Tampilkan postingan dengan label musim hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musim hujan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

Rumah P3K


 
Musim hujan. Dalam waktu singkat, halaman rumah kami kebanjiran. Untung tidak sampai  masuk rumah. Tapi ngeri-ngeri sedap juga, karena lintah mengintai. Ini salah satu pengalaman menarik saat banjir datang.

Malam itu, hujan deras turun. Sore sebelumnya, angin kencang bertiup cukup  mengkhawatirkan. Salah satu genteng rumah kami bahkan jatuh terguling-guling ke halaman hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.

“Awas Tante, gentengnya jatuh. Nanti kena motor!” kata tetanggaku, si mahasiswa.

Aku buru-buru memindahkan sepeda motorku ke tempat yang lebih aman. Rara Tata bermain di halaman, menikmati angin.

“Hati-hati ya, angin sekencang ini bisa menjatuhkan genteng. Kena kepala kalian, bocor!” kataku. Saat itu rumah kami memang sedang direnovasi. Sebagian atap dibuka dan ditutupi dengan terpal. Terpal itu ditindih dengan sepotong genteng agar tidak diterbangkan angin. Genteng sepotong itulah yang jatuh ke halaman. Untung tidak pas di atas kandang si Nyunyit.

Melihat cuaca yang cukup mengkhawatirkan, si Nyunyit segera aku pindahkan ke teras, lalu menutupi sekeliling kandangnya dengan bekas baliho salah seorang cagubri agar tidak terkena hujan. Anak-anak kemudian aku suruh masuk ke dalam rumah.

Malam itu, hujan deras demikian ribut di luar rumah. Kami semua berkumpul di kamar, melakukan aktivitas masing-masing. Sekitar pukul delapan malam, tiba-tiba si Tata teringat sepatunya. Dia yang biasa sembarangan, baru teringat sepatu itu akan dipakai kembali besok pagi.

“Sepatu Ata!” serunya.

Ia membuka pintu dapur dan menjulurkan kepala keluar untuk melihat, dimana kira-kira sepatu malang itu ia tinggalkan. Untungnya belum kena hujan. Tapi banjir telah memenuhi halaman yang rendah. Aku menyempatkan melihat si Nyunyit dan ternyata ia juga sudah kebasahan. Ya ampun! Kasiaaan….

Saat itulah Rara mendengar bunyi samar-samar dari sudut mesin cuci. Mesin cuci itu memang sengaja diletakkan di luar rumah, agar urusan basah-basah itu tak memerlukan jarak yang jauh untuk mencuci dan menjemur.

“Mama, ada suara-suara aneh di dekat mesin cuci. Tapi karena gelap sekali, gak keliatan apa binatangnya,” kata Rara.

Aku mendekati mesin cuci dan melihat sebentuk benda hitam bergerak-gerak di sudut bawah. Basah kuyup. Mengigil kedinginan. Mengeong lemah.

“Astaga, ini anak kucing!” seruku.

Rara dan Tata segera merubung. Keduanya memang termasuk penyayang binatang. Maunya semua hewan yang terlihat bernasib malang, hendak ditolong mereka. Tata langsung  menangis.

“Kasiaaaan…. Huhuhu…. Mama, kasiaaan…”

Kamipun segera menolongnya. Rara mengambil kain kering untuk mengelap bulunya. Ia juga  menyumbangkan celana training SD-nya yang sudah tidak terpakai dan kotak sepatu. Kami selimuti anak kucing itu, lalu kami masukkan ke dalam kotak sepatu. Anak kucing itu kami bawa masuk dan diletakkan di ruang tamu.

Kasian si Nyunyit yang juga kebasahan, dia juga kami  masukkan ke dalam rumah. Kandangnya dibiarkan saja di luar. Jadi dia bisa bebas berkeliaran di ruang tamu. Iya, kotorannya besok pagi pasti akan berserakan di lantai. Biar sajalah. Rumah kami memang sedang berantakan, karena sedang dalam masa renovasi. Lagian nanti paling yang akan membersihkannya si Papa, hahaha….

Rara menemani anak kucing itu sampai beberapa saat lamanya. Saat ia berangkat tidur malam itu, si anak kucing sudah kering. Bulu-bulunya sudah mengembang kembali. Alhamdulillah, senang melihatnya.

