Tampilkan postingan dengan label artikel Sastra dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel Sastra dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2011

Yiiihaaa...Ketemu Andrea Hirata!!



Andrea Hirata, penulis novel fenomenal Tetralogi Laskar Pelangi, Jumat (25/3/11), menggelar meet and greet (jumpa fans) di salah satu toko buku terkemuka di Pekanbaru.

Acara itu diisi dengan tanya jawab dengan pembaca Tetralogi Laskar Pelangi, dari segala usia. Pertanyaan berdatangan tidak saja dari kalangan muda, melainkan juga orangtua. Dalam kesempatan itu, Andrea menegaskan tentang pentingnya riset sebelum membuat sebuah tulisan. Berbeda dengan sebagian besar penulis lain yang menghabiskan waktunya 95 persen untuk menulis dan hanya 5 persen untuk riset, Andrea justru terbalik, ia menghabiskan 95 persen waktunya untuk meriset dan sisanya untuk menulis. Dan saat ditanya, manakah yang lebih dinikmatinya, dengan cepat dan pasti ia menjawab, "Melakukan riset."

Satu fakta tentang Novel Padang Bulan/Cinta di Dalam Gelas, riset dilakukan sampai empat tahun dan mewawancarai hingga 400 orang. "Saya empat tahun melakukan riset sebelum menulis Padang Bulan. Berbulan-bulan duduk di warung kopi dan melihat tingkah laku orang-orang yang datang ke sana. Dari riset yang lama itu, saya kira saya bisa menulis empat sampai lima novel baru lagi. Tapi apa kejadiannya, dua hari setelah diterbitkan, keluar bajakannya, alamak!" katanya. Bahkan ia sendiri pernah ditawari seorang pedagang buku Laskar Pelangi versi bajakan.

Dalam kesempatan itu, Andrea juga mempertanyakan kembali hasil survei yang mengatakan bahwa minat baca orang Indonesia sangat rendah, jauh lebih rendah dibanding Malaysia atau Singapura. Ia menyebutkan, Laskar Pelangi telah dicetak hingga 12 juta kopi, sementara bajakannya lebih banyak lagi. Buku itu juga diterjemahkan ke dalam 18 bahasa asing, terbaru diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis. Buku-buku bajakan ini bahkan beredar hingga ke Vancouver, Kanada dan Zimbabwe, Afrika, yang menurut Andrea, 'tempat dimana jin pun tak mau buang anak di sana'.

Fakta ini seolah membuktikan kebalikan hasil survei itu. Menurut Andrea, orang-orang mau membaca Laskar Pelangi karena mereka menemukan apa yang mereka cari dalam novel itu.

Pertengahan tahun ini, Andrea Hirata akan menerbitkan novel barunya berjudul Ayah yang awalnya merupakan novel berbahasa Inggris berjudul Two Trees. "Saya awalnya tak mau menerbitkannya di Indonesia, karena 'mangkel' sama pembajakan ini," katanya.

Di novel Ayah, Andrea menjanjikan sesuatu yang benar-benar baru. Tidak ada lagi tokoh Ikal, Arai dan lainnya seperti dalam novel sebelumnya. Selain itu, ia juga akan memasukkan unsur politis di dalamnya. "Seperti apa pula seorang Andrea Hirata menulis politik, naah...tunggu saja," katanya.

Behind the scene (taela...)
Informasi kedatangan Andrea sudah aku ketahui sejak Rabu sebelumnya (23/3/11) dan langsung berbagi dengan Desi Susanti, salah seorang penderita sakit gila nomor 44 (tergila-gila pada Andrea Hirata sama kayak gue!). Desi langsung 'kumat', menyusun rencana pertemuan dengan Andrea, antara lain mau foto-foto bareng (so pasti) dan tanda tangan buku. Hebatnya, tak hanya satu, tapi kelima-lima karya Andrea akan diboyong Desi untuk ditandatangani. Kami ngakak habis di telepon sampai aku berlinang air mata, menertawaan kegilaan ini. Aku bilang, jangan sampai Andrea menatap Desi lama-lama gara-gara lima buku itu, sambil berkata dalam hati, "Parah nih!"

Sore itu juga ia pergi ke Bandara SSK II. "Waah...Andrea baru datang Jumat pagi, tapi Desi sudah mau menunggunya dari sekarang. Mau mencuri start ya?" kataku menggodanya dan kami ngakak lagi. FYI, akhir-akhir ini kami memang sedang terkena sindromesukatertawagakketulungan.

