Jumat, 13 Februari 2009

Waspadalah pada Orang Madura

Suatu hari saya pergi ke Surabaya. Bersama rombongan
saya berkeliling kota (city tour) didampingi seorang
pemandu. Sesuai pekerjaannya, pemandu yang merupakan
orang Jawa asli itu menerangkan segala hal tentang
Surabaya berikut sejarah singkatnya. Ini Jembatan
Merah yang bersejarah itu, itu tugu Surabaya yang
terkenal itu, itu jembatan Suramadu yang akan menghubungkan antara
Pulau Jawa dengan Madura, bla-bla-bla…

Saya menyimak dengan tenang. Walaupun tidak mencatat
di buku, tapi otak saya menyimpannya dengan
baik. Dan kemudian, seolah menemukan ide menarik untuk
dibicarakan, ia mulai menerangkan tentang
karakteristik orang Madura. Begini lebih kurang katanya, “Orang
Madura terkenal sebagai orang yang licik. Bila mereka

menemukan suatu kawasan yang tidak ada pemiliknya,
maka mereka akan mengambilalih tempat itu. Hari
pertama mereka akan bersembunyi di dalam sebuah kardus di
lokasi itu, dari pagi sampai malam di dalam kardus
itu. Hari kedua mereka akan membangun gubuk dan hari ketiga
mereka akan menguasai tempat itu. Jadi, ibu-ibu, saya
ingatkan, hati-hati dengan orang Madura.”

“Hei! Itu rasis!” saya langsung protes. Spontan. Saya
jadi ingat bapak penjual sate Madura di Pekanbaru
yang ramahnya bukan main, senyumnya hangat dan satenya
enak. Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan bapak
tua itu, tidak punya teman orang Madura, dan tidak
pernah punya urusan dengan orang Madura. Namun ketika
ada orang yang sok paling hebat dan mendiskreditkan orang
Madura, entah mengapa saya jadi senewan.

Ya, itu sudah rasis. Mendiskreditkan suatu suku,
kelompok atau apalah namanya, menurut saya adalah
rasis.

SARA istilah lainnya. Saya tidak habis pikir dengan si
pemandu, mengapa dia harus menerangkan panjang lebar
tentang karakteristik orang Madura pada rombongan yang
tidak sekalipun bertanya soal itu. Yang membuat saya
lebih tidak mengerti jalan pikiran orang itu adalah,
mengapa ia tidak merasa punya kaitan dengan orang
Madura, padahal bagi kita yang orang awam, toh mereka
sama-sama Jawa? Apa orang Jawa Timur lebih tinggi
derajatnya dari orang Madura?

Kalau kita perhatikan baik-baik, isu rasial ini ada
dimana-mana. Di Amerika, orang Meksiko dianggap
orang yang paling pandai berbohong, hingga ada
anekdot, ketika orang Meksiko kecelakaan dan sekarat
di dalam mobilnya, ia berteriak minta tolong, namun tidak ada
yang mau membantu. Alasannya, orang Meksiko suka
bohong, sudah mati tapi ngaku masih hidup. Jadi tidak ada yang
percaya.

Hitler membasmi bangsa Yahudi yang jumlahnya ribuan
di Jerman karena merasa bangsa Yahudi lebih rendah
derajatnya dibandingkan ras Aria. Ribuan orang
Yahudi, besar-kecil, laki-laki atau perempuan, mati di
kamp-kamp konsentrasi. Salah satu yang kamp yang
paling mengerikan adalah kamp Auswich di Polandia.
Isu rasial juga terjadi di sini. Kita seringkali
mendengar bisik-bisik, ‘hati-hati dengan pejabat A,
dia anti Minang,’ atau ‘jangan menikah dengan pria suku B,
mereka suka beristri lebih dari satu,’ atau, ‘Kampus C
dikuasi oleh suku X, selain suku X dijamin tidak akan bisa lulus
dengan cepat dan nilai yang bagus,’ blablabla…

Saya heran ada orang yang merasa lebih tinggi
dibandingkan orang lain. Bisa jadi karena sukunya,
jabatan, keturunan dan lain sebagainya. Padahal, dari
masing-masing suku itu, selain memiliki tokoh panutan,
pasti juga memiliki oknum-oknum yang bermoral buruk.
Bukan hanya itu, setiap manusia juga pastilah memiliki dosa.
Tidak ada yang sempurna. Tidak ada orang yang sepanjang hidupnya
tidak pernah melakukan kesalahan. Tidak ada juga orang
yang sepanjang hidupnya salah terus. Sekali waktu, tentulah
kita akan tergelincir, terpeleset, hingga melakukan
kesalahan.

Hari ini mungkin kita memerankan tokoh baik, namun di
kali lain mendapat peran jahat. Lalu, mengapa masih
ada yang merasa paling tinggi derajatnya dibandingkan orang
lain?



__________________________________________________

Istana Kerajaan Gunung Sahilan Menunggu Janji dan Tuah Sakti Para Petinggi

Menyebut istana kerajaan, mungkin orang langsung membayangkan bangunan kokoh yang lebih kurang sama dengan Istana Siak. Namun pemandangan yang amat kontras ditemukan di Gunung Sahilan, Kampar Kiri. Istana peninggalan Kerajaan Gunung Sahilan ternyata wujudnya sangat memprihatinkan.
Udara masih cukup sejuk pagi itu saat kami sampai di lokasi. Terletak sekitar 70 km arah utara Pekanbaru, Kecamatan Gunung Sahilan dapat ditempuh dengan kendaraan umum Pekanbaru-Taluk Kuantan via Lintas Tengah. Namun untuk mencapai lokasi istana, kita masih harus menyusuri jalan sepanjang lebih kurang enam kilometer ke arah pedalaman, masuk dari daerah bernama Kabun Durian.
Ketua Pemuda Kecamatan Gunung Sahilan Edi didampingi tokoh pemuda Gunung Sahilan lainnya, Intoni, menemani kami menuju sisa-sisa istana itu. Kami terkesima saat tiba-tiba sudah berada di depan istana. Yang hadir di depan kami adalah sebuah rumah panggung dari kayu, beratap seng penuh karat, dinding yang mulai dimakan rayap di sana-sini, pintu yang tergembok dari luar, dan banyak kotoran kambing berserakan di terasnya.
Halamannya seluas lebih kurang 10x5 meter, ditanami rumput jepang yang terlihat kurang terawat. Tak ada pot-pot bunga di sana. Kosong melompong. Secara keseluruhan, kesuraman yang mencekam terasa menyelimuti istana itu. Dalam hati kami tergurat kesedihan dan kepedihan. Mengapa harus seperti ini? Sungguh, ini jauh di luar bayangan kami. Apalagi bila membandingkan dengan Istana Siak di Kabupaten Siak Sri Indrapura.
Azirman, juru kunci yang juga masih terbilang keluarga kerajaan, tinggal di sebelah istana ini. Istri Azirmar, si Sar adalah cucu dari Yang Dipertuan Gadis Putri Intan, anak dari Tengku Hasyim yang beristri Putri Sari Negeri. Putri Intan wafat dalam usia 105 tahun pada 1887 lalu.
Memasuki istana ini, kami merasakan lantai kayu yang dingin, kotor oleh pasir, dan hawa yang lembab. Sebuah ruangan berukuran sekitar 11x5 meter terbentang di hadapan kami. Ruang kosong tanpa ada meja kursi dan lain sebagainya. Di arah kiri pintu masuk, menjorok agak ke depan, berdiri sebuah tempat tidur besi jaman dulu, lengkap dengan kasur dan bantalnya.
“Di sinilah Putri Intan dulu tinggal,” kata Azimar kepada kami.
Di sekitar tempat tidur ini disusun sisa-sisa peninggalan kerajaan ini berupa meriam, keramik, tombak, payung kerajaan, dan alat makan minum. Pada awal Ramadhan, meriam ini masih diletuskan sebagai tanda masuknya bulan suci umat Islam itu.
Di Pekanbaru, tepatnya di rumah salah seorang keturunan raja Gunung Sahilan, Tengku Raflan, masih tersimpan beberapa peninggalan kerajaan lainnya seperti beraneka stempel dari tembaga dengan berat dan ukuran yang beragam dan beberapa keris pusaka.
Beberapa lembar foto yang dibingkai dan digantung di dinding istana. Sayang, tidak ada keterangan apa-apa di bawah foto-foto itu seperti siapa yang difoto, dalam peristiwa apa, tahun berapa dan sebagainya. Sebuah foto memperlihatkan sultan terakhir kerajaan ini yaitu Tengku Sulung tengah berfoto bersama para khalifah, bertarikh 1905.
Khalifah sama arti dan fungsinya dengan duta besar. Mereka merupakan perwakilan kerajaan di daerah lain. Secara berkala mereka akan dipanggil pulang ke Gunung Sahilan untuk membicarakan banyak persoalan, termasuk soal kelangsungan kerajaan di masa mendatang.
Ada lima khalifah di kerajaan ini, yaitu Khalifah Kampar Kiri bergelar Datuk Besar, Khalifah Kuntu bergelar Datuk Bandaro, Khalifah Batu Sanggan bergelar Datuk Godang, Khalifah Ludai bergelar Datuk Maharajo Besar, dan Khalifah Ujung Bukit juga gelar Datuk Bandaro.
Menurut Azimar lagi, dulunya bangunan istana ini berukuran sekitar 12x16 meter persegi, terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang pertemuan, kamar-kamar dan dapur. Namun beberapa tahun yang lalu dilakukan pemugaran oleh pemerintah. Sayang, bentuknya dinilai kaum adat tidak sesuai dengan bentuk istana yang mereka kenali dulu. Salah satu perbedaan yang menyolok dan langsung dapat dikenali adalah bentuk rumah panggung yang berubah menjadi bukan rumah panggung. Walhasil, bila kita hendak masuk ke istana hasil pemugaran melalui istana asli, maka kita harus menuruni dulu empat anak tangga yang cukup terjal.