Si Nyunyit begitu dilepas dari kandangnya, langsung pergi ke bawah kursi dan duduk di sana dengan tenang. Ia suka makan wortel dan kangkung, jadi kami siapkan makanan itu di sana sekalian.

Sedangkan untuk si anak  kucing, kami siapkan sedikit nasi. Sayangnya ia tidak mau makan. Mungkin karena masih sangat kecil, jadi dia belum bisa makan nasi.

Sekarang, di rumah kami ada dua ekor binatang,  yaitu kucing dan kelinci. Sehari sebelumnya, anak-anak menemukan kura-kura air payau sedang berjalan di dekat got. Aku rasa kura-kura itu terbawa arus akibat hujan sehari sebelumnya.

Dikira itu punya si Tata yang dulu hilang, mereka mengembalikannya. Jadi, di samping kelinci dan kucing, ada kura-kura yang juga sudah diselamatkan.

Rumah kami menjadi rumah untuk Pertolongan Pertama pada Kehujanan bagi Kucing, Kura-kura dan Kelinci. Saya sebenarnya tidak terlalu suka kucing. Tapi Rara dan Tata suka. Kucing tetangga yang nyasar ke rumahpun, dengan cepat disayang-sayang si Rara. Dia tak segan membagi shamponya untuk memandikan si kucing agar saya bolehkan dibawa  masuk ke kamar. Anak kucing yang  kehujanan itupun akan dimandikannya malam itu.

“Eit, jangan. Kasian dia sudah kedinginan. Biarkan aja dulu dia menghangatkan badannya di dalam kotak itu. Melihat kondisinya, belum tau dia akan bertahan hidup hingga besok pagi,” kataku.

Aku sudah bersiap-siap membolehkan kalau si Rara minta izin untuk memelihara anak kucing itu. Tapi keesokan paginya, saat aku bangun, anak kucing itu sudah tidak ada. Usut punya usut, rupanya si Papa yang punya kerjaan.

“Tadi waktu Abang  mau pergi Shalat Subuh ke  masjid, terdengar induknya mengeong-ngeong di depan pintu. Abang berikan anak kucing itu. Langsung dibawa pergi,” katanya.

Ternyata kemudian si Tata mengetahui bahwa si induk kucing melahirkan beberapa ekor anak di loteng rumah tetangga kami. Entah bagaimana caranya yang seekor itu bisa sampai ke sini di tengah hujan lebat dan angin kencang kemarin. Wallahualam…

“Berapa ekor anaknya Ta?” tanyaku.

“Gak tau, mungkin tiga, atau lima, entahlah, pokoknya banyak,” katanya.

Sejak ada anak kucing yang lahir di loteng itu, pintu dapurku tak bisa dibiarkan terbuka. Selalu saja ada yang mengusik tempat sampah. Sekali waktu, kotoran ikan yang baru kami masukkan ke dalam tempat sampah, berserakan di lantai dapur. Bahkan sampai ke halaman. Awalnya aku mau marah, karena lantai jadi kotor lagi. Padahal baru saja dibersihkan. Tapi mengingat induk kucing itu punya banyak anak yang harus diberi makan, naluri ‘kekucingan’ku  jadi terusik.

“Ya sudahlah, kamu makanlah isi perut ikan itu. Wah, pandai pulak kamu memilih mana yang segar dan mana yang berformalin ya?” kataku. Iya lo, induk kucing itu memakan  hanya isi perut ikan sungai yang kami beli di pasar dalam keadaan segar. Sementara ikan laut yang sudah diberi es (dan mungkin formalin atau bahan pengawet lainnya), tidak disentuhnya.

Setelah perutnya kenyang, induk kucing itupun pergi. Semoga anak-anakmu kenyang ya…




Selasa, 06 November 2012

Unyu-unyu Cinta dan Sesuatu

Inilah kali terakhir kami memelihara kelinci hingga sebesar ini. Selama ini, anak-anak kelinci yang kami beli di Pasar Palapa di depan kantorku, selalu mati setelah sebulan dipelihara. Dulu kami beri nama yang keren-keren, Tasya, Lycra dan Lady Gaga. Mencret. Mati semua.

    Sesudah Lebaran kemarin, memenuhi janji pada anak-anak, akhirnya aku beli juga sepasang anak kelinci di pasar yang sama. Supaya tak 'keberatan' nama, kami beri saja namanya Unyu-unyu Cinta dan Unyu-unyu Sesuatu. Kok sesuatu? Yah, anggap saja kami sedang melestarikan istilah Syahrini biar tak lekang oleh waktu... ;D

    Unyu-unyu Cinta berwarna putih mulus. Matanya merah dan bila terkena cahaya, terlihat seperti kelereng yang berkilau. Sedang Unyu-unyu Sesuatu berwarna abu-abu.  Tubuhnya lebih kecil dari si Cinta dan lebih jinak. Kalau si Cinta bisa pergi main sehari semalam ke tanah kosong di samping rumah, si Sesuatu sering bolak-balik antara rumah dan tanah kosong itu.

    Dulu kami khawatir sekali saat si Unyu-unyu Cinta main ke tanah kosong yang berpagar seng itu dan hingga senja tak  kunjung pulang. Suatu hari, hujan deras turun sejak siang. Si Cinta pergi main ke tempat favoritnya itu sejak pagi. Aku sudah siap mental kalau besok paginya akan menemukan mayatnya. Apa boleh buatlah.

    Keesokan harinya, rumah kami kebanjiran. Sekali seumur hidup, itulah hari dimana aku melihat karpet melayang-layang di atas permukaan air. Kalau selama ini air menggenang di halaman, hari itu air keluar dari celah-celah dinding dan lantai. Jadi sibuklah kami membersihkan rumah hari itu. Aku melupakan si Unyu-unyu.

    Namun rupanya si Abang mencarinya ke tanah kosong itu. Untuk menuju ke sana, kita harus melompati pagar yang lumayan tinggi dari halaman rumah tetangga. Tidak ada akses lain selain itu.

    Dan kami menemukan si Unyu-unyu Cinta yang sehat wal afiat, hanya basah sedikit. Kami gembira sekali melihatnya tidak apa-apa selama semalaman tidak pulang dan dalam keadaan hujan lebat pula.

    Sejak itu, kami tidak pernah khawatir lagi kalau dia tak pulang. Biasanya, kalau semalaman tak pulang, keesokan paginya dia muncul sendiri. Sepertinya kelaparan, karena tak ada pelet yang lezat di tanah kosong itu,  hehehe...

    Rumah terasa sepi kalau tak ada kelinci-kelinci itu. Biasanya, sepulang dari kantor pada malam hari dan anak-anak sudah tidur, maka merekalah yang aku usili. Aku membawanya masuk ke dalam rumah dan membiarkan mereka berkeliaran. Kadang-kadang aku pegangi wortel dingin dari kulkas dan membiarkan mereka memakannya dengan lahap. Kalau tidak dipegangi, wortel itu biasanya bergerak terus. Mereka makan dengan agak repot.

    Si abang yang biasanya tak terlalu antusias dengan peliharaan anak-anak, juga jatuh cinta pada kelinci-kelinci ini. Sekarang, kalau kami melapor bahwa pelet si Unyu-unyu habis, si abang rela maghrib-maghrib ngebut ke Pasar Palapa mencarikannya.

    Rara dan Tata sering memasukkan kelinci-kelinci itu ke dalam rumah dan mengajaknya bermain. Kedua kelinci itu senang dibelai dan kami senang membelainya. Bulu mereka tebal dan lembut.

    Tadi malam (6/11/12), khawatir hujan lebat dan angin kencang akan membuat mereka sakit, jadi aku masukkan kembali mereka ke dalam rumah. Kandangnya sengaja kubiarkan terbuka. Pikirku, nanti mereka pasti akan tidur di sana.

    Namun ternyata, tadi pagi kulihat  mereka tidak tidur di dalam kandangnya, tapi di lantai. Tak ada kotoran di bawah kandang itu. Semua bersih. Biasanya setiap pagi aku kebagian tugas membersihkan lantai yang kosong dan bau pesing mereka. Minta ampun baunya, tajam banget!

    Hebatnya, kelinci-kelinci itu pipis dan boker di kamar mandi! Memang sih, tidak tepat di WC, tapi di lantainya.  Paling tidak, aku tak perlu ngepel kan? Membuangnya juga gampang, tinggal disiram, lalu beri pembersih lantai untuk menghilangkan bau pesingnya.

