Minggu, 11 Januari 2015

Hari Kelima: Jam Gadang, Pasa Ateh, Ampiang Dadiah!




Hidung mulai meler. Flu berjamaah.  Tapi karena judul besarnya adalah liburan, hati senang-senang saja. Hari ini, agenda kami adalah naik ke Jam Gadang. 

Setelah mandi pagi dan mencuci, kami berangkat. Rombongan dibagi dua. Si Tata dan papa pergi ke Panorama. Dia masih penasaran ingin masuk lagi ke Lobang Jepang. Calon arkeolog kami ini ingin melihat kembali ruang-ruang penyiksaan, dapur  dan sebagainya di dalam lobang besar itu. 

Sementara aku sudah angkat tangan dengan urusan daki mendaki ini. Ndak  kuat di angok do mak oooi...

Rara dan Tsaqif juga gak mau ke Panorama.  Mereka memilih keliling muter-muter di Pasa Ateh saja. Okelah kalau begitu. Itu mama banget! Kami  sarapan dulu di warung sarapan Mas Karto di Pasa Ateh. Di sana ada soto, mie goreng dan lain sebagainya. Tapi sate gak ada.  

Setelah itu, Tata dan si papa memisahkan diri. Aku, Rara dan Tsaqif menuju Jam Gadang. aku penasaran ingin naik ke atasnya. Ingin foto-foto selfie buat manas-manasin ente-ente semua di rantau yang gak pada pulang kampung.

Hari itu pengunjung cukup ramai.  Kami masuk ke bagian bawah Jam Gadang, mau mengurus perizinan naik ke puncaknya. Aqif sudah gelisah, hahaha...




Jam Gadang, dibangun pada 1926, sebagai hadiah dari Ratu Belanda

 Pak Fauzi, pegawai Dinas Pariwisata Bukittinggi yang menjadi Koordinator Jam Gadang, menyambut kami dengan ramah.  Dengan baik-baik ia mengatakan bahwa kami tidak diperkenankan menaiki jam itu.


“Ini berlaku sejak 2006 lalu. Alasannya, demi keselamatan pengunjung juga. Kami kan tidak memungut karcis untuk masuk ke sini sehingga tidak ada asuransinya. Kalau terjadi apa-apa nanti di atas, kan bahaya juga,” katanya.

Saya dapat memakluminya.  Dia menjelaskan lebih jauh, dulu, tiket untuk naik ke atas Jam Gadang Rp50.000 perorang. Cukup mahal ya. Itu sembilan tahun yang lalu loh. Sekarang aja  masih terasa mahal. 

Saat ini, hanya orang-orang tertentu yang diperkenankan naik ke atas, misalnya orang-orang dari media, untuk kepentingan promosi pariwisata. Itupun di wartawan harus melengkapi diri dengan surat tugas resmi dari  kantor dan mendapat izin pula dari Kepala Dinas Pariwisata Bukittinggi.

Pihak lain yang diperbolehkan naik ke atas adalah para wakil rakyat dan aparat Kepolisian atau TNI. Kalau aparat Kepolisian dan TNI diperbolehkan naik, saya masih bisa menerima alasannya,  demi keamanan dan sebagainya yang terkait dengan itu. 

Tapi kalau para wakil rakyat, alasannya apa ya? Mau menjemput aspirasi? Aspirasi siapa yang menunggu mereka di puncak Jam Gadang? hehehe... 



Prasasti ini menerangkan sejarah Jam Gadang


Jam Gadang dibangun pada 1926 oleh pemerintah kolonial Belanda.  Bahan-bahannya adalah kapur, putih telur dan pasir putih.  Tahukah Tuan-tuan dan Puan-puan, siapa arsitek jam ini? Ternyata namanya Yazid dan Sutan Gigi Ameh. Pada prasasti di jam ini dijelaskan, bahwa ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi Rook Maker. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh putera Rook Maker yang berusia 6 tahun.

Hingga saat ini, jam yang digerakkan secara manual itu, masih hidup. Saat terjadi gempa besar di Padangpanjang, jam itu baru siap hingga tingkat ketiga. Pembangunannya lalu dihentikan sementara.
Setelah keadaan tenang kembali, pembangunan dilanjutkan hingga menjadi enam tingkat. Puncak jam itu awalnya dipasangi lambang ayam jago oleh Belanda. Sementara ketika Jepang menjajah, puncaknya diganti seperti kuil. Dan pada 1953, setelah Indonesia merdeka, puncaknya diganti kembali dengan gonjong, khas Minangkabau, hingga hari ini.

Pada malam pergantian tahun masehi 31 Desember, orang-orang berduyun-duyun datang ke bawah  jam gadang. apa yang mereka lihat?

“Karena di sekitar lokasi ini dilarang digelar panggung terbuka dengan musik hingar bingar, pada malam tahun baru diadakan pesta kembang api dan bunyi sirine. Urang-urang datang untuak mancaliak kambang api jo jam balimpik,” terangnya lagi.


Teteup wawancara...

Jam balimpik maksudnya jarum  jam berdempet di angka 12 tengah malam. 

Selagi aku asyik ngobrol sama si bapak, Rara dan Aqif sudah pergi duluan menjelajah lapak demi lapak di Pasa Ateh. Apalagi yang dicari, kalau bukan oleh-oleh, pernak-pernik kecil lucu imut. 

