Kamis, 29 November 2012

Trik Anak-anak dari Pengawasan Ibunya

Ada banyak trik yang dilakukan anak-anak agar terhindar dari campur tangan ibunya (itu adalah saya ;P) di saat-saat tertentu. Mari kita simak, supaya ibu-ibu lainnya di dunia yang membaca tulisan ini, dapat mengambil iktibar (halah!) dan waspada tingkat satu terhadap akal bulus anak-anaknya.

1. Kalau kamu tak ingin kutu-kutu di kepalamu dirontokkan ibumu sesaat setelah kamu menginjakkan kaki di rumah sepulang sekolah, cepatlah pergi ikut terobosan. Jangan lupa shalat zuhur dulu, makan, ganti baju yang rapi dan pasang senyum manis.Intinya, jangan beri ibumu kesempatan untuk menahanmu di rumah lebih lama.

2. Supaya uang jajan diberi lebih banyak, katakanlah di sekolah kamu hanya akan membeli bakwan, donat, sala lauak atau lontong . Jangan sekali-sekali menyebut mie instan, permen kalet, balon, es krim, teh gelas, dll.

3. Kalau terpaksa juga  membeli mie instant atau teh gelas, pasang wajah memelas dan katakan dengan meyakinkan bahwa kamu sangat lapar atau haus, dan baru sekali itu kamu memakannya sejak seribu tahun yang lalu.

4. Kalau uang jajanmu untuk jatah seminggu habis dalam sehari, katakanlah hal-hal yang bijaksana, seperti  menolong teman yang sedang kemalangan, membayar infak di sekolah, dll, ngarang saja yang bagus-bagus. Orang tua (terutama ibu) biasanya langsung terharu mendengar anaknya begitu baik budi.

5. nanti disambung lagi...



Sabtu, 24 November 2012

Serunya Nonton Gangnam Style di Final Youth Speak! Fun Day


Pekanbaru (riauoke.com)-Pada acara final Youth Speak! Fun Day yang digelar di Gedung Serbaguna Chevron Tanjak Laksamana, Rumbai, Sabtu (24/11/12) tadi siang, sempat terjadi kehebohan, ketika beberapa siswa SMK Muhammadiyah tampil ke depan untuk menampilkan Tarian Gangnam Style yang fenomenal itu.

rame-rame ber-gangnam style, hebboohhh!

Beberapa penonton di bagian belakang arena, merangsek  maju, karena ingin menyaksikan aksi ini lebih dekat dan jelas. Kejadian menjadi semakin heboh ketika ratusan penari yang sebelumnya tampil manis menarikan tarian tradisional, tiba-tiba juga maju ke depan dan bergabung dengan penari Gangnam Style.  Wah, ini kejutan yang benar-benar hebat dan kreatif!

padahal sebelumnya mereka tampil manis lo...
Tak pelak, penonton bersorak sorai. Ratusan pelajar putra dan putri menari Gangnam Style, siapa yang pernah menduga? Walau mereka berpakaian Melayu (baju kurung dan rok), tarian Gangnam Style merekla tetap saja asyik untuk disaksikan.


Jepretan kamera para penonton tak henti-henti tertuju kepada  mereka. Dan ketika aksi itu usai, tepuk tangan membahana di gedung serba guna itu. SMK Muhammadiyah memang TOP!

Itulah sebagian dari acara Youth Speak! Fun Day yang terlaksana berkat kerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) dan The Jakarta Post Foundation yang tengah menjalankan Program Koran Masuk Sekolah (NIE – Newspaper In Education). Sejak 2008, Chevron secara konsisten mendukung pelaksanaan program ini di Tanah Air.

suasana di dalam ruangan, di luar tak kalah ramainya
Acara yang digelar  di Pekanbaru ini diikuti 2.500 peserta dari berbagai SMA/SMK di Pekanbaru, Duri, Dumai, Bangkinang dan Minas. Jumlah peserta ini ternyata yang terbanyak sepanjang digelarnya acara serupa di beberapa kota lainnya di Indonesia.

Para peserta akan bersaing dalam serangkaian kompetisi seperti Student Debate, Spelling Bee, Speech Contest, Writing Competition, News Reading, Song Lyric Writing Competition, Photography Contest, ditambah berbagai permainan jenaka seperti Newspaper-based Fashion, Poster Production, Drama dan olah kata Scrabble serta pertunjukkan hiburan marching band, vokal grup, band, tarian tradisional maupun modern.


Wakil dari The Jakarta Post Foundation mengatakan, acara itu bukan dimaksudkan untuk mengganti Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, melainkan untuk menunjukkan  kemampuan Indonesia ke dunia internasional .

“Kami dukung kalian semua meraih impian kalian,” terusnya.


Sementara Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad  mengatakan, acara ini sangat relevan dan penting untuk menyiapkan generasi Indonesia emas 2020.