Pas Hari H, aku yang kurang tidur malam sebelumnya, sebenarnya mau tidur siang sebentar sebelum meluncur ke Gramedia, tempat acara dilangsungkan. Tapi ternyata Desi mengabari, ada dialog interaktif di radio. Gak sabaran, aku dengerin deh dan mengajukan satu pertanyaan yang paling hebat yang terpikir saat itu, yaitu, apakah tokoh-tokoh dalam karyanya benar-benar ada? Aku memberi contoh Action dalam Novel Padang Bulan, pria yang selalu merasa diawasi kamera imajiner sehingga selalu mengambil pose paling oke dalam setiap kesempatan.

Jawaban Andrea lebih cerdas lagi, bisa ada bisa tidak. Namanya juga karya fiksi. "Di bagian bawah sampul buku saya selalu ada tulisan N O V E L, tanda itu bukan kisah nyata. Dalam fiksi, sesuatu yang ada bisa dibuat tidak ada, yang tidak ada jadi ada."

Idih, sebagai mantan mahasiswa fakultas sastra, mendadak aku merasa menjadi 'Makhluk Tuhan Paling Gubluk' karena telah mengajukan pertanyaan itu. Dan di Gramedia, pertanyaan sejenis dilontarkan lagi oleh seseorang dan Andrea mengatakan, "Itu pertanyaan ke dua juta sekian yang diajukan pembaca," WHAT?????

Aku bertemu Helfizon, seorang penderita penyakit sejenis (tapi di sisi lain merasa telah menjadi reinkarnasi Elvis Presley, tercermin dari alamat emailnya, uhuii!). Memanfaatkan hak istimewa sebagai wartawan, kami berdua diberi waktu untuk wawancara khusus dengan Andrea dan itulah fotonya (foto aku sok akrab sama Andrea itu lo, sedang foto atas aku ambil via kamera hp saat abang bujang lapukku itu dikerubuti perempuan-perempuan segala usia yang ingin minta tanda tangan dan foto bareng). Foto itu diambil Helfizon dengan kameranya dan ia memberi catatan saat mengirimkannya ke emailku: maaf fotonya agak goyang, mungkin karena tanggal tua...

Kepada para fans Andrea Hirata yang sibuk jepret-jepret, aku nyeletuk usil, "Udahlah tu, foto-fotonya... memorinya sudah penuh tuh!" Seorang cowok (mungkin mahasiswa) tertawa. Katanya, "Iya Bu, betul itu." Tapi tetap aja ia jepret-jepret. Andrea tak bisa melepaskan senyumnya. Kurasa kelebaran mulutnya jadi nambah beberapa senti sejak terkenal ini, hahaha...!


Sambil berjalan meninggalkan para fans itu, kata abangku itu pada Helfizon, "Lihatlah! Pernahkah Abang bayangkan seorang penulis bisa diperlakukan seperti artis begitu? Saya tak pernah membayangkannya!"

Helfizon cengengesan speechless. Kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk wawancara (sori buat Dina Febriastuti yang mengaku hanya dapat waktu lima menit untuk wawancara khusus. Peruntungan kita membang berbeda, Din). Helfizon tampaknya tak dapat lagi menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa ia fans berat Andrea Hirata. Sepertinya kontak fisik mereka dengan saling berangkulan sepanjang lorong antara rak buku menuju ruangan khusus untuk wawancara, tak cukup menggambarkan betapa ngefansnya dia pada Abang Kitingku itu.


Helfizon ini setahuku bukan tipe orang yang suka foto bareng artis, sama seperti aku, sehebat apapun artis itu. Tapi dengan Andrea, lain lagi ceritanya. Itu sudah fardhu 'ain hukumnya bagi kami.

Dan si Ikal yang kalem dan bersahaja ini, berbagi tips menulis seolah kami ini dua kawan lama yang dulu sama-sama menjadi murid SD Muhammadiyah yang reyot di Belitong itu. Ada banyak hal yang saya petik dari percakapan itu. Salah satu yang sangat ditekankan Andrea adalah pentingnya riset. Pentingnya menghargai karya orang lain. Jangan membeli barang bajakan. "Mungkin kelebihan saya yang tidak pernah belajar sastra dan hingga saat ini paling banyak hanya membaca 10 novel, adalah, saya terbiasa melakukan riset. Saya kan sekolahnya di ekonomi. Saya pelajari psikologi, astronomi, ilmu catur dan sebagainya sebelum menulis. Namun ketika psikologi itu dituangkan dalam bentuk novel, ia tidak boleh menjadi pelajaran psikologi," katanya. Novel pertama yang ia baca berjudul If Only I Could Talk karya Tony Lewis, pemberian cinta pertamanya. Aling?