Pasa Ateh di Bukittinggi hingga saat ini tetaplah menjadi  magnet bagi para pelancong. Walau dari satu lapak ke lapak lainnya produk yang dijual relatif sama, namun tetap saja orang ramai berdatangan. Rasanya belum ke Bukittinggi, kalau belum ke Pasa Ateh.

Tips belanja di sana, sederhana saja; jangan sungkan menawar setengah harga! 

Aku menyusul mereka. Kami membeli baju kaos dengan tulisan khas Bukittinggi untuk Rara, Aqif dan Tata, sebagai kenang-kenangan. Puas keliling-keliling sampai kaki pegal, aku merapat ke warung yang menjual Ampiang Dadiah. Horeeee..... akhirnya ada juga kesempatan untuk menikmatinya lagi.


Ampiang dadiah, makanan khas Bukittinggi  dari susu kerbau fermentasi

Ampiang dadiah adalah makanan khas yang terdiri dari ampiang dan dadiah. Ampiang adalah beras pulut yang disangrai hingga lunak, lalu ditumbuk  hingga bentuknya pipih. Sementara dadiah adalah susu kerbau yang difermentasi, mungkin sama kayak yogurt kali ya? Rasanya asam seperti yogurt, bentuknya seperti bubur. 

Makanan ampiang dadiah dihidangkan dengan urusan; ampiang, dadiah, parutan kelapa, vla dari gula merah. Boleh ditambahi es serut di atasnya. Satu porsi Rp15 ribu.

Aku langsung menikmati menu kesukaanku itu. Rara dan Tata memilih es tebak yang sudah biasa di lidah mereka. Pas disuruh nyobain ampiang dadiah, ekspresi wajah mereka jadi lucu. Hehehe...
Tak lama kemudian, Tata dan papanya datang. Ternyata mereka juga mampir ke museum di dekat Panorama itu. Melihat ampiang dadiah, ni orang Bukittinggi aseli yang belum pernah menikmatinya, jadi pengen juga. Maka dipesanlah seporsi lagi. 

 Aqif dan Rara mencicipi ampiang dadiah punyaku. Mereka masih kurang suka. Tunggu sampai klean gadang dan jauah di rantau urang yo, pasti takana-kana jo ampiang dadiah ko mah...



Setelah itu, kami pulang dengan perasaan puas dan bahagia. 

Siap-siap untuk petualangan besok hari

Sabtu, 10 Januari 2015

Hari Keempat, Menuju Kubu Rajo di Limo Kaum, Batusangkar




Hari keempat, Senin (28/12/14), adalah hari dimana aku sudah tercatat bekerja kembali. Libur telah usai. Tapi karena pekerjaanku bisa dikerjakan di rumah, aku mohon i zin ke kantor untuk tidak ikut rapat proyeksi pagi. jam kerjaku biasanya dimulai pukul setengah dua siang.  Jadi aku katakan, kita akan pergi kemana saja asalkan pulang kembali ke Kamang pukul setengah dua. Si abang langsung setuju. 

Kami  akan pergi ke Batusangkar. Tujuan utama, komplek makam di Limo Kaum. Tapi karena di sepanjang jalan ada petunjuk arah menuju Istana Basa Pagarruyung, kenapa tidak sekalian ke sana saja?
Hari ini kami membawa serta satu lagi sepupu anak-anak, namanya Hanani. Dia sebaya dengan Lira. Dulu saat anak-anak masih kecil, dia juga kami ajak saat pergi jalan-jalan ke kebun binatang, atau ke Rumah Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi. 


Kabut embun yang menyelimuti lereng Merapi pagi itu, sungguh menawan...

Perjalanan ke Batusangkar diselimuti kabut. Jalannya baru sekali itu aku lalui, perasaan. Kami dapat melihat kembali, tower PT Telkom di lereng Merapi. Rasanya tidak percaya, kemarin kami telah mencapainya.  Dan si abang  masih merasakan lututnya kosong (gamang tingkat dewa) begitu teringat terjalnya  lereng yang kami lalui kemarin.

Kami  menuju ke istana.  Sekarang parkiran  kendaraan sudah lebih rapi. Saat kami tiba, masuk pula serombongan lansia satu bus pariwisata. Belum lagi anak-anak usia sekolah. Senin yang ramai!


Harga tiket masuk untuk dewasa Rp7.000 dan anak-anak Rp5.000. baru saja menjejakkan kaki di halamannya yang luas, sudah terlihat serombongan orang berfoto ria di sana dengan latar Istano Baso.
Aku tanya sama seorang petugas, berapa orang pengunjung situs bersejarah itu setiap hari. Dia bilang ribuan. Kami berfoto-foto ria lagi.


 Sebenarnya semua disuruh angkat tangan tinggi-tinggi, tapi kok jadi begini?

Si Tata sebentar saja sudah hilang. Ia tak sabaran ingin melihat segala sudut istano itu. Sementara aku senang menyimak banyak informasi yang sodorkan, baik lewat rekaman video atau brosur. 





Atas: Tsaqif, Rara, Hanani, para datuk dan aku. Bawah: Tata menghatur sembah.


Sementara si Aqif, lagi-lagi bermasalah. Ia tak mau naik tangga kayu ke lantai dua. Ia ngeri mendengar bunyi derak kayu itu saat diinjak. Aku perhatian, kayu yang berbunyi adalah papan yang diletakkan di bagian dalam anak tangga, bukan yang di bagian luar. Artinya, papan yang bagian luar lebih kuat dan keras, aman untuk diinjak. 

Rara sudah membujuk dia sebelumnya, tapi tak mempan. Waktu aku datang dan mengajaknya, dia awalnya juga menolak. Tapi mungkin segan merengek-rengek karena aku bukan mama-papanya, akhinya dia mau juga, hehehe...

Supaya dia berani melawan rasa takutnya, aku pegangi tangan Aqif menaiki tangga itu hingga kami sampai di lantai dua. Suer, telapak tangannya terasa sangatn dingin dan berair! Tapi apa yang terjadi kemudian? Ia tak perlu dituntun lagi untuk naik ke tingkat tiga yang lebih tinggi.  Walaupun saat turun masih harus dipegangi, paling tidak ia sudah dapat mengendalikan rasa takutnya. Kita memang harus mencoba sejauh mana kemampuan kita.

Lantai dua istana merupakan ruang yang tidak terlalu luas, digunakan untuk memingit gadis-gadis perawan  yang belum menikah. 



ruang pingitan

Sementara di lantai ketiga, terdapat ruangan yang lebih kecil, digunakan untuk menyimpan benda-benda penting kerajaan, seperti pedang, keris, tombak dan sebagainya.

Si abang sudah mengajak kami semua turun. Namun aku tak sengaja menemukan jalan menuju dapur di belakang yang tertutup tirai. maka akupun pergi ke sana. Di sana kami melihat peralatan masak zaman kerajaan, terbuat dari tanah liat, bambu dan sebagainya. Tanah liat digunakan untuk membuat balango,  semacam periuk. Tak jauh dari nagari Pagarruyung ini, memang ada satu kampung yang penghidupan warganya dari membuat balango ini. 
  
 Rara dan Hanani, foto bareng belanga di dapur istana


 
 Tata menunjukkan sejumlah alat masak di dapur



Aku kira belanga itu berasal dari tanah Jawa...

“Bukan, ini asli dari Batusangka. Ado kampuang yang  mato pencarian warganyo memang mambuek balango ko. Kan ado istilahnyo dek urang tu, “tanah urang dipijaknyo, tanah inyo dijunjuangnyo”. Aritnya, ya tanah urang diinjaknyo karano awak memang bajalan di ateh tanah, samantara tanah inyo dijadian balango, dijunjuangnyo,” kata si ibu yang berjualan Masoi Bark Oil, ramuan tradisional asli Pagarruyung untuk mengobati  flu, masuk angin, sakit gigi, sakit pinggang dan lain sebagainya.

Masoi bark oil, traditional liniment, hanya ada di Istana Basa Pagarruyung

Harganya Rp40 ribu/botol. Terbuat dari akar kayu-kayuan hutan dan meninggalkan rasa panas di kulit. Baunya khas. Aku penasaran dan membeli satu botol. Si ibu berbaik hati mengoleskannya di bahuku. Entah memang dia paham cara pengobatan ini atau bagaimana, sebentar saja ia sudah bersendawa. Kata orang, tukang pijat yang sudah berpengalaman memang bisa menyedot angin dari tubuh orang yang dipijatnya lalu dikeluarkan lewat sendawa.

Ia juga mengurut kakiku yang pegal minta ampyuuun gegara kareh ati naik tangga di Koto Gadang tempo hari. Masih belum hilang rangkik-rangkiknyo sampai hari itu...

Kami lalu menuju Kecamatan Limo Kaum untuk melihat situs cagar budaya Kubu Rajo.  Dulu waktu mengajar di salah satu perguruan tinggi di Batusangkar, aku selalu melewati kawasan ini. Aku penasaran ingin melihat seperti apa di dalamnya. 

Kini, si Tata juga penasaran ingin melihat batu nisan yang melengkung ke dalam, tidak tegak lurus  seperti yang lazim digunakan saat ini. Tata bercita-cita menjadi seorang arkeolog. Ia mengaku sangat tertarik dengan benda-benda bersejarah. Jadi kesinilah kami sekarang.

Sayang, seperti halnya Ngalau Kamang yang sudah ditinggalkan bahkan dirusak, situs cagar budaya itu juga terkesan ditinggalkan. Pintu masuknya kecil saja, bahkan kita harus melompati parit kecil untuk masuk ke arealnya. Waktu kami datang, pintunya tertutup. Aku sebagai si pemberani, main buka aja. Eh, ternyata gak dikunci.

Anak-anak masuk, foto sana foto sini, sibuk mengeksplorasi. Mereka takjub melihat kehebatan para nenek moyangnya yang bisa  menulis di atas batu. Mereka memperhatikan dengan seksama tulisan jawi di atas batu itu.



Atas: Gerbang batu komplek makam tak jauh dari Istano Basa Pagarruyung.
Bawah: Salah satu makam tampak ditutupi dengan kain kuning.






 Asyik mengeksplorasi...