“Ini sejalan dengan kurikulum baru pembelajaran Bahasa Inggris dari Kemendikbud yang mengubah metode pembelajaran penguasaan grammar ke kemampuan berkomunikasi. Jadi, saya sangat mengapresiasi acara ini,” katanya.


Acara akan berlangsung sampai sore. Selain para pelajar, terlihat pula stand-stand makanan ringan yang didirikan perwakilan sekolah di areal parkir gedung serba guna ini. Para siswa yang hadir terlihat sangat menikmati hari itu, sesuai dengan namanya, Fun Day![]

Wisuda IX, PCR Lahirkan 259 Lulusan



Pekanbaru (riauoke.com)-Politeknik Caltex Riau menggelar Sidang Terbuka Senat dalam rangka wisuda 259 mahasiswanya, di gedung baru aula PCR, Sabtu (24/11/12).
Para lulusan PCR yang baru saja diwisuda, foto bersama para dosen dan Direktur PCR Dadang Syarif (tengah bawah).

Sebanyak 123 mahasiswa merupakan lulusan program Diploma IV atau Sarjana Sains Terapan, sedangkan 136 lainnya merupakan lulusan program Diploma III (Ahli  Madya). Dengan demikian, maka kini alumni PCR telah berjumlah 1.406 orang.

“Bagi PCR, lulusan merupakan karya utama dan aset yang sangat berharga, sebagai  bentuk tanggung dan wujud kontribusi nyata bagi bangsa dan  negara sesuai visi dan misi Pendidikan Nasional 2015 yaitu memberdayakan sumber daya manusia menjadi insan Indonesia cerdas dan kompetitif,” kata Direktur PCR Dadang Syarif, dalam sambutannya.

Berbagai prestasi diraih mahasiswa PCR, baik di bidang informasi dan teknologi (IT) maupun bidang lain, seperti speech contest,  energi alternatif,  menjadi salah satu kafilah MTQ nasional 2012 bidang tafsir Al Quran dalam bahasa Inggris, atau menjadi tulang punggung media center PON XVIII Riau, Oktober lalu.

Selain itu, prestasi PCR lainnya adalah semua program studi yang ada di sini sudah terakreditasi B. “Sedangkan bentuk peningkatan pada ukuran kinerja ini, dalam rencana strategis 2012-2016, PCR mencanangkan ada program studi yang meraih akreditasi A,” terusnya.

Dalam sambutannya, Dadang Syarif juga mengatakan kampus itu merencanakan untuk  membuka dua program studi baru pada 2014 mendatang, yaitu Teknik Mesin Alat Berat dan Manajemen Logistik. Kedua bidang studi itu sangat dibutuhkan dunia usaha.

“Saat ini kami sedang menyiapkan perizinan dan segala hal yang terkait dengan itu. Khusus untuk bidang studi Manajemen Logistik, merupakan bidang studi baru yang sampai saat ini baru ada di tiga  kampus di Indonesia. Jadi ini menurut kami sebuah tantangan sekaligus peluang,” terusnya.

3 Syarat dari Dirut CPI
Presiden Direktur PT Chevron Pacific Indonesia Abdul Hamid Batubara, dalam kesempatan itu  memberikan tiga kunci bagi para lulusan PCR untuk memasuki dunia kerja, yaitu profesional                  , sumber daya yang berkarakter  dan kreatif.

“Industri ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan melalui penawaran kreasi intelektual. Jika harapan saya dapat disambut positif, maka PCR telah menciptakan insan bangsa yang berdikari, kreatif yang pada gilirannya nanti akan  berkembang ekonomi  kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional,”  katanya.
Mengutip salah satu pendiri PCR yaitu mantan Gubernur Riau H Saleh Djasit, dikatakan Abdul Hamid bahwa kualitas dan kuantitas PCR terus berkembang. Jumlah mahasiswa dan program studi dari tahun ke tahun terus bertambah. Prestasi demi prestasi juga terus diraih.

Bangun Kampus Baru
Sementara itu Ketua Umum Pengurus Yayasan PCR Robinar Djajadisastra mengatakan, yayasan itu terus berupaya melengkapi fasilitas PCR untuk meningkatkan mutu lulusannya. Tahun ini, dengan dana sendiri, YPCR menambah lagi gedung baru berupa gedung serba guna yang  meliputi hall tempat wisuda itu digelar dengan kapasitas 1.500 orang, 16 ruang belajar dan 8 laboratorium. Luas keseluruhan mencapai 8.805 m2.

“Alhamdulillah, hall itu dapat kita gunakan hari ini, walau masih dalam tahap finishing. Apabila gedung ini seluruhnya sudah selesai, maka setiap ruangannya dilengkapi dengan furniture, ac, komputer desktop dan LCD projektor. Semuanya bernilai Rp40 miliar, tidak termasuk peralatan laboratorium,” jelas Robinar. []

Jumat, 09 November 2012

Unyu-unyu Sesuatu Minggat!