Riset yang sedang dijalankannya saat ini adalah mengumpulkan berbagai definisi 'sedih'. "Saya cukup rapi mendokumentasikan defisini 'sedih' ini. Dalam hitungan saya, ada sedikitnya 76 definisi sedih. Ada sedih yang gembira, sedih yang konyol, sedih yang pahit, sedih yang tragis, dan lain sebagainya," katanya. Saya jadi su'udzon, jangan-jangan berbagai definisi ini akan muncul di Two Trees /Ayah. Cekidot ajalah nanti...

Oh ya, bagi penggemar Andrea yang belum tahu status kepegawaiannya di Telkom, Andrea mengatakan, "Di tempat saya bekerja, ada yang namanya cuti di luar tanggungan. Saya sudah dua tahun tidak masuk kantor dan manajemen sudah berkali-kali melayangkan surat menyuruh saya masuk, tapi saya tidak datang-datang," akunya.

Ia mengaku dulu kerjanya di Telkom termasuk manjat-manjat tiang. Bayangkan sajalah, seperti apa rupanya...

Saat kami tanya darimana bakat menulisnya datang, ia mengatakan itu adalah bakat kultural dan saya kira dia benar. "Seperti anak-anak Bali yang sejak usia belia sudah bisa memahat patung, demikian pula kita yang orang Melayu ini. Kita hidup dalam tradisi bercerita. Minum segelas kopi di warung kopi, habis satu kabinet kita persalahkan. Gelas kedua, wakil presiden yang kena getah, hahaha..." dia tertawa.

Iya iya, benar dia. Itulah kelebihan etnis melayu, suka berbual di kedai kopi.
Andrea juga memberikan tips pada kami cara menulis supaya terasa nyata. "Gunakannya konsep dimensional yang sering dipakai para arsitek dalam menggambar. Kalau kita melihat gambar sebuah rumah, kita dapat memahami seperti apa wujud rumah itu, dindingnya, dan sebagainya. Saya terbiasa menulis seperti itu, dimensional, menggambarkan satu lokasi atau orang dengan pendekatan empat titik," katanya.

Saya sempat bertanya, apakah sama nilai rasa dalam Laskar Pelangi dengan The Rainbow Troops (Laskar Pelangi versi bahasa Inggris). Andrea menerangkan,"Proses penerjemahan Laskar Pelangi memakan waktu yang cukup lama. Pertama kali ia diterjemahkan selama delapan bulan oleh seorang penerjemah, tapi saat saya baca, kok saya kurang puas. Lalu dicari penerjemah lain, tujuh bulan diterjemahkan, hasilnya masih belum memuaskan. Suatu hari saya bertemu seorang mahasiswa Amerika penerima beasiswa Fulbright di Universitas Indonesia yang menonton film Laskar Pelangi dan mengaku tertarik. Ia lalu datang ke Belitong, naik pesawat dan turun di bandara perintis di tengah hutan. Dia kira Belitong itu seperti Bali, padahal hutan belantara saja dimana-mana. Kampung saya masih 100 kilometer lagi dari sana. Dia diselamatkan tukang ojek yang membawanya ke rumah ibu saya. Dialah yang akhirnya menulis Laskar Pelangi versi Bahasa Inggris. Dan saya puas sekali." Penerbit Amerika menyebutnya, "Perfect!"


Dikatakannya, proses penerjemahannya pun memakan waktu sekitar tujuh bulan. Ia dan mahasiswa Amerika itu duduk berhadap-hadapan dan menerjemahkan kata perkata dalam novel itu hingga akhirnya lahirkan The Rainbow Troops. Novel itu kemudian menjadi rebutan penerbit di Amerika dan hingga saat ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.

"Penerjemahan suatu karya biasanya akan lebih mudah bila dilakukan dari Bahasa Inggris, sedangkan bila diterjemahkan dari Bahasa Indonesia, agak sulit. Jadi saya kira penting sekali kita menerbitkan tulisan dalam bahasa Inggris ini. Laskar Pelangi diterbitkan dalam berbagai bahasa asing kan karena sudah ada versi Bahasa Inggrisnya," katanya.

Satu tips rahasia yang diberikannya kepada kami adalah, "Kita tidak mungkin bisa menulis karya yang bagus tanpa sensitivitas yang baik. Guru, orangtua dan lingkungan masa kecil telah mengajarkan pada saya arti sensitivitas akan sifat manusia."

Satu lagi inspirasi....