 Makam-makam dalam kompleks ini memiliki batu nisan yang unik
 Calon arkeolog kami, menunjukkan nisan unik di Kubu Rajo, Limo Kaum, Batusangkar

 Hanani, asyik memotret

 Prasasti Kubu Rajo

 atas: Tsaqif di pinggir kolam di belakang istana
bawah: Tsaqif dengan latar belakang istana
 bawah lagi: Lira 
paling bawah: Kami semua di jendela dapur istana

Setelah puas, kami keluar, kembali ke Bukittinggi. Aku bilang, kita  makan soto aja. Enak nih, dingin-dingin makan soto yang panas dan berkuah. Sayang, sepanjang jalan pulang, kami tak menemukannya. 

“Kita makan nasi kapau!” seru si Papa.

Jadi kami masuk ke Nagari Kapau, dekat Kamang. Kedai nasi itu seperti warteg, terletak di pinggir jalan, pakai tenda kiri kanan. Makanan dihidangkan sepiring saja, dengan lauk sesuai pesanan. Tata dan Aqif pesan ikan bakar. Rara dan Hanani makan ayam bakar. Aku dan si abang menu yang lain lagi. 

Rasanya menurutku biasa saja. Nasinya setangkup kecil. Tapi harganya, buseeett.... seporsi Rp17 rebu daaang... lebih mahal dari nasi bungkus Simpang Raya di Pekanbaru! Padahal RM Simpang Raya atau Kota Buana, Puti Buana dan lain sebagainya itu, rasanya tak semahal ini harganya. Ampuun... 

Sebagai bandar, aku ngomel-ngomel di mobil. “Makjang, mahalnya, lebih mahal dari harga nasi bungkus di restoran. Sudahlah, coretlah nasi kapau dari daftar wisata kuliner kita bang. Tekor nih!”

Kami mendarat lagi di Tilatang Kamang. Aku segera menuju komputerku. Online online...



Jumat, 09 Januari 2015

Ke Lereng Merapi



Hari ketiga

Hari Minggu, agendanya adalah mendaki lereng Gunung Merapi. Kalau kemarin temanya nostalgia masa kecil mama, hari ini si papa yang bernostalgia. Rupanya dulu waktu masih bujang kecik, dia pernah naik ke lereng Gunung Merapi dengan sepeda motor.


Foto atas, Gunung Merapi, dilihat dari Kamang. Bawah, titik yang akan kami tuju


Jadi hari ini kami akan mendaki ke sana. Untuk mencapainya, kami harus balik dulu dari Kamang ke Baso. Dari arah Bukittinggi, mobil membelok ke arah kanan, masuk ke Nagari V Suku Canduang. Jalanannya kecil, beraspal mulus. Udara pegunungan terasa dingin menerpa wajah.

Si Tata sudah sudah sehat wal afiat. Ia tampak gembira. Si Rara memilih tidur di dalam mobil menunggu kami mendarat di lereng tertinggi yang bisa dilalui mobil di Gunung Merapi itu.

Karena sudah lama sekali, si papa lupa  jalan yang harus kami  lewati. Hingga kami tibalah di Jorong Labuang. Kalau kami masih melanjutkan jalan lurus ke depan, entah akan sampai dimana. Maka si abang bertanya pada penduduk setempat.

Lelaki tua yang ramah, menjelaskan kepada kami, bahwa jalan itu buntu di ujung sana. Kalau kami mau ke lereng yang kami maksud, kami harus balik  lagi, nanti di Jorong Bingkudu, belok ke kanan. Kami mengucapkan terima kasih dan si bapak dengan ramah menawarkan  mampi r ke rumahnya. Oh, so touching... 

Kalau perjalanan di lereng-lereng gunung seperti ini, dengan rumah-rumah sederhana dan tua, dengan  halaman yang penuh tanaman, dengan air di parit yang  mengalir deras dan padi yang  menguning, hewan-hewan peliharaan dan penduduk yang bersahaja,  maka akulah yang paling bahagia.


Rumah tua di pedesaan yang bersahaja, dengan pekarangan, kebun bunga dan sayur. teras dengan dua kursi dan secangkir kopi susu...



Cita-cita masa tuaku adalah tinggal di daerah sejuk seperti ini. Hidup sederhana, bercocok tanam, menikmati hidup dengan bahagia. Tidak perlu televisi dengan hingar bingarnya. Tidak perlu ke mal setiap minggu untuk refreshing. Cukup duduk di teras rumah menikmati angin semilir dari pegunungan, bau tanah dan bunga-bunga. Ditemani secangkir kopi susu panas yang sebentar saja sudah dingin. Itu gambaran ideal masa tuaku sampai hari ini.

Kami akhirnya menemukan jalan yang benar. Jalan itu mendaki di lereng-lereng gunung Merapi. Si abang berkata, kalau melihat ke dalamnya jurang di pinggir jalan, ia merasa lututnya jadi kosong. Gamang tingkat dewa.

Di sepanjang lereng ini, penduduk hidup dari bercocok tanam. Kami melihat ada banyak kulit  manis yang dijemur di pinggir jalan. Di kebun-kebun, ada cengkeh dan tanaman palawija. Bawang, ubi, talas, labu siam atau orang Minang menyebutnya  japan,  tumbuh subur.