Dua kelinci peliharaan kami, yaitu si Unyu-unyu Cinta yang berwarna putih dan Unyu-unyu Sesuatu (abu-abu belang putih), sering minggat dari rumah dan baru pulang keesokan harinya. Biasanya yang mada itu si Cinta, yang pergi pagi pulang pagi lagi, tapi keesokan harinya. Mungkin karena dia pejantan tangguh, jadi lebih berani. 

Sedang di Sesuatu lebih sering pergi bolak-balik. Pergi pagi, setengah jam kemudian balik lagi, main-main di halaman rumah kami.  Nanti kalau bosan, dia akan balik lagi ke tanah kosong itu.

Aku yang setiap pagi di rumah sendirian karena anak-anak pergi sekolah dan si papa pergi kerja, sering mengajak di Sesuatu ini main. Aku mengobrol dengannya sambil mengelus bulunya. Ia sepertinya menikmati ritual ini. Si CInta juga suka dibelai. Kalau aku datang ke dekat kandang mereka, keduanya yang semula agak jauh dari pintu kandang, berdesak-desakan ke depan pintu untuk aku belai.

Terkadang, sebelum berangkat kerja, si Abang sengaja melepaskan kedua kelinci itu dari kandangnya. Terlebih dahulu tentu saja seluruh halaman harus steril dari upaya melarikan diri mereka. Kalau ada celah sedikit saja, si Cinta bisa langsung kabur ke tanah kosong di seberang jalan. Jangan harap dia akan pulang sebelum dijemput. Biasanya itu tugas Tata, Rara, dan terkadang teman-teman mereka sekomplek itu juga ikut.

Kalau sudah tiba waktunya si Cinta harus pulang, mereka  beramai-ramai masuk ke tanah kosong itu dan berteriak-teriak memanggil Si Unyu-unyu. Itu pemandangan yang menyenangkan dan semoga akan terus teringat hingga mereka dewasa.

Saat pagi hari, begitu dilepaskan, keduanya akan berlarian gembira ke sana kemari. Segala macam daun di halaman itu, ingin mereka cicipi. Daun mawarku, ruku-ruku, daun mangga, lidah mertua, bahkan kunyit, semua dicicipi. Kalau aku menghentakkan kaki sedikit saja, keduanya melompat over acting, lalu lari bersembunyi. Kami sekeluarga senang melihat atraksi pagi kedua kelinci itu.

Beberapa hari yang lalu, seperti biasa si Cinta pagi-pagi sudah kabur ke tanah kosong itu. Kami yang sudah terbiasa dengan tingkahnya itu, tak khawatir lagi. Toh nanti sore dia akan balik lagi. Paling lama, besok pagi dia akan muncul dengan perut kelaparan.  Kalau disodorkan pakannya, ia akan jadi antusias.

Si Sesuatu masih bolak-balik seperti biasa. Kalau aku panggil, dia cepat datang dan bersiap-siap akan diberi makanan. Oh iya, sekarang mereka juga biasa masuk ke dalam rumah, mencari tempat yang paling nyaman untuk rebahan, entah itu di belakang kulkas, di bawah meja belajar si Rara, di balik kursi tamu, atau di balik lemari buku di ruang computer.

Hari itu, aku biarkan saja di berkeliaran kemana pun di dalam rumah sesukanya. Si Sesuatu bahkan mencoba petualangan baru, naik tangga, untuk mencari buah mangga yang aku letakkan di sana.  Selagi aku memasak di dapur, si Sesuatu terkadang terlihat di balik kulkas, rebahan dengan santai. Kali lain dia pergi ke ruang tamu dan rebahan di sana.

Tak ada yang luar biasa hari itu.  Namun malamnya, saat aku pulang  kerja, aku dapat kabar si Sesuatu tak pulang ke rumah.  Cinta berhasil ditangkap sorenya di tanah kosong itu, tapi si Sesuatu tak ada. Kami  berharap dia akan pulang keesokan harinya.  Namun ternyata, hingga pagi harinya, dia tak pulang.

Aku sudah berkali-kali memanggilnya, tapi tak ada reaksi. Akhirnya siang itu, karena mulai khawatir, aku telpon si abang. “Si Unyu-unyu masih belum pulaaang… Tolong carikaaan….” aku merengek seperti anak kecil. 

Kekhawatiranku disebabkan ada dua anak kecil berusia sekitar 10 tahun, masuk ke areal bermain mereka di tanah kosong itu. Si Cinta sudah buru-buru balik kanan dan  masuk ke rumah, tapi si Sesuatu masih belum pulang.

“Dek, nanti kalau ketemu kelinci kami yang warnanya abu-abu, tolong kasi tau ya,” kataku pada mereka.

Tapi aku masih saja khawatir. Siapa yang takkan naksir si Unyu-unyu itu? Dia sungguh lucu, bulunya halus dan jinak pula. Wajar saja bila ada yang berniat  untuk memilikinya.

Menanggapi rengekanku, akhirnya si Abang  buru-buru pulang. Ia langsung masuk ke tanah kosong itu dan mulai memeriksa setiap jengkal areal itu. Namun si Unyu-unyu masih tak ditemukan. Si Abang bahkan memperluas wilayah jelajahnya hingga ke luar areal itu. Si Unyu-unyu Sesuatu masih tak ditemukan. 

Singkat cerita, hari itu si Sesuatu tak pulang. Kami semua sedih dengan keadaan ini. Si Cinta juga terlihat murung. Ia bahkan tak  mau pergi main ke tempat favoritnya itu. Kata Tata, “Nanti kita beli aja lagi ya Ma,  kelincinya…”

“Iya Ta,”  kataku tanpa ragu.

Ketika malam itu aku pulang, giliran si Abang yang merengek. “Mana Nyunyuk? Abang rindu…. Terbayang terus wajahnya di mata Abang.”

Si Unyu-unyu Sesuatu itu memang suka menjilati kaki kami. Si Abang senang kalau kakinya dijilati. Kami biarkan si CInta tidur di dalam rumah hari itu. Sementara kandangnya di luar kami biarkan terbuka. Harapan kami, semoga nanti malam dia pulang.

Namun hinga pagi harinya, kandang itu masih kosong. Aku sedih memikirkan keadaan kelinciku itu. Dimanakah dia sekarang? Apakah sudah mati dilahap ular? Apakah dia terluka dulu sebelum ditelan? Atau dikejar anjing tetangga? Duuh… sedihnya…

Malang sekali kamu Sesuatu…

Sebelumnya, Sesuatu pulang dari bermain di tanah kosong itu dengan kondisi kelopak mata kanan luka dan mengeluarkan darah. Entah apa yang terjadi di tempat bermainnya itu. Dicakar kucingkah, atau tergores duri? Wallahualam…

 Mata itu bahkan tak bisa dibukanya hingga dua hari kemudian. Kami kira dia akan buta. Tapi syukurlah mata itu sembuh dengan sendirinya.

Dan kini dia hilang…

Ini hari  kedua si Sesuatu tak pulang.

 Malam itu si Abang muncul di ambang pintu kamar kami dengan wajah sedih. Aku sedang nonton televisi. “Duuh…, kemana ya si Nyunyuk itu? Tau ndak, Abang sampai berdoa KHUSUS untuk dia,” katanya.

Tidak  hanya dia, aku dan anak-anak pun mendoakan keselamatan si Sesuatu. Tapi mau dicari kemana lagi dia? Kami sudah menyusuri tempat-tempat yang biasa ia datangi, tapi tak berhasil.

Hari ketiga, si Abang kembali masuk ke tanah kosong itu dan memeriksa jengkal demi jengkal belukar di sana. Ia bertemu dua anak kecil yang tempo hari juga kutemukan. Si Abang meminta mereka membantu mencarikan si Sesuatu. Bahkan diiming-iming duit Rp10 ribu. Plus buah mangga hampir 2 kilo, hasil panen hari itu.

Sore harinya, anak itu datang bersama abangnya sambil menggendong si Sesuatu. Kelinci kami itu terlihat murung. Anak itu bilang mereka menemukan Sesuatu di semak-semak yang cukup jauh dari areal bermainnya. Untung tak ada apa-apa dengan kelinci kami itu.

Aku sedang di kantor. Si abang yang gembira, memberikan uang Rp10 ribu untuk masing-masing anak dengan sepenuh keikhlasan hati, ditambah buah mangga lagi. Kali ini ia persilakan anak itu sendiri yang mengambil dari batangnya.

Malam itu juga, Kamis (8/11/12), sebenarnya si Abang mengirimkan foto si Unyu-unyu yang sudah kembali itu ke emailku. Judul emailnya; Berita gembira unyuk plg. Tak ada telpon atau sms, jadi aku tak tahu. Baru setibanya di rumah, Rara memberitahuku bahwa si Sesuatu sudah pulang.

Aku mulanya tak percaya. Setelah hilang tiga hari? Bagaimana bisa? Tapi kenyataannya, si Sesuatu memang sudah pulang. Ia terlihat tidur dengan nyaman dalam kandangnya. Aku bilang, biarkan mereka tidur di dalam rumah malam ini. Toh mereka sudah bisa buang kotoran di kamar mandi, tanpa harus diajarkan? Jadi tak perlu repot membersihkannya.

Kami semua senang. Si Cinta juga. Keduanya terlihat saling menyayangi. Kalau si Cinta belepotan mulutnya  habis makan mangga, si Sesuatu akan menjilatinya hingga bersih. Bagitu juga sebaliknya, si Cinta juga menjilati bulu-bulu Sesuatu dengan mesra.

“Mereka ciuman Ma!’ seru si Tata.

‘Biarkan ajalah, mereka kan memang suami istri,” kataku. Si Tata tertawa.

Welcome back my lovely rabbit!

Selasa, 06 November 2012

Unyu-unyu Cinta dan Sesuatu

Inilah kali terakhir kami memelihara kelinci hingga sebesar ini. Selama ini, anak-anak kelinci yang kami beli di Pasar Palapa di depan kantorku, selalu mati setelah sebulan dipelihara. Dulu kami beri nama yang keren-keren, Tasya, Lycra dan Lady Gaga. Mencret. Mati semua.

    Sesudah Lebaran kemarin, memenuhi janji pada anak-anak, akhirnya aku beli juga sepasang anak kelinci di pasar yang sama. Supaya tak 'keberatan' nama, kami beri saja namanya Unyu-unyu Cinta dan Unyu-unyu Sesuatu. Kok sesuatu? Yah, anggap saja kami sedang melestarikan istilah Syahrini biar tak lekang oleh waktu... ;D

    Unyu-unyu Cinta berwarna putih mulus. Matanya merah dan bila terkena cahaya, terlihat seperti kelereng yang berkilau. Sedang Unyu-unyu Sesuatu berwarna abu-abu.  Tubuhnya lebih kecil dari si Cinta dan lebih jinak. Kalau si Cinta bisa pergi main sehari semalam ke tanah kosong di samping rumah, si Sesuatu sering bolak-balik antara rumah dan tanah kosong itu.

    Dulu kami khawatir sekali saat si Unyu-unyu Cinta main ke tanah kosong yang berpagar seng itu dan hingga senja tak  kunjung pulang. Suatu hari, hujan deras turun sejak siang. Si Cinta pergi main ke tempat favoritnya itu sejak pagi. Aku sudah siap mental kalau besok paginya akan menemukan mayatnya. Apa boleh buatlah.

    Keesokan harinya, rumah kami kebanjiran. Sekali seumur hidup, itulah hari dimana aku melihat karpet melayang-layang di atas permukaan air. Kalau selama ini air menggenang di halaman, hari itu air keluar dari celah-celah dinding dan lantai. Jadi sibuklah kami membersihkan rumah hari itu. Aku melupakan si Unyu-unyu.

    Namun rupanya si Abang mencarinya ke tanah kosong itu. Untuk menuju ke sana, kita harus melompati pagar yang lumayan tinggi dari halaman rumah tetangga. Tidak ada akses lain selain itu.

    Dan kami menemukan si Unyu-unyu Cinta yang sehat wal afiat, hanya basah sedikit. Kami gembira sekali melihatnya tidak apa-apa selama semalaman tidak pulang dan dalam keadaan hujan lebat pula.

    Sejak itu, kami tidak pernah khawatir lagi kalau dia tak pulang. Biasanya, kalau semalaman tak pulang, keesokan paginya dia muncul sendiri. Sepertinya kelaparan, karena tak ada pelet yang lezat di tanah kosong itu,  hehehe...

    Rumah terasa sepi kalau tak ada kelinci-kelinci itu. Biasanya, sepulang dari kantor pada malam hari dan anak-anak sudah tidur, maka merekalah yang aku usili. Aku membawanya masuk ke dalam rumah dan membiarkan mereka berkeliaran. Kadang-kadang aku pegangi wortel dingin dari kulkas dan membiarkan mereka memakannya dengan lahap. Kalau tidak dipegangi, wortel itu biasanya bergerak terus. Mereka makan dengan agak repot.

    Si abang yang biasanya tak terlalu antusias dengan peliharaan anak-anak, juga jatuh cinta pada kelinci-kelinci ini. Sekarang, kalau kami melapor bahwa pelet si Unyu-unyu habis, si abang rela maghrib-maghrib ngebut ke Pasar Palapa mencarikannya.

    Rara dan Tata sering memasukkan kelinci-kelinci itu ke dalam rumah dan mengajaknya bermain. Kedua kelinci itu senang dibelai dan kami senang membelainya. Bulu mereka tebal dan lembut.

    Tadi malam (6/11/12), khawatir hujan lebat dan angin kencang akan membuat mereka sakit, jadi aku masukkan kembali mereka ke dalam rumah. Kandangnya sengaja kubiarkan terbuka. Pikirku, nanti mereka pasti akan tidur di sana.

    Namun ternyata, tadi pagi kulihat  mereka tidak tidur di dalam kandangnya, tapi di lantai. Tak ada kotoran di bawah kandang itu. Semua bersih. Biasanya setiap pagi aku kebagian tugas membersihkan lantai yang kosong dan bau pesing mereka. Minta ampun baunya, tajam banget!

    Hebatnya, kelinci-kelinci itu pipis dan boker di kamar mandi! Memang sih, tidak tepat di WC, tapi di lantainya.  Paling tidak, aku tak perlu ngepel kan? Membuangnya juga gampang, tinggal disiram, lalu beri pembersih lantai untuk menghilangkan bau pesingnya.

