Kamis, 08 Januari 2015

liburaaan....



Jumat (26/12/14) pagi, kami berangkat pergi liburan. Kali ini liburannya akan sangat panjang, lebih dari seminggu. Alhamdulillah, pekerjaanku cukup fleksibel, si abang juga. Anak-anak sedang libur semester dan ada dua minggu harpitnas. Apa lagi?
Sebenarnya aku agak khawatir, apakah bisa kami berangkat? Si Tata pusing-pusing sejak sepekan lalu. Tepat hari Senin usai ujian semester, ia merasa pusing dan ujung-ujungnya muntah-muntah. Aku sangat khawatir. Ia hanya bisa tidur telentang. Bergerak sedikit, ia mengaku kepalanya pusing. Makan apapun, nanti bisa keluar lagi. Kasian...
Seminggu ia tidakmasuk sekolah. Beruntung ujian semester sudah selesai dan tak ada remedial.  Praktis, menjelang penerimaan rapor, ia tidur saja di rumah.  Setelah menerima rapor pun, kondisinya sering bolak-balik, kadang baik, kadang tidak.  Karena tidak pergi kemana-mana itulah, aku menjalani puasa sunnah sejak Senin, tepat saat anak-anak libur sekolah.
Pagi itu, dia lebih memilih tidak liburan kemana-mana, karena sakitnya. Kami lalu membawanya ke sinse yang kami kenal. Siapa tahu dengan pijatan sinse, kondisi Tata bisa membaik. Kami pergi bertiga pakai motorku. Dia berdiri di depan dengan lemas.
Sementara itu Lira di rumah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang  kampung. Ya, semoga saja kondisi Tata tak parah, sehingga kami bisa pergi liburan. Soalnya aku juga tidak masuk kantor. Aku libur sejak Kamis hingga Minggu besok.
Sayang, sinse yang kami maksud, tidak buka hari itu. Apa merayakan Natal juga ya? Akhirnya, kami pergi saja ke tukang urut langganan dekat rumah. Harus menunggu lebih dari setengah jam karena ada pasien lain. Begitu tiba gilirannya, si ibu bilang memang ada urat di punggung yang agak sedikit melenceng. Tata diurut seperti biasa.
Alhamdulillah, setelah diurut, dia merasa lebih baik. Lalu diputuskan, kami jadi pulang kampung. Horee! Hingga detik terakhir, tidak ada kabar dari beberapa orang -teman si Lira  yang ingin ikut dengan kami.  Ya sudah, kami pergi berempat saja.
Koper-koper dimasukkan ke  dalam  mobil. Tas, ransel, dan juga seperangkat komputer, alat kerjaku. Laptop kami sudah jadul bingits, baterainya tidak bisa dipakai lagi. Jadi kalau mau menggunakan laptop, harus dicolokin terus ke listrik. Mending PC aja sekalian. Sudah familiar dengan jari jemariku.
Kami berangkat dari rumah sekitar pukul sepuluh pagi dengan dua penumpang di jok belakang. Yang satu sudah gaya abis dengan jaket musim dinginnya yang keren, sementara yang satu lagi memeluk boneka  dengan wajah pucat.  Teman setia perjalanannya adalah... gayung. Buat jaga-jaga kalau ada yang muncrat tak terkendali.
“Kita nanti makan siang di Rumah Makan Pangek Situjuah di Payakumbuah,” aku memberi instruksi.
“Tata kalau gak muntah nanti dikasi ikan bakar. Kalau muntah, batal ya!”

Susah payahlah anak itu menahan mual di perutnya. Tak lama setelah memasuki wilayah Sumbar, muncrat juga apa yang kami khawatirkan. Hampir seluruh wajahnya kecipratan. Sejak pagi ia tidak makan, jadi yang keluar hanya air teh saja. Tapi yang namanya muntah, ah.. tak usah dibahaslah!
Kami menepi dan membereskan baju dan jilbab syar’inya yang belepotan. Entah kemana perginya gayung tadi. Dia bersalin pakaian dengan baju rumah yang aku ambil dari dalam koper di bagian belakang mobil.
Biasanya setelah muntah, Tata jadi lebih segar. Tapi kali ini tidak demikian. Ia merasa masih pusing. Ia tertidur lemas di jok belakang.



Berhenti di Kelok Sembilan hanya untuk mengambil foto inih.

Kami merapat di Rumah Makan Pangek Situjuah yang menawan. Rumah makan itu dibangun di atas kolam-kolam ikan dan di hadapannya terhampar pemandangan sawah-sawah dan gunung. Sungguh memesona. Tata langsung segar. Nasi sepiring dengan ikan bakar kesukaannya, tandas. Ia dan Lira asik memberi makan ikan  yang rakus-rakus bingit menunggu lemparan apa saja dari atas dangau.
Seperti rumah makan padang pada umumnya, nasi dihidangkan dalam mangkuk berukuran sedang dan lauk aneka rupa dihidangkan dalam porsi kecil hiingga memenuhi meja. Ada ikan dan ayam bakar, dendeng, gulai kambing, dan lain sebagainya. Kami makan berempat ditambah teh panas hanya kena Rp110.000. Catat ya,  hanya Rp110.000 dengan nasi satu mangkuk yang cukup buat berempat. Masih sisa buat ikan juga.

Di sini ada banyak kolam yang berisi ikan sungai sejenis nila dan entah apa lagi. Aku tak tahu. Pokoknya bukan lele.  Menurut salah seorang pekerja  yang sore itu sekitar pukul tiga masih menangguk ikan untuk dibakar, setiap  hari rumah makan itu  menghabiskan sekitar 8-9 keranjang ikan ukuran sedang. Berat keranjang itu sekitar 20 kg. Ikan-ikan itu diambil dari kolam sendiri. Benar-benar laziiiss...
Tata sudah pulih 60 persen. Kenapa aku bilang 60 persen, karena ia masih belum sanggup shalat dengan posisi berdiri. Menoleh kiri kanan juga masih pusing. Dan masih ada perjalanan satu jam lagi menuju Bukittinggi.  Apakah dia akan memuntahkan seluruh ikan bakar dari Situjuah ini lagi?
Ternyata tidak. Alhamdulillah. Kami sampai di rumah mertuanya yang memang kosong. Seingatku, setiap kali pulang kampung dan menginap di sana, hal pertama yang harus kami lakukan adalah  menyapu seluruh ruangan karena penuh dengan debu. Maklum, rumah itu kosong sejak seluruh anggota keluarga pergi merantau.
Sore harinya, datang Tsaqif, anak adikku dari Padang. Dia aku tawari ikut liburan dengan kami. Aku  kasihan melihat dia tak bisa kemana-mana, karena ibu dan bapaknya tetap harus bekerja. Untung dia mau. Tsaqif atau Aqif lebih tua 6 bulan dari Tata. Dia bersekolah di MIN Padang.  Kini Rara Tata punya teman.
Hari pertama, dua batang kasur kapuk yang keras dan berat dibawa ke ruang tengah, di depan televisi. Si abang suka tidur di sana, diselimuti udara dingin pegunungan dan...  bau kandang ayam ras di seluruh penjuru mata angin, hahaha...
Rara, Tata dan Aqif tidur di kamar.  Mereka bertiga langsung klop. Hari yang panjang, tapi menyenangkan. Liburan dimulai...
Hari Sabtu, agenda kami adalah melihat sekitaran Kamang. Ada danau ajaib yang disebut orang-orang sekitar Tarusan. Beberapa bulan yang lalu kami sempat ke sana dan melihat bekas danau i tu sedang kering airnya. Banyak anak-anak  muda bermain bola di atas pasir.



Sekarang, kawasan itu telah tergenang air.  Menurut orang-orang sekitar, danau itu muncul dengan sendirinya. Air keluar dari celah batu dan nanti hilang lagi di sana.  Tak pandang musim hujan atau musim kemarau, bila telah tiba masanya,  air akan keluar menggenangi areal  yang cukup luas, kira-kira lebih luas dari danau kecil di Padanglua.
Tarusan ini terletak di kaki gunung. Berlapis-lapis gunung dengan warna hijau, biru lalu abu-abu, terlihat begitu indah.


Kami juga melihat gua  ini. Entah apa isinya, tapi si Tata senang memotretnya.

Ini adalah bukit yang diisukan berisi uranium. Ada juga yang bilang di dalamnya terkandung emas yang masih mentah sebesar kuda. Wallahualam. Tapi dilihat dari bentuknya, memang ini bukit lain sendiri. Ia tunggal, sementara bukit-bukit lainnya, berbaris-baris dari ujung pulau Sumatera yang satu ke ujung lainnya. Perhatikan juga, tidak ada pohon besar yang tumbuh di bukit itu. Adanya pohon-pohon kecil, tandanya bukit ini lebih didominasi batu, bukan tanah.

Kami menelusuri jalanan kecil yang mulus hingga sampai di Makam Tuanku Nan Renceh.
Beliau adalah salah seorang pahlawan pejuang dari Minangkabau, seperti Tuanku Imam Bonjol. Hari itu kami melihat makamnya baru saja dibersihkan oleh TNI. Ada karangan bunga di sana. Sayangnya, pagar di sekitar makam tidak dibuka, sehingga kami tidak bisa  masuk ke dalam untuk melihat lebih dekat.

Dikutip dari wikipediaTuanku Nan Renceh adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan penjajahan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri dari tahun 1803-1838. Tidak banyak diketahui data mengenai tokoh ini, selain seorang figur karismatik, ia juga dikenal keras dalam menegakkan syariat Islam. Sedangkan dari catatan Belanda, tokoh ini merupakan sosok antagonis, dan dianggap bertanggung jawab atas adanya tindakan kekerasan di Dataran Tinggi Padang.


Nama asli dari Tuanku Nan Renceh adalah Abdullah. Ia lahir di Nagari Kamang pada tahun 1780 dan meninggal dunia dalam perang Padri. Ia merupakan murid dari Tuanku Nan Tuo.[1] Ia kemudian menjadi guru yang banyak melahirkan pejuang perang Padri.
Kedatangan tiga orang haji dari Mekah tahun 1803 telah mengilhami Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mulai mengumandangan jihad atas segala bid'ah di Minangkabau.[1] Ide-ide pembaharuan yang diterapkan Tuanku Nan Renceh terhadap perubahan kebiasaan masyarakat termasuk model sistem adat matrilineal mendapat tantangan dari para penghulu pada beberapa nagari di Minangkabau sehingga kemudian melahirkan gerakan Paderi dengan pendekatan konflik.
Disebut nan renceh karena beliau bertubuh kecil  (renceh rupanya artinya kecil, saudara-saudara). Apa dari sana asal kata receh? Uang receh berarti uang kecil kan? Setelah dari sana, kami meneruskan perjalanan mencari Ngalau Kamang.