Pemandangan Kota Bukittinggi dan sekitarnya, dilihat dari lereng Merapi.



Makin ke atas, makin buruk kondisi aspal jalan. Kami hampir tak pernah berpapasan dengan kendaraan lain. Jalanan yang melingkari pinggang Merapi itu, hanya cukup untuk satu mobil.
Angin tidak lagi semilir. 

Akhirnya kami tiba di titik perhentian terakhir. Ada dua orang pria sedang menyortir tomat. Sepertinya akan ‘diekspor’ ke Riau tuh. Ada pondok di pinggir jalan, dekat petani-petani itu. Dari arah pondok itu terdengar bunyi rengekan yang semula aku kira suara anak kecil. Gak taunya... suaro kambiang! Pantesan bau pesingnya kuat banget.

Juga musik gamat terdengar cukup keras  lewat loud speker.  Kami yang tua tua serasa balik zaman masih kecik-kecik dulu... 








Ternyata tower itu milik Telkom...


Kami foto-foto lagi di sana. Angin bertiup lebih  kencang.  Dari atas itu,  kami bisa melihat kota Bukittinggi hingga jauh. Di ujung sana, ada deretan Bukit Barisan, sambung menyambung. Di bawah kami, ada jalan menuju Batusangkar. Hanya perlu satu jam perjalanan mobil dari Baso menuju Batusangkar. Kami akan pergi ke sana, beberapa hari lagi...


Kamis, 08 Januari 2015

liburaaan....



Jumat (26/12/14) pagi, kami berangkat pergi liburan. Kali ini liburannya akan sangat panjang, lebih dari seminggu. Alhamdulillah, pekerjaanku cukup fleksibel, si abang juga. Anak-anak sedang libur semester dan ada dua minggu harpitnas. Apa lagi?
Sebenarnya aku agak khawatir, apakah bisa kami berangkat? Si Tata pusing-pusing sejak sepekan lalu. Tepat hari Senin usai ujian semester, ia merasa pusing dan ujung-ujungnya muntah-muntah. Aku sangat khawatir. Ia hanya bisa tidur telentang. Bergerak sedikit, ia mengaku kepalanya pusing. Makan apapun, nanti bisa keluar lagi. Kasian...
Seminggu ia tidakmasuk sekolah. Beruntung ujian semester sudah selesai dan tak ada remedial.  Praktis, menjelang penerimaan rapor, ia tidur saja di rumah.  Setelah menerima rapor pun, kondisinya sering bolak-balik, kadang baik, kadang tidak.  Karena tidak pergi kemana-mana itulah, aku menjalani puasa sunnah sejak Senin, tepat saat anak-anak libur sekolah.
Pagi itu, dia lebih memilih tidak liburan kemana-mana, karena sakitnya. Kami lalu membawanya ke sinse yang kami kenal. Siapa tahu dengan pijatan sinse, kondisi Tata bisa membaik. Kami pergi bertiga pakai motorku. Dia berdiri di depan dengan lemas.
Sementara itu Lira di rumah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang  kampung. Ya, semoga saja kondisi Tata tak parah, sehingga kami bisa pergi liburan. Soalnya aku juga tidak masuk kantor. Aku libur sejak Kamis hingga Minggu besok.
Sayang, sinse yang kami maksud, tidak buka hari itu. Apa merayakan Natal juga ya? Akhirnya, kami pergi saja ke tukang urut langganan dekat rumah. Harus menunggu lebih dari setengah jam karena ada pasien lain. Begitu tiba gilirannya, si ibu bilang memang ada urat di punggung yang agak sedikit melenceng. Tata diurut seperti biasa.
Alhamdulillah, setelah diurut, dia merasa lebih baik. Lalu diputuskan, kami jadi pulang kampung. Horee! Hingga detik terakhir, tidak ada kabar dari beberapa orang -teman si Lira  yang ingin ikut dengan kami.  Ya sudah, kami pergi berempat saja.
Koper-koper dimasukkan ke  dalam  mobil. Tas, ransel, dan juga seperangkat komputer, alat kerjaku. Laptop kami sudah jadul bingits, baterainya tidak bisa dipakai lagi. Jadi kalau mau menggunakan laptop, harus dicolokin terus ke listrik. Mending PC aja sekalian. Sudah familiar dengan jari jemariku.
Kami berangkat dari rumah sekitar pukul sepuluh pagi dengan dua penumpang di jok belakang. Yang satu sudah gaya abis dengan jaket musim dinginnya yang keren, sementara yang satu lagi memeluk boneka  dengan wajah pucat.  Teman setia perjalanannya adalah... gayung. Buat jaga-jaga kalau ada yang muncrat tak terkendali.
“Kita nanti makan siang di Rumah Makan Pangek Situjuah di Payakumbuah,” aku memberi instruksi.
“Tata kalau gak muntah nanti dikasi ikan bakar. Kalau muntah, batal ya!”