Selasa, 17 Februari 2009

Opera Melayu Tun Teja Ketika Rindu Dendam Menemukan Obatnya

Opera Melayu Tun Teja yang digelar selama tiga hari berturut-turut di Anjung Seni Idrus Tintin , Pekanbaru (29-31/8) lalu ternyata mendapat sambutan yang sangat menggembirakan dari khalayak. Inilah wujud rindu dendam masyarakat akan pertunjukan yang berkelas, namun tetap tak meninggalkan ciri khas kemelayuannya, menemukan obatnya.
Indikasi tingginya minat masyarakat untuk menyaksikan opera pertama yang digelar di Riau ini dapat dilihat dari jumlah penonton. Penonton selalu melebihi kapasitas tempat duduk yang disediakan panitia. Selain itu konon kabarnya dua nomor telepon yang disediakan panitia sekali tiga menit berdering, meminta tiket agar bisa menonton. Luar biasa.
Pada hari pertama pertunjukan, pengunjung terlihat sudah mulai berdatangan sejak satu jam sebelum pertunjukan. Dua dara yang pertugas di pintu masuk tak dapat berbuat banyak ketika satu undangan digunakan untuk empat sampai lima orang penonton. Tak apalah, demi dahaga yang tak pernah terpuaskan ini.

Tak punya pembanding
Bisa jadi hampir semua penonton adalah masyarakat yang awam dengan opera. Bahkan tidak sedikit yang baru pertama kali menyaksikan pertunjukan bernama opera. Karena itulah, mereka tak punya pembanding. Tidak heran pula saat diskusi apresiasi digelar usai pertunjukan di hari ketiga, yang didapat para pemain dan orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan itu pujian semata. Tepuk tangan memenuhi ruangan besar itu tiap sebentar.
Bagi sang sutradara sendiri, Marhalim Zaini, pertunjukan itu bukan tanpa cacat cela. Walaupun kecil, namun ada beberapa kendala teknis yang syukurnya tidak terbaca oleh mata awam para penonton. Tidak berlebihan bila ia mengatakan puas dengan pertunjukan itu. Demikian pula dengan produser pertunjukan Al Azhar yang mengatakan pertunjukan opera ini dapat dikatakan sukses bila tolak ukurnya sesuai atau tidak dengan rencana awalnya.
Bakat orang muda
Sebagian besar pemain di Opera Melayu Tun Teja ini adalah para kaum muda. Mereka terdiri dari anggota choirs, pemain opera, dan pemain musik yang tergabung dalam Bandar Serai Orchestra. Orang-orang muda berbakat ini mampu menghadirkan sebuah tontonan alternatif yang mungkin bagi sebagian kita yang terlalu sibuk dengan urusan politik, pilgubri, kesehatan, harga barang kebutuhan pokok, dan lain sebagainya, tak pernah terlintas. Ya, seperti yang disampaikan oleh Marhalim, Hikayat Hang Tuah ternyata memiliki bagian-bagian yang tak patut dibanggakan, tak patut ditiru.
Hang Tuah yang gagah, perkasa dan wira, ternyata tak sanggup menaklukkan seorang perempuan bernama Tun Teja hingga harus memakai guna-guna. Setelah itu, Tun Teja dengan semena-mena dijadikan 'upeti' bagi Sultan Melaka, hanya sebagai bukti kesetiaan Hang Tuah pada sang raja.
Dalam perspektif orang-orang tradisi, apa yang dilakukan Hang Tuah tak ada kaitannya dengan kewiraan. Tindakannya mengguna-gunai Tun Teja bukanlah sesuatu yang memalukan. Namun tidak bagi Marhalim yang merasa terusik dan mencoba mengeksplorasi lebih dalam kepedihan hati Tun Teja. Ranah interpretasi semacam ini tentu asing dan mungkin juga tabu bagi orang-orang tradisi, namun tidak bagi kaum muda yang menurut Marhalim, dapat bebas bermain dengan imajinasi. Hasilnya, sebuah pertunjukan yang patut mendapatkan ancungan jempol.

Soundsystem
Soundsystem pertunjukan ini ternyata dikeluhkan oleh banyak penonton. Karena para pemain menggunakan clip on yang terhubung ke speaker, suara yang kemudian terdengar oleh penonton demikian keras. Terutama bagi mereka yang kebetulan kebagian tempat duduk persis di depan speaker. Ironisnya, suara ini menjadi tak jelas ketika Bandar Serai Orchestra memainkan komposisi musiknya, sama kerasnya dengan suara sang pemain di atas pentas. Suara tak jelas ini juga terasa ketika pemain mengucapkan dialog terlalu cepat sehingga sulit ditangkap oleh penonton di bagian belakang.
Anjung seni ini memang belum siap. Itu kata saktinya. Jadi tak ada yang dapat disalahkan. Bahkan kita patut berterima kasih pada panitia yang telah mengupayakan sedemikian rupa agar bengkalai gedung ini layak digunakan, layak menerima tamu-tamu penting, meski beberapa faktor pendukung sebuah gedung opera belum lagi ada.