Tuanku Nan Renceh juga merupakan satu dari Harimau Nan Salapan (Harimau yang delapan). Mereka menyebarkan ajaran Islam di Tanah Minangkabau. Harimau nan Salapan terdiri dari Tuanku Nan Renceh di Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Laweh, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau dan Tuanku di Lubuk Aur. Prinsip Harimau Nan Salapan, ajaran murni Islam harus ditegakkan di setiap nagari meskipun pedang harus bicara!
Ini perjalanan nostalgia. Dulu semasa SD, aku pernah dibawa bapakku jalan-jalan ke Ngalau Kamang ini. Di dalamnya aku dapat menyentuh stalagtit dan stalagnit. Ini sangat berkesan karena aku masih mengingatnya sampai sekarang. Aku juga  masih ingat, betapa menolongnya kunjungan itu saat ada pelajaran IPA di sekolah.
Pengalaman itulah yang ingin aku berikan pada anak-anakku. Maka kamipun mencari-cari ngalau itu. Sayang seribu sayang, ngalau atau gua itu sudah tak terawat lagi. Stalagtit yang dulu muncul dari langit-langit gua seperti gigi taring akibat proses alam selama ratusan atau mungkin ribuan tahun, kini sudah dipangkas manusia demi uang.  Demikian pula dengan stalagnit yang seolah muncul dari dalam tanah, sudah rata semua. Ngalau Kamang kini tak ada ubahnya dengan gua biasa tempat burung layang-layang bersarang.

Memang, tak jauh dari  ngalau itu, ada penambangan batu kapur. Mereka konon menggunakan dinamit untuk menghancurkan dinding bukit. Batu-batu kapur ini, setiap malam bertruk-truk dikirim ke pabrik kertas IKPP di Perawang, Riau, untuk dijadikan bahan bakar.

Aku tak berani masuk ke dalam ngalau itu. Apalagi kami tidak membawa alat penerangan apapun. Tanpa pemandu, tanpa ada orang yang tahu bahwa  kami masuk ke sana, sungguh adalah pekerjaan yang sia-sia.
Tapi aku tetap menerangkan pada anak-anak apa itu stalagtit dan stalagnit. Walau sedikit kecewa, tapi foto-foto selfie gak boleh lupa loh!

Hari masih panjang. Kami meneruskan perjalanan ke Great Wall Koto Gadang.  Ini benar-benar uji nyali, baik untuk aku, maupun Aqif yang phobia ketinggian. Aku penasaran ini mencoba, sejauh mana kekuatanku.
Kami memulai perjalanan di lereng Ngarai Sianok. Great Wall atau Janjang Koto Gadang itu, membentang dari tebing Ngarai,  terus ke bawah, lalu mendaki ke lereng-lereng bukit hingga tembus ke daerah Koto Gadang. Kalau kita  menyewa ojek dari titik awal, terus berjalan melingkar sesuai jalur kendaraan menuju Koto Gadang, ongkosnya Rp15 rebu. Itu tanda jaraknya bukanlah dekat mak oooi.

Awalnya, aku dan Tata masih bisa foto-foto sok manis di jalan setapak berpaving block yang menurun. Semua terasa santai. Namun di ujung jalan, kami harus berhadapan dengan jembatan kayu yang berayun-ayun dari pinggir tebing ngarai di sini ke tebing di seberang sana. Di bawahnya, kira-kira 30 meter di dasar ngarai, air sungai mengalir dengan tenang.

Jembatan kayu itu hanya mampu menahan beban 10 orang (aku tentu dihitung dua, hahaha...), jadi harus giliran antara yang mau menyerang dari ujung sini dengan yang di ujung sana.
Jembatan inilah yang menaklukkan Aqif. Ia tak berani. Sebelumnya ia sudah datang ke sini dengan ibu bapaknya, ia memilih tak ikut naik jembatan.  Sekarang pergi dengan kami, tak ada cerita takut.
Aku dan Tata maju lebih dulu. Walau sedikit gamang, kami terus saja. Baca saja Bismillah. Bahkan aku yang usil berkata pada Tata, saat kami sudah hampir sampai di seberang. “Yok kita goyang-goyangkan jembatannya Ta, si Aqif takut tuh!”
“Is, apalah mama nii...” kata si Tata gemas.
Di belakang kami, Rara masih belum berhasil membujuk Aqif untuk mencoba menyeberang lewat jembatan itu.
“Ndak papa do.. sini kakak pegangkan tangan Aqif. Ayoklaaa...” si Rara masih membujuk.
Aqif masih merengek-rengek, bergerak gelisah kesana dan kemari, mencoba menghindar. Setelah sekian  menit membujuk dia, akhirnya aku lihat dia ditarik oleh si abang dan Rara melewati  jembatan itu. Sepanjang jalan, ia membungkuk, tak berani liat kiri-kanan. Aku dan Tata terbaha-bahak di seberang.
Lalu perjalanan berat itupun dimulai. Jenjang batu yang cukup terjal, dengan jumlah anak tangga sekitar 20-30,  menanti di depan mata.  Jenjang-jenjang ini merayap di tebing yang terjal. Di beberapa titik yang cukup ekstrem, dipasang pegangan di dinding jenjang.
Perutku  yang baru saja diisi dengan makan pagi, terasa sakit gegara naik tangga ini. Aku perpegangan di pinggir jenjang. Napas jadi satu-satu.  Perlahan-lahan aku melanjutkan pendakian. Alangkah leganya saat telah sampai di tempat yang datar. Aku langsung menarik napas lega.