Susah payahlah anak itu menahan mual di perutnya. Tak lama setelah memasuki wilayah Sumbar, muncrat juga apa yang kami khawatirkan. Hampir seluruh wajahnya kecipratan. Sejak pagi ia tidak makan, jadi yang keluar hanya air teh saja. Tapi yang namanya muntah, ah.. tak usah dibahaslah!
Kami menepi dan membereskan baju dan jilbab syar’inya yang belepotan. Entah kemana perginya gayung tadi. Dia bersalin pakaian dengan baju rumah yang aku ambil dari dalam koper di bagian belakang mobil.
Biasanya setelah muntah, Tata jadi lebih segar. Tapi kali ini tidak demikian. Ia merasa masih pusing. Ia tertidur lemas di jok belakang.



Berhenti di Kelok Sembilan hanya untuk mengambil foto inih.

Kami merapat di Rumah Makan Pangek Situjuah yang menawan. Rumah makan itu dibangun di atas kolam-kolam ikan dan di hadapannya terhampar pemandangan sawah-sawah dan gunung. Sungguh memesona. Tata langsung segar. Nasi sepiring dengan ikan bakar kesukaannya, tandas. Ia dan Lira asik memberi makan ikan  yang rakus-rakus bingit menunggu lemparan apa saja dari atas dangau.
Seperti rumah makan padang pada umumnya, nasi dihidangkan dalam mangkuk berukuran sedang dan lauk aneka rupa dihidangkan dalam porsi kecil hiingga memenuhi meja. Ada ikan dan ayam bakar, dendeng, gulai kambing, dan lain sebagainya. Kami makan berempat ditambah teh panas hanya kena Rp110.000. Catat ya,  hanya Rp110.000 dengan nasi satu mangkuk yang cukup buat berempat. Masih sisa buat ikan juga.

Di sini ada banyak kolam yang berisi ikan sungai sejenis nila dan entah apa lagi. Aku tak tahu. Pokoknya bukan lele.  Menurut salah seorang pekerja  yang sore itu sekitar pukul tiga masih menangguk ikan untuk dibakar, setiap  hari rumah makan itu  menghabiskan sekitar 8-9 keranjang ikan ukuran sedang. Berat keranjang itu sekitar 20 kg. Ikan-ikan itu diambil dari kolam sendiri. Benar-benar laziiiss...
Tata sudah pulih 60 persen. Kenapa aku bilang 60 persen, karena ia masih belum sanggup shalat dengan posisi berdiri. Menoleh kiri kanan juga masih pusing. Dan masih ada perjalanan satu jam lagi menuju Bukittinggi.  Apakah dia akan memuntahkan seluruh ikan bakar dari Situjuah ini lagi?
Ternyata tidak. Alhamdulillah. Kami sampai di rumah mertuanya yang memang kosong. Seingatku, setiap kali pulang kampung dan menginap di sana, hal pertama yang harus kami lakukan adalah  menyapu seluruh ruangan karena penuh dengan debu. Maklum, rumah itu kosong sejak seluruh anggota keluarga pergi merantau.
Sore harinya, datang Tsaqif, anak adikku dari Padang. Dia aku tawari ikut liburan dengan kami. Aku  kasihan melihat dia tak bisa kemana-mana, karena ibu dan bapaknya tetap harus bekerja. Untung dia mau. Tsaqif atau Aqif lebih tua 6 bulan dari Tata. Dia bersekolah di MIN Padang.  Kini Rara Tata punya teman.
Hari pertama, dua batang kasur kapuk yang keras dan berat dibawa ke ruang tengah, di depan televisi. Si abang suka tidur di sana, diselimuti udara dingin pegunungan dan...  bau kandang ayam ras di seluruh penjuru mata angin, hahaha...
Rara, Tata dan Aqif tidur di kamar.  Mereka bertiga langsung klop. Hari yang panjang, tapi menyenangkan. Liburan dimulai...
Hari Sabtu, agenda kami adalah melihat sekitaran Kamang. Ada danau ajaib yang disebut orang-orang sekitar Tarusan. Beberapa bulan yang lalu kami sempat ke sana dan melihat bekas danau i tu sedang kering airnya. Banyak anak-anak  muda bermain bola di atas pasir.



Sekarang, kawasan itu telah tergenang air.  Menurut orang-orang sekitar, danau itu muncul dengan sendirinya. Air keluar dari celah batu dan nanti hilang lagi di sana.  Tak pandang musim hujan atau musim kemarau, bila telah tiba masanya,  air akan keluar menggenangi areal  yang cukup luas, kira-kira lebih luas dari danau kecil di Padanglua.
Tarusan ini terletak di kaki gunung. Berlapis-lapis gunung dengan warna hijau, biru lalu abu-abu, terlihat begitu indah.


Kami juga melihat gua  ini. Entah apa isinya, tapi si Tata senang memotretnya.

Ini adalah bukit yang diisukan berisi uranium. Ada juga yang bilang di dalamnya terkandung emas yang masih mentah sebesar kuda. Wallahualam. Tapi dilihat dari bentuknya, memang ini bukit lain sendiri. Ia tunggal, sementara bukit-bukit lainnya, berbaris-baris dari ujung pulau Sumatera yang satu ke ujung lainnya. Perhatikan juga, tidak ada pohon besar yang tumbuh di bukit itu. Adanya pohon-pohon kecil, tandanya bukit ini lebih didominasi batu, bukan tanah.

