Jumat, 23 Desember 2011

Mendadak Pulang Kampung

Mendapat kabar bahwa kakekku sakit parah, rencana pergi ke Padang mengantarkan ibu dan bapakku, Senin (19/12/11) lalu dimajukan sehari. Untungnya aku sudah siap-siap sejak Sabtu, belanja lebih banyak dari biasa ditemani ibuku. Berdua kami berburu ikan sungai segar di Pasar Cik Puan (Pasar Loket) dan beberapa bahan dapur lainnya. Rencananya, Minggu itu kami akan memasak makanan untuk dibawa ke Padang keesokan harinya. Tapi apa hendak dikata, kabar datang Sabtu siang, bahwa kakekku yang telah berusia sekitar 80 tahun sakit parah di kampungku Muara Labuh.

Sebelum berangkat, malam itu masih sempat aku pergi dengan Rara(naik motor berdua) melihat Pasar Cik Puan yang terbakar hebat. Meski hujan turun sejak sore, namun kebakaran tetap terjadi dan asapnya yang tebal terlihat hingga ke rumahku.

Setelah mendapat izin dari kantor, berangkatlah kami Minggu pagi. Sepanjang perjalanan, si Tata muntah terus.

Perjalanan Pekanbaru-Bukittinggi-Padangpanjang-Solok- Muara Labuh ditempuh selama 13 jam. Baru sekali itu aku menempuh perjalanan selama itu. Sepanjang jalan bisa dikatakan hujan turun tiada henti.

Aku jadi berpikir ulang pergi ke Jakarta via darat, seperti pernah diwacanakan bersama si Abang.

Kami tiba di rumah nenekku pukul setengah delapan malam. Ayahku yang sudah diberitahu, namun dengan cepat melupakannya, syukur alhamdulillah tidak apa-apa selama perjalanan. Sebenarnya Beliaulah yang paling aku khawatirkan dalam perjalanan ini. Makanya kami mencegah Beliau pulang dengan mobil travel dan memilih mengantarkan langsung.

Alhamdulillah juga, kakekku mendadak membaik, setelah seluruh anak cucu dari perantauan pada berhamburan pulang begitu mendengar kabar itu. Setelah selama hampir sepekan terbaring saja di tempat tidur bahkan telah dipasangi popok, malam itu saat kami tiba, Beliau sudah bisa duduk di kursi makan. Namun getaran tangannya sungguh luar biasa kuat.

Kakekku penderita parkinson yang parah. Tangan dan kepalanya tak dapat berhenti bergerak. Hingga saat ini aku masih ingat adegan saat ia mencoba memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya dengan tangan dan kepala yang tidak henti bergoyang. Saat sendok hampir masuk ke mulut, kepala itu bergoyang-goyang tak dapat dihentikan. Beberapa kali tangan yang juga tiada henti bergetar itu, menggeser ke kiri dan ke kanan, agar sendok dapat masuk ke dalam rongga mulut, namun gagal. Kakekku terus mencoba dan mencoba hingga akhirnya berhasil.

Perlahan dikunyahnya nasi soto itu. Sejumput soun terlihat menggantung panjang dari mulut hingga bawah dagu. Kakekku berusaha mengambilnya untuk dimasukkan ke mulut. Dan itu bukan usaha yang mudah. Beberapa kali tangannya gagal mendapatkan soun itu, karena tangan dan kepalanya tak henti bergetar. Oh, kakekku.... sekarang, aku menahan air mata menuliskan ini. Menyesal sekali, aku lupa mengambil gambar, hiks hiks...

Seingatku, goyangan itu semakin kencang dibanding bertahun-tahun yang lalu. Aku kasihan namun Beliau menolak saat aku tawarkan bantuan untuk menyuapi. Baru keesokan paginya, saat aku menawarkan seiris mangga yang sengaja dibawa dari rumahku, aku suapkan langsung ke mulut Beliau. Itu terjadi setelah ia tak kuasa mengambil irisan mangga yang aku sodorkan, akibat getaran tangannya yang tak terkendali.

Kami memang bukan keluarga yang romantis. Dan kakekku juga bukan orang terlalu membaur dengan kami. Jadi selama kepulangan itu, Beliau hanya menyaksikan keramaian itu dalam diam. Tidak terlibat dalam pembicaraan apapun. Selain karena suaranya yang nyaris hilang, juga karena sakitnya.

Rombongan dari rantau pulang ke rumah masing-masing keesokan paginya, Senin (19/12/11). Maklum, semua bekerja dan harus segera masuk kantor lain. Aku ke Padang dulu, mengantarkan orangtuaku, istirahat semalam, lalu Selasa kembali ke Pekanbaru. Selama di Padang, bersenang-senanglah si Tata bertemu sepupunya Tsaqif, Aland dan Dhea. Malam harinya, kami ditraktir makan nasi bungkus oleh adik bungsuku Yessi.


Tata dan Tsaqif makan berdua, sementara si Rara sejak awal sudah menyatakan tidak bisa berdua dengan siapapun dan dia sanggup menghabiskan satu bungkus itu.

Bapak dan ibuku juga makan sebungkus berdua. Semua makan dengan lahap. Kami orang-orang dewasa bahagia melihat Tata makan lahap dengan Tsaqif, sementara Aland yang lebih sulit makan, kecuali sama 'tilon' (baca telur), baru bergabung ketika semua sudah selesai makan.

Perjalanan kali ini sedikit mengecewakan, karena hampir semua waktu habis di jalan. Rara kecewa karena tidak bisa pergi ke Pantai Air Manis. Padahal dulu aku pernah merencanakan hiking dari Teluk Bayur ke pantai itu. Sudah terbayang asyiknya hiking di lereng-lereng bukit terjal, seperti saat aku SMP dulu. Perjalannya cukup jauh dan medan yang harus ditempuh tidaklah mudah. Tanjakannya ada yang terjal dan di beberapa bagian jalan yang telah disemen, patah. Itu sisa-sisa kenanganku akan jalur itu.

Rencana hiking ke Pantai Air Manis itu sudah kami bahas sejak setahun lalu. Namun hingga saat ini tak kunjung terlaksana. Dan si Rara kecewa. Saat beberapa bulan lalu kami ke Padang, rencana itu juga tak bisa kami laksanakan. Pasalnya, kami
berada di Padang pada hari kerja dan si Papa tidak ikut dengan kami karena harus mengurus pernikahan keponakannya di Bukittinggi.

Aku semula hampir nekat pergi bertiga melaksanakan niat itu, namun setelah dipikir-pikir, itu cukup beresiko. Kami tidak tahu kondisi terakhir jalur itu setelah gempa dahsyat dulu. Selain itu, tidak ada lelaki dewasa yang akan menemani kami. Kalau terjadi apa-apa, gaswat juga...

Begitulah, saat Maghrib hampir habis, Selasa itu, kami tiba lagi di Pekanbaru. Tata masih muntah-muntah. Namun langsung sehat sesampai di rumah dan begitu turun dari mobil, langsung menghambur mencari ayam-ayamnya.