Bertalian dengan Kerajaan Pagaruyung
Dalam sejarahnya, Kerajaan Gunung Sahilan berhubungan kekerabatan sangat erat dengan Kerajaan Pagarruyung di Sumatera Barat. Raja-raja yang memerintah di Gunung Sahilan adalah keturunan langsung dari Raja Pagarruyung.
Menurut H Munirjunu Dt Bandaro, seorang Khalifah di daerah Ujung Bukit Kampar Kiri, dalam alampape Minangkabau ada enam kerajaan yang diakui secara sah, yaitu Kerajaan Gunung Ibul di Kampar Kiri yang dipimpin oleh putra Tuanku Zulkarnain Alexander bernama Syailendra bergelar Sultan Rajo Mahadirajo.
Kerajaan kedua bernama Andiko 44 di Muara Takus, Kampar, dipimpin oleh Rajo Ampek Balai. Kerajaan ketiga bernama Kerajaan Priangan di daerah Padang Lagundi Setinggi Duduk atau Padangpanjang, Sumatera Barat. Kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Raja Mahadirajo yang pindah dari Gunung Ibul.
Di sini dihadirkan tiga raja besar yaitu Sultan Raja Alif atau Raja Bandaruhung yang wilayah kekuasaannya dimulai dari Mekkah hingga ke India dan Pakistan. Raja kedua adalah Sultan Raja Dompa yang berkuasa di Dataran China dan terakhir Sultan Raja Mahadirajo. Ketiga raja besar ini merupakan saudara kandung.
Raja Mahadirajo kemudian digantikan oleh Rajo Bukit Mas dengan gelar Dt Perpatih dan Sebatang. Di sini, mereka menggunakan adat yang bersandi syarak dan anak-anak mengikuti suku ibunya.
Sementara Sultan Raja Dompu bergelar Rajo Ketemanggungan dimana anak-anak mengikut suku bapaknya. Wilayah kekuasaannya adalah seluruh daerah yang terkena air pasang dan surut.
Kerajaan keempat bernama Kerajaan Kuntu Kampar Minangkabau Timur, sekitar abad IV M, dengan raja bernama Rajo Darah Putih. Ia kemudian digantikan oleh Adityawarman, putra Bundo Kanduang atau disebut juga Puti Petok atau Puti Jenggo. Kerajaan ini kemudian dipindahkan ke Sumatera Selatan dan bernama Sriwijaya.
Kerajaan kelima bernama Kerajaan Koto Minang, berdiri sekitar abad IV M dengan raja Puti Lindung Bulan. Kerajaan ini pindah ke Pagarruyung dan dipimpin oleh Adityawarman selama lebih kurang 50 tahun.
Terakhir, barulah berdiri Kerajaan Gunung Sahilan di Kampar Kiri. “Kerajaan ini berdiri pada tahun alif Hijriyah, itu berarti, usianya sekarang sudah 1.428 tahun, sesuai dengan tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW,” jelas Dt Bandaro.
Wilayah kekuasaannya terhampar mulai dari Sialang Berlantak Besi Muara Langgai (Rantau Taras) sampai ke Batang Durian Dipakuk Raja (Pangkalan Kapas).
Tak Pernah Dijajah Belanda
Suatu hari pada tahun 1901, Sultan Abdul Jalil Yang Dipertuan Besar Sultan Daulat, bersama lima khalifahnya menghadap Belanda di keresidenan Bengkalis. Ia ingin bernaung di bawah pemerintahan Belanda. Syaratnya, Belanda berpagar besi, Kampar Kiri berpagar adat. Kesepakatan ini tertulis dalam Piagam Kuntu yang hingga saat ini konon masih disimpan di Belanda.
Melalui kesepakatan ini maka Kerajaan Gunung Sahilan tetap memiliki kekuasaan atas negerinya, berdaulat, dan diakui oleh Belanda. Semua hukum adat yang selama ini diterapkan kerajaan tetap dapat diberlakukan. Bahkan pihak Belanda setiap tahun memberikan kupon hadiah bagi masyarakat Gunung Sahilan.
“Masyarakat Gunung Sahilan tak tahu apa itu penjajahan karena mereka memang tidak pernah dijajah. Bagi mereka sama saja kondisinya, berada di bawah naungan Belanda atau tidak,” jelas Tengku Raflan, salah satu keturunan kerajaan yang saat ini menetap di Pekanbaru.
Hubungan yang mesra ini hingga kini masih dapat dilihat bekas-bekasnya, antara lain sebuah rumah panggung yang masih berdiri kokoh dan terus dimanfaatkan warga. Karena ini pula, muncul istilah Khalifah ‘van’ Ludai atau Khalifah van Ujung Bukit, sebagai bukti bahwa eksistensi para duta kerajaan ini memang diakui pihak Belanda.
Dilanjutkan Tengku Raflan, ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Raja Gunung Sahilanlah yang lebih dulu mengirim telegram ke Jakarta untuk menyatakan diri bergabung dengan NKRI. “Lebih duluan Gunung Sahilan ketimbang Siak menyatakan bergabung dengan RI, tapi sayangnya kami tidak memiliki bukti apa-apa tentang hal itu,” katanya.
Tengku Gazaly dengan gelar Putra Mahkota dinobatkan sebagai calon pengganti raja sebelumnya pada 15 Juli 1941. Ia tidak sempat naik tahta karena kerajaan keburu menyatakan diri bergabung dengan NKRI.


Hukum Adat Masih Berlaku
Walaupun terlihat memprihatinkan, namun peran Istana Dalam di Gunung Sahilan masih mencengkeram kuat dalam sendi-sendi kehidupan rakyatnya. Antara lain, sebagai tempat bermusyawarahnya para ninik mamak se Kampar Kiri. Setiap Ramadhan, pada hari pertama para ninik mamak dan tokoh masyarakat wajib untuk shalat Tarawih di dalam istana ini. Demikian pula pada hari ke-15 dan malam takbiran.
“Prosesi adat ini masih berlangsung hingga hari ini. Contohnya, pada malam takbiran, para ninik mamak akan datang ke Istana Dalam, takbir di sana bersama-sama. Setelah itu, rombongan dibagi menurut sukunya masing-masing. Mereka kemudian berpencar melakukan takbir ke setiap rumah warga yang bersuku sama. Setelah itu, mereka berkumpul kembali di istana.
“Gong pertama dipukul sebagai tanda memanggil, gong kedua dipukul tanda semua sudah berkumpul dan gong ketiga dipukul saat rombongan ninik mamak ini diarak ke Sungai Kampar Kiri untuk ‘balimau’. Demikian pula saat Idul Fitri, semua ninik mamak melakukan Shalat Ied di istana. Dan pada hari kedua, kami sebut dengan Hari Raya Adat karena semua ninik mamak berkumpul kembali di istana.”
Adat istiadat yang dijalankan secara turun temurun hingga hari inipun masih terus diterapkan. “Orang yang dianggap telah bersalah secara adat, akan mendapatkan hukuman adat, misalnya, saat ia mengadakan doa menyambut hari baik bulan baik, orang kampung tak akan datang, tidak menjawab tegur, tidak menghadiri undangan, dan yang paling tinggi adalah tidak didatangi saat malam takbiran. Bagi kami tak ada malu semalu itu,” jelas Zulkifli, masyarakat Ujung Bukit. Hukum ini menurutnya akan berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Karena itulah, orang lebih suka membayar denda walaupun dengan seekor kerbau, asal tidak mendapat hukum adat yang amat memalukan ini.
Sehubungan dengan janji Bupati Kampar Burhanuddin yang akan membangun Istana Dalam menjadi istana termegah di Riau pada 2008 nanti, para khalifah, ninik mamak dan keturunan Kerajaan Gunung Sahilan sangat berharap janji ini dapat direalisasikan. Apalagi mengingat hingga sekarang istana ini masih sering difungsikan untuk bermusyawarah oleh para tetua adat.
“Kami juga berharap kalau selesai direhab, fungsinya sebagai tempat bermusyawarah tidak bergeser. Jangan direhab bila tujuannya semata untuk wisata budaya,” harap Dt. Bandaro.
Di atas itu semua, keturunan keluarga kerajaan Tengku Raflan mengatakan, “Saya tak berkecil hati kalau istana itu tidak seperti istana lain yang lebih megah. Lebih penting bagi saya adat istiadat kami terus dijalankan hingga hari ini.”
Bentuk pertama Istana Dalam ternyata lebih kurang seperti rumah lontiak. Istana Dalam yang tersisa saat ini di Gunung Sahilan memiliki bentuk yang berbeda dengan istana pertama ini. Gambar istana pertama ini ditemukan di Belanda dan sekarang sedang dipelajari. Bila renovasi istana jadi dilaksanakan 2008 nanti, para ninik mamak dan keluarga kerajaan akan berunding untuk menentukan bentuk mana yang akan dibangun.