Kami menelusuri jalanan kecil yang mulus hingga sampai di Makam Tuanku Nan Renceh.
Beliau adalah salah seorang pahlawan pejuang dari Minangkabau, seperti Tuanku Imam Bonjol. Hari itu kami melihat makamnya baru saja dibersihkan oleh TNI. Ada karangan bunga di sana. Sayangnya, pagar di sekitar makam tidak dibuka, sehingga kami tidak bisa  masuk ke dalam untuk melihat lebih dekat.

Dikutip dari wikipediaTuanku Nan Renceh adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan penjajahan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri dari tahun 1803-1838. Tidak banyak diketahui data mengenai tokoh ini, selain seorang figur karismatik, ia juga dikenal keras dalam menegakkan syariat Islam. Sedangkan dari catatan Belanda, tokoh ini merupakan sosok antagonis, dan dianggap bertanggung jawab atas adanya tindakan kekerasan di Dataran Tinggi Padang.


Nama asli dari Tuanku Nan Renceh adalah Abdullah. Ia lahir di Nagari Kamang pada tahun 1780 dan meninggal dunia dalam perang Padri. Ia merupakan murid dari Tuanku Nan Tuo.[1] Ia kemudian menjadi guru yang banyak melahirkan pejuang perang Padri.
Kedatangan tiga orang haji dari Mekah tahun 1803 telah mengilhami Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mulai mengumandangan jihad atas segala bid'ah di Minangkabau.[1] Ide-ide pembaharuan yang diterapkan Tuanku Nan Renceh terhadap perubahan kebiasaan masyarakat termasuk model sistem adat matrilineal mendapat tantangan dari para penghulu pada beberapa nagari di Minangkabau sehingga kemudian melahirkan gerakan Paderi dengan pendekatan konflik.
Disebut nan renceh karena beliau bertubuh kecil  (renceh rupanya artinya kecil, saudara-saudara). Apa dari sana asal kata receh? Uang receh berarti uang kecil kan? Setelah dari sana, kami meneruskan perjalanan mencari Ngalau Kamang.

Tuanku Nan Renceh juga merupakan satu dari Harimau Nan Salapan (Harimau yang delapan). Mereka menyebarkan ajaran Islam di Tanah Minangkabau. Harimau nan Salapan terdiri dari Tuanku Nan Renceh di Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Laweh, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau dan Tuanku di Lubuk Aur. Prinsip Harimau Nan Salapan, ajaran murni Islam harus ditegakkan di setiap nagari meskipun pedang harus bicara!
Ini perjalanan nostalgia. Dulu semasa SD, aku pernah dibawa bapakku jalan-jalan ke Ngalau Kamang ini. Di dalamnya aku dapat menyentuh stalagtit dan stalagnit. Ini sangat berkesan karena aku masih mengingatnya sampai sekarang. Aku juga  masih ingat, betapa menolongnya kunjungan itu saat ada pelajaran IPA di sekolah.
Pengalaman itulah yang ingin aku berikan pada anak-anakku. Maka kamipun mencari-cari ngalau itu. Sayang seribu sayang, ngalau atau gua itu sudah tak terawat lagi. Stalagtit yang dulu muncul dari langit-langit gua seperti gigi taring akibat proses alam selama ratusan atau mungkin ribuan tahun, kini sudah dipangkas manusia demi uang.  Demikian pula dengan stalagnit yang seolah muncul dari dalam tanah, sudah rata semua. Ngalau Kamang kini tak ada ubahnya dengan gua biasa tempat burung layang-layang bersarang.

Memang, tak jauh dari  ngalau itu, ada penambangan batu kapur. Mereka konon menggunakan dinamit untuk menghancurkan dinding bukit. Batu-batu kapur ini, setiap malam bertruk-truk dikirim ke pabrik kertas IKPP di Perawang, Riau, untuk dijadikan bahan bakar.

Aku tak berani masuk ke dalam ngalau itu. Apalagi kami tidak membawa alat penerangan apapun. Tanpa pemandu, tanpa ada orang yang tahu bahwa  kami masuk ke sana, sungguh adalah pekerjaan yang sia-sia.
Tapi aku tetap menerangkan pada anak-anak apa itu stalagtit dan stalagnit. Walau sedikit kecewa, tapi foto-foto selfie gak boleh lupa loh!

Hari masih panjang. Kami meneruskan perjalanan ke Great Wall Koto Gadang.  Ini benar-benar uji nyali, baik untuk aku, maupun Aqif yang phobia ketinggian. Aku penasaran ini mencoba, sejauh mana kekuatanku.
Kami memulai perjalanan di lereng Ngarai Sianok. Great Wall atau Janjang Koto Gadang itu, membentang dari tebing Ngarai,  terus ke bawah, lalu mendaki ke lereng-lereng bukit hingga tembus ke daerah Koto Gadang. Kalau kita  menyewa ojek dari titik awal, terus berjalan melingkar sesuai jalur kendaraan menuju Koto Gadang, ongkosnya Rp15 rebu. Itu tanda jaraknya bukanlah dekat mak oooi.

Awalnya, aku dan Tata masih bisa foto-foto sok manis di jalan setapak berpaving block yang menurun. Semua terasa santai. Namun di ujung jalan, kami harus berhadapan dengan jembatan kayu yang berayun-ayun dari pinggir tebing ngarai di sini ke tebing di seberang sana. Di bawahnya, kira-kira 30 meter di dasar ngarai, air sungai mengalir dengan tenang.