Rabu, 07 Desember 2011

Satu Persatu Pergi

satu persatu pergi
dengan perih dan luka hati


namun kalian masih merasa benar
merasa kuat, hebat
menganggap hanya kami yang membutuhkan kalian
hanya di tangan kalian Allah menitipkan rezeki bagi kami
hanya kalian yang mau menampung kami

padahal tidak demikian
dan tak pernah demikian
kami datang dengan komitmen dan harga diri
kami peduli

namun setiap hari ada caci maki
ada hak-hak yang dikebiri
ada jiwa-jiwa yang dizalimi
terpasung karena kondisi

kini
satu demi satu membuka mata
memberanikan diri
Allah tidak buta
Dia menjadi saksi
dan Dia berjanji, tak ada perintang doa orang-orang yang terzalimi

apakah kalian mengerti?

(belajar lagi bikin puisi...)

Minggu, 04 Desember 2011

Syamsurizal: Damai Sajalah, Sudah Tua-tua Begitu

*Perseteruan Kakan Satpol PP Vs Kadisdukcapil Pekanbaru

Pejabat Walikota Pekanbaru Syamsurizal, mengimbau kedua bawahannya, yaitu Kepala Kantor (Kakan) Satpol PP Pekanbaru Erwad Husnan dengan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Pekanbaru M Noer, yang sempat berseteru terkait penunurnan iklan sosialisasi e-KTP, untuk berdamai.
"Yaa, saya imbau keduanya untuk berdamai saja. Kita ini sudah tua-tua, janganlah lagi ada perseteruan seperti ini," kata Syamsurizal, Minggu (4/12) di halaman Kantor Gubernur Riau.
Syamsurizal yang menghadiri acara Universal Children Day dan Hari Guru ke-66 itu, juga mengatakan bahwa ia telah meminta Kepala Badan Kesbang untuk menyelesaikan masalah ini. "Saya sudah minta Kepala Badan Kesbang untuk menyelesaikan ini," tegasnya.
Ia juga mengimbau kedua belah pihak untuk saling memahami tugas masing-masing. "Masing-masing kan punya atasan. Yang perintahkan (penurunan baliho sosialisasi e-KTP) itu saya," katanya.
Dijelaskan lagi oleh Syamsurizal, sesuai aturannya, seharusnya baliho sosialisasi itu bergambarkan Menteri Dalam Negeri. "Dimana-mana yang dipasang itu foto Mendagri. Jadi bukan karena tidak ada foto saya di baliho itu makanya saya suruh turunkan. Bukan begitu. Kan aturannya, yang dipajang itu foto Mendagri, karena ini kan program nasional. Di bawah Mendagri ini jenjangnya ada gubernur, lalu walikota. Kan begitu urut-urutannya," katanya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kakan Satpol PP Pekanbaru Erwad Husnan merasa tidak senang anggotanya diancam Kadis Dukcapil Pekanbaru M Noer saat menjalankan tugas menurunkan baliho sosialisasi e-KTP. Saat digelar senam sehat di halaman Kantor Walikota, Kamis (1/12) lalu, Erwad mendatangi M Noer dan menantangnya berkelahi. M Noer cepat mundur dan perkelahian kedua pejabat itu tak jadi berlanjut karena dilerai oleh orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.
Merasa terancam, keesokan harinya (2/12), M Noer melaporkan Erwad ke Mapolresta Pekanbaru dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Erwad sendiri mengatakan akan melaporkan masalah ini kepada atasannya, yaitu Walikota Pekanbaru. Namun ia juga mengatakan, perseteruan antara dirinya dengan M Noer disebabkan tindakan M Noer sendiri yang mengancam anggotanya di lapangan. Selain itu, Erwad juga menilai kasus ini bila diteruskan di ranah hukum akan merugikan M Noer sendiri. ***

Senin, DPRD Pekanbaru Paripurnakan Ranperda Retribusi Mayat

Pejabat Walikota Pekanbaru Syamsurizal, Minggu (4/12) berharap pembahasan Ranperda Retribusi Pemakaman dan Pengabuan Mayat menghasilkan yang terbaik bagi masyarakat.
Hal itu diungkapkan Syamsurizal terkait akan digelarkan rapat paripurna di DPRD Pekanbaru untuk membahas Ranperda Retribusi Pemakaman, Senin (5/12).
"Biar Dewan yang memutuskan layak atau tidak ranperda itu disahkan. Tentu Dewan sudah menelaahnya dari segala sisi. Hasilnya pastilah yang terbaik bagi masyarakat," katanya.
Dikatakannya, ranperda itu akan mengatur tentang kewajiban para ahli waris untuk membayar retribusi kepada pemerintah bila ada anggota keluarga mereka yang memanfaatkan fasilitas pemerintah. "Kadang uang itu berfungsi untuk pengaturan, bugdeting atau regulasi. Dalam hal Retibusi Pemakaman dan Pengabuan Mayat ini, uang yang dibayarkan masyarakat itu berfungsi untuk mengatur agar semuanya tertib dan nyaman. Uang itu nanti akan digunakan untuk membayar para pekerja di areal pemakaman itu dan hal-hal lain yang terkait," terusnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pemko Pekanbaru mengajukan Ranperda Pemakaman dan Pengabuan Mayat yang beberapa tahun silam pernah ditolak DPRD Pekanbaru. Dalam ranperda yang akan dirapatparipurnakan hari ini, dimuat tentang kewajiban ahli waris seorang yang meninggal dunia untuk membayar retribusi kepada pemerintah apabila dalam penyelenggaraan jenasah digunakan fasilitas pemerintah. Sementara bagi warga yang tidak menggunakannya, tidak dipungut biaya apapun.
Ranperda ini dalam pembahasannya telah menimbulkan kelompok pro dan kontra. Sebagian anggota Dewan menilai tidak etis orang yang sudah meninggal masih dikenakan biaya. Selayaknya justru keluarga yang tengah berduka diberi santunan, seperti yang berlaku di daerah lain.
Sebaliknya, pihak yang pro memandang perlu membuat regulasi ini, setelah melihat potensi PAD yang dihasilkannya. Selain itu, Perda ini hanya akan berlaku bagi kelompok masyarakat yang berkecukupan. Sementara bagi kelompok masyarakat kurang mampu tidak dikenakan retribusi.

Riau Peringati Universal Children Day dan Hari Guru ke-66

Sedikitnya 4.280 murid Paud di Pekanbaru, meramaikan peringatan Universal Children Day dan Hari Guru ke-66 yang dipusatkan di halaman Kantor Gubernur Riau, Minggu (4/12) pagi.

Dalam kesempatan itu, Septina Primawati Rusli selaku istri gubernur, mendapatkan anugerah gelar Bunda Paud Riau dari Kemendiknas RI. Di tingkat nasional, istri Presiden Ny Ani Yudhoyono juga akan mendapatkan gelar itu. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota, Bunda Paud akan disematkan kepada istri bupati/walikota.
Acara ini diawali dengan pawai sekitar 3.000 murid Paud yang memakai pakaian adat, profesi, dan seragam sekolah. Setelah itu, masih ada tari persembahan massal yang melibatkan 300 anak. Sebagian anak yang lain mengambil peran dan fashion show, paduan suara dan bermusik. Intinya, tidak ada anak yang tidak ikut serta dalam acara itu.
Ketua Forum Paud Riau Septina Primawati Rusli dalam laporannya mengatakan, Universal Children Day dirayakan hari itu bersamaan dengan peringatan Hari Guru. "Kita harus menyamakan persepsi bahwa pendidikan usai dini itu bukan saja penting, tapi sangat penting. Anak-anak Paud turut andil menciptakan karakter anak-anak Indonesia masa depan," katanya.
Sementara terkait peringatan Hari Guru, Septina mengajak semua pihak meningkatkan komitmen untuk memperhatikan kualitas dan kesejahteraan guru.
Dalam kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa selama lima tahun terakhir, perkembangan jumlah lembaga Paud di Riau sangat pesat. "Pada 2005 lalu hanya ada 159 lembaga Paud di Riau. Tahun ini telah meningkat menjadi 1.658. Meskipun demikian, masih ada dua tantangan besar yang kita hadapi, yaitu masih banyaknya lembaga Paud yang belum memenuhi delapan standar pendidikan usia dini serta masih ada 466.380 anak Riau atau sekitar 52 persen yang belum terlayani Paud," terusnya.
Gubernur Riau Rusli Zainal, dalam sambutannya kembali menegaskan komitmen Pemprov Riau untuk memperhatikan pendidikan anak usia dini di provinsi ini. Gubri juga mengapresiasi Kabupaten Siak yang memberikan insentif bagi 578 guru Paud dengan total dana Rp1,7 miliar, serta Kabupaten Rokan Hulu yang membuat komitmen membangun tiga lembaga Paud di tiap desa.
Selain komit memperhatikan kesejahteraan guru-guru Paud, Pemprov Riau juga menginstruksikan dan mengimbau bupati/walikota serta dunia usaha untuk memperhatikan dan memberikan program serta anggaran yang cukup untuk Paud.
Gubernur juga mengapresiasi para guru Paud yang disebutnya luar biasa karena mampu membuat acara yang melibatkan empat ribu anak. "Ini luar biasa. Gubernurnya aja dulu waktu kecil tidak seperti itu," katanya.
Bentuk apresiasi ini dibuktikan Pemprov Riau dengan memberikan tunjangan dan beasiswa untuk 500 guru Paud serta pelatihan bagi 5.000 guru Paud serta komitmen untuk membentuk 200 lembaga Paud baru. Gubernur juga optimis target 75 persen anak-anak usia dini tertampun di lembaga Paud pada 2014 nanti. "Insya Allah, kita dapat mencapai target itu," katanya.
Ketua Himpaudi Riau Prof Netti Herawati, mengatakan, pihaknya dengan bantuan berbagai pihak berusaha semaksimal mungkin untuk menampung 42 persen anak-anak usia dini di Riau yang hingga saat ini belum terlayani di lembaga Paud yang ada.
"Ada sekitar 400 ribu anak lagi yang belum tertampung. Itu target kita dan saya optimis target itu akan tercapai," kata Netti usai acara.

Terharu
Usai penganugerahan gelar Bunda Paud Riau, di panggung, Gubri dan beberapa undangan sempat mendengar lagu 'Bunda' karya Melly Goeslaw yang dinyanyikan seorang penyanyi cilik tuna netra Claudia. Claudia yang naik ke panggung dengan dituntun, menyanyikan lagu itu penuh penghayatan. Gubri terlihat beberapa kali mengusap matanya saat Claudia menyanyi.
Usai acara, para guru Paud dan orang tua murid, berebutan berfoto dengan Gubri. Panas terik pukul sepuluh pagi itu tak menyurutkan niat para ibu guru dan orang tua murid untuk berfoto dengan Gubernur. Demikian pula dengan istrinya Septina Primawati, dirubung masyarakat yang ingin berfoto bersama.***

Rabu, 30 November 2011

My Lipstick

Sejak 10 tahun terakhir, lipstik yang aku beli, tak pernah habis aku pakai. Tentu bukan karena aku yang boros atau sok kaya sehingga hanya menggunakannya sekali pakai lalu dibuang atau diberikan pada pembantu (emang gak punya pembantu soalnya...), tapi karena memang benda itu tak bisa bertahan lama di rumahku.


Dua perempuan yang tinggal di rumahku, selalu ikut campur soal lipstik ini sehingga patah sebelum waktunya. Mereka ikut bergaya di depan kaca dengan lipstik itu, memoles bibir, bahkan juga bibir boneka, atau sesekali kalau aku sedang tak ada di rumah, digunakan pula untuk mencoret dinding serta mewarnai gambar (kalau krayon terselip entah dimana).


Inilah lipstik pertama selama 10 tahun terakhir yang memang murni aku gunakan untuk semestinya. Selebihnya, patah di tengah jalan.

Siapakah dua perempuan itu? Inilah mereka....

Selasa, 29 November 2011

PT CPI Bangun Venue Wushu Berkonsep Green Building


PT CPI membuktikan komitmennya mendukung Pemprov Riau sebagai tuan rumah PON XVIII pada 2012 mendatang dengan membangun venue olah raga wushu di Rumbai Sport Center.
Dikatakan GM Policy, Government adn Public Affairs (PGPA) PT CPI Usman Slamet, Selasa (29/11), venue itu berkonsep green building, yang memanfaatkan pencahayaan matahari semaksimal mungkin. Diperlukan dana sekitar Rp34 miliar atau USD3,78 juta untuk membangun venue ini agar representatif dan nyaman digunakan.
Luas bangunan ini 4.400 meter persegi dengan kapasitas sektiar 1.500 penonton. Konstruksinya saat ini dalam tahap pembangunan pondasi dan diperkirakan selesai serta diserahterimakan kepada Pemprov Riau pada Agustus 2012 mendatang.
"Chevron sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan perkembangan Provinsi Riau. Gedung ini merupakan salah satu wujud kontribusi kami untuk turut menyukseskan perhelatan akbar PON XVIII yang akan membawa nama baik Riau sebagai tuan rumah," kata Usman, kemarin.
Diproyeksikan, setelah digunakan dalam PON, venue ini dapat menjadi gedung serba guna seperti halnya GOR Tri Buana di Jalan Diponegoro yang juga merupakan sumbangan PT CPI untuk Riau. Diharapkan gedung ini kelak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan seminar, pelatihan, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.
"Oleh sebab itu, penataan lay outnya bersifat multi fungsi. Kami juga berupaya memikirkan bagaimana setelah PON maupun Islamic Solidarity Games nanti, gedung ini tetap dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat, terutama bagi pengembangan kapasitas dan peningkatan kualitas SDM," kata Manager PGPA Rumbai Imamul Ashuri yang didampingi Manajer Komunikasi Hanafi Kadir.
"Kami mohon doa dari seluruh masyarakat Riau agar pembangunan gedung ini berjalan lancar dan selamat. Sebab kesuksesan PON XVIII nanti juga merupakan kebanggan masyarakat Riau," kata Usman menambahkan.
Saat ditinjau ke lokasi proyek, kemarin, terlihat para pekerja sedang membangun pondasi gedung yang bentuknya mengadopsi pelindung kepala dan sabuk salah satu cabang olah raga bela diri itu. Lokasinya berseberangan dengan venue olah raga renang.
Terkait maintenance dan operasional gedung ini nanti, dikatakan Usman, PT CPI dan Pemprov Riau akan menandatangani MoU tersendiri. Hal ini disampaikan Usman menjawab pertanyaan wartawan yang mengaku khawatir nanti gedung ini tidak terurus, seperti banyak gedung lainnya, bila maintenance-nya tidak dipikirkan dan dibicarakan sejak awal. ***