    Kemarin lusa, si Unyu-unyu Cinta kembali 'minggat' dari rumah. Pagi-pagi aku melihat sebuah mangga yang sebagiannya telah habis dimakan. Entah siapa yang makan. Ya, di halaman rumah kami ada pohon  mangga yang saat ini buahnya lebat sekali. Setiap pagi aku senang sekali mengumpulkan buah matang yang jatuh dan berserakan di halaman.

    Tapi pagi itu, aku heran melihat ada buah mangga yang tinggal separuhnya. Siapa yang makan ya? Rupanya si Unyu-unyu Cinta yang makan. Sekitaran mulutnya terlihat berlepotan.

    "Hei Cinta, pulang juga  kamu ya?! Sekarang kamu makan mangga juga?" tanyaku.

    Sejak itu, kalau ada mangga yang jatuh dan sudah terlalu ranum, aku serahkan saja sama si Unyu-unyu untuk dimakan. Tak  hanya daging buahnya, kulitnya pun diembat. ***

Selasa, 30 Oktober 2012

Menghafal Surah Ar Rahman

Bismillahirrahmaanirrahiim...
Pertama-tama, ini bukan untuk riya ya. Ini hanya sekedar ungkapan kegembiraanku, karena sudah bisa menghafal Surat Ar Rahman. Alhamdulillah, hari ini aku sudah sampai di ayat ke-15. Rasanya tak sabar ingin menambah ayat lagi, karena setelah ayat ke-15 ini, menghafal Ar Rahman akan terasa lebih mudah. Bisa hafal 1 ayat sama artinya telah menghafal 2 ayat. Pasalnya, ada yang diulang sampai berkali-kali  dalam surat ini, yang artinya, 'Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?'

    Aku senang sekali dan merasakan betapa sekarang shalatku tidak sembarangan lagi. Sekarang, seolah ingin 'pamer' pada Allah, aku selalu membaca Ar Rahman yang telah kukuasai itu dalam shalatku. Surat 'kul-kul' sejenak aku simpan dulu.

Aku jadi ingat tadi saat Shalat Maghrib di rumah dengan si Tata, ia agak bingung melihat aku tak kunjung rukuk. Ya iyalah, hafalanku masih agak belepotan di ayat-ayat terakhir. Jadilah aku agak terbata-bata. Si Tata sampai menyenggolkan sikunya ke lenganku untuk memberi kode bahwa aku kelamaan berdiri dan tak juga rukuk. Bila ingat itu sekarang, aku jadi tertawa....

    Perkenalanku dengan Surat Ar Rahman diawali dengan pembicaraan dengan ibu mertua, sekitar 10 tahun yang lalu. Beliau memberi aku nasehat, agar membaca Surat Ar Rahman dan Al Mulk sesering mungkin.

    "Suratnya pendek dan ayatnya juga pendek-pendek," kata Beliau.

    Aku tidak tahu apa fadhillah dari kedua surat itu. Bahkan ironisnya, aku juga baru sekali itu membaca surat Ar Rahman dan Al Mulk. Sejak muda aku memang jarang ikut pengajian, baik di masjid ataupun di kampus. Di kampus, sikap teman-teman rohis yang sok alim membuatku tidak simpati pada mereka. Mereka mengeksklusifkan diri bahkan dari sesama muslimah sekalipun. Bahkan dengan yang mengenakan jilbab sekalipun, karena tidak sepengajian dengan mereka. Aku jadi bete deh!

    Di rumah, kami juga bukanlah keluarga yang sangat agamis. Memang akulah yang pertama mengenakan jilbab dalam keluargaku. Bahkan lebih duluan dari ibuku sendiri. Namun kami tetaplah bukan keluarga yang punya tradisi mengaji setiap usai Maghrib. Kami masih seperti keluarga kebanyakan yang menonton televisi di malam hari dan membiarkan Al Quran berdebu di dalam lemari. Aku tak pernah mengkhatamkan bacaan Al Quranku saat masih muda. Jadi wajar bila aku tak kenal Ar Rahman.

    Namun sekarang, aku banyak membaca tentang temuan-temuan ilmu pengetahuan yang secara tidak langsung mengakui kebenaran-kebenaran yang telah dinyatakan dengan terang benderang oleh Allah SWT dalam Al Quran. Semakin hari, Al Quran semakin membuatku takjub. Aku seperti mencandu kalau sudah membacanya, baik versi Arabnya maupun terjemahannya.

    Lalu aku mulai 'berkenalan' dengan Ustad Yusuf Mansur yang setiap pagi memberikan kajian tentang kandungan Al Quran di AN Teve. Aku senang dengan gaya ceramahnya. Jadi, meski berangkat tidur malam  harinya sudah lewat tengah malam, meski lelah sekali sepulang bekerja, tetap saja pukul lima pagi aku sudah duduk di depan televisi untuk mendengar ustad itu mengulas ayat demi ayat Al Quran.