Anugerah Sagang
Pertunjukan opera melayu Tun Teja merupakan nominator Anugerah Sagang, anugerah seni bergengsi yang diselenggarakan sekali setahun oleh Yayasan Sagang yang berada di bawah grup Riau Pos. ***

Jumat, 13 Februari 2009

Istana Kerajaan Gunung Sahilan Menunggu Janji dan Tuah Sakti Para Petinggi

Menyebut istana kerajaan, mungkin orang langsung membayangkan bangunan kokoh yang lebih kurang sama dengan Istana Siak. Namun pemandangan yang amat kontras ditemukan di Gunung Sahilan, Kampar Kiri. Istana peninggalan Kerajaan Gunung Sahilan ternyata wujudnya sangat memprihatinkan.
Udara masih cukup sejuk pagi itu saat kami sampai di lokasi. Terletak sekitar 70 km arah utara Pekanbaru, Kecamatan Gunung Sahilan dapat ditempuh dengan kendaraan umum Pekanbaru-Taluk Kuantan via Lintas Tengah. Namun untuk mencapai lokasi istana, kita masih harus menyusuri jalan sepanjang lebih kurang enam kilometer ke arah pedalaman, masuk dari daerah bernama Kabun Durian.
Ketua Pemuda Kecamatan Gunung Sahilan Edi didampingi tokoh pemuda Gunung Sahilan lainnya, Intoni, menemani kami menuju sisa-sisa istana itu. Kami terkesima saat tiba-tiba sudah berada di depan istana. Yang hadir di depan kami adalah sebuah rumah panggung dari kayu, beratap seng penuh karat, dinding yang mulai dimakan rayap di sana-sini, pintu yang tergembok dari luar, dan banyak kotoran kambing berserakan di terasnya.
Halamannya seluas lebih kurang 10x5 meter, ditanami rumput jepang yang terlihat kurang terawat. Tak ada pot-pot bunga di sana. Kosong melompong. Secara keseluruhan, kesuraman yang mencekam terasa menyelimuti istana itu. Dalam hati kami tergurat kesedihan dan kepedihan. Mengapa harus seperti ini? Sungguh, ini jauh di luar bayangan kami. Apalagi bila membandingkan dengan Istana Siak di Kabupaten Siak Sri Indrapura.
Azirman, juru kunci yang juga masih terbilang keluarga kerajaan, tinggal di sebelah istana ini. Istri Azirmar, si Sar adalah cucu dari Yang Dipertuan Gadis Putri Intan, anak dari Tengku Hasyim yang beristri Putri Sari Negeri. Putri Intan wafat dalam usia 105 tahun pada 1887 lalu.
Memasuki istana ini, kami merasakan lantai kayu yang dingin, kotor oleh pasir, dan hawa yang lembab. Sebuah ruangan berukuran sekitar 11x5 meter terbentang di hadapan kami. Ruang kosong tanpa ada meja kursi dan lain sebagainya. Di arah kiri pintu masuk, menjorok agak ke depan, berdiri sebuah tempat tidur besi jaman dulu, lengkap dengan kasur dan bantalnya.
“Di sinilah Putri Intan dulu tinggal,” kata Azimar kepada kami.
Di sekitar tempat tidur ini disusun sisa-sisa peninggalan kerajaan ini berupa meriam, keramik, tombak, payung kerajaan, dan alat makan minum. Pada awal Ramadhan, meriam ini masih diletuskan sebagai tanda masuknya bulan suci umat Islam itu.
Di Pekanbaru, tepatnya di rumah salah seorang keturunan raja Gunung Sahilan, Tengku Raflan, masih tersimpan beberapa peninggalan kerajaan lainnya seperti beraneka stempel dari tembaga dengan berat dan ukuran yang beragam dan beberapa keris pusaka.
Beberapa lembar foto yang dibingkai dan digantung di dinding istana. Sayang, tidak ada keterangan apa-apa di bawah foto-foto itu seperti siapa yang difoto, dalam peristiwa apa, tahun berapa dan sebagainya. Sebuah foto memperlihatkan sultan terakhir kerajaan ini yaitu Tengku Sulung tengah berfoto bersama para khalifah, bertarikh 1905.
Khalifah sama arti dan fungsinya dengan duta besar. Mereka merupakan perwakilan kerajaan di daerah lain. Secara berkala mereka akan dipanggil pulang ke Gunung Sahilan untuk membicarakan banyak persoalan, termasuk soal kelangsungan kerajaan di masa mendatang.
Ada lima khalifah di kerajaan ini, yaitu Khalifah Kampar Kiri bergelar Datuk Besar, Khalifah Kuntu bergelar Datuk Bandaro, Khalifah Batu Sanggan bergelar Datuk Godang, Khalifah Ludai bergelar Datuk Maharajo Besar, dan Khalifah Ujung Bukit juga gelar Datuk Bandaro.
Menurut Azimar lagi, dulunya bangunan istana ini berukuran sekitar 12x16 meter persegi, terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang pertemuan, kamar-kamar dan dapur. Namun beberapa tahun yang lalu dilakukan pemugaran oleh pemerintah. Sayang, bentuknya dinilai kaum adat tidak sesuai dengan bentuk istana yang mereka kenali dulu. Salah satu perbedaan yang menyolok dan langsung dapat dikenali adalah bentuk rumah panggung yang berubah menjadi bukan rumah panggung. Walhasil, bila kita hendak masuk ke istana hasil pemugaran melalui istana asli, maka kita harus menuruni dulu empat anak tangga yang cukup terjal.