Minggu, 27 November 2011

A Cup of Frozen Yoghurt

Sejak berkenalan dengan frozen yoghurt setahun lalu kira-kira, kami jadi menyukainya. Sayang harganya lumayan mahal, satu cup bisa Rp25 ribu-an. Itu bisa lebih lagi kalau diberi topping macam-macam.
Kalau si Tata disuruh membuat list tentang makanan kesukaannya, maka frozen yoghurt akan masuk top ten, di samping dendeng, es krim, pizza, nasi goreng, telur dadar/orak-arik, dll.
Sabtu (26/11), sesuai perjanjian, aku dan dia pergi ke Mal SKA untuk membelinya. Kakaknya tidak ikut, karena tidak memenuhi syarat. Apa itu? Senin lalu, aku membuat kesepakatan, kalau mereka mau frozen yoghurt pada hari Sabtu, maka mereka harus menabung uang jajan hingga Rp15.000. Apa pasal harus begitu? Aku sering khawatir si Tata ini jajan sembarangan di sekolah. Walaupun setiap pagi sudah sarapan mengenyangkan, kupikir karena euforia punya uang jajan dan boleh pergi sendiri ke kantin, ia jadi boros dengan uang. Berapa pun diberi, selalu habis. Suatu hari ia mencret dan saat kutanya, ngakunya cuma makan mie instan di sekolah. Setahuku, penjual mie instant itu mejeng di luar pagar sekolah. Anak-anak yang memesan mie goreng, akan bertransaksi melalui celah di pagar.
"Lain kali, jangan beli mie lagi di sana ya Ta. Kan di rumah sudah mama bikinkan? Gratis lagi," kataku.
Ia berjanji akan patuh.
Jadi Senin kemarin, aku buat kesepakatan itu. Rara gagal menabungkan uang jajannya, karena di sekolah ia ikut arisan dengan teman sekelas. Rara berharap nama akan keluar saat pencabutan arisan, sehingga bisa ikut makan frozen yoghurt. Namun sekitar pukul 10.00 pagi, ia mengirim sms, yang terima temannya Alex.
"Kalau begitu, Rara tidak ikut ke mal SKA ya," balasku.
"Iyalah, tapi makan frozen yoghurtnya di sana aja ya ma, jangan dibawa pulang," ia mengirim sms lagi."Dan belikan Rara kue pas pulang nanti."
Aku setuju.
Jadilah aku pergi berdua dengan si Tata. Kami tunggu kakaknya berangkat MDA dulu sekitar pukul setengah tiga, baru kemudian pergi. Tata senang sekali menikmati frozen yoghurtnya. Ia suka yang rasa strawberri dengan topping buah strawberry dan krim coklat. Sedangkan aku suka yang rasa leci dengan taburan kismis. Tapi hari itu kismisnya lagi kosong, jadi aku ganti dengan buah lengkeng.
Setelah membelinya di stand dekat Hypermart, aku bertanya pada Tata, apakah dia ingin kami duduk di dekat-dekat situ, atau ke lantai atasnya. Ke atas, jawabnya. Kami lalu mencari tempat duduk di atas, yang memang banyak tersedia di sana. Bangkunya cantik, terbuat dari kayu dan dapat menampung sekitar 8 orang. Kami dapat bangku di dekat gerai Rotiboy yang aromanya zuper zedap itu. Hm... ini jadi frozen yoghur aroma rotiboy deh...

Kami menikmatinya dengan senang hati. Alangkah nikmatnya itu frozen yoghurt... Dan sebagai hadiah buat si kakak di rumah, kami beli roti dan camilan lain, teman nonton Captain America di rumah nanti malam...

Rabu, 23 November 2011

Ditemukan Jamur Raksasa Bertanduk di Pandau

Warga Desa Tanah Merah, kecamatan Siak Hulu, Kampar digemparkan dengan ditemukannya jamur bertanduk dan berukuran raksasa dengan lebar 1 meter di dalam kamar mandi rumah Fatima di Perumahan Utama Raya, Pandau.

Menurut Fatima yang pertamakali menemukan jamur raksasa itu, rumah kontrakannya itu sudah 3 bulan kosong. Meskipun demikian, dirinya tetap membersihkan rumah tersebut. Dua hari terakhir, ia memang tidak mendatangi rumah itu.

Ketika kemarin pagi ia masuk ke rumah kontrakan yang tepat berada di samping rumahnya itu, ia kaget melihat jamur raksasa bertanduk telah tumbuh di dalam kamar mandinya. Jamur berwarna putih itu dalam ukuran normal biasanya dapat dikonsumsi manusia sebagai lauk.

Kaget mendapati sesuatu yang tidak lazim itu, Fatimah segera pergi ke luar rumah dan memanggil warga untuk menyaksikannya. Sebentar saja, rumah itu sudah penuh sesak oleh warga yang penasaran ingin melihat jamur itu. Jamur terlihat indah, merekah dan terdiri dari tiga batang dengan satu bongkol.


"Saya tidak tahu jenis jamur apa yang tumbuh itu. Kemarin sekitar pukul 18.00 WIB saya melihat jamur ini tidak sebesar saat ini. Semalam tingginya sekitar setengah menter, saat ini sudah satu meter," kata Fatimah pada wartawan Vokal.

Mengantisipasi kemungkinan adanya racun pada jamur itu, Fatimah lalu menutup pintu kamar mandi itu sebatas pinggang anak-anak. Dengan demikian, jamur raksasa bertanduk itu dapat dilihat dari jarak yang relatif aman.

Hingga kemarin, belum ada satupun dinas terkait yang datang untuk mengecek keberadaan jamur raksasa itu. Memanfaatkan keadaan, Fatimah meletakkan kardus untuk menampung sumbangan dari warga yang ingin melihat jamur itu. Uang sumbangan itu akan digunakan Fatimah sebagai biaya kebersihan.

beritanya ditulis Andika

Selasa, 22 November 2011

My audiences

Amerika Serikat 279
Indonesia 222
Algeria 37
Malaysia 6
Jerman 3
Arab Saudi 1

There are my audiences for this week. Thanks a lot all! How nice to know you read it. Please sent your opinion about my blog. I will consider it to next written... ;)

Minggu, 20 November 2011

Ulang Tahunku

Tak ada yang terlalu istimewa dari perayaan ulang tahunku kali ini. Sebenarnya memang tak berharap banyak, tapi si Rara yang memproklamirkan diri sebagai orang yang suka memberi dan menerima hadiah, jauh-jauh hari sudah menghitung hari, tak sabar menunggu tanggal 15.

