Hari keempat, Senin (28/12/14), adalah hari dimana aku sudah
tercatat bekerja kembali. Libur telah usai. Tapi karena pekerjaanku bisa
dikerjakan di rumah, aku mohon i zin ke kantor untuk tidak ikut rapat proyeksi
pagi. jam kerjaku biasanya dimulai pukul setengah dua siang. Jadi aku katakan, kita akan pergi kemana saja
asalkan pulang kembali ke Kamang pukul setengah dua. Si abang langsung setuju.
Kami akan pergi ke
Batusangkar. Tujuan utama, komplek makam di Limo Kaum. Tapi karena di sepanjang
jalan ada petunjuk arah menuju Istana Basa Pagarruyung, kenapa tidak sekalian
ke sana saja?
Hari ini kami membawa serta satu lagi sepupu anak-anak,
namanya Hanani. Dia sebaya dengan Lira. Dulu saat anak-anak masih kecil, dia
juga kami ajak saat pergi jalan-jalan ke kebun binatang, atau ke Rumah Proklamator
Bung Hatta di Bukittinggi.
Kabut embun yang menyelimuti lereng Merapi pagi itu, sungguh menawan...
Perjalanan ke Batusangkar diselimuti kabut. Jalannya baru
sekali itu aku lalui, perasaan. Kami dapat melihat kembali, tower PT Telkom di
lereng Merapi. Rasanya tidak percaya, kemarin kami telah mencapainya. Dan si abang
masih merasakan lututnya kosong (gamang tingkat dewa) begitu teringat
terjalnya lereng yang kami lalui
kemarin.
Kami menuju ke istana.
Sekarang parkiran kendaraan sudah lebih rapi. Saat kami tiba,
masuk pula serombongan lansia satu bus pariwisata. Belum lagi anak-anak usia
sekolah. Senin yang ramai!
Harga tiket masuk untuk dewasa Rp7.000 dan anak-anak
Rp5.000. baru saja menjejakkan kaki di halamannya yang luas, sudah terlihat
serombongan orang berfoto ria di sana dengan latar Istano Baso.
Aku tanya sama seorang petugas, berapa orang pengunjung
situs bersejarah itu setiap hari. Dia bilang ribuan. Kami berfoto-foto ria
lagi.
Sebenarnya semua disuruh angkat tangan tinggi-tinggi, tapi kok jadi begini?
Si Tata sebentar saja sudah hilang. Ia tak sabaran ingin
melihat segala sudut istano itu. Sementara aku senang menyimak banyak informasi
yang sodorkan, baik lewat rekaman video atau brosur.
Atas: Tsaqif, Rara, Hanani, para datuk dan aku. Bawah: Tata menghatur sembah.
Sementara si Aqif, lagi-lagi bermasalah. Ia tak mau naik
tangga kayu ke lantai dua. Ia ngeri mendengar bunyi derak kayu itu saat
diinjak. Aku perhatian, kayu yang berbunyi adalah papan yang diletakkan di
bagian dalam anak tangga, bukan yang di bagian luar. Artinya, papan yang bagian
luar lebih kuat dan keras, aman untuk diinjak.
Rara sudah membujuk dia sebelumnya, tapi tak mempan. Waktu aku
datang dan mengajaknya, dia awalnya juga menolak. Tapi mungkin segan
merengek-rengek karena aku bukan mama-papanya, akhinya dia mau juga, hehehe...
Supaya dia berani melawan rasa takutnya, aku pegangi tangan
Aqif menaiki tangga itu hingga kami sampai di lantai dua. Suer, telapak
tangannya terasa sangatn dingin dan berair! Tapi apa yang terjadi kemudian? Ia tak
perlu dituntun lagi untuk naik ke tingkat tiga yang lebih tinggi. Walaupun saat turun masih harus dipegangi,
paling tidak ia sudah dapat mengendalikan rasa takutnya. Kita memang harus
mencoba sejauh mana kemampuan kita.
Lantai dua istana merupakan ruang yang tidak terlalu luas,
digunakan untuk memingit gadis-gadis perawan
yang belum menikah.
ruang pingitan
Sementara di lantai ketiga, terdapat ruangan yang lebih
kecil, digunakan untuk menyimpan benda-benda penting kerajaan, seperti pedang,
keris, tombak dan sebagainya.
Si abang sudah mengajak kami semua turun. Namun aku tak
sengaja menemukan jalan menuju dapur di belakang yang tertutup tirai. maka
akupun pergi ke sana. Di sana kami melihat peralatan masak zaman kerajaan,
terbuat dari tanah liat, bambu dan sebagainya. Tanah liat digunakan untuk
membuat balango, semacam periuk. Tak jauh dari nagari
Pagarruyung ini, memang ada satu kampung yang penghidupan warganya dari membuat
balango ini.
Rara dan Hanani, foto bareng belanga di dapur istana
Tata menunjukkan sejumlah alat masak di dapur
Aku kira belanga itu berasal dari tanah Jawa...