 Si abang sudah duluan sampai di atas. Melihat aku yang baru saja menyelesaikan pendakian sesi kedua yang cukup terjal dan melihat betapa parahnya kondisiku,  ia senyum-senyum.
“Yan, geser ke sini sikit,” kata si abang. Rupanya dia khawatir, kalau aku pusing atau jatuh pingsan,  bisa langsung terguling-guling ke bawah sana. Posisi berdiriku terlalu ke pinggir jenjang.
Sementara itu udara terasa bersih, segar habis hujan. Matahari bersinar. Di kejauhan, entah di di arah mana, terlihat pinggiran Panorama, tempat orang biasa ambil foto-foto selfie itu loh...
Aqif lagi-lagi menyerah. Dia tak mau mencoba naik jenjang itu. Tata sudah sampai di atas bersama papanya. Rara masih sibuk membujuk Aqif agar mau mencoba.
“Bukan masalah naiknya, tapi turunnya nanti...” kata Aqif.


Dia lebih memilih menunggu saja di sana, sampai kami menyelesaikan pendakian.  Akhirnya si Rara ditugaskan menjagai dia. Si abang melanjutkan pendakian. Tata ikut turun, bergabung dengan Aqif.
Aku tinggal di tengah sendirian.  Kata si emak yang jualan minuman di situ, masih ada sekitar 200-an anak tangga lagi hingga kami tiba di ujungnya, di Nagari Koto Gadang. Kemiringan jenjang mungkin hampir 70 derajat. Aku masih penasaran, seperti apa ujung jenjang ini. Maka akupun meneruskan pendakian, selangkah demi selangkah.
Hingga akhirnya aku tiba di ujung jenjang, ada warung-warung kayu menunggu para pendaki. Aneka makanan dan minuman tersedia dengan  harga yang tentu lebih mahal. Si abang keluar dari salah satu kedai.  Ia menyempatkan mengambil foto aku yang terengah-engah mengumpulkan nyawa sambil bersandar di dinding jenjang.

"Abang jemputlah anak-anak di bawah sana. Habis tu jemput sini balek. Pakai MOBIL!"
 
Aku rasanya sudah tak kuat lagi untuk menuruni jenjang itu.  Aku bilang, “Abang pergilah temui anak-anak, nanti jemput Yani  ke sini lagi pakai mobil.”
Tapi setelah dibujuk-bujuk, akhirnya kami menuruni tangga itu lagi satu demi satu, perlahan-lahan. Macam pengantin baru deh, hehehe...


 bagandeng tangan, menyusuri janjang kenangan. (kenangan pernah sasak angok di siko...)
Sampai di titik dimana anak-anak tadi kami tinggal, ternyata mereka sudah tidak ada! Rupanya Rara sudah  memimpin mereka semua kembali ke seberang sungai. Berarti dia sukses mensugesti si Aqif yang phobia ketinggian sehingga berhasil menyeberang di jembatan gantung itu. Hebat hebat...




Kamis, 29 Mei 2014

Bab I Gelap, Asing, Sendiri

Ini dinihari.
Tata melihat sekelilingnya dengan  heran. Gelap. Ada sosok-sosok tinggi besar di sekelilingnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Dimana nih?" pikirnya.
Ia menengadah. Ada sinar bulan yang tak terlalu terang, masuk dari celah-celah dedaunan. Mata Tata membelalak. "Ya  Allah!  Dimana ini?" katanya dalam hati.
Ia melihat  ke sekelilingnya. Di depannya, ada pohon-pohon besar. Banyak dan rapat. Di samping kiri dan kanan, juga begitu. Tata tak berani melihat ke belakang.
Teringat cerita-cerita hantu yang pernah ia dengar dari teman-temannya. Dan juga film-film horor yang telah ia tonton. Hantu seringkali tiba-tiba sudah berdiri di belakang kita! Tata membayangkan dirinya dikejar-kejar hantu paling seram sedunia. Bulu kuduknya seketika berdiri. Merinding! Ia pun tak berani melihat ke belakang.
Tata melihat arlojinya. Gelap, ia tak bisa melihat angkanya. "Ah, sudahlah. Gak perlu liat jam malam-malam gini," pikirnya.
Tata tak habis pikir, mengapa ia bisa sampai di sini. Ia mengingat-ingat  kembali, apa yang terjadi sebelum ini? Apakah ia sedang main petak umpet bersama teman-temannya? Lalu ia bersembunyi terlalu jauh ke dalam hutan, dan tertidur hingga tengah malam? Ataukah ia dibuang keluarganya, seperti dalam cerita-cerita seram yang ia baca? Ya, ada anak yang dibuang orangtuanya, karena mereka sangat miskin. Orangtua mereka tak sanggup lagi membiayai hidup mereka, sehingga mereka lalu memutuskan untuk membuang anak mereka di hutan. Apakah Tata juga mengalami nasib seperti itu? Atau ia sedang dilarikan jin ke dunia lain? Kalau iya, kenapa ia berada di dalam hutan? Rasanya ini masih dunianya. Bukan dunia jin, karena ia dapat melihat hutan yang lebat dan gelap.
Kata orang, kalau kita masuk ke dunia jin karena diculik, mata kita akan ditutupi sehingga tak bisa melihat kenyataan yang sebenarnya. Walau kita berada di dalam semak belukar, atau di bawah kolong tempat tidur, atau dimana saja yang diinginkan  jin itu, tapi kita hanya melihat yang indah-indah saja. Mungkin istana, mungkin rumah besar yang indah.
Tata pernah mendengar mama bercerita, dulu ada manusia yang dilarikan jin. Sekian lama tak ada yang bisa menemukannya. Padahal ia hanya didudukkan di atas pohon lalu disembunyikan jin selama bertahun-tahun di sana. Walaupun banyak manusia yang datang, namun mata mereka tak mampu melihat ke dunia jin itu. Mereka tak melihat orang yang disembunyikan itu sedang duduk di salah satu ranting pohon.
Atau yang lebih gampang, masih ingat film Narnia? Kata mamaku, bisa jadi Narnia adalah dunia jin. Makanya walau Lucy dan kakak-kakaknya rasanya sudah bertahun-tahun berada di sana, bahkan hingga mereka tumbuh dewasa, namun saat  mereka kembali ke dunia manusia, ternyata waktu yang dihabiskan tak lebih dari semenit! Aneh bukan?
Apakah sekarang Tata sedang berada di dunia jin?
Mata Tata membelalak. Ngeri!