walau... alhamdulillah

banyak alasan yang membuat saya terus bersyukur
sepanjang hari. ini daftarnya

1. walaupun tadi malam pulang jam sepuluh lewat, si
kecil mencret pukul satu malam dan suhu tubuhnya
meninggi, alhamdulillah masih diberi Allah umur pagi
ini saat pukul lima aku bangun.
2. alhamdulillah suhu tubuh permata sudah mulai turun
dan ia tidak rewel
3. alhamdulillah sebelum berangkat sekolah lira mau
makan walau hanya dengan telor dadar karena lauk di
meja makan sudah habis sejak semalam
4. alhamdulillah permata tidak mencret lagi dan ia
mulai riang
5. alhamdulillah mesin cuci yang biasanya ngadat pagi
ini dapat diatasi sehingga cucian selama dua hari
dapat segera dibereskan
6. alhamdulillah permata yang baru bisa jalan tidak
terjatuh di kamar mandi karena mencari saya
7. alhamdulillah aku bisa memasak untuk keluarga
kecilku
8. alhamdulillah masih sempat menyapu rumah dan
mengganti seprai yang sudah bau pesing permata karena
kena pipis terus sejak berapa hari ini
9.alhamdulillah luka di kaki lira sudah mulai membaik
10. walaupun sedan tua kami panas luar biasa karena
tidak ada ac-nya, alhamdulillah mesinnya masih bagus
dan dapat mengantarkanku ke tempat kerja dengan
selamat
11. walaupun suami tak bisa menjemput, dan aku harus
keluar uang ekstra Rp20 ribu untuk ongkos taksi,
alhamdulillah aku terhindar dari macet sehingga dapat
cepat sampai ke tempat kerjaku yang lain
12. walaupun mendadak harus menggantikan kerja teman
yang ada halangan (artinya kerja tambahan),
alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan aku tak
perlu pulang lebih lama
13.alhamdulillah, tadi ketemu teman yang memberikan
informasi penting yang aku inginkan
14. alhamdulillah, asuransi pendidikan permata sudah
dibayarkan
15. alhamdulillah, permata tidak kesentrum saat main
ke belakang meja tivi
16. walaupun hpku mati karena baterainya habis,
alhamdulillah dina mau meminjamkan hpnya sehingga aku
bisa menghubungi suami agar memjemputku ke tempat
kerja malam ini
17.akhirnya, alhamdulillah karena hari ini aku masih
bisa menikmati dan mensyukuri nikmatMu, ya Allah, ya
Rabku yang Maha Tinggi...