"Ada kejutan untuk Mama," katanya dengan mata berbinar-binar.



Aku tersenyum.

Namun pas hari H, tak seorang pun di rumah yang ingat kalau itu hari ulang tahunku. Aku ingat tapi tak terlalu ambil pusing. Pasalnya, banyak hal yang menyita perhatian, menu hari itu, cucian yang banyak, batuk yang sedang parah-parahnya, ah, mana pula kepikir soal ulang tahun?

Tapi sms masuk dari seorang teman, Imel Boim, yang mengucapkan selamat ulang tahun. Ujung-ujungnya, ngajak karaokean. Ia memang satu dari sedikit temanku yang suka nyanyi di tempat karaoke. Suaranya keras, berat dan tak bisa diajak duet. Bukan apa-apa, suara yang lain langsung 'tenggelam' oleh kekuatan vokal Imel. Jadi backing vokal pun tak bisa. Hehehe... peace Mel..

Ketika sore aku sudah berada di kantor, masuk sms dari Rara. "Selamat ulang tahun Mama... Mama pasti lupa kalau sekarang ulang tahun kan?" tebaknya. "Ingat, tapi Rara yang lupa, jadi Mama diam saja," balasku.

Lalu di facebook, ucapan selamat masuk dari mana-mana. Juga dari beberapa teman kantor, Desi dan Santi, mengucapkan selamat. Tapi aku harus buru-buru ikut rapat, jadi tak sempat salaman. Salamannya kami lakukan keesokan harinya.

Maghrib aku sempatkan pulang ke rumah, untuk makan malam. Kebetulan tugas di kantor sedikit ringan, jadi bisa ditinggal. Masih tak ada yang istimewa di rumah. Si Tata mengucapkan selamat, si Abang mengucapkan selamat dan Rara juga. Tapi tak ada menu spesial di atas meja.

Keesokan harinya, aku minta izin sama suami, untuk mengajak makan siang beberapa orang teman ke rumah. Di kulkas masih ada daging kurban yang lumayan banyak. Sayang kalau disimpan terlalu lama. Mending itu dimanfaatkan. Aku memilih hari Sabtu, karena hari itu aku libur.

Jumat siang, aku ambil dari kulkas sebongkah besar daging yang nyaris tanpa lemak. Aku sayat tipis lalu dilumuri ketumbar halus dicampur garam dan bawang putih. Itu resep dendeng dari Papaku. Kepandaian menyayat daging hingga menjadi lembaran tipis itu, aku peroleh juga dari Papa yang memang menyuka dendeng. Selain itu, mungkin ini juga bakat kultural sebagai keturunan orang Koto Anau, Solok, yang sebagian
besar memang berprofesi sebagai tukang daging, hahaha...

Oke, lanjut ke dendeng. Aku memasak dendeng secara praktis. Yaitu, setelah daging dibumbui, direbus hingga empuk. Sementara Papaku suka membuat dendeng dengan cara dijemur setelah dibumbui. Cara ini lebih makan waktu dan sangat bergantung pada sinar matahari. Tapi hasil keduanya hampir sama. Dendeng yang dikeringkan di terik matahari juga awet untuk disimpan lama. Bedanya, dendeng yang dikeringkan kalau
digoreng lebih garing kriuk-kriuk.

Keesokan harinya, aku sibuk mengurus ini itu. Anak-anak membantu sekedarnya. Beberapa orang teman yang diundang, menyempatkan diri untuk datang, sementara yang lain minta maaf tidak bisa hadir. That's fine...

Kami berempat di rumah itu penyuka dendeng. Tidak heran, Rara nambah tiga kali makan siang itu sedangkan Tata empat kali. Dendeng sekilo punah dalam sehari. Alhamdulillah juga, para tamu suka dendengnya. Kepuasan terbesar tukang masak tentu tak lain adalah bila melihat makanan yang dibuatnya disukai orang.

Malam harinya, aku dan anak-anak meminjam VCD The Spy Next Door, Pan's Labyrinth dan X-Men First Class. Dua film pertama sudah kami pinjam sebelumnya dan anak-anak masih ingin menontonnya.

Tapi untuk menontonnya terpaksa harus merayu si Papa dulu yang sedang menyaksikan pertandingan sepakbola antara Indonesia-Vietnam. Televisi kami hanya satu dan sekarang, sedang dikuasai si Papa.

Babak pertama yang cukup mendebarkan, dilewati dengan iringan rengekan dan rayuan si Tata.

"Pa, bolehlah kami nonton VCD..."

"Pa, please Pa..."

Kulit kuaci dan es krim berserakan di karpet.

"Manalah enak nonton bola sendirian di rumah?" aku mengompori. "Tadi kami liat di RM Rajawali 2000 sudah ramai orang mau nonton bola. Bayangkanlah serunya teriak-teriak kalau gol."

"Iya Pa, kami liat tadi jalanan jadi macet karena banyak yang parkir di pinggir jalan," sambung si Rara.

Tata sudah terkantuk-kantuk dan sepertinya pasrah tidak jadi nonton The Pan's Labyrinth malam itu. Untunglah, si Papa akhirnya mengalah dan memilih 'mengungsi' entah kemana saat istirahat setelah habis babak pertama.

"Papa kasi waktu 15 menit ya!" katanya sebelum berlalu.

Kami kegirangan dan langsung memutar film yang bersetting waktu Perang Dunia I di pedesaan Spanyol itu. Sebenarnya dalam titelnya disebutkan bahwa Pan's Labyrinth adalah film dewasa. Setelah aku tonton, memang ada beberapa adegan yang cukup sadis dan tak layak ditonton anak-anak. Sebagai solusi, pas adegan sadisnya, seperti saat sang pembantu merobek mulut tuannya dengan pisau lipat, filmnya kami percepat,
sehingga tak perlu dilihat anak-anak.

Hari Minggu, masih ada rangkaian acara ulang tahunku. Ini hadiah kejutan dari Rara. Sebenarnya ia ingin mentraktir aku dan adiknya makan pizza di Pizza Hut di Mal SKA atau Ciputra. Tapi karena mereka bertengkar sehingga aku marah dan menolak pergi, akhirnya diputuskan untuk memesan pizza via delivery.

Kami menikmatinya bertiga, sementara si Papa sedang ada urusan di luar. Tak lama kemudian, aku istirahat sebentar, sedang anak-anak pergi main ke rumah temannya. Sorenya, aku berangkat ke kantor dan memulai rutinitas seperti biasa.
Begitulah...

Jumat, 18 November 2011

Jam Berapa Mama Pulang Part II

Barusan ditelepon lagi sama anak di rumah, ditanya,jam berapa aku pulang? Apakah aku akan Shalat Maghrib di rumah? Aku jawab, tidak, karena ini sudah lewat waktu Maghrib dan aku sudah shalat di kantor.
Tata: Jadi Mama tidak pulang?
Aku : Tidak. Nanti malam kalau jarum panjang sudah di angka 12 dan jarum pendek di angka 11, Mama pulang. Oke?
Tata: Pulang ajalah dulu sekarang sebentar Ma..., biar Tata bisa melihat muka Mama yang bulek padek itu...
Aku : Hahaha... Nanti malam kalau Mama pulang dan Tata sudah tidur, Mama akan bangunkan Tata sambil bilang, "Ta, nih liatlah muka Mama yang bulek padek. Oke?"
Tata: Iyalaah... (lesu).
Aku: Nanti kita tidur sama-sama ya...!
Tata: Iyaaa... (semangat lagi)

Love you so much My Curly...

Kamis, 17 November 2011

Siswa Caltex American School Sosialisasikan Green Dignity


Siswa-siswi Caltex American School, Rumbai, menyosialisasikan penggunakan kantong ramah lingkungan yang terbuat dari bahan parasut, di mini market (commissary) yang ada di Komplek PT CPI, Rumbai, Rabu (16/11).
Saat dikunjungi ke commissary itu, kemarin sore, terlihat beberapa siswa ekspatriat tengah duduk di dekat meja kasir, siap memberikan kantong plastik ramah lingkungan untuk para pembeli yang berbelanja seharga minimal Rp50.000.
Katie, pelajar asal Australia dan Joshua dan Singapura, mengatakan, ia dan teman-temannya ingin turut serta ambil bagian dalam penyelamatan bumi dari kerusakan. Meminimalisir penggunaan kantong plastik biasa adalah salah satu langkah yang mereka jalankan.
"This is a great plan to save the earth," kata Joshua.
Katie juga mengatakan akan membawa kantong-kantong plastik itu ke negaranya, saat pulang nanti, untuk kemudian dijual atau diberikan secara cuma-cuma sebagai hadiah kepada keluarga atau teman-temannya. Hasil penjualan kantong-kantong itu kelak akan disumbangkan ke Panti Asuhan Insan Permata, Rumbai, yang memasok barang-barang ini.
Sementara itu Joyce, salah seorang pengajar di Caltex American School mengatakan, program ini berawal dari ide Green Dignity yang dibawa oleh Mr Davis dari Amerika. "Ia menyarankan kami untuk melakukan ini, yaitu penggunaan kantong ramah lingkungan."
Kantong dimaksud berwarna hijau, terbuat dari parasut, mudah dibawa, kuat, tidak memakan banyak tempat dan dapat dicuci apabila kotor. Dengan demikian, para pembeli tidak harus selalu menggunakan kantong plastik baru setiap kali berbelanja di commissary.
Kantong itu dibeli seharga Rp15.000 persatuan, namun dibagi gratis kepada para pembeli yang belanja minimal Rp50 ribu. Dikatakan Joe Murphy, guru Sosial Studies Caltex American School, program ini memang baru diluncurkan hari itu, namun direncanakan akan berlangsung lama. Diawail di Rumbai dan bila mendapat sambutan akan diteruskan ke Minas, Duri dan Dumai.
Sementara itu salah seorang perwakilan Panti Asuhan Insan Permata Ana, mengatakan, ini merupakan order kedua yang dilakukan para siswa dengan pihaknya. Bila dijumlahkan, sedikitnya ada sekitar 400 kantong yang telah mereka pasok untuk kegiatan itu.
Ia berharap kerja sama ini dapat terus berkelanjutan, karena akan saling menguntungkan kedua belah pihak dan tentu saja menyelamatkan bumi dari ancaman kerusakan. ***

Pencairan Hingga Akhir November, 85 Persen Beasiswa Pemprov Sudah Disalurkan

Hingga Kamis (17/11), sudah 85 persen beasiswa Pemprov Riau yang disalurkan untuk mahasiswa Riau mulai dari jenjang pendidkan Strata 1 hingga Strata 3.
Demikian disampaikan Kasubag Pendidikan Biro Kesra Setdaprov Riau Fakhrul Chacha, kemarin. "Sampai saat ini sudah sekitar 85 persen dana bantuan pendidikan Pemprov Riau yang kami salurkan kepada para mahasiswa Riau," tegasnya.
Sayangkan Fakhrul tidak dapat merinci, dari jumlah itu, berapa persen untuk mahasiswa strata satu dan berapa untuk strata dua dan tiga. "Wah, kalau tidak saya tidak hafal. Tapi dapat dikatakan, merata," katanya.
Pencairan beasiswa ini semula dilakukan di Gedung Wanita di Jalan Pangeran Diponegoro. Namun sejak 10 November lalu, untuk menghindari keramaian, telah dipindahkan ke Biro Kesra Setdaprov Riau. Pihaknya masih akan menunggu hingga akhir bulan ini bagi yang belum mengurus pencairan dana bantuan itu.
"Bagi mereka-mereka yang namanya terdapat dalam pengumuman penerima beasiswa ini, kami beri waktu hingga akhir November ini untuk mengurus pencairannya," katanya.
Saat ditanya kendala yang dihadapi para calon penerima beasiswa ini saat proses pencairan, diakatakan Chacha hampir tidak ada, "Kecuali mereka agak kurang sabar. Ingin cepat-cepat bisa mencairkan bantuan itu. Padahal kami butuh waktu untuk mencari proposal yang bersangkutan di arsip kami," katanya.
Bahkan bagi mahasiswa strata satu, kalau saat pencairan semua syarat yang diminta dibawa lengkap, tak sampai 30 menit dana sudah dapat dicairkan. Sementara untuk jenjang pendidikan strata dua dan tiga, perlu tatap muka sekitar dua kali.
Sebagaimana diberitakan, tahun ini Pemprov Riau menganggarkan dana dari APBD Riau sebesar Rp10 miliar untuk membantu para mahasiswa, mulai dari jenjang pendidikan strata satu hingga tiga. Dana ini ternyata sangat diminati, terbukti dari banyaknya proposal yang masuk ke Biro Kesra Setdaprov Riau. Chacha mengatakan, untuk S1, ada 3.044 proposal yang masuk ke pihaknya sementara dari S2 dan S3 1.161 proposal.
Dari jumlah itu, hanya 775 proposal S1 yang disetujui untuk dibantu, sedangkan untuk S2 dan S3 sebanyak 573 proposal. Alasan Chacha, budget yang tersedia sangat terbatas. Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, dimana dana untuk bantuan pendidikan mencapai Rp17 miliar dalam APBD Riau.***

Jumat, 11 November 2011

Jam Berapa Mama Pulang?

Hp-ku berbunyi sore ini....
Tata: Jarum panjang di angka berapa waktu Mama pulang nanti?
Aku : Di angka 12 dan jarum pendek di angka 11.
Tata: Itu berarti sudah malam sekali?
Aku : Ha a.
Tata: Nanti pas Magrib Mama pulang sebentar?
Aku: Belum tau Ta, lihat pekerjaannya dulu, banyak atau sedikit.
Tata: Pulang ajalah Ma....
Aku: Kan ada kakak dan papa di rumah?
Tata: Iya, tapi Mama pulang ajalah...
Aku: Kenapa?
Tata: Tata suka lihat muka Mama tu... Mama bulek padek.
Aku: Hahaha.....

Minggu, 06 November 2011

Duduk di Belakang



Suatu hari...
Ibu guru Tata: Mama, si Tata ini suka bicara sama temannya saat belajar, jadi saya pindahkan dia ke belakang.
Aku : Oh, maaf Bu... Nanti saya bilang padanya supaya tidak bicara saat belajar.

Keesokan harinya...
Aku cerah ceria menjemput dia pulang sekolah.
Aku : Halo Tata.... Gimana sekolahnya tadi Nak?
Tata : Biasa aja (ogah-ogahan)
Aku : Tadi dipindahkan lagi ke belakang?
Tata : Tidak
Aku : Oh, syukurlah... (lega)
Tata : Tapi Tata disuruh duduk di depan, di samping Ibu Guru, supaya nggak ngomong lagi...
Aku : Tata... hiks hiks... (lemass...)

Kamis, 03 November 2011

Komisi X DPR RI: Panitia PON Lebih Siap Ketimbang Panitia Sea Games

Anggota Komisi X DPR RI Dedi Gumelar, Kamis (20/10), menilai Panitia PON di Riau lebih siap ketimbang panitia Sea Games yang akan digelar di Sumatera Selatan.
Hal itu diungkapan Dedi Gumelar kepada wartawan Vokal sesaat sebelum menggelar pertemuan dengan Gubernur Riau dan panitia PON ke-18. Rombongan Pokja PON Komisi X yang dipimpin Utut Adianto ini sebelumnya telah meninjau beberapa venus PON di Rumbai, termasuk main stadion di Panam.
“Saya mengapresiasi panitia dan menurut saya Riau lebih siap ketimbang Sumatera Selatan sebagai tuan rumah Sea Games. Riau telah menyiapkan venus-venus ini dengan baik, bahkan di Jakarta saja tidak ada stadion sebagus Main Stadion yang dibangun Riau. Yang ada sekarang itu kan peninggalan jaman Soekarno,” kata Dedi.
Hal senada disampaikan Eko Purnomo, anggota Banggar DPR RI yang ikut dalam rombongan ini. Menurutnya venus yang dilihatkan ternyata lebih bagus dibandingkan gambar-gambar yang dilihatnya selama ini.
Namun ia juga memberi saran agar Pemprov Riau mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti air yang kuning atau listrik yang tidak memadai, sehingga mengganggu jalannya pertandingan.
“Jangan sampai sepulang dari Riau para atlet itu gatal-gatal,” kata Eko.
Menjawab itu, Gubri sambil tertawa sempat berkelakar bahwa air kuning itu karena pengaruh cahaya lampu. Namun secara serius kemudian ia menerangkan, Riau telah mengantisipasi masalah ini dengan menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Denmark untuk menghasilkan air bersih. Sementara masalah listrik juga telah diantisipasi dengan membangun pembangkit listrik 420 megawatt di Pekanbaru dan Dumai.
Gubri juga memaparkan tentang venus-venus yang telah disiapkan Riau untuk cabang-cabang olah raga yang akan dipertandingkan nanti. Hampir semua venus telah siap di atas 50 persen, bahkan ada yang sudah siap 100 persen.
Meskipun demikian, Gubri mengatakan panitia PON masih kekurangan dana sebesar Rp306 miliar untuk penyelenggaraan. Diharapkan Komisi X DPR RI dapat mengakomodir hal ini sehingga dana itu dapat dianggarkan di APBN 2012.
Sementara itu Ketua Tim Komisi X DPR RI Utut Adianto mengatakan, komisi ini membentuk kelompok kerja (pokja) PON baru pekan lalu. Pokja ini dibuat bukan untuk mengkritisi, sebaliknya mencarikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang mungkin ditemukan panitia PON. Pihaknya akan mendukung Riau untuk mendapatkan dana Rp306 miliar dari APBN untuk penyelenggaraan PON ke-18 pada September 2012 mendatang.
Terkait apresiasi Komisi X atas keberhasilan Riau mempersiapkan diri menghadapi iven besar itu, Gubri mengatakan, “Kita tidak boleh terlena dengan pujian itu. Masih banyak yang harus dikerjakan. Kita jadikan itu spirit untuk meningkatkan pembangunan Riau ke depan.”
Dalam pertemuan ini terlihat hadir Wakil Gubenur Riau HR Mambang Mit, Ketua Harian PB PON Syamsurizal, serta pihak-pihak terkait lainnya. Pertemuan yang direncanakan digelar pukul 9.30 itu, molor hingga pukul 11.45. Bahkan lokasinya dari Ruang Melati di lantai tiga kantor gubernur dipindahkan ke Ruang Pertemuan Gubernur di lantai delapan Gedung Sembilan Lantai. ***

Dapat Innova dari BRI, Karmilah Menangis

Karmilah (43), nasabah BRI Pangkalankerinci, menangis haru saat satu unit Kijang Innova warna hitam yang masih mulus, diserahkan kepadanya oleh Pimpinan Cabang BRI Pekanbaru Wiguno Aridarto, Senin (17/10/11) siang.
"Terima kasih ya Allah...." katanya terisak, saat petugas sekuriti BRI memarkirkan mobil itu di depan teras bank itu. Karmilah langsung memeluk mobil itu dengan kedua tangannya.

Karmilah merupakan satu dari sekian banyak nasabah BRI yang beruntung mendapatkan hadiah dalam penarikan Undian Simpedes BRI Periode I 2011 yang dilangsungkan pada Sabtu (18/9) silam di Bandar Seikijang. Ia berhasil mendapatkan hadiah utama berupa satu unit mobil Kijang Innova. Ia mengaku gemetaran saat diberitahu oleh Ketua KUD tempatnya bergabung, bahwa dirinya mendapatkan mobil. Kiranya itulah makna mimpi yang dialaminya beberapa hari sebelumnya.
"Saya mimpi menggendong anak di punggung saya. Berat sekali rasanya," katanya saat berbincang-bincang dengan wartawan Vokal.
Karmilah didampingi suaminya Kardiman dan beberapa kerabat, datang dari Pangkalankerinci ke Pekanbaru kemarin pagi. Hingga sore saat penyerahan hadiah, ia masih tak percaya dan deg-degan. Ia belum tahu hadiah itu akan diapakannya, karena ia dan suaminya yang berprofesi sebagai petani, sama-sama tidak bisa menyetir mobil.
"Belum tau mau diapakan, mungkin disimpan dulu, karena anak-anak saya sebentar lagi akan besar," kata ibu tiga anak ini.
Karmilah menjadi nasabah BRI sejak 2004 silam. Sepanjang kurun itu, ia menabung dan menarik dananya dari BRI untuk berbagai keperluan. "Kalau ada duit sisa, disimpan, kalau perlu, nanti diambil lagi. Ya gitu aja," katanya.
Pernah sekali ia meminjam dana untuk membeli tanah di BRI. Namun karena tanah itu tak sempat diurus, kemudian dijual lagi. "Duitnya disimpan lagi di BRI," terusnya.