“Bukan, ini asli dari Batusangka. Ado kampuang yang mato pencarian warganyo memang mambuek
balango ko. Kan ado istilahnyo dek urang tu, “tanah urang dipijaknyo, tanah
inyo dijunjuangnyo”. Aritnya, ya tanah urang diinjaknyo karano awak memang
bajalan di ateh tanah, samantara tanah inyo dijadian balango, dijunjuangnyo,”
kata si ibu yang berjualan Masoi Bark Oil, ramuan tradisional asli Pagarruyung untuk
mengobati flu, masuk angin, sakit gigi,
sakit pinggang dan lain sebagainya.
Masoi bark oil, traditional liniment, hanya ada di Istana Basa Pagarruyung
Harganya Rp40 ribu/botol. Terbuat dari akar kayu-kayuan
hutan dan meninggalkan rasa panas di kulit. Baunya khas. Aku penasaran dan
membeli satu botol. Si ibu berbaik hati mengoleskannya di bahuku. Entah memang
dia paham cara pengobatan ini atau bagaimana, sebentar saja ia sudah
bersendawa. Kata orang, tukang pijat yang sudah berpengalaman memang bisa
menyedot angin dari tubuh orang yang dipijatnya lalu dikeluarkan lewat sendawa.
Ia juga mengurut kakiku yang pegal minta ampyuuun gegara
kareh ati naik tangga di Koto Gadang tempo hari. Masih belum hilang
rangkik-rangkiknyo sampai hari itu...
Kami lalu menuju Kecamatan Limo Kaum untuk melihat situs
cagar budaya Kubu Rajo. Dulu waktu
mengajar di salah satu perguruan tinggi di Batusangkar, aku selalu melewati
kawasan ini. Aku penasaran ingin melihat seperti apa di dalamnya.
Kini, si Tata juga penasaran ingin melihat batu nisan yang
melengkung ke dalam, tidak tegak lurus seperti
yang lazim digunakan saat ini. Tata bercita-cita menjadi seorang arkeolog. Ia
mengaku sangat tertarik dengan benda-benda bersejarah. Jadi kesinilah kami
sekarang.
Sayang, seperti halnya Ngalau Kamang yang sudah ditinggalkan
bahkan dirusak, situs cagar budaya itu juga terkesan ditinggalkan. Pintu masuknya
kecil saja, bahkan kita harus melompati parit kecil untuk masuk ke arealnya. Waktu
kami datang, pintunya tertutup. Aku sebagai si pemberani, main buka aja. Eh,
ternyata gak dikunci.
Anak-anak masuk, foto sana foto sini, sibuk mengeksplorasi. Mereka
takjub melihat kehebatan para nenek moyangnya yang bisa menulis di atas batu. Mereka memperhatikan
dengan seksama tulisan jawi di atas batu itu.
Atas: Gerbang batu komplek makam tak jauh dari Istano Basa Pagarruyung.Bawah: Salah satu makam tampak ditutupi dengan kain kuning.
Makam-makam dalam kompleks ini memiliki batu nisan yang unik
Calon arkeolog kami, menunjukkan nisan unik di Kubu Rajo, Limo Kaum, Batusangkar

Hanani, asyik memotret

Prasasti Kubu Rajo
atas: Tsaqif di pinggir kolam di belakang istana
bawah: Tsaqif dengan latar belakang istanabawah lagi: Lira
paling bawah: Kami semua di jendela dapur istana
Setelah puas, kami keluar, kembali ke Bukittinggi. Aku bilang,
kita makan soto aja. Enak nih,
dingin-dingin makan soto yang panas dan berkuah. Sayang, sepanjang jalan
pulang, kami tak menemukannya.
“Kita makan nasi kapau!” seru si Papa.
Jadi kami masuk ke Nagari Kapau, dekat Kamang. Kedai nasi
itu seperti warteg, terletak di pinggir jalan, pakai tenda kiri kanan. Makanan dihidangkan
sepiring saja, dengan lauk sesuai pesanan. Tata dan Aqif pesan ikan bakar. Rara
dan Hanani makan ayam bakar. Aku dan si abang menu yang lain lagi.
Rasanya menurutku biasa saja. Nasinya setangkup kecil. Tapi harganya,
buseeett.... seporsi Rp17 rebu daaang... lebih mahal dari nasi bungkus Simpang
Raya di Pekanbaru! Padahal RM Simpang Raya atau Kota Buana, Puti Buana dan lain
sebagainya itu, rasanya tak semahal ini harganya. Ampuun...
Sebagai bandar, aku ngomel-ngomel di mobil. “Makjang,
mahalnya, lebih mahal dari harga nasi bungkus di restoran. Sudahlah, coretlah
nasi kapau dari daftar wisata kuliner kita bang. Tekor nih!”
Kami mendarat lagi di Tilatang Kamang. Aku segera menuju
komputerku. Online online...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar