakni menghasilkan SDM Riau yang berkualitas. ***
Kamis, 03 November 2011
Kalau Tata Sedang Suntuk
Kalau Si Tata sedang suntuk dan bosan sendirian (si kakak sedang pergi sekolah), maka tak bisa tidak, akulah sasaran tembaknya. Ia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya.
Misalnya, “Ma, adakah anak kecil yang meledek mamanya?”
“Mungkin ada.” La, logikanya, seluas ini dunia, mungkin saja kan, ada anak yang meledek ibunya?
“Siapa namanya?” pertanyaan berikutnya.
“Meneketehe?”
***
Kali lain, muncul pertanyaan lain. ”Ma, Mama pernah ketemu artis?”
”Pernah.”
”Siapa namanya?”
”Tompi.” Dia sudah tahu Tompi, secara aku menghidupkan nyaris nonstop My Happy Life semasa dia kecil dulu, sebagai teman tidurnya.
”Yang lain?”
”Itu di tivi banyak.”
”Bukan, yang Mama lihat langsung.”
Aku menyebut beberapa nama.
***
”Ma, Mama punya teman orang Kristen?”
”Punya.”
”Siapa namanya?”
”Imelda.”
”Siapa lagi?”
Aku menyebut beberapa nama lain.
Kali lain, dia sedang suntuk dan mood-ku sedang buruk. Kain-kain setinggi gunung menunggu disetrika, cuaca panas, kerongkongan kering. Fiuh!
”Ma, Mama pernah ketemu artis?”
”Tidak.”
”Bohooong... katanya pernah. Tompiiii.”
”Na itu Tata tau, kok masih nanya?” Gondok.
”Mama punya teman orang Kristen?”
”Tidak.” Gigi mulai merapat.
”Katanya Tante Imelda...”
”Kan tau tuh!”
Pertanyaan-pertanyaan lain muncul tanpa diduga. Apakah ada anak kecil yang ditangkap polisi karena melukai temannya? Adakah anak kecil yang bisa bawa motor, lalu menabrak orang di jalan? Dan lain-lain. Kalau jawabanku ’ada’, dia akan bertanya, siapa namanya. Tapi pertanyaan ’apakah aku pernah bertemu artis’, adalah pertanyaan favorit yang sudah berkali-kali aku dengar. Dan aku mulai jengkel, geram, galigaman.
Tadi pagi, sambil menyetrika, ia bertanya lagi. ”Ma, apakah Mama punya teman orang Kristen?”
”Gaak!”
”Katanya Tante Imelda....”
”....”
”Ma.”
”Mmm..?”
”Mama pernah ketemu artis?”
”Tata, kalau sekali lagi nanya ketemu artis ketemu artis, kamu Mama ’rameh’ ya!” (sambil membayangkan meremas pantatnya seperti meremas adonan donat).
Dia tertawa. ”Iya... iya.... sekarang serius. Mama jawab ya!”
”Iya! Cepat!”
”Apa... Mama pernah.... ketemu artis??”
”TATA!!!! AAARRRRGGGHHHH.......”
Mengunjungi Rumah Kelahiran Bung Hatta, Mengenang Sang Proklamator
Ini kisah perjalanan liburan Lebaran tahun lalu. Mungkin dapat menjadi inspirasi pembaca yang hendak liburan ke Sumatera Barat, tepatnya ke Bukittinggi.
Rumah kelahiran salah satu Proklamator Indonesia Bung Hatta, terletak di daerah Pasar Bawah, Bukittinggi. Mungkin hampir semua orang mengenal rumah berlantai dua semi permanen ini, karena ia memang dapat dikatakan sudah berada di wilayah pasar. Ada angkot yang lalu lalang di depannya. Tapi macetnya pasar itu membuat jengkel. Angkot, mobil pribadi dan juga bendi-bendi, berebut jalan. Belum lagi para pedagang kaki lima yang menyerobot trotoar dan parkir kendaraan yang memakan badan jalan. Sediakan stok kesabaran Anda lebih banyak dari biasanya...
Saya dan keluarga memang sudah merencanakan pergi ke Rumah Kelahiran Bung Hatta ini. Selain karena belum pernah ke sana, saya kira anak-anak perlu diisi memorinya dengan Sang Proklamator.
Pada papan nama di depan rumah, disebutkan bahwa rumah itu dibangun Pemko Bukittinggi bekerja sama dengan Universitas Bung Hatta dan diresmikan pada 12 Agustus 1995 oleh Menteri Negeri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Azwar Anas,
Si Tata yang baru bisa menulis, saya suruh menuliskan namanya di buku tamu. Dengan senang hati ia menulis baik-baik di buku itu. Kami lalu masuk ke rumah itu. Sebenarnya saat masih di teras, terdapat satu kamar berukuran kecil saja, memuat satu tempat tidur bujangan dan sebuah lemari kecil. Kamar itu disebut Kamar Bujang dan saya kira, itu kamar itu pemuda yang ditugaskan menjaga rumah.
Memasuki rumah itu, saya serasa kembali ke masa lampau. Ruangan segi empat cukup luas terhampar di depan mata. Ruang ini disekat dengan perabotan sehingga menjadi ruang tamu dan ruang makan. Kursi-kursi kayu di ruang tamunya dulu pernah saya lihat di rumah Pak Tuo (kakek saya).
Di dindingnya terdapat lukisan besar Bung Hatta. Ia seorang yang kharismatik. Ada juga ranji keluarga dari pihak ayah dan ibu Bung Hatta.
Ruangan besar itu diapit empat kamar di sisi kiri dan kanannya. Kamar-kamar itu milik mamak-mamak (paman/adik laki-laki ibu) Bung Hatta, salah satunya Mamak Saleh. Di dalamnya terdapat tempat tidur besi yang disebut kero. Di salah satu kamar, kami lihat terdapat sumur tua yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi.
Lurus dari arah pintu masuk, kita melihat jendela-jendela menuju halaman belakang. Ada taman kecil antara rumah induk dan paviliun. Dan selayaknya rumah-rumah yang kaya zaman dulu, rumah ini juga memiliki gudang padi berbentuk segi empat dengan atap runcing-runcing seperti atap rumah adat Minangkabau. Gudang padi itu terdapat di sisi kiri rumah induk.
Selain meja makan untuk tamu, terdapat lagi meja makan di ruangan kecil di bawah tangga, di bagian belakang rumah. Saya kira itu ruang makan untuk para pekerja. Kami menaiki tangga berbentuk L dan sampai di teras kecil di lantai dua. Ada bunga-bunga ditata elok di pinggir teras.
Ruang atas sama bentuknya dengan ruangan di lantai dasar. Kamar tempat Bung Hatta dilahirkan, ada di lantai ini. Terdapat pula kamar untuk pak gaeknya (saya kurang pasti, apakah pak gaek berarti kakek atau pak de?).
Di paviliunnya, berderet satu kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang bendi. Sedangkan di sisi kanan rumah, terdapat kandang kuda. Konon Bung Hatta kecil diantar dengan bendi ini ke sekolah semasa kecilnya.
Kunjungan ini cukup menyenangkan. Banyak turis yang datang. Di buku tamu tertera, mereka datang tidak saja dari seputaran Sumatera Barat, melainkan juga dari negeri tetangga dan negeri-negeri yang jauh lainnya. Sayangnya, hobi kita meminta sumbangan ala kadarnya, tetap tak terelakkan di tempat ini. Klenengan tempat para pengunjung dapat meninggalkan recehan mereka, disediakan di pintu masuk. Entah untuk siapa dana itu.
Saya kira, kalau memang pemerintah serius dan sungguh-sungguh ingin melestarikan peninggalan orang besar seperti Bung Hatta, jangan lecehkan dia dengan meminta seribu dua ribu dari pengunjung untuk alasan apapun (biasanya sih dengan alasan untuk parkir atau menggaji petugas kebersihan).
Seharusnya ada dana yang pantas untuk para pekerja yang telah menjadikan tempat itu layak untuk dikunjungi, sehingga tak ada lagi dalih mencari dana tambahan dengan menyediakan kotak amal itu. Kalau memang ingin memungut biaya masuk, lakukan secara resmi. Lagi pula, mencari dana toh bisa dilakukan dengan menjual souvenir dan sebagainya? Tentulah orang Minang yang dasarnya pedagang, punya banyak akal untuk mencari uang...
Rumah kelahiran salah satu Proklamator Indonesia Bung Hatta, terletak di daerah Pasar Bawah, Bukittinggi. Mungkin hampir semua orang mengenal rumah berlantai dua semi permanen ini, karena ia memang dapat dikatakan sudah berada di wilayah pasar. Ada angkot yang lalu lalang di depannya. Tapi macetnya pasar itu membuat jengkel. Angkot, mobil pribadi dan juga bendi-bendi, berebut jalan. Belum lagi para pedagang kaki lima yang menyerobot trotoar dan parkir kendaraan yang memakan badan jalan. Sediakan stok kesabaran Anda lebih banyak dari biasanya...
Saya dan keluarga memang sudah merencanakan pergi ke Rumah Kelahiran Bung Hatta ini. Selain karena belum pernah ke sana, saya kira anak-anak perlu diisi memorinya dengan Sang Proklamator.
Pada papan nama di depan rumah, disebutkan bahwa rumah itu dibangun Pemko Bukittinggi bekerja sama dengan Universitas Bung Hatta dan diresmikan pada 12 Agustus 1995 oleh Menteri Negeri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Azwar Anas,
Si Tata yang baru bisa menulis, saya suruh menuliskan namanya di buku tamu. Dengan senang hati ia menulis baik-baik di buku itu. Kami lalu masuk ke rumah itu. Sebenarnya saat masih di teras, terdapat satu kamar berukuran kecil saja, memuat satu tempat tidur bujangan dan sebuah lemari kecil. Kamar itu disebut Kamar Bujang dan saya kira, itu kamar itu pemuda yang ditugaskan menjaga rumah.
Memasuki rumah itu, saya serasa kembali ke masa lampau. Ruangan segi empat cukup luas terhampar di depan mata. Ruang ini disekat dengan perabotan sehingga menjadi ruang tamu dan ruang makan. Kursi-kursi kayu di ruang tamunya dulu pernah saya lihat di rumah Pak Tuo (kakek saya).
Di dindingnya terdapat lukisan besar Bung Hatta. Ia seorang yang kharismatik. Ada juga ranji keluarga dari pihak ayah dan ibu Bung Hatta.
Ruangan besar itu diapit empat kamar di sisi kiri dan kanannya. Kamar-kamar itu milik mamak-mamak (paman/adik laki-laki ibu) Bung Hatta, salah satunya Mamak Saleh. Di dalamnya terdapat tempat tidur besi yang disebut kero. Di salah satu kamar, kami lihat terdapat sumur tua yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi.
Lurus dari arah pintu masuk, kita melihat jendela-jendela menuju halaman belakang. Ada taman kecil antara rumah induk dan paviliun. Dan selayaknya rumah-rumah yang kaya zaman dulu, rumah ini juga memiliki gudang padi berbentuk segi empat dengan atap runcing-runcing seperti atap rumah adat Minangkabau. Gudang padi itu terdapat di sisi kiri rumah induk.
Selain meja makan untuk tamu, terdapat lagi meja makan di ruangan kecil di bawah tangga, di bagian belakang rumah. Saya kira itu ruang makan untuk para pekerja. Kami menaiki tangga berbentuk L dan sampai di teras kecil di lantai dua. Ada bunga-bunga ditata elok di pinggir teras.
Ruang atas sama bentuknya dengan ruangan di lantai dasar. Kamar tempat Bung Hatta dilahirkan, ada di lantai ini. Terdapat pula kamar untuk pak gaeknya (saya kurang pasti, apakah pak gaek berarti kakek atau pak de?).
Di paviliunnya, berderet satu kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang bendi. Sedangkan di sisi kanan rumah, terdapat kandang kuda. Konon Bung Hatta kecil diantar dengan bendi ini ke sekolah semasa kecilnya.
Kunjungan ini cukup menyenangkan. Banyak turis yang datang. Di buku tamu tertera, mereka datang tidak saja dari seputaran Sumatera Barat, melainkan juga dari negeri tetangga dan negeri-negeri yang jauh lainnya. Sayangnya, hobi kita meminta sumbangan ala kadarnya, tetap tak terelakkan di tempat ini. Klenengan tempat para pengunjung dapat meninggalkan recehan mereka, disediakan di pintu masuk. Entah untuk siapa dana itu.
Saya kira, kalau memang pemerintah serius dan sungguh-sungguh ingin melestarikan peninggalan orang besar seperti Bung Hatta, jangan lecehkan dia dengan meminta seribu dua ribu dari pengunjung untuk alasan apapun (biasanya sih dengan alasan untuk parkir atau menggaji petugas kebersihan).
Seharusnya ada dana yang pantas untuk para pekerja yang telah menjadikan tempat itu layak untuk dikunjungi, sehingga tak ada lagi dalih mencari dana tambahan dengan menyediakan kotak amal itu. Kalau memang ingin memungut biaya masuk, lakukan secara resmi. Lagi pula, mencari dana toh bisa dilakukan dengan menjual souvenir dan sebagainya? Tentulah orang Minang yang dasarnya pedagang, punya banyak akal untuk mencari uang...
Ternyata Belajar Berenang itu Gampang
Berawal dari pesta kejutan untuk merayakan ulang tahun salah seorang gurunya di MDA pada 16 Mei silam, Rara dan kawan-kawan diajak berenang oleh si Ibu Guru ke Kolam Renang Nila, di Jalan Puyuh, Pekanbaru, sepekan kemudian (Minggu, 22 Mei 2011).
Sebelumnya kami hanya pergi ‘bermain air’ di Taman Kaca Mayang, di Jalan Jenderal Sudirman. Kolamnya hanya sebatas pinggang si Tata, kecil dan penuh sesak oleh anak-anak. Tiket masuk hanya Rp2.000.
Kolam Renang Nila mematok harga tiket masuk Rp7.000 perkepala. Aku ikut bersama Tata dalam rombongan ini. Dan selagi Rara dan teman-temannya bermain air, aku mengajarkan si Tata berenang.
Kami masuk ke kolam yang dalamnya selututku. Wajah Tata sumringah. Pelampung kuning sewaan, terlihat di sampingnya. ”Ayo belajar berenang!” ajakku.
Aku mengingat-ingat kembali pelajaran seorang guru les renang yang dulu sempat mengajarkanku teori berenang di Kolam Renang Teratai, di Padang. Oh, itu sudah puluhan tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku SMP, kalau tidak salah.
”Sandarkan tubuh ke dinding, tumpukan satu telapak kaki ke sana, lalu ambil posisi seperti sedang rukuk,” katanya. Setelah mengambil napas dalam-dalam dan menahannya di paru-paru, dorong tubuh dengan sebelah kaki yang ditumpukan itu, sehingga tubuh meluncur di air. Gerakkan kaki dari pangkal paha, bukan dari betis. Insya Allah, itu sudah separuh jalan dari yang namanya berenang.
Aku instruksikan si Tata untuk melakukan gerakan-gerakan itu. Ia masih takut-takut memasukkan kepalanya ke air. ”Nggak pa-pa Ta, kan ada Mama,” kataku berusaha menenangkannya. Aku berdiri kira-kira dua langkah dari tempat ia berdiri.
Ia pun memberanikan diri mempraktekkan teori itu. Setelah beberapa kali mencoba, berkali-kali kemasukan air di mulut, bisa juga ia meluncur. Setelah itu, kami meningkatkan pelajaran dengan menggerakkan tangan. Berhasil! Sekarang Tata sudah dapat berenang hingga jarak kira-kira empat meter tanpa mengambil napas.
Belajar sendiri
By the way (hehehe...) sebenarnya aku juga belum bisa berenang, walaupun teorinya sudah di luar kepala. Setelah Tata berani dilepas sendiri, aku memberanikan diri untuk mencoba teori renang itu. Ternyata butuh keberanian ekstra bagi makhluk darat seperti aku untuk memasukkan kepala ke dalam air. Perasaan akan tenggelam demikian kuat, padahal kenyataannya itu kolam cuma sepaha! Tapi karena malu sama anak dan umur, aku beranikan juga mencobanya. Alhamdulillah, setelah menelan air kaporit berkali-kali, hidung sakit dan telinga berbunyi seperti gendang, bisa juga aku meluncur.
Ternyata ini pelajaran yang mengasyikkan!
Si Rara, patut diancungi jempol karena sekali diajarkan, langsung berani mencoba teori renangku dan sukses. Ia memang lebih berani dari aku dalam segala hal terkait berenang ini. Walaupun belum bisa berenang pada hari pertama kami pergi itu, ia tetap masuk ke kolam yang lebih dalam, kira-kira sebatas telinganya. Kolam itu hanya dibatasi teralis dengan kolam tempat aku dan Tata belajar.
Nyaris Tenggelam
Tergoda untuk mencoba (kan sudah bisa meluncur, ;-D) aku ikut masuk ke kolam yang lebih dalam itu. Tapi buat jaga-jaga, pelampung kecil si Tata, aku bawa serta. Ternyata, begitu aku masuk dengan pelampung di tangan, kakiku tidak berhasil mencapai dasar kolam itu! Kepanikan langsung menyerangku. Pelampung itu kekecilan untuk ukuran tubuhku sehingga tidak berhasil aku masukkan dengan sempurna ke dalam tubuh. Pelampung itu menyangkut di leher, dengan posisi sebelah tangan masuk hingga ke bawah ketiak, sebelah lagi tidak. Dapat dibayangkan bukan?
Aku mencoba menggerakkan tangan, mengayuh maksudnya, dengan tujuan tepi kolam. Tapi kok malah semakin jauh ke tengah?
”Tata... ternyata kolamnya dalaam.... Mama takut!” kataku. Tata langsung pucat pasi. Cepat ia keluar dari kolam kecil itu, mengulurkan tangan ke arahku dan mulai menangis ketakutan.
”Jangan nangis Ta, ini Mama lagi usaha supaya bisa ke pinggir,” kataku. Aku sudah tak berani lagi mencari dasar kolam dengan kakiku. Waktu itu memang aku belum tahu seberapa dalam kolam itu sebenarnya. Aku juga tidak berani mengayuhkan tangan, takut malah makin ke tengah. Akhirnya aku diam saja, membiarkan air itu mengombang-ambingkanku hingga akhirnya semakin ke pinggir.
Cepat Tata mengulurkan tangan kembali dan meraih tanganku. Ditariknya aku ke pinggir dan aku benar-benar bernapas lega ketika akhirnya berhasil keluar dari sana. Tata memelukku dengan mata berkaca-kaca. ”Mama... Tata takut Mama tenggelam,” katanya lirih. Kami berpelukan.
Setelah menenangkan diri sejenak, kami lalu mencoba nyali ke kolam yang lebih dalam untuk ukuran Tata, yaitu hingga ke dadanya. Sama seperti tadi, awalnya dia takut-takut. Aku katakan, selagi ia menahan napas, maka ia tidak akan tenggelam.
”Lihat pelampung ini Ta. Dia tidak tenggelam karena ada udara di dalamnya. Begitu juga tubuh kita, selagi kita menahan napas di paru-paru kita, kita tidak akan tenggelam. Oke?”
Aku mengambil posisi, menunggu dia mulai belajar berenang lagi. Ia menentukan sejauh mana aku boleh berdiri dan tidak boleh berajak dari situ hingga ia datang. ”Jangan mundur ya Ma.”
”Ya!”
”Janji?”
”Janji.”
”Tunjuk Allah!” tantangnya.
Aku menunjuk langit. Dan itu adegan yang berkali-kali terjadi sepanjang sejarah kami belajar berenang. Sebentar-sebentar ia menyuruhku menunjuk Allah, tanda bahwa aku tidak akan berbohong dan tetap berada di posisiku hingga ia datang. Sesekali, kalau dia lupa menyuruh tunjuk Allah, aku geser kaki ke belakang, hihihi...
Kami keluar dari kolam pukul 12.00 WIB. Kulit kami langsung menghitam. Si Tata bahkan mencetak model baju renangnya di punggungnya. Si Rara tidak ada perubahan karena baju renangnya berlengan panjang. Hanya wajahnya yang kian gelap. Tapi kami santai saja. Tidak masalah kulit hitam, asal ada hasilnya. Seperti kata Kak Roma, boleh begadang asal ada perlunya, hahaha!
Sejak Minggu itu, tidak ada hari lain yang lebih ditunggu anak-anak selain Hari Minggu. Tiada Minggu yang terlewati tanpa berenang setengah hari di Kolam Renang Nila. Acara itu terinterupsi karena karena kami pergi ke Sumbar pada libur panjang lalu.
Minggu ketiga, si Papa yang kami desak untuk ikut bergabung dan mengajarkan cara mengambil napas, akhirnya mau datang. Ia mengancungkan jempol sepekan sebelumnya saat mampir untuk melihat perkembangan kemampuan berenang kami. Jadi pada minggu ke tiga, ia turun tangan mengajarkan cara mengambil napas. Rara dengan cepat menangkap pelajaran. Sekarang ia bisa berenang gaya dada. Bisa mengambil napas dengan sukses dan mampu berenang sejauh lebar kolam yang kedalamannya hingga telinganya.
Sedangkan aku, butuh beberapa menit mengumpulkan keberanian yang terserak-serak sepanjang perjalanan dari rumah ke kolam itu, dan butuh beberapa kali mengambil napas panjang, sebelum akhirnya mencoba berenang, lalu mengambil napas di tengah perjalanan. Aku perhatikan, aku berhasil mengambil napas kalau kepala dimiringkan ke kiri. Sedangkan si Rara berhasil mengambil napas bila wajah menghadap ke depan. Si Papa bisa keduanya. Si Tata, tak berani keduanya.
Tapi Tata berani masuk ke kolam dalam, menyelam selama ia mampu menahan napas dan berenang dalam jarak tiga hingga empat meter.
Lupa pakai sunblock, ini jadinya kulit punggung si Tata setelah beberapa kali berenang.
Aku melengkapi diri dengan penutup hidung dan telinga. Entah bagaimana, tanpa kedua alat bantu itu, aku gampang sekali kemasukan air ke telinga dan hidungku. Sedangkan si Tata dan Rara, santai saja. Tak pernah punya masalah dengan hidung dan telinganya.
Aku mengajarkan anak orang lain berenang
Sampai sekarang, kami sudah tujuh kali datang ke kolam itu. Kemampuan kami terus meningkat. Rara bahkan berani loncat ke dalam kolam, sementara aku tidak. Rara juga selalu menang kalau adu cepat dengan aku.
Dan sepanjang ingatanku, beberapa anak ikut aku ajar berenang. Ada anak yang datang bersama ibunya, seumuran dengan Tata. Ia duduk di pinggir kolam sendirian, sementara ibunya yang sudah tua, duduk di kursi pengunjung. Tapi ia berani mendekatiku dan minta diajarkan berenang. Dengan senang hati aku ajarkan. Si Tata sampai cemburu melihat keakraban kami, hihihi...
Pekan kemarin, seorang ibu menyuruh anaknya yang duduk di bangku kelas 1 SMP belajar berenang dengan Tata yang baru kelas 1 SD. Mungkin ia takjub melihat si Tata yang dengan berani meloncat ke kolam, lalu langsung berenang dan sekalian belajar mengambil napas. Kakaknya, entah kelas berapa, ikut minta diajarkan. Alhamdulillah, keduanya bisa minimal meluncur beberapa meter sebagai langkah awal. Tentu saja pakai teori renangku.
Pekan kemarin juga, aku mulai memaksa Tata belajar mengambil napas. Seperti yang sudah-sudah, ini hanya perkara keberanian melakukan sesuatu yang tidak biasa kita kerjakan. Ia merengek mengatakan tidak bisa. Rupanya ia sudah cukup puas bisa berenang tanpa mengambil napas. Tapi aku katakan, kalau ia bisa mengambil napas, maka ia bisa aku lepas berenang dari ujung ke ujung, di kolam renang yang dalam. Itu tak membuatnya tertarik. Akhirnya aku pakai jurus terakhir, kalau dia tidak belajar hari itu, berarti minggu depan ia akan ditinggal. Dia menurut mendengar ini. Sekali dua kali, ia cukup berani, tapi menurutku masih belum sempurna. Tapi paling tidak, ia sudah berani mencoba sesuatu yang ditakutinya selama ini.
Pekan kemarin juga, Rara menjajal kemampuan mengapung di air dalam posisi telentang. Awalnya aku lihat ada seorang perempuan yang dengan gaya mengapung di tengah kolam. ”Lihat Rara! Orang itu bisa mengapung!” seruku.
Rara mencoba dan berhasil. Sekarang ia yang bergaya di depanku, mengapung dengan santai.
Jadi, sekarang, kalau ditanya, apakah aku bisa berenang, aku menjawab, bisa! Ada yang aku ajarkan caranya? Datang saja ke kolam renang itu, kami ada di sana setiap Minggu pagi, hingga masuk Ramadhan nanti.***
Sebelumnya kami hanya pergi ‘bermain air’ di Taman Kaca Mayang, di Jalan Jenderal Sudirman. Kolamnya hanya sebatas pinggang si Tata, kecil dan penuh sesak oleh anak-anak. Tiket masuk hanya Rp2.000.
Kolam Renang Nila mematok harga tiket masuk Rp7.000 perkepala. Aku ikut bersama Tata dalam rombongan ini. Dan selagi Rara dan teman-temannya bermain air, aku mengajarkan si Tata berenang.
Kami masuk ke kolam yang dalamnya selututku. Wajah Tata sumringah. Pelampung kuning sewaan, terlihat di sampingnya. ”Ayo belajar berenang!” ajakku.
Aku mengingat-ingat kembali pelajaran seorang guru les renang yang dulu sempat mengajarkanku teori berenang di Kolam Renang Teratai, di Padang. Oh, itu sudah puluhan tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku SMP, kalau tidak salah.
”Sandarkan tubuh ke dinding, tumpukan satu telapak kaki ke sana, lalu ambil posisi seperti sedang rukuk,” katanya. Setelah mengambil napas dalam-dalam dan menahannya di paru-paru, dorong tubuh dengan sebelah kaki yang ditumpukan itu, sehingga tubuh meluncur di air. Gerakkan kaki dari pangkal paha, bukan dari betis. Insya Allah, itu sudah separuh jalan dari yang namanya berenang.
Aku instruksikan si Tata untuk melakukan gerakan-gerakan itu. Ia masih takut-takut memasukkan kepalanya ke air. ”Nggak pa-pa Ta, kan ada Mama,” kataku berusaha menenangkannya. Aku berdiri kira-kira dua langkah dari tempat ia berdiri.
Ia pun memberanikan diri mempraktekkan teori itu. Setelah beberapa kali mencoba, berkali-kali kemasukan air di mulut, bisa juga ia meluncur. Setelah itu, kami meningkatkan pelajaran dengan menggerakkan tangan. Berhasil! Sekarang Tata sudah dapat berenang hingga jarak kira-kira empat meter tanpa mengambil napas.
Belajar sendiri
By the way (hehehe...) sebenarnya aku juga belum bisa berenang, walaupun teorinya sudah di luar kepala. Setelah Tata berani dilepas sendiri, aku memberanikan diri untuk mencoba teori renang itu. Ternyata butuh keberanian ekstra bagi makhluk darat seperti aku untuk memasukkan kepala ke dalam air. Perasaan akan tenggelam demikian kuat, padahal kenyataannya itu kolam cuma sepaha! Tapi karena malu sama anak dan umur, aku beranikan juga mencobanya. Alhamdulillah, setelah menelan air kaporit berkali-kali, hidung sakit dan telinga berbunyi seperti gendang, bisa juga aku meluncur.
Ternyata ini pelajaran yang mengasyikkan!
Si Rara, patut diancungi jempol karena sekali diajarkan, langsung berani mencoba teori renangku dan sukses. Ia memang lebih berani dari aku dalam segala hal terkait berenang ini. Walaupun belum bisa berenang pada hari pertama kami pergi itu, ia tetap masuk ke kolam yang lebih dalam, kira-kira sebatas telinganya. Kolam itu hanya dibatasi teralis dengan kolam tempat aku dan Tata belajar.
Nyaris Tenggelam
Tergoda untuk mencoba (kan sudah bisa meluncur, ;-D) aku ikut masuk ke kolam yang lebih dalam itu. Tapi buat jaga-jaga, pelampung kecil si Tata, aku bawa serta. Ternyata, begitu aku masuk dengan pelampung di tangan, kakiku tidak berhasil mencapai dasar kolam itu! Kepanikan langsung menyerangku. Pelampung itu kekecilan untuk ukuran tubuhku sehingga tidak berhasil aku masukkan dengan sempurna ke dalam tubuh. Pelampung itu menyangkut di leher, dengan posisi sebelah tangan masuk hingga ke bawah ketiak, sebelah lagi tidak. Dapat dibayangkan bukan?
Aku mencoba menggerakkan tangan, mengayuh maksudnya, dengan tujuan tepi kolam. Tapi kok malah semakin jauh ke tengah?
”Tata... ternyata kolamnya dalaam.... Mama takut!” kataku. Tata langsung pucat pasi. Cepat ia keluar dari kolam kecil itu, mengulurkan tangan ke arahku dan mulai menangis ketakutan.
”Jangan nangis Ta, ini Mama lagi usaha supaya bisa ke pinggir,” kataku. Aku sudah tak berani lagi mencari dasar kolam dengan kakiku. Waktu itu memang aku belum tahu seberapa dalam kolam itu sebenarnya. Aku juga tidak berani mengayuhkan tangan, takut malah makin ke tengah. Akhirnya aku diam saja, membiarkan air itu mengombang-ambingkanku hingga akhirnya semakin ke pinggir.
Cepat Tata mengulurkan tangan kembali dan meraih tanganku. Ditariknya aku ke pinggir dan aku benar-benar bernapas lega ketika akhirnya berhasil keluar dari sana. Tata memelukku dengan mata berkaca-kaca. ”Mama... Tata takut Mama tenggelam,” katanya lirih. Kami berpelukan.
Setelah menenangkan diri sejenak, kami lalu mencoba nyali ke kolam yang lebih dalam untuk ukuran Tata, yaitu hingga ke dadanya. Sama seperti tadi, awalnya dia takut-takut. Aku katakan, selagi ia menahan napas, maka ia tidak akan tenggelam.
”Lihat pelampung ini Ta. Dia tidak tenggelam karena ada udara di dalamnya. Begitu juga tubuh kita, selagi kita menahan napas di paru-paru kita, kita tidak akan tenggelam. Oke?”
Aku mengambil posisi, menunggu dia mulai belajar berenang lagi. Ia menentukan sejauh mana aku boleh berdiri dan tidak boleh berajak dari situ hingga ia datang. ”Jangan mundur ya Ma.”
”Ya!”
”Janji?”
”Janji.”
”Tunjuk Allah!” tantangnya.
Aku menunjuk langit. Dan itu adegan yang berkali-kali terjadi sepanjang sejarah kami belajar berenang. Sebentar-sebentar ia menyuruhku menunjuk Allah, tanda bahwa aku tidak akan berbohong dan tetap berada di posisiku hingga ia datang. Sesekali, kalau dia lupa menyuruh tunjuk Allah, aku geser kaki ke belakang, hihihi...
Kami keluar dari kolam pukul 12.00 WIB. Kulit kami langsung menghitam. Si Tata bahkan mencetak model baju renangnya di punggungnya. Si Rara tidak ada perubahan karena baju renangnya berlengan panjang. Hanya wajahnya yang kian gelap. Tapi kami santai saja. Tidak masalah kulit hitam, asal ada hasilnya. Seperti kata Kak Roma, boleh begadang asal ada perlunya, hahaha!
Sejak Minggu itu, tidak ada hari lain yang lebih ditunggu anak-anak selain Hari Minggu. Tiada Minggu yang terlewati tanpa berenang setengah hari di Kolam Renang Nila. Acara itu terinterupsi karena karena kami pergi ke Sumbar pada libur panjang lalu.
Minggu ketiga, si Papa yang kami desak untuk ikut bergabung dan mengajarkan cara mengambil napas, akhirnya mau datang. Ia mengancungkan jempol sepekan sebelumnya saat mampir untuk melihat perkembangan kemampuan berenang kami. Jadi pada minggu ke tiga, ia turun tangan mengajarkan cara mengambil napas. Rara dengan cepat menangkap pelajaran. Sekarang ia bisa berenang gaya dada. Bisa mengambil napas dengan sukses dan mampu berenang sejauh lebar kolam yang kedalamannya hingga telinganya.
Sedangkan aku, butuh beberapa menit mengumpulkan keberanian yang terserak-serak sepanjang perjalanan dari rumah ke kolam itu, dan butuh beberapa kali mengambil napas panjang, sebelum akhirnya mencoba berenang, lalu mengambil napas di tengah perjalanan. Aku perhatikan, aku berhasil mengambil napas kalau kepala dimiringkan ke kiri. Sedangkan si Rara berhasil mengambil napas bila wajah menghadap ke depan. Si Papa bisa keduanya. Si Tata, tak berani keduanya.
Tapi Tata berani masuk ke kolam dalam, menyelam selama ia mampu menahan napas dan berenang dalam jarak tiga hingga empat meter.
Lupa pakai sunblock, ini jadinya kulit punggung si Tata setelah beberapa kali berenang.
Aku melengkapi diri dengan penutup hidung dan telinga. Entah bagaimana, tanpa kedua alat bantu itu, aku gampang sekali kemasukan air ke telinga dan hidungku. Sedangkan si Tata dan Rara, santai saja. Tak pernah punya masalah dengan hidung dan telinganya.
Aku mengajarkan anak orang lain berenang
Sampai sekarang, kami sudah tujuh kali datang ke kolam itu. Kemampuan kami terus meningkat. Rara bahkan berani loncat ke dalam kolam, sementara aku tidak. Rara juga selalu menang kalau adu cepat dengan aku.
Dan sepanjang ingatanku, beberapa anak ikut aku ajar berenang. Ada anak yang datang bersama ibunya, seumuran dengan Tata. Ia duduk di pinggir kolam sendirian, sementara ibunya yang sudah tua, duduk di kursi pengunjung. Tapi ia berani mendekatiku dan minta diajarkan berenang. Dengan senang hati aku ajarkan. Si Tata sampai cemburu melihat keakraban kami, hihihi...
Pekan kemarin, seorang ibu menyuruh anaknya yang duduk di bangku kelas 1 SMP belajar berenang dengan Tata yang baru kelas 1 SD. Mungkin ia takjub melihat si Tata yang dengan berani meloncat ke kolam, lalu langsung berenang dan sekalian belajar mengambil napas. Kakaknya, entah kelas berapa, ikut minta diajarkan. Alhamdulillah, keduanya bisa minimal meluncur beberapa meter sebagai langkah awal. Tentu saja pakai teori renangku.
Pekan kemarin juga, aku mulai memaksa Tata belajar mengambil napas. Seperti yang sudah-sudah, ini hanya perkara keberanian melakukan sesuatu yang tidak biasa kita kerjakan. Ia merengek mengatakan tidak bisa. Rupanya ia sudah cukup puas bisa berenang tanpa mengambil napas. Tapi aku katakan, kalau ia bisa mengambil napas, maka ia bisa aku lepas berenang dari ujung ke ujung, di kolam renang yang dalam. Itu tak membuatnya tertarik. Akhirnya aku pakai jurus terakhir, kalau dia tidak belajar hari itu, berarti minggu depan ia akan ditinggal. Dia menurut mendengar ini. Sekali dua kali, ia cukup berani, tapi menurutku masih belum sempurna. Tapi paling tidak, ia sudah berani mencoba sesuatu yang ditakutinya selama ini.
Pekan kemarin juga, Rara menjajal kemampuan mengapung di air dalam posisi telentang. Awalnya aku lihat ada seorang perempuan yang dengan gaya mengapung di tengah kolam. ”Lihat Rara! Orang itu bisa mengapung!” seruku.
Rara mencoba dan berhasil. Sekarang ia yang bergaya di depanku, mengapung dengan santai.
Jadi, sekarang, kalau ditanya, apakah aku bisa berenang, aku menjawab, bisa! Ada yang aku ajarkan caranya? Datang saja ke kolam renang itu, kami ada di sana setiap Minggu pagi, hingga masuk Ramadhan nanti.***
Rabu, 02 November 2011
Beasiswa Pemprov Riau Akhirnya Diumumkan
Puluhan mahasiswa, Rabu (2/11) siang mendatangi Gedung Wanita di Jalan Diponegoro, Pekanbaru, untuk melihat pengumuman nama-nama penerima dana bantuan pendidikan dari Pemerintah Provinsi Riau.
Kerumunan para mahasiswa sedang memperhatikan pengumuman yang ditempel di Gedung Wanita. Foto diambil oleh Andika, fotografer Harian vokal, Rabu (2/11/11) sekira pukul 15.00
Pengumuman ini telah mengalami dua kali pengunduran dari jadwal semula. Awalnya Biro Kesra Setdaprov Riau mengatakan akan mengumumkannya pada akhir Oktober, namun kemudian diganti menjadi tanggal 2 November. Hinga Selasa (1/11) sore, Kepala Biro Kesra Alimuddin dikabarkan masih mencari Gubernur Riau untuk menandatangani berkas penerima beasiswa itu, sebelum ditempelkan di papan pengumuman di Gedung Wanita.
Saat dilihat pagi kemarin, sekira pukul sepuluh, Gedung Wanita masih sepi. Tidak ada keramaian yang menyolok, walaupun satu dua orang terlihat datang dan pergi. Petugas Satpol PP yang bertugas di gedung itu Riko, mengatakan, sejak pagi sudah sekitar 20-an orang yang datang untuk melihat pengumuman itu. Namun mereka kecewa karena ternyata pengumuman itu tidak ada.
"Tadi ada yang ngomong, pengumumannya dialihkan ke Kantor Gubernur," katanya. Sementara di Kantor Gubernur, khususnya di Biro Kesra, ditempel pula pengumuman bahwa pengumuman penerima beasiswa itu akan dilakukan di Gedung Wanita.
Seorang mahasiswa Unri enggan menyebutkan namanya, mengatakan, mendapat informasi bahwa pengumuman itu akan ditempelkan pukul dua siang itu.
Kepala Biro Kesra Alimuddin, usai rapat dengan Sekdaprov Riau, membenarkan bahwa pengumuman itu akan dilakukan siang hari itu. "Siang nanti akan diumumkan di Gedung Wanita, cek saja ke sana," katanya.
Sayangnya ia tidak dapat menyebutkan berapa jumlah mahasiswa, baik dari jenjang pendidikan Strata Satu maupun Strata Dua, yang menerimanya. "Saya tidak hafal berapa jumlahnya," katanya.
Alimuddin juga mengatakan, pengumuman dilakukan di Gedung Wanita, sementara pencairan dananya dilakukan hari ini (3/11) di Biro Kesra Setdaprov Riau.
Sebelumnya dikatakan oleh Kepala Sub Bagian (kasubag) Pendidikan Biro Kesra Setdaprov Riau Fakhrul Chacha, dari 3.044 proposal mahasiswa Strata Satu yang mengajukan beasiswa, hanya 775 proposal yang disetujui mendapatkan bantuan. Masing-masing mahasiswa menerima bantuan antara Rp1,5-2,5 juta, tergantung universitasnya.
Sementara untuk jenjang pendidikan Strata Dua dan Tiga, telah masuk 1.161 proposal dan yang diluluskan hanya 573 proposal. ***
Kerumunan para mahasiswa sedang memperhatikan pengumuman yang ditempel di Gedung Wanita. Foto diambil oleh Andika, fotografer Harian vokal, Rabu (2/11/11) sekira pukul 15.00
Pengumuman ini telah mengalami dua kali pengunduran dari jadwal semula. Awalnya Biro Kesra Setdaprov Riau mengatakan akan mengumumkannya pada akhir Oktober, namun kemudian diganti menjadi tanggal 2 November. Hinga Selasa (1/11) sore, Kepala Biro Kesra Alimuddin dikabarkan masih mencari Gubernur Riau untuk menandatangani berkas penerima beasiswa itu, sebelum ditempelkan di papan pengumuman di Gedung Wanita.
Saat dilihat pagi kemarin, sekira pukul sepuluh, Gedung Wanita masih sepi. Tidak ada keramaian yang menyolok, walaupun satu dua orang terlihat datang dan pergi. Petugas Satpol PP yang bertugas di gedung itu Riko, mengatakan, sejak pagi sudah sekitar 20-an orang yang datang untuk melihat pengumuman itu. Namun mereka kecewa karena ternyata pengumuman itu tidak ada.
"Tadi ada yang ngomong, pengumumannya dialihkan ke Kantor Gubernur," katanya. Sementara di Kantor Gubernur, khususnya di Biro Kesra, ditempel pula pengumuman bahwa pengumuman penerima beasiswa itu akan dilakukan di Gedung Wanita.
Seorang mahasiswa Unri enggan menyebutkan namanya, mengatakan, mendapat informasi bahwa pengumuman itu akan ditempelkan pukul dua siang itu.
Kepala Biro Kesra Alimuddin, usai rapat dengan Sekdaprov Riau, membenarkan bahwa pengumuman itu akan dilakukan siang hari itu. "Siang nanti akan diumumkan di Gedung Wanita, cek saja ke sana," katanya.
Sayangnya ia tidak dapat menyebutkan berapa jumlah mahasiswa, baik dari jenjang pendidikan Strata Satu maupun Strata Dua, yang menerimanya. "Saya tidak hafal berapa jumlahnya," katanya.
Alimuddin juga mengatakan, pengumuman dilakukan di Gedung Wanita, sementara pencairan dananya dilakukan hari ini (3/11) di Biro Kesra Setdaprov Riau.
Sebelumnya dikatakan oleh Kepala Sub Bagian (kasubag) Pendidikan Biro Kesra Setdaprov Riau Fakhrul Chacha, dari 3.044 proposal mahasiswa Strata Satu yang mengajukan beasiswa, hanya 775 proposal yang disetujui mendapatkan bantuan. Masing-masing mahasiswa menerima bantuan antara Rp1,5-2,5 juta, tergantung universitasnya.
Sementara untuk jenjang pendidikan Strata Dua dan Tiga, telah masuk 1.161 proposal dan yang diluluskan hanya 573 proposal. ***
Doa dalam Sebuah Nama
Kata Nabi Muhammad SAW, dalam nama itu ada doa. Maka orangtua diseru untuk memberi anaknya nama-nama yang indah. Harapannya, kelak nama itu akan menjadi kenyataan dalam diri si anak. Kita tentu pernah mendengar nama yang terkesan sangat 'kuat', seperti Tegar, Bangkit, Jaya, Suci dan sebagainya.
Tidak hanya manusia yang diberi nama. Bangunan-bangunan penting juga diberi nama. Seperti gedung sembilan lantai di samping Kantor Gubernur Riau, diberi nama Menara Lancang Kuning. Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau yang representatif itu diberi nama Soeman Hs, pusat kegiatan seni dan budaya diberi nama Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai) sedangkan tempat perhelatan seni budaya yang dicanangkan sebagai salah satu ikon Kota Pekanbaru di Bandar Serai itu diberi nama Anjung Seni Idrus Tintin.
Jalan, tugu, pohon, semua diberi nama. Jalan yang dulu bernama Harapan Raya, sekarang benar-benar sudah 'raya'. Dalam KBBI, raya berarti besar (terbatas pemakaiannya); alam (jagat) --; badak --; hari --; jalan --; purnama --; rimba --;
me·ra·ya·kan v memuliakan (memperingati, memestakan) hari raya (peristiwa penting): ~ Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia; ~ hari lahir; pe·ra·ya·an n pesta (keramaian dsb) untuk merayakan suatu peristiwa. Jadi Jalan Harapan Raya mungkin lebih kurang berarti jalan harapan atau jalan yang diharapkan akan menjadi jalan besar.
Sekarang, lihatlah Jalan Harapan Raya itu. Di sepanjang jalan itu bertaburan rumah toko yang ramai pengunjung. Berbagai benda dijual di sepanjang jalan itu. Wisata kuliner malam hari di jalan itu juga cukup menggairahkan. Berbagai rumah makan dan warung-warung tenda pinggir jalan, selalu ramai pengunjung.
Pertanyaannya, mengapa ada nama daerah di Duri Air Jamban? Apakah sejarah besar di balik nama itu, hingga diberi nama Air Jamban dan tak ada yang terpikir untuk menggantinya? Saya mencari-cari di kamus online, arti jamban, ternyata ini yang saya dapat; jamban adalah tempat buang air, kakus, tandas, peturasan.