    Kemarin lusa, si Unyu-unyu Cinta kembali 'minggat' dari rumah. Pagi-pagi aku melihat sebuah mangga yang sebagiannya telah habis dimakan. Entah siapa yang makan. Ya, di halaman rumah kami ada pohon  mangga yang saat ini buahnya lebat sekali. Setiap pagi aku senang sekali mengumpulkan buah matang yang jatuh dan berserakan di halaman.

    Tapi pagi itu, aku heran melihat ada buah mangga yang tinggal separuhnya. Siapa yang makan ya? Rupanya si Unyu-unyu Cinta yang makan. Sekitaran mulutnya terlihat berlepotan.

    "Hei Cinta, pulang juga  kamu ya?! Sekarang kamu makan mangga juga?" tanyaku.

    Sejak itu, kalau ada mangga yang jatuh dan sudah terlalu ranum, aku serahkan saja sama si Unyu-unyu untuk dimakan. Tak  hanya daging buahnya, kulitnya pun diembat. ***

Rabu, 04 Februari 2009

Tikus Mati di Jalan dan Warga Kota yang Manja

Setiap kali lewat di jalan itu, selalu saya lihat selokan itu penuh daun-daun kering, botol air mineral dan segala macam sampah lainnya. Air sudah tak mengalir. Menggenang nyaris setinggi permukaan jalan. Karena sekarang musim hujan, tentu tak lama lagi jalan itu akan kembali tergenang air seperti yang sudah-sudah. Biasa, tamu tahunan...

Di tempat lain, saya lihat pula rumput liar tumbuh subur di pinggir jalan. Sudah setinggi betis saya. Hijau segar dan sepertinya akan segera menyebar kemana-mana.

Lalu, pemandangan ini tentu Anda lihat juga, tikus mati, terburai ususnya, terkapar di tengah jalan. Kalau tikusnya baru saja mati, entah karena tergilas mobil saat menyeberang atau memang sengaja dilempar orang ke tengah jalan, maka bau amis darah yang membuat seisi perut kita serasa mau keluar, akan tercium sangat kuat.
Bangkai tikus itu tergeletak di jalan itu hingga berhari-hari, tiada seorangpun yang hendak membuangnya. Terkadang ia sedemikian pipihnya, lebih mirip dendeng. Tinggal digoreng. Terkadang ia tergeletak di pinggir jalan, menggelembung, membusuk, penuh belatung, juga membuat mual.

Begitulah ulah kita, para warga kota. Kita ini sangat manja. Seperti selokan yang penuh sampah, walau di depan rumah sendiri, kita tak peduli. Walau rumput liar sudah menyemak, atau tumbuh di pinggir selokan yang berpotensi menghambat jalan air, kita tak ambil pusing. Demikian pula dengan bangkai tikus itu, kita biarkan saja di sana.

Pertanyaan menari-nari dalam kepala. Saya coba mencari jawabannya. Ketemu! Ternyata ini karena pemerintah kota sudah menyediakan tenaga harian lepas yang secara berkala datang membereskan itu semua. Segala sampah yang menyumbat selokan, segala rumput yang tumbuh di tempat yang tak diinginkan, dibuang habis. Setelah itu, alangkah senang mata memandang, jalan bersih, selokan bebas sampah dan bangkai tikus tak ada di tengah jalan.

Bisa jadi karena sudah ada pihak yang menanganinya, kita jadi manja. Tak mau repot-repot mengurusi segala urusan kotor-kotor itu. Pantas saja, imbauan untuk bergotong royong Minggu pagi dari mirkofon masjid, dianggap angin lalu. Kan sudah ada yang ngurus!

Berhubung sekarang sudah mulai sering turun hujan, agaknya buruh harian lepas spesialis bersih-bersih got, ditambah jumlahnya. Ditambah pula gajinya, jam kerjanya, wilayah kerjanya, plus penghargaan lainnya. Warga kota terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mencari uang, uang, uang. Mencari perhatian, jabatan, popularitas, blablabla... Tak ada waktu untuk gotong-royong mengorek selokan, membuang bangkai tikus, ataupun mencabut rumput liar.
Pak Wali, buruan, tolong kirim pasukan penyelamat itu. Kami semua sedang sibuk!