Bertalian dengan Kerajaan Pagaruyung
Dalam sejarahnya, Kerajaan Gunung Sahilan berhubungan kekerabatan sangat erat dengan Kerajaan Pagarruyung di Sumatera Barat. Raja-raja yang memerintah di Gunung Sahilan adalah keturunan langsung dari Raja Pagarruyung.
Menurut H Munirjunu Dt Bandaro, seorang Khalifah di daerah Ujung Bukit Kampar Kiri, dalam alampape Minangkabau ada enam kerajaan yang diakui secara sah, yaitu Kerajaan Gunung Ibul di Kampar Kiri yang dipimpin oleh putra Tuanku Zulkarnain Alexander bernama Syailendra bergelar Sultan Rajo Mahadirajo.
Kerajaan kedua bernama Andiko 44 di Muara Takus, Kampar, dipimpin oleh Rajo Ampek Balai. Kerajaan ketiga bernama Kerajaan Priangan di daerah Padang Lagundi Setinggi Duduk atau Padangpanjang, Sumatera Barat. Kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Raja Mahadirajo yang pindah dari Gunung Ibul.
Di sini dihadirkan tiga raja besar yaitu Sultan Raja Alif atau Raja Bandaruhung yang wilayah kekuasaannya dimulai dari Mekkah hingga ke India dan Pakistan. Raja kedua adalah Sultan Raja Dompa yang berkuasa di Dataran China dan terakhir Sultan Raja Mahadirajo. Ketiga raja besar ini merupakan saudara kandung.
Raja Mahadirajo kemudian digantikan oleh Rajo Bukit Mas dengan gelar Dt Perpatih dan Sebatang. Di sini, mereka menggunakan adat yang bersandi syarak dan anak-anak mengikuti suku ibunya.
Sementara Sultan Raja Dompu bergelar Rajo Ketemanggungan dimana anak-anak mengikut suku bapaknya. Wilayah kekuasaannya adalah seluruh daerah yang terkena air pasang dan surut.
Kerajaan keempat bernama Kerajaan Kuntu Kampar Minangkabau Timur, sekitar abad IV M, dengan raja bernama Rajo Darah Putih. Ia kemudian digantikan oleh Adityawarman, putra Bundo Kanduang atau disebut juga Puti Petok atau Puti Jenggo. Kerajaan ini kemudian dipindahkan ke Sumatera Selatan dan bernama Sriwijaya.
Kerajaan kelima bernama Kerajaan Koto Minang, berdiri sekitar abad IV M dengan raja Puti Lindung Bulan. Kerajaan ini pindah ke Pagarruyung dan dipimpin oleh Adityawarman selama lebih kurang 50 tahun.
Terakhir, barulah berdiri Kerajaan Gunung Sahilan di Kampar Kiri. “Kerajaan ini berdiri pada tahun alif Hijriyah, itu berarti, usianya sekarang sudah 1.428 tahun, sesuai dengan tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW,” jelas Dt Bandaro.
Wilayah kekuasaannya terhampar mulai dari Sialang Berlantak Besi Muara Langgai (Rantau Taras) sampai ke Batang Durian Dipakuk Raja (Pangkalan Kapas).
Tak Pernah Dijajah Belanda
Suatu hari pada tahun 1901, Sultan Abdul Jalil Yang Dipertuan Besar Sultan Daulat, bersama lima khalifahnya menghadap Belanda di keresidenan Bengkalis. Ia ingin bernaung di bawah pemerintahan Belanda. Syaratnya, Belanda berpagar besi, Kampar Kiri berpagar adat. Kesepakatan ini tertulis dalam Piagam Kuntu yang hingga saat ini konon masih disimpan di Belanda.
Melalui kesepakatan ini maka Kerajaan Gunung Sahilan tetap memiliki kekuasaan atas negerinya, berdaulat, dan diakui oleh Belanda. Semua hukum adat yang selama ini diterapkan kerajaan tetap dapat diberlakukan. Bahkan pihak Belanda setiap tahun memberikan kupon hadiah bagi masyarakat Gunung Sahilan.
“Masyarakat Gunung Sahilan tak tahu apa itu penjajahan karena mereka memang tidak pernah dijajah. Bagi mereka sama saja kondisinya, berada di bawah naungan Belanda atau tidak,” jelas Tengku Raflan, salah satu keturunan kerajaan yang saat ini menetap di Pekanbaru.
Hubungan yang mesra ini hingga kini masih dapat dilihat bekas-bekasnya, antara lain sebuah rumah panggung yang masih berdiri kokoh dan terus dimanfaatkan warga. Karena ini pula, muncul istilah Khalifah ‘van’ Ludai atau Khalifah van Ujung Bukit, sebagai bukti bahwa eksistensi para duta kerajaan ini memang diakui pihak Belanda.
Dilanjutkan Tengku Raflan, ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Raja Gunung Sahilanlah yang lebih dulu mengirim telegram ke Jakarta untuk menyatakan diri bergabung dengan NKRI. “Lebih duluan Gunung Sahilan ketimbang Siak menyatakan bergabung dengan RI, tapi sayangnya kami tidak memiliki bukti apa-apa tentang hal itu,” katanya.
Tengku Gazaly dengan gelar Putra Mahkota dinobatkan sebagai calon pengganti raja sebelumnya pada 15 Juli 1941. Ia tidak sempat naik tahta karena kerajaan keburu menyatakan diri bergabung dengan NKRI.