catatan: ini cerita ngeri untuk Tata, yang sedang hobi baca. Selamat membaca Sayaaang...

Sabtu, 04 Januari 2014

Mengapa Aku Terdampar di Riauterkini.com?

Ternyata, aku kembali ke sini lagi. Kerja di dunia jurnalis lagi. Jadi editor lagi. Sebenarnya aku sudah senang di rumah, guling-guling, nyapu, ngepel, masak ini itu, main dengan anak, kalau malam minggu minjam VCD lalu nonton sama anak-anak, semua mengasikkan.

Hari-hari terakhirku menikmati kesenanganku, adalah tiga pekan yang lalu, kalau tak salah. Maghrib. Aku baru saja selesai mengaji. Si Rara masih belum. Ya, sejak punya banyak waktu di rumah, kami mengaji bersama. Surat favorit  kami sekarang, Al Waqiah. Kami membacanya secara serentak bersama-sama. acara ini jadi menyenangkan buat aku dan anak-anak. Lewat deh itu Spongebob atau On the Spot. Biasanya aku melotot dulu, baru tivi bisa mati.

Si Rara punya kebiasaan mandi saat adzan maghrib berkumandang. Jadinya ia sering tak ikut shalat berjamaah. Aku sering marah-marah. Namun sekarang itu sudah tidak ada lagi. Sehabis Maghrib, tivi mati, Al Quran dibuka, kami mengaji.

Nyamannya...

Dan begitulah, balik ke cerita awal, phonselku berbunyi Maghrib itu. Nomornya tidak aku kenal. Tanpa curiga, aku angkat. Ternyata si Tamam, rekan di Riau Times dulu. Setelah Riau Times ditutup, Tamam bekerja di riauterkini.com.

Itu situs berita Riau yang pertama. Kebetulan ownernya teman seperjuanganku dulu di Harian Suara Kita. Namanya Ahmad S Udi. Satu yang paling aku kenang tentang si Ahmad ini, dia meninggalkan rapat apapun bila adzan sudah berkumandang. Pergi shalat ke  masjid.

Tamam menanyakan, apakah aku mau membantu menjadi editor di situs pamannya itu. Aku bilang, aku sekarang sudah nyaman di rumah. Aku juga ada bisnis yang sedang dijalankan. Tamam bertanya lagi, "Kalau kakak kerjanya tetap di rumah, mau?"

Agak lama aku menjawab. Bagaimana ya? Bukannya aku sudah  merasa kaya raya, sehingga menolak pekerjaan yang otomatis menolak uang. Tapi yang paling utama, aku menikmati tinggal di rumah. Bertengkar, bergelut, tertawa, bermain dengan anak-anak. Memberi mereka nilai-nilai. Mengajarkan tentang kehidupan.
 
Banyak hal-hal sederhana yang membahagiakanku, terjadi di rumah. Ketika melihat si Rara mengenakan seragam MTs-nya, dengan jilbab dan baju longgarnya, aku bahagia. Ketika melihat si Tata tertawa terbahak-bahak saat menonton film kartun di televisi, aku bahagia. Saat aku menang rebutan tulang sarden dengan si Rara, atau saat kami bertiga mandi hujan, aku bahagia. Saat mereka tidur dengan lelap, saat mereka  makan dengan lahap, saat mereka membaca Al Quran, aku bahagia. Jadi, untuk apa aku harus pergi lagi ke luar rumah?

Tapi Tamam terus merayu. "Tolonglah Kak. Tamam ingin riauterkini itu semakin bagus. Makanya Tamam minta Kakak," aku ingat betul kata-katanya.

"Pokoknya kalau kakak mau, kakak nggak perlu kerja di kantor. Di rumah juga bisa. Gampang kok," katanya.

Setelah kuminta pendapat anak-anak dan suami, ternyata semua mendukung. Akhirnya aku mengiyakan. Baiklah. Mari kita coba. Tiga atau empat hari kemudian, Ahmad S Udi menelponku. Dia menanyakan apakah benar aku bersedia membantunya, tentu dengan syarat-syarat yang aku ajukan.

"Kau bisa datang ke kantorku nggak? Sinilah ya, kita ngobrol," katanya.

Keesokan harinya, aku pergi dengan si Tata. Dia baru saja selesai ujian semester, dan tidak masuk sekolah. Ia hanya menunggu waktu penerimaan rapor.

Pertemuan dengan Ahmad mungkin hanya setengah jam. Kami langsung sepakat.

"Oke, besok sudah bisa  masuk ya?" katanya.

"Jangan buru-buru dong. Aku malah bilang sama Tamam Januari nanti," kataku.

"Cepat ajalah. Ini Sabtu depan kami mau ada diskusi umum 'Hebatnya Riauterkini' di Perpustakaan Wilayah. Kalau kau oke, datang hari itu, biar aku kenalkan secara resmi. Sudah kusiapkan nomor punggungmu. Kedatanganmu sangat dibutuhkan, karena aku yakin nanti pasti ada yang nanya soal kesalahan-kesalahan ketik dalam berita kami. Minggunya kau tolong  kasi  materi tentang EYD sama para reporter. Semua wartawan dari daerah hari itu pada ngumpul. Oke?"

To the point. Suka aku.

"Aku perlu bikin surat lamaran?"

"Gaaak.. gak usah."

Deal.

Aku pulang. Hari Sabtu, setelah mengambil rapor Lira di MTsN Andalan, kami bertiga langsung ke Perpustakaa. Sempat nyasar karena gak tau dimana ruangannya. Setelah nanya sama petugas, baru ketemu.

Dan di sanalah, ketika salah seorang peserta bertanya, mengapa banyak sekali kesalahan EYD dalam pemberitaan riauterkini, dengan tegas Ahmad menjawab, "Dan untuk itulah, kami punya solusi paling tepat. Kami kini merekrut Fitri Mahyani (halah,  namaku salah sebut, kawan apaan nih?!) sebagai redaktur. Dia seorang sarjana Sastra Indonesia dan ilmunya cukup mumpuni. Dipersilakan berdiri, Fitri Mahyani."

Aku berdiri dengan muka merah dari bangku belakang. Alamaak... pakai gini-gini pulak?

Tepuk tangan gemuruh.

Aku duduk.

Dan dimulailah aktivitas baruku sebagai redaktur riauterkini.com.

Minggu, 08 Desember 2013

Mama Iri

Hari ini jadwalku mendampingi si Tata belajar. Besok ujian Bahasa Indonesia dan Agama. Kami berdua membaca buku bacaannya dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Di sinilah timbul masalah...

Sebagai sarjana Sastra Indonesia, tentu aku tak tahan untuk tidak mengkritisi tulisannya yang salah-salah. Si Tata ini, kalau menulis hurufnya kecil-kecil seperti semut. Tinggi rendah huruf juga sesukanya. Padahal aku sudah mengajarkan bagaimana menulis huruf 'l' atau 'y', atau 'k' atau 'g' dan lainnya, yang benar. Huruf-huruf itu ada 'tangkai'nya dan harus ditulis lebih tinggi.

Tata kalau diberitahu, berubah sebentar, nanti balik lagi ke kebiasan lamanya.

"Tulisanmu jelek," kataku.

"Taunyo...." jawabnya sambil terus  menulis.

Beberapa menit berlalu...

"Tulisanmu jelek."

"..."

Beberapa menit kemudian, masih belum ada perubahan.

"Tulisanmu jelek."

"Hhh... bilang ajalah Mama tu iri," katanya dengan kalem.

Aaarrggghhh....!!!!

(gagaljadiguru.com)

Sabtu, 07 Desember 2013

Aku Dibuang Nenekku




Namanya Dea. Anaknya kecil dan imut. Tubuhnya lebih kecil dari Tata. Dia teman sekelas Tata di kelas III SD. Ia menjadi teman Tata kesayanganku. Mengapa? Karena aku selalu merasa ngilu saat Tata bercerita tentang temannya yang satu itu.

“Dia tinggal di panti Ma. Katanya, neneknya yang membuangnya,” kata Tata.

Itu saja sudah seperti palu yang menghantam dadaku. Anak sekecil itu, mendapat kata-kata semacam itu? Dibuang? Aaarrrggghhh…. Nenek mana yang begitu tega membuang cucunya sendiri???

Rasanya aku ingin memeluk anak kecil itu. Cerita yang sampai ke Dea dan yang diceritakan Tata kepadaku; saat ia masih kecil, ia ditinggalkan begitu saja di depan panti itu. Di sanalah ia sampai hari ini.


Menurutku, tidaklah pantas seorang anak  mendengar hal-hal buruk seperti itu tentang dirinya. Betapalah pedih hatinya mengetahui ia tak diinginkan. Tidak bisakah orang-orang dewasa dengan bijaksana (seperti di film-film) mencari kata-kata yang lebih manis dan tidak mematikan harapan saat berbicara dengan seorang anak kecil?

Kalau ke sekolah, kata Tata seragamnya bau sabun colek.

“Mungkin gak pakai Molto Ultra Sekali Bilas kali kayak kita. Kasian ya Ma. Dia mencuci sendiri bajunya. Mesin cuci hanya untuk pengurus panti,” cerita si Tata. Wajahnya jadi sendu.

Di sekolah Tata, murid-murid punya beberapa seragam. Senin-Selasa seragam putih merah, Rabu-Kamis seragam biru kotak-kotak, Jumat baju melayu dan Sabtu training olahraga. “Tapi Dea itu hanya memakai baju putih-merah terus setiap hari. Dia tidak punya baju biru,” cerita Tata lagi.