    Sampai ia juga mengajarkan selangkah demi selangkah cara praktis menghafal Al Quran. Aku ikuti sarannya dan alhamdulillah, inilah hasilnya sekarang. Rasanya bahagia sekali, aku sudah mencapai ayat ke-15. Tadi siang, saat memasak di dapur, Al Quranku terkembang di atas lemari es, tak jauh dari dapur, standby bila sewaktu-waktu aku ingin mengecek hafalanku. Sambil memasak, di dalam hati aku terus saja seperti tanpa sadar, menghafal Ar Rahman ayat demi ayat.

    Sambil mengendarai motorku, di dalam hati aku terus menghafalnya, seperti biasa aku menghafal bait-demi bait lagunya Tompi yang membuatku penasaran. Sambil menyetrika, hatiku terus saja menyanyikan Ar Rahman. Dan aku bahagia dengan itu.

Rabu, 24 Oktober 2012

Film Indonesia Vs Film Asing di Mata Bocah 11 Tahun

Menarik pendapat sulungku Lira, tentang film-film yang dia tonton di televisi. Ia sudah mulai menggunakan logika dan mengkritisi apa yang ditontonnya.

    "Film Indonesia tu jelek. Contohnya sinetron Tutur Tinular, katanya cerita jaman dulu, masa sudah ada kata 'pesawat'? Masa pakai make up setebal itu dan pakai bulu mata palsu juga? Terus, orang yang sama berperan jadi macam-macam. Kemarin dia jadi pasukan, besok jadi patih, besok jadi pedagang di pasar, aahh!"

    Ia membandingkan dengan film-film Korea yang diputar di Indosiar, salah satu yang menjadi favoritnya adalah The Moon that Embraces the Sun. Film itu bersetting Korea di zaman Kerajaan Joseon. Lira melihat bagaimana kostum yang digunakan begitu sopan, menutup aurat, make up yang sangat natural dan jalan cerita yang menarik. Pokoknya sesuai dengan konsep waktu 'jaman dulu' yang mereka gunakan.

    Aku mengancungkan jempol. Setuju dengan pendapatnya. Aku juga berpikir film Indonesia gak jelas konsep waktunya.  Cerita ngelantur kemana-mana. Mengembang kemana-mana, menjalar kemana-mana. Kalau belum tembus 100 episode, jangan harap akan mati tokoh antagonisnya. Bahkan walau sudah mati sekalipun, dengan pertolongan nenek lampir, bisa dihidupkan lagi. Asal iklannya jelas, apa yang tak bisa?

Selasa, 23 Oktober 2012

Bosscha, Tempat Belajar Sejarah dan Astronomi

Jawa Barat memiliki banyak tujuan wisata, seperti wisata alam di Tangkuban Perahu atau wisata belanja di Pusat Kota Bandung. Namun bagi yang ingin menikmati wisata sambil belajar, mungkin menarik mengunjungi Observatorium Boscha, yang terdapat di Lembang.

    Observatorium Bosscha kini menjadi Lembaga Penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB. Di sini para mahasiswa dan pecinta astronomi sering berkumpul untuk berdiskusi ataupun meneropong bintang.
    Dikutip dari situs resminya, Observatorium Bosscha adalah sebuah Lembaga Penelitian dengan program-program spesifik. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, obervatorium ini merupakan pusat penelitian dan pengembangan ilmu astronomi di Indonesia.

    Sebagai bagian dari  Fakultas MIPA - ITB, Observatorium Bosscha memberikan layanan bagi pendidikan sarjana dan pascasarjana di ITB, khususnya bagi Program Studi Astronomi, FMIPA - ITB. Penelitian yang bersifat multidisiplin juga dilakukan di lembaga ini, misalnya di bidang optika, teknik instrumentasi dan kontrol, pengolahan data digital dan lain-lain. Berdiri tahun 1923, Observatorium Bosscha bukan hanya observatorium tertua di Indonesia, tapi juga masih satu-satunya obervatorium besar di Indonesia.

    Observatorium Bosscha adalah lembaga penelitian astronomi moderen yang pertama di Indonesia. Observatorium ini dikelola oleh ITB dan mengemban tugas sebagai fasilitator dari penelitian dan pengembangan astronomi di Indonesia, mendukung pendidikan sarjana dan pascasarjana astronomi di ITB, serta memiliki kegiatan pengabdian pada masyarakat.

    Observatorium Bosscha juga mempunyai peran yang unik sebagai satu-satunya observatorium besar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara sampai sejauh ini. Peran ini diterima dengan penuh tanggung-jawab: sebagai penegak ilmu astronomi di Indonesia.

    Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya.

   Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.
  
    Sejarahnya
    Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda.

    Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa KAR Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

    Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.
    Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

    Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

    Saat saya berkunjung ke sana, Kamis (19/7) lalu, bertepatan dengan akan  masuknya Ramadan, kesibukan pihak Bosscha terlihat agak berlebih. Siang itu terlihat beberapa kru stasiun televisi swasta yang akan mewawancarai Kepala Lembaga Penelitian Bosscha Dr Hakim L Malasan, terkait peranan lembaga itu menentukan tanggal 1 Ramadan.

    Pengunjung dari kalangan masyarakat umum dilarang masuk ke ruangan bundar tempat teropong raksasa bersejarah itu untuk melihat-lihat. Tapi beruntung, kami diperbolehkan melihat sejenak teropong itu.

    Di luar, seorang mahasiswa ITB jurusan astronomi Zainuddin, mengatakan, teropong paling besar milik observatorium itu sudah tidak aktif, karena teknologi platnya tidak diproduksi lagi. Selain itu, saat ini lembaga ini bersama ITB tengah mengembangkan teleskop Bimasakti.
  
    Tidak Sembarangan
    Walaupun berusia tua, Observatorium Bosscha tetaplah sebuah lembaga penelitian. Tidak sembarang orang dan tidak sembarang waktu bisa masuk ke sana. Menurut Zainuddin, Bosscha dibuka untuk umum dari Selasa-Jumat dalam jadwal yang telah ditentukan, baik siang maupun malam, dengan minimal jumlah rombongan 25 orang. Pada hari Sabtu, barulah kunjungan keluarga atau perorangan diperkenankan.

    Sedangkan bagi pengunjung dari kalangan pelajar, mahasiswa dan dinas, bisa masuk setelah mengajukan permohonan kepada pihak Bosscha. Selain itu, Bosscha juga terbuka untuk kalangan peneliti antariksa maupun kelompok-kelompok pecinta astronomi.

    Dari situsnya diketahui, hingga Oktober nanti, sudah ditutup pendaftaran untuk kunjungan malam karena kuotanya sudah terpenuhi. Pada kunjungan malam ini, bila cuaca baik dan tidak berawan, pengunjung dapat melihat pemandangan angkasa dengan teleskop Zeiss.

    "Kalau  masyarakat umum yang datang untuk berwisata dan foto-foto, makan-makan atau bikin outbond, tentu tidak boleh. Tapi para peneliti yang jelas tujuan kedatangannya, akan dibantu dan diperbolehkan menggunakan teropong-teropong yang ada di sini," katanya.

    Mahasiswa jurusan Astronomi ITB secara bergiliran datang ke Bosscha baik untuk meneliti maupun untuk menjadi pemandu orang-orang yang tertarik untuk datang ke sana.

    Di dunia internasional, hasil penelitian yang dipublikasikan Bosscha masih diakui keabsahannya. Selain itu, pemerintah juga memanfaatkan teropong di Bosscha untuk melihat hilal, atau menentukan tanggal 1 Ramadan.

behind the news
Saat baru saja masuk ke halaman Observatorium Bosscha yang terletak di pegunungan, sempat terjadi kesalahpahaman. Si abang yang berjalan lebih dulu, tiba-tiba didatangi seseorang.

"Pak Hakim?" tanyanya.

"Iya," jawab si abang sedikit heran. Kok kenal? Dia kan bukan selebriti.

"Mari Pak, sudah ditunggu," kata orang itu.

Bergegaslah kawan ini mengikuti orang itu. Tapi saat tiba di depan pintu observatorium, barulah kedua belah pihak tersadar, bahwa mereka telah salah orang. Ternyata yang dimaksud orang itu adalah Kepala Lembaga Penelitian Bosscha Dr Hakim L Malasan, yang akan diwawancarai kru Metro TV.

Kami  melihat sedikit cara kerja para wartawan televisi. Ternyata, saat sebuah tayangan muncul di hadapan kita, walaupun hanya ada satu wajah yang muncul di layar kaca, sebenarnya ada banyak orang yang terlibat di belakangnya. Seperti hari itu, reporter Metro TV terlihat sudah cantik dengan make up dan bulu mata anti badai-nya Syahrini (hihihi...), sepatu hak tinggi, dan tentu saja sebuah mikrofon yang akan disorongkan ke depan mulut Dr Hakim L Malasan saat wawancara.

Di belakangnya, berdiri dua mobil bertulis Metro Tv. Beberapa  orang kru terlihat duduk menunggu di bawah pohon, tak jauh dari gerbang. Kabel panjang menjalar di jalanan.

Saya sebenarnya ingin wawancara juga, namun dengan sopan Dr Hakim menyuruh saya menunggu hingga digelarkanya konferensi pers di ruang yang telah disiapkan, beberapa jam lagi. Saya tak mungkin menunggu, karena besok sudah harus balik ke Pekanbaru. Ini hari terakhir kami di Bandung dan masih banyak yang belum dilihat. Sehari sebelumnya kami tenggelam sepanjang hari di Trans Studio Bandung, karena si Tata ingin berkali-kali menaiki wahana 'dragon rider' dan menjelajahi 'dunia lain'.