Hukum Adat Masih Berlaku
Walaupun terlihat memprihatinkan, namun peran Istana Dalam di Gunung Sahilan masih mencengkeram kuat dalam sendi-sendi kehidupan rakyatnya. Antara lain, sebagai tempat bermusyawarahnya para ninik mamak se Kampar Kiri. Setiap Ramadhan, pada hari pertama para ninik mamak dan tokoh masyarakat wajib untuk shalat Tarawih di dalam istana ini. Demikian pula pada hari ke-15 dan malam takbiran.
“Prosesi adat ini masih berlangsung hingga hari ini. Contohnya, pada malam takbiran, para ninik mamak akan datang ke Istana Dalam, takbir di sana bersama-sama. Setelah itu, rombongan dibagi menurut sukunya masing-masing. Mereka kemudian berpencar melakukan takbir ke setiap rumah warga yang bersuku sama. Setelah itu, mereka berkumpul kembali di istana.
“Gong pertama dipukul sebagai tanda memanggil, gong kedua dipukul tanda semua sudah berkumpul dan gong ketiga dipukul saat rombongan ninik mamak ini diarak ke Sungai Kampar Kiri untuk ‘balimau’. Demikian pula saat Idul Fitri, semua ninik mamak melakukan Shalat Ied di istana. Dan pada hari kedua, kami sebut dengan Hari Raya Adat karena semua ninik mamak berkumpul kembali di istana.”
Adat istiadat yang dijalankan secara turun temurun hingga hari inipun masih terus diterapkan. “Orang yang dianggap telah bersalah secara adat, akan mendapatkan hukuman adat, misalnya, saat ia mengadakan doa menyambut hari baik bulan baik, orang kampung tak akan datang, tidak menjawab tegur, tidak menghadiri undangan, dan yang paling tinggi adalah tidak didatangi saat malam takbiran. Bagi kami tak ada malu semalu itu,” jelas Zulkifli, masyarakat Ujung Bukit. Hukum ini menurutnya akan berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Karena itulah, orang lebih suka membayar denda walaupun dengan seekor kerbau, asal tidak mendapat hukum adat yang amat memalukan ini.
Sehubungan dengan janji Bupati Kampar Burhanuddin yang akan membangun Istana Dalam menjadi istana termegah di Riau pada 2008 nanti, para khalifah, ninik mamak dan keturunan Kerajaan Gunung Sahilan sangat berharap janji ini dapat direalisasikan. Apalagi mengingat hingga sekarang istana ini masih sering difungsikan untuk bermusyawarah oleh para tetua adat.
“Kami juga berharap kalau selesai direhab, fungsinya sebagai tempat bermusyawarah tidak bergeser. Jangan direhab bila tujuannya semata untuk wisata budaya,” harap Dt. Bandaro.
Di atas itu semua, keturunan keluarga kerajaan Tengku Raflan mengatakan, “Saya tak berkecil hati kalau istana itu tidak seperti istana lain yang lebih megah. Lebih penting bagi saya adat istiadat kami terus dijalankan hingga hari ini.”
Bentuk pertama Istana Dalam ternyata lebih kurang seperti rumah lontiak. Istana Dalam yang tersisa saat ini di Gunung Sahilan memiliki bentuk yang berbeda dengan istana pertama ini. Gambar istana pertama ini ditemukan di Belanda dan sekarang sedang dipelajari. Bila renovasi istana jadi dilaksanakan 2008 nanti, para ninik mamak dan keluarga kerajaan akan berunding untuk menentukan bentuk mana yang akan dibangun.