Penasaran, saya cari lagi di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berharap akan menemukan pengertian lain dari jamban, supaya saya tidak berpikir negatif. Ternyata sama saja. Dan bila kita meyakini bahwa Bahasa Indonesia merupakan 'sumbangan' dari orang-orang Melayu untuk negeri bernama Indonesia ini, maka bisa jadi dalam bahasa Melayu pun jamban tidak jauh beda pengertiannya.
Lalu mengapa ada daerah yang diberi nama Air Jamban? Doa apa yang diharapkan orang-orang yang menyebut daerah itu dengan nama itu?
Masih ada lagi daerah di Duri yang menurut saya perlu di-rename. Daerah itu bernama Simpang Pokok Jengkol. Apa karena di sana dulu entah kapan, banyak pokok jengkol? Mengapa sekarang tidak kita tanam saja di sekitar persimpangan itu pohon akasia, sehingga nanti kita sebut kawasan itu Simpang Akasia?
Ada lagi di daerah Rumbai sebuah persimpangan jalan yang membingungkan para pengemudi sehingga dinamakan Simpang Bingung. Memang bingung kalau lewat sana, kemana harus membelok yang tidak melanggar rambu-rambu. Karena membingungkan itulah, beberapa ruas jalan di simpang itu diportal, sehingga tidak bisa lagi dilewati.
Sebagai provinsi yang kehidupan masyarakatnya dikatakan masih sangat kental dengan budaya Melayu dan ajaran Islam, mungkin sudah saatnya kita memikir ulang tentang nama-nama yang ada di daerah ini. Mari kita cari nama-nama yang bernilai rasa positif, penuh semangat dan mencerminkan kemelayuannya.
Tidak hanya manusia yang diberi nama. Bangunan-bangunan penting juga diberi nama. Seperti gedung sembilan lantai di samping Kantor Gubernur Riau, diberi nama Menara Lancang Kuning. Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau yang representatif itu diberi nama Soeman Hs, pusat kegiatan seni dan budaya diberi nama Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai) sedangkan tempat perhelatan seni budaya yang dicanangkan sebagai salah satu ikon Kota Pekanbaru di Bandar Serai itu diberi nama Anjung Seni Idrus Tintin.
Jalan, tugu, pohon, semua diberi nama. Jalan yang dulu bernama Harapan Raya, sekarang benar-benar sudah 'raya'. Dalam KBBI, raya berarti besar (terbatas pemakaiannya); alam (jagat) --; badak --; hari --; jalan --; purnama --; rimba --;
me·ra·ya·kan v memuliakan (memperingati, memestakan) hari raya (peristiwa penting): ~ Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia; ~ hari lahir; pe·ra·ya·an n pesta (keramaian dsb) untuk merayakan suatu peristiwa. Jadi Jalan Harapan Raya mungkin lebih kurang berarti jalan harapan atau jalan yang diharapkan akan menjadi jalan besar.
Sekarang, lihatlah Jalan Harapan Raya itu. Di sepanjang jalan itu bertaburan rumah toko yang ramai pengunjung. Berbagai benda dijual di sepanjang jalan itu. Wisata kuliner malam hari di jalan itu juga cukup menggairahkan. Berbagai rumah makan dan warung-warung tenda pinggir jalan, selalu ramai pengunjung.
Pertanyaannya, mengapa ada nama daerah di Duri Air Jamban? Apakah sejarah besar di balik nama itu, hingga diberi nama Air Jamban dan tak ada yang terpikir untuk menggantinya? Saya mencari-cari di kamus online, arti jamban, ternyata ini yang saya dapat; jamban adalah tempat buang air, kakus, tandas, peturasan.
Penasaran, saya cari lagi di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berharap akan menemukan pengertian lain dari jamban, supaya saya tidak berpikir negatif. Ternyata sama saja. Dan bila kita meyakini bahwa Bahasa Indonesia merupakan 'sumbangan' dari orang-orang Melayu untuk negeri bernama Indonesia ini, maka bisa jadi dalam bahasa Melayu pun jamban tidak jauh beda pengertiannya.
Lalu mengapa ada daerah yang diberi nama Air Jamban? Doa apa yang diharapkan orang-orang yang menyebut daerah itu dengan nama itu?
Masih ada lagi daerah di Duri yang menurut saya perlu di-rename. Daerah itu bernama Simpang Pokok Jengkol. Apa karena di sana dulu entah kapan, banyak pokok jengkol? Mengapa sekarang tidak kita tanam saja di sekitar persimpangan itu pohon akasia, sehingga nanti kita sebut kawasan itu Simpang Akasia?
Ada lagi di daerah Rumbai sebuah persimpangan jalan yang membingungkan para pengemudi sehingga dinamakan Simpang Bingung. Memang bingung kalau lewat sana, kemana harus membelok yang tidak melanggar rambu-rambu. Karena membingungkan itulah, beberapa ruas jalan di simpang itu diportal, sehingga tidak bisa lagi dilewati.
Sebagai provinsi yang kehidupan masyarakatnya dikatakan masih sangat kental dengan budaya Melayu dan ajaran Islam, mungkin sudah saatnya kita memikir ulang tentang nama-nama yang ada di daerah ini. Mari kita cari nama-nama yang bernilai rasa positif, penuh semangat dan mencerminkan kemelayuannya.
Senin, 13 Juni 2011
Safari Masjid
Safari Masjid
Menikmati libur panjangku, aku dan anak-anak sering membuat rencana bersama. Salah-satu yang kami sukai adalah pergi salat ke masjid. Safari masjid. Jadi, kami menjelajahi masjid-masjid yang menarik perhatian mereka.
Masjid Ikhlas di dekat rumah, tentu yang paling sering didatangi. Bila cuaca memungkinkan dan anak-anak dapat menyiapkan diri sesegera mungkin, maka kami akan pergi ke masjid yang agak jauh. Seperti pekan lalu, kami sempat mengunjungi Masjid An Namirah di Jalan Tuanku Tambusai II, tepatnya di dekat Mal SKA.
Masjid itu, terasa khas. Saat menyusuri jalan di depan masjid yang seperti lorong karena di kiri kananya berdiri deretan ruko, saya serasa sedang berada di lorong-lorong di depan Masjid Nabawi, Madinah.
Arsitektur masjid ini sepertinya juga mirip dengan Masjid Nabawi. Empat tiangnya yang tinggi, sangat menyolok dari kejauhan. Masjid ini berada dalam satu komplek dan selepas Isya, pintu pagar komplek itu ditutup.
Masjid ini bersih, menentramkan hati dan tidak panas, karena langit-langitnya cukup tinggi. Pintu masuk untuk jamaah perempuan dan laki-laki dibedakan dan antara kedua jamaah itu dipasang tirai yang benar-benar menutup akses. Saya nyaris tidak melihat siapa imam yang memimpin salat hari itu dan berapa shaf laki-laki yang terisi. Namun yang pasti, di tempat jamaah perempuan, sedikit sekali. Pemandangan ini berbeda bila tiba waktu Salat Jumat. Kendaraan roda dua dan empat yang parkir melimpah hingga ke pinggir jalan raya. Tidak jarang pula ruas jalan di depannya macet karena berdempetnya kendaraan yang parkir di sana.
Kami melaksanakan Salat Magrib dan Isya di sana. Setelah itu, Tata belajar sekilas Iqra'-nya. Ia angin-anginan. Sebentar saja sudah minta izin main tongkat dingin denga kakaknya di luar masjid. Saya sendiri menikmati suasana yang tenang itu dengan membaca Surat Ar Rahman dan Al Waqi'ah (ingat pesan mertua, hehehe...).
Saat kami datang, perkiraanku, hanya sekitar sepuluh orang jamaah perempuan yang ikut salat. Namun setelah itu, silih berganti orang berdatangan, saya kira mereka para karyawan yang baru pulang kerja. Dan ketika waktu Isya tiba, tinggal empat perempuan dewasa yang ikut salat berjamaah, ditambah dua anakku.
Masjid Fatimah
Kali lain, kami pergi ke Masjid Fatimah yang terdapat di Komplek Paus Flower Residence. Karena lumayan jauh, kami berangkat lebih awal. Kami masuk lewat Jalan Duyung yang mulus dan lurus saja hingga ke ujung.
Masjid ini, konon dibangun oleh developer Paus Flower Residence. Fatimah adalah nama ibu si pemilik tanah, yang memang berpesan agar dibangunkan masjid yang representatif di komplek itu. Saya agak terkesan dengan kompleks itu karena dulu sempat ke sana untuk survey rumah dengan si Tata. Kami naik motor berdua lalu melihat-lihat rumah yang sebagian baru dibangun itu.
Rumahnya kecil dengan sisa tanah juga kecil. Harganya sungguh tak terjangkau kantong kami, Rp265 juta untuk type 36. Tapi saat itupun masjidnya sudah siap. Di situlah letak keunggulan komplek ini, sarana umumnya disiapkan duluan sebelum rumah-rumah dibangun. Masjidnya full AC, bersih dan tenang. Halamannya luas, diberi paving blok dan tanaman pelindung yang mulai meninggi di kiri kanannya.