Mama Tak Pernah Menciumku Lagi…

Saya sedang menciumi si kecil yang masih berusia sepuluh bulan yang tengah asyik mencongkel-congkel lubang kunci lemari. Berdirinya masih belum kokoh, kadang masih sering jatuh. Karena itu ia harus diawasi ekstra ketat. Dan kesukaan semua orang bila berada dekat bayi adalah menciumi pipinya yang montok sehat menggemaskan. Jadi sambil mengawasinya, saya ciumi pipinya sambil menikmati aroma tubuhnya, lembut parfumnya, dan juga halus kulitnya.
"Tata enak-enak, selalu Mama cium. Rara nggak pernah Mama cium lagi…"
Tiba-tiba si sulung yang sedang tidur-tiduran di dipan rendah berkomentar. Saya tertegun. Ternyata ia tengah memperhatikan kami! Saya menoleh padanya dan melihat sorot mata sedih gadis kecil itu tengah memandangiku.
Menyadari kami sedang beradu pandang, ia menutup wajahnya dengan guling. Lalu terdengar ia terisak-isak. Cepat-cepat saya tinggalnya si kecil dan mendekati si sulung.
"Sayang… maafkan Mama…" saya peluk dia. Tapi ia mengelak. Ia tak mau membuka wajahnya.
"Dulu Mama sering mencium Rara kalau sedang tidur, sekarang juga sudah tidak pernah lagi, huhuhu…" ia masih terisak-isak.
"Tadi sore Rara kan nggak mandi, jadi sekarang pasti agak bau, ciumnya sambil tutup hidung ya!" saya masih mencoba bercanda.
"Nggak mau kalau sambil tutup hidung!"
Sepanjang malam itu ia tidur dengan hati yang sedih. Saya sudah mencoba membujuknya dengan mengatakan dulu waktu ia masih bayi ia juga sering diciumi. Tapi mungkin karena hatinya sedang terluka, ia tak begitu memperhatikan.
Malam itu, saya merenung. Sebagai seorang ibu, saya memang telah berlaku tidak adil pada si sulung. Dari cara bicara saja, ia sudah dibedakan. Bicara dengan adiknya yang masih bayi, saya cenderung bermanis-manis, tapi dengan si kakak saya berusaha untuk tegas, seolah yang saya hadapi adalah rekan kerja di kantor, atau mungkin bawahan yang tak mengerti-mengerti juga walau sudah berkali-kali dikatakan.
Sering kita memang jadi mengubah sikap saat anak kedua atau ketiga lahir. Si sulung yang kemarin masih disayang-sayang, dimanja-manja, tiba-tiba ‘dipaksa’ menjadi dewasa. Ia harus menjadi kakak yang baik bagi si adik, tidak boleh mencubit, tidak boleh jahat, dan lain sebagainya.
Dan yang terjadi dengan si sulung saya yang masih lima tahun itu adalah, perasaan tidak disayang lagi. Perasaan terbuang karena kehadiran si adik yang memonopoli perhatian orang serumah. Si adik jelas telah ‘merebut’ posisi yang selama ini dikuasainya.
Saya mengingat kembali kenangan dengan si sulung. Akhir-akhir ini ia memang sedikit menjengkelkan dan membuat saya yang letih pulang kerja jadi cepat marah. Padahal kalau diteliti lagi secara cermat kesalahan itu masih wajar, selazimnya kenakalan yang dilakukan anak-anak seusianya. Mandi berlama-lama sampai seluruh jari jadi pucat, main sabun dan sampo hingga tinggal separuhnya, lupa menggosok gigi, menaruh pakaian kotor tidak di tempatnya, tidak mau pakai piyama waktu tidur, tidak mau makan kecuali disuapi dan dipaksa, dan lain-lain.
Saya memarahinya karena kesalahan-kesalahan itu, bahkan menjewer kupingnya karena jengkel pulang dari kantor melihat rumah seperti kapal pecah. Sering si sulung yang sadar telah berbuat salah, memandang saya dengan tatapan sedih setelah saya jewer kupingnya. Kalau itu sudah terjadi, saya serasa ingin menangis karena menyesal. Ah, mengapa saya jadi jahat begini? Mengapa saya tidak bisa menahan diri sedikitpun?
Takdir yang indah
Ditakdirkan menjadi seorang ibu sebenarnya adalah sebuah karunia yang indah, yang harus selalu disyukuri. Tidak semua perempuan bisa menjalankan peran itu. Juga tidak semua ibu berhasil menjalankan peran itu. Ada ibu yang keras pada anak, ada pula yang lembut. Ada ibu yang memanjakan anak dengan materi, sebaliknya ada pula yang sangat pelit. Ada ibu yang ‘menyerahkan’ anak pada baby sitter, ada pula yang ‘membuangnya’ di tempat sampah.
Memang tak ada teori yang benar-benar pas agar seorang perempuan bisa menjadi ibu ideal bagi anak-anaknya. Semua punya teorinya sendiri. Semua ibu punya triknya sendiri karena masing-masing ibu menemui kasus yang berbeda-beda dalam membesarkan anak-anaknya. Dan seorang ibu, akan terus belajar sepanjang hayatnya untuk menjadi ibu ideal bagi anaknya.
Namun satu hal yang seharusnya kita, para ibu, selalu ingat adalah bahwa anak-anak adalah titipan Tuhan. Ia bersih dan polos. Peran ibu sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak. Dari ibu anak-anak mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keimanan, kasih sayang, dan juga keberanian. Seringkali kita mendengar ada anak yang lebih percaya pada apa yang dikatakan ibunya dibandingkan kata siapapun. Ibu adalah sosok sentral yang tahu segalanya.
Suatu hari si sulung pernah berkata pada saya, "Mama kok tahu semuanya sih?"
Ah, hati ibu mana yang tidak bahagia mendengar pujian itu? Pujian yang tulus, yang bukan dimaksudkan agar saya memberinya kelonggaran menonton tivi seharian, atau mandi di dalam bak sambil main busa. Bukan, bukan. Pujian dari seorang anak menurut saya adalah sebenar-benar pujian.
Ibu juga adalah guru, koki, pengasuh, tukang dongeng, komandan pasukan dan banyak lagi. Saat mengambil peran sebagai ‘komandan pasukan’ kita sering lepas kendali dan lupa dengan ‘pasukan kecil’ yang tengah kita hadapi. Kita lupa bahwa pasukan itu baru empat atau enam tahun mengenal dunia, masih banyak tidak tahunya, bahkan sebagian masih mengompol di tempat tidur. Namun kita tetap marah bila menemukan kaus kaki masih saja terserak di depan pintu, baju kotor lagi kena tumpahan es krim, atau sudah tertidur di depan televisi sebelum mandi sore.
Hukuman-hukumanpun dijatuhkan. Jewer kuping, cubit pantat, atau tidak boleh makan es krim seminggu ini. Bagi kita mungkin itu wajar saja, karena dulu waktu kecil toh kita juga pernah merasakannya. Bahkan mungkin lebih parah karena lazim pula orangtua jaman dulu menempeleng, melecut dengan ikat pinggang, dan lain sebagainya anak-anaknya.
Menurut saya, sebagai ibu, kita telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap ‘pasukan kecil’ itu karena menurut World Health Organization (WHO) kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak.
Kekuatan fisik dan kekuasaan harus dilihat dari segi pandang yang luas mencakup tindakan atau penyiksaan secara fisik, psikis/emosi, seksual dan kurang perhatian (neglected). Dalam kaitan ini Komite Nasional Pencegahan Trauma di Amerika Serikat menggunakan istilah kekerasan oleh mitra dekat (intimate partner violence) yang mencakup kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga tak melulu perkara istri digampar suami atau suami dilecehkan istri, melainkan juga kekerasan terhadap anak, perselingkuhan, dan pemalsuan surat agar suami dapat menikah lagi.
Child abuse
Child abuse merupakan bentuk perlakuan kekerasan terhadap anak-anak. Terry E. Lawson, psikiater internasional yang merumuskan definisi tentang kekerasan terhadap anak, menyebut ada empat macam abuse, yaitu emotional abuse, verbal abuse, physical abuse, dan sexual abuse.
Emotional abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, mengabaikan anak itu. Ia membiarkan anak basah atau lapar karena ibu terlalu sibuk atau tidak ingin diganggu pada waktu itu. Ia boleh jadi mengabaikan kebutuhan anak untuk dipeluk atau dilindungi. Anak akan mengingat semua kekerasan emosional jika kekerasan emosional itu berlangsung konsisten. Orang tua yang secara emosional berlaku keji pada anaknya akan terus-menerus melakukan hal sama sepanjang kehidupan anak itu.
Verbal abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak, setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, menyuruh anak itu untuk diam atau jangan menangis. Jika si anak mulai berbicara, ibu terus-menerus menggunakan kekerasan verbal seperti, "kamu bodoh", "kamu cerewet", dsb. Anak akan mengingat semua kekerasan verbal jika semua kekerasan verbal itu berlangsung dalam satu periode.
Physical abuse, terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak memukul anak (ketika anak sebenarnya memerlukan perhatian). Pukulan akan diingat anak itu jika kekerasan fisik itu berlangsung dalam periode tertentu.
Sexual abuse biasanya tidak terjadi selama delapan belas bulan pertama dalam kehidupan anak. Lewat dari usia itu, anak-anak mulai dihadapkan pada ancaman sexual abuse. Untuk Pekanbaru, beberapa bulan terakhir kita dibuat tidak nyaman karena adanya kasus sodomi terhadap anak-anak yang korbannya kemudian dimutilasi dan dibuang sembarangan seperti bangkai. Sungguh mengerikan.
Yang terjadi dengan anak saya, dan mungkin banyak anak-anak lain yang ditakdirkan menjadi anak sulung, adalah perasaan tidak lagi disayang ketika si adik lahir. Saya jelas sedih dengan keadaan itu. Dan lewat perenungan malam itu, sayapun bertekad akan mengubah sikap buruk saya. Sayalah yang harus mengerti dia, bukan sebaliknya. Saya ingin dikenang sebagai ibu yang ideal baginya, ibu yang dicintainya, ibu yang dibanggakannya, ibu yang selalu menjadi tempatnya bertanya dan mengadu.
Kita para ibu haruslah menjadi benteng terkuat bagi anak saat ia mencari perlindungan, perhatian dan kasih sayang. Sukur si sulung saya yang sedang sedih itu mau mengungkapkan perasaannya, sehingga sayapun selaku ibu dapat cepat mengerti dengan kesalahan dan kekerasan yang telah saya perbuat. Bagaimana dengan anak-anak yang introvert, yang hanya memendam perasaannya dalam-dalam? Siapa yang tahu laranya, kepedihan hatinya, kecewanya, sepinya, selain dirinya sendiri? Ibulah yang paling tahu bagaimana anaknya. Karena itu, jadilah ibu terbaik bagi mereka. ***


I

Doa Papa Bila Berada di Tanah Suci

Papaku adalah seorang lelaki sederhana. Semasa mudanya ia termasuk orang yang menyia-nyiakan kesempatan dan itu sangat disesalinya hari ini. Bagaimana tidak, walaupun berstatus sebagai anak angkat seorang Bupati di Sawah Lunto, namun Papa tak pernah menyelesaikan STM-nya. Ia malah asyik jadi supir taksi gelap dengan mobil dinas Pak Tuo, demikian aku dibiasakan memanggil kakek angkatku yang bupati itu sementara cucu-cucu kandung diajarkan memanggilnya 'abo'.

Papaku kini telah berusia 76 tahun. Mulai agak pekak, gara-gara minum obat TBC selama enam bulan tanpa henti. Beberapa gigi Papa patah dan kalau rukuk punggungnya tak bisa lagi ditekuk lurus.
Kemarin Papa datang dari Padang. Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Aku senang Papa mau tinggal di rumahku agak lama karena selama ini beliau selalu bergegas pulang ke Padang dengan alasan ayam-ayamnya, kambing-kambingnya, dan si Brillo, anjing kesayanganku dan Papa, tak ada yang mengurus. Atau alasan yang tak dapat kami bantah lagi, Mama dapat orderan bikin rendang sekian kilo. "Kalau Papa tidak pulang, siapa yang akan membeli daging dan segala bumbu ke pasar? Mama itu tidak bisa," begitu selalu kata Papa pada kami anak-anaknya kalau mendadak ingin pulang ke Padang.
Sekarang, akibat isu flu burung, Papa tak lagi memelihara ayam. Demikian pula kambing. Dan Brillo telah lama hilang dari rumah. "Ia memang selalu jadi incaran pencuri," kata Papa selalu. Si Brillo berbulu lebat berwarna coklat. Ia jinak denganku dan Papa dan salakannya luar biasa mengerikan bagi orang yang tak biasa. Rumah aman selagi Brillo ada. Anak-anak yang dilahirkan Brillo selalu laris diminta (dan dicuri) para tetangga.
Papa adalah sosok bapak yang sayang anak dan tidak mau main tangan. Paling tidak tahan melihat kami menangis dan selalu bangga pada kami. Sifat itu terus dimilikinya hingga iapun menjadi datuk kesayangan para cucunya. Setiap cucu merasa istimewa karena mereka punya julukan masing-masing. Misalnya Intan, cucu yang paling manis sedunia, Ilham, cucu yang paling ganteng sedunia (karena ia adalah cucu laki-laki pertama), Rara, cucu yang paling pintar sedunia, Tsaqif, cucu yang paling hebat sedunia, dan Tata, cucu yang paling disayang sedunia.
Papa suka mendongeng. Kenangan saat hujan turun deras, suatu hari kala aku masih belum masuk TK, masih teringat hingga kini. Aku dan adik laki-lakiku, Yon, duduk di samping kiri dan kanan Papa. Papa duduk di tengah dengan senyumnya yang hangat. Papa bercerita tentang si Kancil. Kami diajak berfantasi, si Kancil tiba-tiba muncul dari balik pagar kawat.
Sebelum tidur malam, minimal satu dongeng tentang si Kancil harus kami dapatkan. Sebelumnya tentu saja syarat-syaratnya harus dipenuhi dulu yaitu membaca doa, hafalan ayat pendek dan lain sebagainya.
Ah Papa, kini aku sudah dewasa. Aku kini telah menjadi seorang ibu. Teladanmu dalam mengembangkan daya imajinasi telah aku terapkan pada anak-anakku.
April nanti, rencananya Papa akan pergi umroh ke Tanah Suci. Tadi pagi, setelah melihat dan mencobakan pakaian ihram dan peralatan umroh lainnya, aku bertanya pada Papa, "Apa yang akan Papa doakan saat sampai di Mekah nanti? Minta agar Yessi cepat dapat jodoh?" Yessi adalah adik bungsuku yang sekarang berusia 25 tahun.
Papa melipat baju kaos pemberian pihak travel biro dengan tenang. Kulitnya yang coklat dan mulai keriput terlihat mengelus baju kaos itu penuh sayang. Katanya dengan suara perlahan dan wajah tertunduk, "Papa akan minta pada Allah agar anak-anak Papa terkabul semua keinginannya. Yang belum punya rumah dapat membangun rumah, yang ingin menyekolahkan anak sampai tinggi berhasil menyekolahkan anak-anaknya, dan semuanya dapat pergi ke Tanah Suci."
Aku terdiam. Itu aku! Itu semua aku! Aku anak yang belum punya rumah, aku yang bilang ingin menyekolahkan anak-anakku setinggi mungkin. Aku juga yang secara eksplisit mengatakan ingin pergi ke Tanah Suci.
Aku tak menyangka, jawabannya seperti itu. Aku kira Papa akan berdoa agar Yessi cepat dapat jodoh, Papa diberi umur panjang, rejeki melimpah, kesehatan baik, dan doa klise, diberi kesempatan untuk datang lagi ke Tanah Suci. Tapi ternyata, Papa hanya mendoakan kami, anak-anaknya.
Kutahan airmataku. Kutahan gejolak hatiku yang terasa sesak oleh sesuatu. Papa, semoga kami tetap anak-anak kebanggaanmu...Semoga Allah mengabulkan doa-doamu, semoga Allah mencintaimu, seperti engkau mencintai kami anak-anakmu...

Luka

pagi itu, hari Minggu. Aku terburu-buru membersihkan
ikan yang baru saja dibeli dari pasar. Mandi koboy
(artinya asal basah dan disabun alakadarnya) lalu
bergegas pergi ke sebuah mesjid.
kutinggalkan bayiku yang berusia tujuh bulan dengan
Omanya. Dia mencret sejak kemarin. Agak rewel. Karena
itulah aku agak berat meninggalkannya.
Tapi apa boleh buat. Ada tugas memanggil. Dan yang
terpenting, aku berharap akan ada uang sebagaimana
yang telah dijanjikan untuk jasa peliputan ini.
lumayan untuk menambah uang beli obat si kecil.
apalagi ini tanggal tua...
Sesampainya di lokasi, acara belum dimulai. Bahkan aku
harus menunggu sekitar satu jam hingga rombongan
walikota yang akan meresmikan masjid itu datang. aku
sedikit kecewa karena tadi meninggalkan rumah
terburu-buru sehingga masih banyak pekerjaan yang
belum beres.
Aku meliput acara itu hingga selesai. Lalu pulang ke
rumah dengan menyewa sebuah ojek.
ternyata keesokan harinya, saat berita itu sudah
dinaikkan, si teman tidak mau memberikan uang jasa
sebagaimana yang telah disepakati. dengan nada tak
berperasaan ia berkata bahwa tulisan itu tidak bagus.
"Mau bagus bagaimana lagi, la acaranya cuma meresmikan
mesjid kok!" kataku jengkel. Panjang lebar kuterangkan
padanya betapa pengorbananku tidak sedikit demi berita
itu. anak-anak yang harus ditinggalkan ketika
seharusnya ia bersamaku, letih badanku setelah malam
sebelumnya lembur di kantor, melobi penjab halamannya
agar berita itu bisa naik walau sebenarnya tak ada
yang istimewa, bla bla bla...
Persoalannya bukan masalah uangnya. Amat sangat sering
aku meliput sesuatu tanpa imbalan uang. Dan bukan tipeku
pula untuk meliput susuatu hanya karena dijanjikan uang.
Masalahnya, manusia yang bermanis-manis padaku saat minta
tolong itu, berjanji akan membayar jerih payahku itu. Dia berjanji!
Itu yang kupegang. Itu yang aku pegang saat meninggalkan
ikan-ikan yang sedang dibereskan, anak yang sedang mencret,
bahwa kami telah terikat komitmen bahwa aku akan
meliput acara tak penting itu.
Lalu setelah beritanya dimuat, dengan santai dan kurang ajar
ia mengatakan berita itu tidak bagus. Lha, bagaimana mau
bagus, acaranya hanya peresmian masjid, diselubungi
kampanye gelap sebelum waktunya oleh incumbent itu.
tak lebih tak kurang. Aku sungguh-sungguh merasa
terhina. Terhina oleh anak kemarin sore yang sok akrab denganku itu.
Dan saat itu aku berkata dalam hati, perempuan itu berutang padaku
sampai ia bisa melunasinya. Ia berutang! Saat ini aku belum
punya keinginan untuk merelakannya.