Kamis, 05 Februari 2009

BM Syam Award, Penghargaan untuk Penulis Cerita Pusaka

Sabtu (24/1) kemarin digelar penyerahan BM Syam Award untuk para siswa SMP dan SMA yang telah berdedikasi menulis kisah-kisah asal mula nama suatu daerah di Riau. Kumpulan legenda ini diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata (Disbudsenipar) Provinsi Riau untuk kemudian dibagikan ke sekolah-sekolah.
Kepala Disbudsenipar Riau Joni Irwan dalam sambutannya menyatakan sangat mendukung kegiatan ini karena sangat berguna untuk melestarikan legenda-legenda negeri ini agar tak terkubur begitu saja dan dilupakan orang.
Sebagai daerah yang telah mencanangkan menjadi pusat kebudayaan melayu di dunia, Riau memang harus melakukan banyak hal, termasuk melestarikan tradisi-tradisi yang hampir punah.
"Biasanya yang mengetahui kisah-kisah asal mula ini adalah para kakek nenek kita, jadi bagus sekali bila anak-anak muda ini menggali kembali kisah-kisah itu untuk kemudian kita terbitkan dalam bentuk buku. Ini juga lebih bagus daripada anak-anak kita menonton sinetron dan film-film kartun dari luar," kata Joni Irwan.

Ia berharap kegiatan dwi tahunan ini dapat diadakan sekali setahun, sehingga semakin bergairah dan mendorong para siswa untuk mencintai kisah-kisah asli negerinya sendiri.

Peluncuran buku ini diisi dengan penandatanganan cover buku oleh Joni Irwan selaku Kadis Budsenipar, Al Azhar selaku Ketua Yayasan Bandar Serai dan Elmustian Rahman perwakilan dewan juri.

Pemenang pertama lomba penulisan ini adalah M Iqbal, siswa kelas III MA Sabili Huda, Reteh, Inhil, yang menulis tentang asal muasal nama Ibukota Kecamatan Reteh Pulau Kijang. Penghargaan untuk Iqbal sebagai pemenang pertama adalah judul kisah itu menjadi judul buku kumpulan kisah asal muasal ini. Juara kedua diraih oleh Azizah siswa SMAN 3 Pekanbaru dengan judul karya Legenda Desa Pekanheran, sedang pemenang ketiga Resi Rapitri, siswi MAN 1 Pekanbaru, menulis tentang Putri Pandan Baiduri (asal mula Persukuan di Pulau Bintan). Masing-masing pemenang mendapatkan trofi, piagam, dan royalti.

Usai peluncuran buku, acara dilanjutkan dengan diskusi tentang karya-karya yang masuk dan hal-hal seputar sastra. Pada umumnya yang tampil untuk bertanya adalah para guru yang siswa-siswanya ikut dalam lomba ini. Pertanyaan mereka seragam, apa kriteria dewan juri menetapkan para pemenang. Pasalnya, ada karya yang diunggulkan sang guru, malah tak masuk dalam 20 besar.

Para guru ini juga berharap pemerintah lebih banyak memberikan sumbangan buku bermutu untuk perpustakaan-perpustakaan sekolah. Pasalnya, para siswa mendapatkan pelajaran menulis resensi yang memang sangat berkaitan dengan karya-karya berkualitas.

Elmustian Rahman mewakili lima anggota dewan juri mengatakan beberapa kriteria penilaian yaitu orisinilitas karya, kekayaan bahasa, lokalitas karya, ide, dan kejernihan karya. Menurut Elmustian, tak masalah karya itu banyak memuat bahasa setempat, "Kalau perlu dibuatkan glosariumnya. Kapan lagi kita dapat memerdekakan bahasa kita kalau bukan sekarang," katanya.

Selain peluncuran buku 'Pulau Kijang Asal Mula Ibukota Kecamatan Reteh', diluncurkan pula antologi puisi 'Suara dari Kesunyian Temu Karya Penyair Muda Riau 2008' serta 'Kumpulan Cerita Pusaka Sang Ular Asal Nama Desa Sanglar' yang diterbitkan pada 2006 lalu. Cerita inipun merupakan buah karya M Iqbal, pemenang tahun ini.

Usai peluncuran, para undangan yang terdiri dari para siswa pemenang lomba didampingi guru masing-masing, berkunjung ke Museum Sang Nila Utama, di Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru. ***