Beberapa waktu yang lalu, dia meminta baju melayu warna hijau punya si Rara untuk dipakai pergi MDA. Aku dan Tata pun membongkar-bongkar gudang mencari baju itu. Ternyata masih sangat kebesaran untuk Dea sehingga batal diberikan.

Sebagai gantinya, aku minta Tata menyortir baju-bajunya yang masih layak pakai tapi sudah kekecilan, untuk diberikan pada temannya itu. Tata memberikan beberapa lembar bajunya, caranya, sehari dibawa satu. Beberapa hari kemudian, saat ditemukan lagi ada baju  yang kekecilan, diberikan lagi.

“Deanya senang Ma. ‘Waah… bagus sekali…’ katanya,” lapor Tata.

Suatu hari, Tata membawa catatan lagu ke rumah. Katanya, itu lagu kesayangan Dea. Aku lihat, ternyata itu lagu Bunda karya Melly Goeslaw. Tentu semua tahu, lagu itu menceritakan tentang seorang anak yang mengenang ibunya dengan penuh rasa cinta. Ibu yang rela berkorban jiwa raga demi sang anak. Yang membuat aku serasa ingin menangis adalah, cerita Tata bahwa Dea selalu menelungkupkan wajahnya bila sampai ke kata-kata, “Oh Bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku…”

“Dea pasti nangis kalau sampai sini Ma.”

“Coba kamu nyanyikan lagu itu pagi-pagi sekali, habis subuh, waktu hari masih sepi, lalu kamu pandangi foto keluargamu, kamu pasti akan  menangis,” kata Dea pada Tata.

Jadi kata Tata padaku, “Cobalah Ma, Mama ambil foto keluarga kita, nyanyikan lagu Bunda itu pas subuh-subuh abis shalat, lalu Mama pandangi foto itu, pasti Mama akan nangis.”

Aku pikir Dea lupa  menambahkan keterangan ini; bayangkan dirimu telah dibuang nenekmu, tinggal sendirian di panti asuhan sementara kedua adikmu tetap tinggal dengan ibumu, bagaimana perasaanmu?


Karena kasihanku, aku beberapa kali menyiapkan dua bekal makanan Tata. “Kasi Dea satu ya,” pesanku. Jadi kalau Tata hari itu makan nasi goreng, Dea juga dapat dalam porsi yang sama.

Hari Senin lalu, Tata pulang membawa cerita baru tentang Dea. “Seharian kemarin dia menangis karena mamanya tidak jadi datang menjemputnya,”

Ooh…, sudah, cukup Tata, nanti gantian Mama yang nangiiiiis…. Hiks hiks! Untuk menghibur Dea dan mungkin juga hatiku sendiri, aku menawarkan pada Tata untuk mengajaknya menginap di rumah kami, suatu hari nanti, saat kamarnya selesai direnovasi. Tata sudah mengundang Dea. Dea mengatakan akan meminta izin dulu pada pengurus panti. Kita tunggu saja…






Rumah P3K


 
Musim hujan. Dalam waktu singkat, halaman rumah kami kebanjiran. Untung tidak sampai  masuk rumah. Tapi ngeri-ngeri sedap juga, karena lintah mengintai. Ini salah satu pengalaman menarik saat banjir datang.

Malam itu, hujan deras turun. Sore sebelumnya, angin kencang bertiup cukup  mengkhawatirkan. Salah satu genteng rumah kami bahkan jatuh terguling-guling ke halaman hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.

“Awas Tante, gentengnya jatuh. Nanti kena motor!” kata tetanggaku, si mahasiswa.

Aku buru-buru memindahkan sepeda motorku ke tempat yang lebih aman. Rara Tata bermain di halaman, menikmati angin.

“Hati-hati ya, angin sekencang ini bisa menjatuhkan genteng. Kena kepala kalian, bocor!” kataku. Saat itu rumah kami memang sedang direnovasi. Sebagian atap dibuka dan ditutupi dengan terpal. Terpal itu ditindih dengan sepotong genteng agar tidak diterbangkan angin. Genteng sepotong itulah yang jatuh ke halaman. Untung tidak pas di atas kandang si Nyunyit.

Melihat cuaca yang cukup mengkhawatirkan, si Nyunyit segera aku pindahkan ke teras, lalu menutupi sekeliling kandangnya dengan bekas baliho salah seorang cagubri agar tidak terkena hujan. Anak-anak kemudian aku suruh masuk ke dalam rumah.

Malam itu, hujan deras demikian ribut di luar rumah. Kami semua berkumpul di kamar, melakukan aktivitas masing-masing. Sekitar pukul delapan malam, tiba-tiba si Tata teringat sepatunya. Dia yang biasa sembarangan, baru teringat sepatu itu akan dipakai kembali besok pagi.

“Sepatu Ata!” serunya.

Ia membuka pintu dapur dan menjulurkan kepala keluar untuk melihat, dimana kira-kira sepatu malang itu ia tinggalkan. Untungnya belum kena hujan. Tapi banjir telah memenuhi halaman yang rendah. Aku menyempatkan melihat si Nyunyit dan ternyata ia juga sudah kebasahan. Ya ampun! Kasiaaan….

Saat itulah Rara mendengar bunyi samar-samar dari sudut mesin cuci. Mesin cuci itu memang sengaja diletakkan di luar rumah, agar urusan basah-basah itu tak memerlukan jarak yang jauh untuk mencuci dan menjemur.