Kini di sana sudah ramai. Namun saat kami datang, jamaah perempuan hanya tiga orang dewasa, plus saya, serta tiga orang anak kecil (dua di antaranya tentu anak-anakku). Tiga orang dewasa itu, hanya dua yang datang dari komplek itu sedang yang satu lagi agaknya musafir karena jalur itu merupakan jalur alternatif dari Jalan Tuanku Tambusai menuju Arifin Achmad, selain Jalan Paus dan Soekarno-Hatta yang macet.
Jamaah laki-laki tidak terlihat. Yang berkesan bagi dan aku Rara saat shalat di sana, bacaan imamnya sangat jelas saat membaca Al Fatihah dan surat pendek. Enak mendengar imamnya memimpin shalat.
Selesai shalat, kami tidak menunggu waktu Isya dan langsung pulang. Beberapa pria kami lihat segera mengambil tempat di sebuah sudut teras, sepertinya akan memulai diskusi di sana.
Masjid Agung An Nur
Kamis, 26 Mei, kami pergi ke Masjid Agung An Nur. Anak-anak sebenarnya sudah akrab dengan masjid ini. Hari Minggu pagi, kami sering ke sana untuk olah raga. Hari Kamis itu, kami melihat banyak ibu-ibu yang duduk bergerombol, berbuka puasa. Hal ini menimbulkan ide si Rara.
"Bagaimana kalau Kamis depan tanggal 2 Juni, kan libur tuh, kita puasa lalu berbuka di Masjid An Nur?" Matanya berbinar.
Kami setuju. Tapi aku langsung pasang syarat, bagi siapa yang tidak penuh shalatnya, (sebenarnya ini lebih ditujukan kepada si Tata), maka ia tidak akan dibangunkan sahur. "Iyela, iyela..." katanya.
Sejak hari itu, anak-anak jadi lebih bersemangat menjalani hidup. Mereka patuh disuruh membereskan kamar, menyusun sepatu, melipat kain, bangun pagi, dan lain-lain. Si Tata juga tak susah lagi disuruh salat.
Si Rara tiap sebentar mengingatkan, "Ingat Hari Kamis!" serunya sebelum pergi MDA. "Jangan lupa Hari Kamis!" serunya kali lain dari dalam mobil saat berangkat sekolah.
Kami menyiapkan acara itu sebaik mungkin. Terutama aku, sehari sebelumnya sudah siap. Alarm disetel pukul empat pagi. Subuh buta itu, aku masakkan empat potong ayam goreng buat sahur kami berikut sayur bayam. Tak lupa masing-masing satu cangkir kopi. Aku pikir, bolehlah mereka nonton Dora The Explorer pukul lima, selesai Salat Subuh, sebagai hadiah.
Anak-anak senang bisa menonton Dora. Biasanya pagi-pagi remote tivi dikuasai si papa. Sering terjadi perebutan antara si papa dengan Tata. Yang satu ingin tahu perkembangan dunia paling mutakhir, yang satu ingin tahu perkembangan Spongebob Squarepants. Sementara televisi di rumah kami cuma satu. Hari itu si Tata dan kakaknya menang telak. Mereka puas nonton semua film anak-anak sejak pukul lima hingga pagi.
Siangnya, aku bilang, sebaiknya mereka istirahat, kalau bisa tidur, agar nanti saat berbuka puasa kembali bugar. Tapi mungkin karena pengaruh kopi atau mereka keasyikan main, tidak ada yang mau tidur siang. Bahkan aku yang ingin istirahatpun, diganggu hingga tidur siangku jadi batal.
Aku siapkan bagar buat lauk berbuka. Itu adalah sejenis makanan asam pedas daging, tapi bumbu-bumbunya ditumis dulu dan diberi sedikit kayu manis, cengkeh, dan beberapa bumbu lainnya, sehingga aromanya sangat khas. Anak-anak suka bagar itu.
Pukul setengah lima, aku memasak nasi yang kebetulan sudah habis. Anak-anak bersiap-siap. Dan ternyata apa yang aku khawatirkan, terjadi juga. Si Tata kecapekan dan segera tertidur di kursi. Tangannya masih memegang sisir.
Khawatir akan terjadi sesuatu kalau kami bertiga nekat naik motor, maka si Papa turun tangan mengantarkan pakai mobil. Tujuan pertama, Restoran Ikan Bakar Pak Ndut di Jalan Jenderal Achmad Yani, beli cah kangkung kesukaan anak-anak. Seporsi harganya Rp10.000.
Setelah itu, kami mampir ke Jalan Tjut Nja' Dhien, beli sop buah pesanan Rara dan kolak dingin buat si Tata yang sejak digendong ke dalam mobil, tetap tidak mau bangun.
Tata Seperti Sekarat
Kami tiba di halaman Masjid Agung An Nur saat pelantang masjid itu mengumandangkan ayat-ayat suci Al Quran. Si Tata masih belum bisa dibangunkan. Ia terpaksa hampir dipapah ke dalam masjid di lantai dua. Elevator tidak nyala, terpaksalah ia berjalan dengan tertatih-tatih. Aku prihatin melihatnya. Seperti orang sekarat. Mata sayu, suara nyaris tak terdengar dan ia sedikit menggigil.
"Mama... boleh minum sekarang?" rengeknya.
"Sabar Sayang, sebentar lagi ya. Dengar tuh, sudah terdengar orang mengaji, artinya sebentar lagi adzan. Rugi dong Tata..." bujukku.
Dipegangnya air mineral dengan tangan lemah dan wajah kuyu. Rara membelai punggung adiknya. Dan akhirnya adzanpun berkumandang. Semua menyantap jatah masing-masing, sop buah dan kolding. Kami lalu Shalat Maghrib berjamaah. Usai shalat, kami pergi ke halaman masjid, membentangkan selimut tua sebagai tikar, lalu mengeluarkan bekal. Tata kembali 'hidup' berkat kolding itu, dan siap untuk memulai pertengkaran dengan kakaknya, hehehe...
Mereka menyantap makan malam itu dengan lahap. Si Tata riang gembira menikmati bagar yang disebutnya 'daging lunak'. Tadi sore, Si Rara yang aku tugaskan mengisi rantang dengan nasi. Ia ternyata tidak memasukkan cukup banyak nasi. Untung aku mengantisipasi dengan melebihkan jatah nasiku, sehingga saat mereka ingin nambah, aku bisa membaginya sementara punya sendiri masih cukup mengenyangkan.
Dari masjid, terdengar ceramah agama dari seorang ustad. Judulnya sih 'Orang yang berhak menerima zakat', tapi perkiraanku, nyaris 70 persen waktu yang disediakan untuk ceramah itu, digunakan untuk membahas tentang sejarah LDII dan menegaskan bahwa organisasi itu sesat. Apaan seeeh?
Usai makan, kami menunggu waktu Shalat Isya masuk. Usai shalat, si Papa datang menjemput dan kami pulang dengan gembira. Kataku di mobil, lain kali, kalau waktu memungkinkan, boleh juga sekali-sekali mencoba shalat di Masjid Raya dekat Pasar Bawah. Anak-anak langsung memandang antusias.
"Aaa.. mantap tu Ma!" seru Rara. Baiklah, nanti kita carikan hari baiknya....
Menikmati libur panjangku, aku dan anak-anak sering membuat rencana bersama. Salah-satu yang kami sukai adalah pergi salat ke masjid. Safari masjid. Jadi, kami menjelajahi masjid-masjid yang menarik perhatian mereka.
Masjid Ikhlas di dekat rumah, tentu yang paling sering didatangi. Bila cuaca memungkinkan dan anak-anak dapat menyiapkan diri sesegera mungkin, maka kami akan pergi ke masjid yang agak jauh. Seperti pekan lalu, kami sempat mengunjungi Masjid An Namirah di Jalan Tuanku Tambusai II, tepatnya di dekat Mal SKA.
Masjid itu, terasa khas. Saat menyusuri jalan di depan masjid yang seperti lorong karena di kiri kananya berdiri deretan ruko, saya serasa sedang berada di lorong-lorong di depan Masjid Nabawi, Madinah.
Arsitektur masjid ini sepertinya juga mirip dengan Masjid Nabawi. Empat tiangnya yang tinggi, sangat menyolok dari kejauhan. Masjid ini berada dalam satu komplek dan selepas Isya, pintu pagar komplek itu ditutup.
Masjid ini bersih, menentramkan hati dan tidak panas, karena langit-langitnya cukup tinggi. Pintu masuk untuk jamaah perempuan dan laki-laki dibedakan dan antara kedua jamaah itu dipasang tirai yang benar-benar menutup akses. Saya nyaris tidak melihat siapa imam yang memimpin salat hari itu dan berapa shaf laki-laki yang terisi. Namun yang pasti, di tempat jamaah perempuan, sedikit sekali. Pemandangan ini berbeda bila tiba waktu Salat Jumat. Kendaraan roda dua dan empat yang parkir melimpah hingga ke pinggir jalan raya. Tidak jarang pula ruas jalan di depannya macet karena berdempetnya kendaraan yang parkir di sana.