Kami bersitegang. Aku tetap meminta hakku sedang ia
bersikeras. Tak ada kesepakatan. Akhirnya kami tak
saling tegur.
Sebulan yang lalu, aku dan suami bermaksud mengadakan
akikah si bungsu, tepat pada bulan
kelahirannya,agustus. semua persiapan sudah beres.
tanggal 4 agustus, aku menghadap bagian keuangan,
'menebalkan muka' memohon pengecualian agar gaji yang
seharusnya kami terima pada tanggal 1 (tapi karena
manajemen perusahaan gak becus makanya kami sering
gajian pada tanggal 10) khusus untukku pada bulan itu
dibayar pada tanggal 4 atau 5 (sebelum tanggal 6 pas
acara akikah yang jatuh pada hari minggu).
"temui Pimpinan perusahaan dulu, nanti kalau sudah
oke, temui saya lagi," kata si 'keuangan' itu.
aku menebalkan muka lagi dan menuruti sarannya.
permintaanku disetujui, tapi bukan gaji penuh,
melainkan dalam bentuk utang dan akan dipotong
langsung ketika terima gaji. aku pikir, tak apalah.
toh aku hanya perlu dana darurat yang tak banyak.
sebenarnya aku perlu uang untuk keperluan mendadak di
dapur, entah itu tissu yang kurang, sabun cuci piring
habis, atau hal-hal sepele semacam itu. karena
sama-sama bekerja, aku malu minta terus sama suami
karena nanti pasti akan panjang ceramahnya...
dengan hati penuh harap, aku masuk lagi ke ruang
'keuangan'. dia sedang ada tamu, karyawan lainnya.
kulihat ia bersandar di kursinya, mulutnya penuh
berisi pisang goreng panas yang memang selalu jadi
favorit karyawan pada sore hari. aku melongok di pintu
dan berkata, "Bang, sudah disetujui..." aku belum
sempat mengatakan saran pimpinan perusahaan, tapi dia
sudah memotong, "Uang yang akan diberikan itu betul
yang tak ada..." mulutnya komat-kamit mengunyah pisang
goreng panas itu sambil mengerluarkan bunyi.
aku tertegun.
tak sanggup berkata-kata, aku kembali ke mejaku.
dadaku penuh. air mata terasa menggenang di pelupuk
mata. tega sekali... setelah ia memberi harapan,
setelah aku menceritakan untuk apa uang itu...ternyata
hanya itu jawabannya.
setelah itu aku menghindarinya. aku muak melihat wajah
tak berperasaan itu. bahkan saat berpapasanpun aku
memilih tak menegurnya.

tapi sebentar lagi Ramadhan...
ada kesadaran baru dalam diriku
aku tak ingin puasaku tak diterima
aku tak ingin KEKASIHKU menolakku
maka kulakukan apa yang selama ini terasa berat
memaafkan mereka...





_______________________________________________

Aku Jijik Lihat Mama

Sudah seminggu ini Rara influensa. Ingusan. Dasar anak-anak, ia malas sekali mengeluarkan ingus itu.
Sukanya menghirup lagi ingus yang sudah sampai di ujung bibir, masuk dalam-dalam ke hidungnya. Dapat anda bayangkan bukan, asoynya…
Jadi rutinitas saya kalau subuh memandikan dia,ya membuang ingus itu. saya gemas mendengar ia menghirup-hirup ingusnya itu.
“Dulu waktu kecil saya gak pernah kayak gitu, malah jijik ngeliat teman yang punya ingus, tapi kok sekarang anaknya hobi banget punya ingus. Turunan
siapa ya?”tanya saya pada suami dengan pandangan menuduh.
“Sembarangan!” kata suami dengan mata melotot. “pagi-pagi sudah nyari pasal!”
Saya cekikikan.
“Ayo, buang ingusnya! Yang banyak! Yang kuat!” kata saya mengomandoi Rara membuang ingus. Mula-mula yang kanan dulu, lubang yang kiri ditutup, jadi semua ingus
di lubang yang kanan keluar tuntas. Lalu dilanjutkan dengan yang kiri.
Kadang sebelum berangkat sekolah pukul enam pagi, waktu matahari baru saja keluar, saya masih menyempatkan diri untuk mengeluarkan sedikit lagi ingus itu. Rara kadang protes. ”Udahlah tu Ma… Rara m alas nih…”
“Eit, nanti teman-temannya gak mau main sama kamu, habis, ada ingusnya sih. Dulu mama waktu kecil gak mau main sama teman yang ada ingusnya. Ih, mama jijik!”
Dengan cemberut ia menuruti apa kata saya. Lalu berangkat sekolah.
Siangnya, saat ia pulang pukul dua belasan, tampangnya kusut. Jilbab entah dimana, kaus kaki sudah tak ada, celana kotor kena tanah… dan ingus yang berkilauan di
lubang hidungnya.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam Sayaaang…”
Rara masih terkantuk-kantuk. Saya kasian melihatnya.
“Ayo, cepat ganti baju dan tidur,” kataku. Ia segera membuka seragamnya dan merebahkan diri di tempat tidur. Tapi sekalipun tak pernah ia bisa tidur lagi sepulang sekolah. Jadi saya kira ia hanya enak tidur di dalam mobil dengan kondisi penuh sesak, ribut dan angin berhembus dari jendela.
Setelah itu, saya pergi ke depan komputer lagi. Rara biasa main di bawah meja, dekat kaki saya.

Siang itu, sambil menekan-nekan keyboard, saya dengar suara Rara menghirup ingus lagi. Sekali dua kali, saya biarkan. Tapi lama-lama terganggu juga.
“Ingusnya Rara…”
“Iya, sebentar lagi,” jawabnya. Ia sedang asik main sendiri di kolong meja.
Lima menit kemudian, suara itu terdengar lagi.
”Rara… ingusnya buang!”
“Iya iya.”
Tapi masih tak ada gerakan.
“Rara, mama jijik lihat ingus kamu!”
“Rara juga jijik liat mama.” Jawabnya santai.
Saya terdiam. Ops, saya telah salah mengenalkan sebuah kosa kata.
Setelah diam beberapa saat, saya berkata padanya, “Ayo Sayang, bersihkan ingusnya, biar cepat sembuh. Mama sayang sama kamu dan mama ingin anak mama yang cantik
ini tidak sakit lagi biar bisa diajak jalan-jalan.”
Diam sejenak. Lalu...
Ia bangkit dari duduknya dan memeluk saya. “Aku sayang mama!”
"Ingusnya Nak, ingusnya."
"Yayaya."