“Mama, ada suara-suara aneh di dekat mesin cuci. Tapi karena gelap sekali, gak keliatan apa binatangnya,” kata Rara.

Aku mendekati mesin cuci dan melihat sebentuk benda hitam bergerak-gerak di sudut bawah. Basah kuyup. Mengigil kedinginan. Mengeong lemah.

“Astaga, ini anak kucing!” seruku.

Rara dan Tata segera merubung. Keduanya memang termasuk penyayang binatang. Maunya semua hewan yang terlihat bernasib malang, hendak ditolong mereka. Tata langsung  menangis.

“Kasiaaaan…. Huhuhu…. Mama, kasiaaan…”

Kamipun segera menolongnya. Rara mengambil kain kering untuk mengelap bulunya. Ia juga  menyumbangkan celana training SD-nya yang sudah tidak terpakai dan kotak sepatu. Kami selimuti anak kucing itu, lalu kami masukkan ke dalam kotak sepatu. Anak kucing itu kami bawa masuk dan diletakkan di ruang tamu.

Kasian si Nyunyit yang juga kebasahan, dia juga kami  masukkan ke dalam rumah. Kandangnya dibiarkan saja di luar. Jadi dia bisa bebas berkeliaran di ruang tamu. Iya, kotorannya besok pagi pasti akan berserakan di lantai. Biar sajalah. Rumah kami memang sedang berantakan, karena sedang dalam masa renovasi. Lagian nanti paling yang akan membersihkannya si Papa, hahaha….

Rara menemani anak kucing itu sampai beberapa saat lamanya. Saat ia berangkat tidur malam itu, si anak kucing sudah kering. Bulu-bulunya sudah mengembang kembali. Alhamdulillah, senang melihatnya.

Si Nyunyit begitu dilepas dari kandangnya, langsung pergi ke bawah kursi dan duduk di sana dengan tenang. Ia suka makan wortel dan kangkung, jadi kami siapkan makanan itu di sana sekalian.

Sedangkan untuk si anak  kucing, kami siapkan sedikit nasi. Sayangnya ia tidak mau makan. Mungkin karena masih sangat kecil, jadi dia belum bisa makan nasi.

Sekarang, di rumah kami ada dua ekor binatang,  yaitu kucing dan kelinci. Sehari sebelumnya, anak-anak menemukan kura-kura air payau sedang berjalan di dekat got. Aku rasa kura-kura itu terbawa arus akibat hujan sehari sebelumnya.

Dikira itu punya si Tata yang dulu hilang, mereka mengembalikannya. Jadi, di samping kelinci dan kucing, ada kura-kura yang juga sudah diselamatkan.

Rumah kami menjadi rumah untuk Pertolongan Pertama pada Kehujanan bagi Kucing, Kura-kura dan Kelinci. Saya sebenarnya tidak terlalu suka kucing. Tapi Rara dan Tata suka. Kucing tetangga yang nyasar ke rumahpun, dengan cepat disayang-sayang si Rara. Dia tak segan membagi shamponya untuk memandikan si kucing agar saya bolehkan dibawa  masuk ke kamar. Anak kucing yang  kehujanan itupun akan dimandikannya malam itu.

“Eit, jangan. Kasian dia sudah kedinginan. Biarkan aja dulu dia menghangatkan badannya di dalam kotak itu. Melihat kondisinya, belum tau dia akan bertahan hidup hingga besok pagi,” kataku.

Aku sudah bersiap-siap membolehkan kalau si Rara minta izin untuk memelihara anak kucing itu. Tapi keesokan paginya, saat aku bangun, anak kucing itu sudah tidak ada. Usut punya usut, rupanya si Papa yang punya kerjaan.

“Tadi waktu Abang  mau pergi Shalat Subuh ke  masjid, terdengar induknya mengeong-ngeong di depan pintu. Abang berikan anak kucing itu. Langsung dibawa pergi,” katanya.

Ternyata kemudian si Tata mengetahui bahwa si induk kucing melahirkan beberapa ekor anak di loteng rumah tetangga kami. Entah bagaimana caranya yang seekor itu bisa sampai ke sini di tengah hujan lebat dan angin kencang kemarin. Wallahualam…

“Berapa ekor anaknya Ta?” tanyaku.

“Gak tau, mungkin tiga, atau lima, entahlah, pokoknya banyak,” katanya.

Sejak ada anak kucing yang lahir di loteng itu, pintu dapurku tak bisa dibiarkan terbuka. Selalu saja ada yang mengusik tempat sampah. Sekali waktu, kotoran ikan yang baru kami masukkan ke dalam tempat sampah, berserakan di lantai dapur. Bahkan sampai ke halaman. Awalnya aku mau marah, karena lantai jadi kotor lagi. Padahal baru saja dibersihkan. Tapi mengingat induk kucing itu punya banyak anak yang harus diberi makan, naluri ‘kekucingan’ku  jadi terusik.

“Ya sudahlah, kamu makanlah isi perut ikan itu. Wah, pandai pulak kamu memilih mana yang segar dan mana yang berformalin ya?” kataku. Iya lo, induk kucing itu memakan  hanya isi perut ikan sungai yang kami beli di pasar dalam keadaan segar. Sementara ikan laut yang sudah diberi es (dan mungkin formalin atau bahan pengawet lainnya), tidak disentuhnya.

Setelah perutnya kenyang, induk kucing itupun pergi. Semoga anak-anakmu kenyang ya…