Jembatan kayu itu hanya mampu menahan beban 10 orang (aku tentu dihitung dua, hahaha...), jadi harus giliran antara yang mau menyerang dari ujung sini dengan yang di ujung sana.
Jembatan inilah yang menaklukkan Aqif. Ia tak berani. Sebelumnya ia sudah datang ke sini dengan ibu bapaknya, ia memilih tak ikut naik jembatan.  Sekarang pergi dengan kami, tak ada cerita takut.
Aku dan Tata maju lebih dulu. Walau sedikit gamang, kami terus saja. Baca saja Bismillah. Bahkan aku yang usil berkata pada Tata, saat kami sudah hampir sampai di seberang. “Yok kita goyang-goyangkan jembatannya Ta, si Aqif takut tuh!”
“Is, apalah mama nii...” kata si Tata gemas.
Di belakang kami, Rara masih belum berhasil membujuk Aqif untuk mencoba menyeberang lewat jembatan itu.
“Ndak papa do.. sini kakak pegangkan tangan Aqif. Ayoklaaa...” si Rara masih membujuk.
Aqif masih merengek-rengek, bergerak gelisah kesana dan kemari, mencoba menghindar. Setelah sekian  menit membujuk dia, akhirnya aku lihat dia ditarik oleh si abang dan Rara melewati  jembatan itu. Sepanjang jalan, ia membungkuk, tak berani liat kiri-kanan. Aku dan Tata terbaha-bahak di seberang.
Lalu perjalanan berat itupun dimulai. Jenjang batu yang cukup terjal, dengan jumlah anak tangga sekitar 20-30,  menanti di depan mata.  Jenjang-jenjang ini merayap di tebing yang terjal. Di beberapa titik yang cukup ekstrem, dipasang pegangan di dinding jenjang.
Perutku  yang baru saja diisi dengan makan pagi, terasa sakit gegara naik tangga ini. Aku perpegangan di pinggir jenjang. Napas jadi satu-satu.  Perlahan-lahan aku melanjutkan pendakian. Alangkah leganya saat telah sampai di tempat yang datar. Aku langsung menarik napas lega.

 Si abang sudah duluan sampai di atas. Melihat aku yang baru saja menyelesaikan pendakian sesi kedua yang cukup terjal dan melihat betapa parahnya kondisiku,  ia senyum-senyum.
“Yan, geser ke sini sikit,” kata si abang. Rupanya dia khawatir, kalau aku pusing atau jatuh pingsan,  bisa langsung terguling-guling ke bawah sana. Posisi berdiriku terlalu ke pinggir jenjang.
Sementara itu udara terasa bersih, segar habis hujan. Matahari bersinar. Di kejauhan, entah di di arah mana, terlihat pinggiran Panorama, tempat orang biasa ambil foto-foto selfie itu loh...
Aqif lagi-lagi menyerah. Dia tak mau mencoba naik jenjang itu. Tata sudah sampai di atas bersama papanya. Rara masih sibuk membujuk Aqif agar mau mencoba.
“Bukan masalah naiknya, tapi turunnya nanti...” kata Aqif.


Dia lebih memilih menunggu saja di sana, sampai kami menyelesaikan pendakian.  Akhirnya si Rara ditugaskan menjagai dia. Si abang melanjutkan pendakian. Tata ikut turun, bergabung dengan Aqif.
Aku tinggal di tengah sendirian.  Kata si emak yang jualan minuman di situ, masih ada sekitar 200-an anak tangga lagi hingga kami tiba di ujungnya, di Nagari Koto Gadang. Kemiringan jenjang mungkin hampir 70 derajat. Aku masih penasaran, seperti apa ujung jenjang ini. Maka akupun meneruskan pendakian, selangkah demi selangkah.
Hingga akhirnya aku tiba di ujung jenjang, ada warung-warung kayu menunggu para pendaki. Aneka makanan dan minuman tersedia dengan  harga yang tentu lebih mahal. Si abang keluar dari salah satu kedai.  Ia menyempatkan mengambil foto aku yang terengah-engah mengumpulkan nyawa sambil bersandar di dinding jenjang.

"Abang jemputlah anak-anak di bawah sana. Habis tu jemput sini balek. Pakai MOBIL!"
 
Aku rasanya sudah tak kuat lagi untuk menuruni jenjang itu.  Aku bilang, “Abang pergilah temui anak-anak, nanti jemput Yani  ke sini lagi pakai mobil.”
Tapi setelah dibujuk-bujuk, akhirnya kami menuruni tangga itu lagi satu demi satu, perlahan-lahan. Macam pengantin baru deh, hehehe...


 bagandeng tangan, menyusuri janjang kenangan. (kenangan pernah sasak angok di siko...)
Sampai di titik dimana anak-anak tadi kami tinggal, ternyata mereka sudah tidak ada! Rupanya Rara sudah  memimpin mereka semua kembali ke seberang sungai. Berarti dia sukses mensugesti si Aqif yang phobia ketinggian sehingga berhasil menyeberang di jembatan gantung itu. Hebat hebat...