Kami melaksanakan Salat Magrib dan Isya di sana. Setelah itu, Tata belajar sekilas Iqra'-nya. Ia angin-anginan. Sebentar saja sudah minta izin main tongkat dingin denga kakaknya di luar masjid. Saya sendiri menikmati suasana yang tenang itu dengan membaca Surat Ar Rahman dan Al Waqi'ah (ingat pesan mertua, hehehe...).
Saat kami datang, perkiraanku, hanya sekitar sepuluh orang jamaah perempuan yang ikut salat. Namun setelah itu, silih berganti orang berdatangan, saya kira mereka para karyawan yang baru pulang kerja. Dan ketika waktu Isya tiba, tinggal empat perempuan dewasa yang ikut salat berjamaah, ditambah dua anakku.
Masjid Fatimah
Kali lain, kami pergi ke Masjid Fatimah yang terdapat di Komplek Paus Flower Residence. Karena lumayan jauh, kami berangkat lebih awal. Kami masuk lewat Jalan Duyung yang mulus dan lurus saja hingga ke ujung.
Masjid ini, konon dibangun oleh developer Paus Flower Residence. Fatimah adalah nama ibu si pemilik tanah, yang memang berpesan agar dibangunkan masjid yang representatif di komplek itu. Saya agak terkesan dengan kompleks itu karena dulu sempat ke sana untuk survey rumah dengan si Tata. Kami naik motor berdua lalu melihat-lihat rumah yang sebagian baru dibangun itu.
Rumahnya kecil dengan sisa tanah juga kecil. Harganya sungguh tak terjangkau kantong kami, Rp265 juta untuk type 36. Tapi saat itupun masjidnya sudah siap. Di situlah letak keunggulan komplek ini, sarana umumnya disiapkan duluan sebelum rumah-rumah dibangun. Masjidnya full AC, bersih dan tenang. Halamannya luas, diberi paving blok dan tanaman pelindung yang mulai meninggi di kiri kanannya.
Kini di sana sudah ramai. Namun saat kami datang, jamaah perempuan hanya tiga orang dewasa, plus saya, serta tiga orang anak kecil (dua di antaranya tentu anak-anakku). Tiga orang dewasa itu, hanya dua yang datang dari komplek itu sedang yang satu lagi agaknya musafir karena jalur itu merupakan jalur alternatif dari Jalan Tuanku Tambusai menuju Arifin Achmad, selain Jalan Paus dan Soekarno-Hatta yang macet.
Jamaah laki-laki tidak terlihat. Yang berkesan bagi dan aku Rara saat shalat di sana, bacaan imamnya sangat jelas saat membaca Al Fatihah dan surat pendek. Enak mendengar imamnya memimpin shalat.
Selesai shalat, kami tidak menunggu waktu Isya dan langsung pulang. Beberapa pria kami lihat segera mengambil tempat di sebuah sudut teras, sepertinya akan memulai diskusi di sana.
Masjid Agung An Nur
Kamis, 26 Mei, kami pergi ke Masjid Agung An Nur. Anak-anak sebenarnya sudah akrab dengan masjid ini. Hari Minggu pagi, kami sering ke sana untuk olah raga. Hari Kamis itu, kami melihat banyak ibu-ibu yang duduk bergerombol, berbuka puasa. Hal ini menimbulkan ide si Rara.
"Bagaimana kalau Kamis depan tanggal 2 Juni, kan libur tuh, kita puasa lalu berbuka di Masjid An Nur?" Matanya berbinar.
Kami setuju. Tapi aku langsung pasang syarat, bagi siapa yang tidak penuh shalatnya, (sebenarnya ini lebih ditujukan kepada si Tata), maka ia tidak akan dibangunkan sahur. "Iyela, iyela..." katanya.
Sejak hari itu, anak-anak jadi lebih bersemangat menjalani hidup. Mereka patuh disuruh membereskan kamar, menyusun sepatu, melipat kain, bangun pagi, dan lain-lain. Si Tata juga tak susah lagi disuruh salat.
Si Rara tiap sebentar mengingatkan, "Ingat Hari Kamis!" serunya sebelum pergi MDA. "Jangan lupa Hari Kamis!" serunya kali lain dari dalam mobil saat berangkat sekolah.
Kami menyiapkan acara itu sebaik mungkin. Terutama aku, sehari sebelumnya sudah siap. Alarm disetel pukul empat pagi. Subuh buta itu, aku masakkan empat potong ayam goreng buat sahur kami berikut sayur bayam. Tak lupa masing-masing satu cangkir kopi. Aku pikir, bolehlah mereka nonton Dora The Explorer pukul lima, selesai Salat Subuh, sebagai hadiah.
Anak-anak senang bisa menonton Dora. Biasanya pagi-pagi remote tivi dikuasai si papa. Sering terjadi perebutan antara si papa dengan Tata. Yang satu ingin tahu perkembangan dunia paling mutakhir, yang satu ingin tahu perkembangan Spongebob Squarepants. Sementara televisi di rumah kami cuma satu. Hari itu si Tata dan kakaknya menang telak. Mereka puas nonton semua film anak-anak sejak pukul lima hingga pagi.
Siangnya, aku bilang, sebaiknya mereka istirahat, kalau bisa tidur, agar nanti saat berbuka puasa kembali bugar. Tapi mungkin karena pengaruh kopi atau mereka keasyikan main, tidak ada yang mau tidur siang. Bahkan aku yang ingin istirahatpun, diganggu hingga tidur siangku jadi batal.
Aku siapkan bagar buat lauk berbuka. Itu adalah sejenis makanan asam pedas daging, tapi bumbu-bumbunya ditumis dulu dan diberi sedikit kayu manis, cengkeh, dan beberapa bumbu lainnya, sehingga aromanya sangat khas. Anak-anak suka bagar itu.
Pukul setengah lima, aku memasak nasi yang kebetulan sudah habis. Anak-anak bersiap-siap. Dan ternyata apa yang aku khawatirkan, terjadi juga. Si Tata kecapekan dan segera tertidur di kursi. Tangannya masih memegang sisir.
Khawatir akan terjadi sesuatu kalau kami bertiga nekat naik motor, maka si Papa turun tangan mengantarkan pakai mobil. Tujuan pertama, Restoran Ikan Bakar Pak Ndut di Jalan Jenderal Achmad Yani, beli cah kangkung kesukaan anak-anak. Seporsi harganya Rp10.000.
Setelah itu, kami mampir ke Jalan Tjut Nja' Dhien, beli sop buah pesanan Rara dan kolak dingin buat si Tata yang sejak digendong ke dalam mobil, tetap tidak mau bangun.
Tata Seperti Sekarat
Kami tiba di halaman Masjid Agung An Nur saat pelantang masjid itu mengumandangkan ayat-ayat suci Al Quran. Si Tata masih belum bisa dibangunkan. Ia terpaksa hampir dipapah ke dalam masjid di lantai dua. Elevator tidak nyala, terpaksalah ia berjalan dengan tertatih-tatih. Aku prihatin melihatnya. Seperti orang sekarat. Mata sayu, suara nyaris tak terdengar dan ia sedikit menggigil.
"Mama... boleh minum sekarang?" rengeknya.
"Sabar Sayang, sebentar lagi ya. Dengar tuh, sudah terdengar orang mengaji, artinya sebentar lagi adzan. Rugi dong Tata..." bujukku.
Dipegangnya air mineral dengan tangan lemah dan wajah kuyu. Rara membelai punggung adiknya. Dan akhirnya adzanpun berkumandang. Semua menyantap jatah masing-masing, sop buah dan kolding. Kami lalu Shalat Maghrib berjamaah. Usai shalat, kami pergi ke halaman masjid, membentangkan selimut tua sebagai tikar, lalu mengeluarkan bekal. Tata kembali 'hidup' berkat kolding itu, dan siap untuk memulai pertengkaran dengan kakaknya, hehehe...
Mereka menyantap makan malam itu dengan lahap. Si Tata riang gembira menikmati bagar yang disebutnya 'daging lunak'. Tadi sore, Si Rara yang aku tugaskan mengisi rantang dengan nasi. Ia ternyata tidak memasukkan cukup banyak nasi. Untung aku mengantisipasi dengan melebihkan jatah nasiku, sehingga saat mereka ingin nambah, aku bisa membaginya sementara punya sendiri masih cukup mengenyangkan.
Dari masjid, terdengar ceramah agama dari seorang ustad. Judulnya sih 'Orang yang berhak menerima zakat', tapi perkiraanku, nyaris 70 persen waktu yang disediakan untuk ceramah itu, digunakan untuk membahas tentang sejarah LDII dan menegaskan bahwa organisasi itu sesat. Apaan seeeh?
Usai makan, kami menunggu waktu Shalat Isya masuk. Usai shalat, si Papa datang menjemput dan kami pulang dengan gembira. Kataku di mobil, lain kali, kalau waktu memungkinkan, boleh juga sekali-sekali mencoba shalat di Masjid Raya dekat Pasar Bawah. Anak-anak langsung memandang antusias.
"Aaa.. mantap tu Ma!" seru Rara. Baiklah, nanti kita carikan hari baiknya....
Langganan:
Postingan (Atom)