Kepala Cabang BRI Pekanbaru Wiguno Aridarto, mengucapkan selamat kepada Karmilah dan suaminya yang mendapatkan hadiah utama itu. Dikatakannya, hadiah itu merupakan bentuk apresiasi BRI kepada para nasabahnya.
Harapannya, ke depan akan semakin banyak orang yang menabung di BRI. Apalagi banyak fasilitas yang disediakan bank pribumi ini untuk kelancaran transaksi para nasabahnya.
Penarikan Undian Simpedes BRI periode II 2011 akan digelar beberapa bulan mendatang. Hingga saat ini, belum ditentukan daerah mana yang akan menjadi tuan rumah. Setiap tahun, penarikan undian ini memang digelar di lokasi yang berbeda-beda, untuk lebih mendekatkan bank ini dengan para pelanggannya.

Wakil Gubernur Riau Ingatkan Pengawas Internal tak Buka Perut Sendiri

Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit, mengingatkan pengawas internal untuk tidak mempublikasikan temuan-temuan yang diduga merupakan penyimpangan penggunaan dana APBD.


"Apapun hasil temuan pengawas internal, tidak boleh dipublikasikan. Itu sama saja dengan membuka perut sendiri. Tugas pengawas internal itu menurut saya bukan mencari-cari kesalahan orang, tapi membenarkan apa yang tidak benar," katanya, Kamis (3/11/11), saat membuka secara resmi rapat koordinasi pengawasan daerah yang digelar Inspektorat Riau, di Hotel Pangeran, Pekanbaru.


Sebaliknya, pengawas internal harus bisa melihat apa yang terjadi di balik itu semua. Dikatakannya, pengawas internal harus sudah berperan sejak penyusunan APBD, agar dapat berjalan sesuai dengan peruntukannya.



Sementara itu Kepala Inspektorat Wilayah II Kemendagri Sutiyono, mengatakan, bila temuan-temuan penyimpangan itu sudah masuk ke BPK, maka ia akan dapat diakses oleh berbagai pihak. Menghindari munculnya lagi temuan-temuan itu, BPK Perwakilan Riau melakukan penajaman pengawasan, baik di tingkat provinsi, kabupaten, hingga lurah.

Sutiyono juga mengatakan, terhadap temuan-temuan yang tidak dapat ditindaklanjuti, maka akan dilakukan langkah-langkah seperti meminta pertanggungjawaban wakil gubernur di tingkat provinsi atau wakil bupati di tingkat kabupaten. Pimpinan satker terkait juga wajib untuk menindaklanjuti temuan itu selama 60 hari kerja.

"Atau dikenakan sanksi disiplin PNS," terusnya.

Sindir Syamsurizal

Mambang Mit dalam kesempatan itu juga mengatakan bahwa saat ini perlu perubahan paradigma pengawasan, sehingga kelak tidak ditemukan lagi hal-hal yang berindikasi negatif dalam penggunaan anggaran.

"Ini saya baca apa yang ditulis Kepala Inspektorat aja. Jadi banyak istilah teknisnya," katanya. Ia sempat pula menyindir tentang Kepala Inspektorat Syamsurizal yang terlalu banyak merangkap jabatan, sehingga tidak hadir di acara yang digelarnya sendiri.

Ia juga mengatakan bahwa Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang diberikan BPK seharusnya bukanlah tujuan akhir aparat menjalankan roda pemerintahan. "Yang penting dapat dipertanggungjawabkan," terusnya.

Mambang menilai saat ini ada gejala orang takut melakukan sesuatu dan hanya mengejar WTP, sehingga anggaran tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Kalau sudah begini, menurut Mambang, yang rugi pemerintah dan masyarakat.

Masih di BPK

Sementara itu Sekretaris Inspektorat H Dahlius, mengatakan, hingga saat ini tindak lanjut temuan BPK di beberapa satker masih berada di BPK. "Belum sampai ke Inspektorat," katanya.

Namun saat didesak, ia mengatakan, hingga saat ini sudah ada yang menyelesaikan tindak lanjut temuan itu, yaitu Biro Umum Setdaprov Riau. Sementara Setdaprov Riau secara keseluruhan belum tuntas. Demikian pula dengan Sekretariat DPRD Riau.

Sekdaprov Riau H Wan Syamsir Yus, akhir pekan lalu juga mengatakan bahwa temuan di Setwan masih separuhnya yang ditindaklanjuti.

Anger Management

Suatu hari, sepulang dari menjemput si Tata dari sekolahnya di SD Muhammadiyah 2, Jalan KH Ahmad Dahlan, aku menemukan bahwa semua pensil yang tadi pagi aku raut hingga seruncing jarum, sudah patah semua. Tentulah awak jadi heran. Apa pasal nih?



Aku: Tata, ini kenapa kok pensil Tata patah semua? (sambil mikir, jangan-jangan kami telah membeli pensil kualitas buruk. Maklumnya, belinya di toko serba Rp5.000).

Tata: Begini Ma... Hm... jadi kalau Tata marah sama teman Tata si Nana atau sama Ibuk Guru, Tata patahkan pensilnya.

Aku: Astaga!

Anak Buruh Bangunan Dapat Beasiswa Penuh dari Yayasan PCR dan BSM Pekanbaru

Ikhwanul Suenta berdiri paling kanan.

Namanya Ikhwanul Suenta, putra seorang buruh bangunan, eks siswa SMAN 9 Pekanbaru. Ikhwan, demikian ia biasa dipanggil, tampil sebagai pemuncak dalam raihan IPK selama masa matrikulasi sebagai calon penerima beasiswa penuh dari Yayasan Politeknik Chevron Riau bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri Cabang Pekanbaru. Ya, Ikhwan berhasil mendapatkan IPK 4,00. Angka sempurna.
Sosoknya terlihat bersahaja, tenang, namun cerdas. Ia tampil sebagai pemuncak dari sembilan penerima beasiswa YPCR dan BSM. Pihak PCR mengatakan, selama enam minggu masa matrikulasi, Ikhwan dapat menyelesaikan tugas yang tidak dapat dikerjakan oleh mahasiswa lain.
Siapakah dia? Begini kisah hidup Ikhwan. Ayahnya Suparmansyah, meninggal pada Maret 2011 lalu karena kanker paru-paru, sebulan sebelum Ujian Nasional digelar. Tentulah ini ujian yang berat bagi seorang anak yang sedang beranjak dewasa. Satu penopang seolah patah, dengan kepergian sang ayah tercinta.
Kini ia tinggal dengan sang ibu, seorang guru di SMP Kalam Kudus dan adik perempuannya Galuh (13), di Jalan Teratai Gang Gunga Nomor 8 Pekanbaru. Sejak lama ia memang ingin sekolah di jurusan teknik. Alasannya sederhana, begitu tamat, kemungkinan mendapatkan pekerjaan lebih besar.
Dipilihnya PCR karena memang PCR bagus menurutnya. Namun ia sempat pesimis bisa masuk, karena terkendala biaya. Apalagi kalau mengingat kondisi ekonomi keluarganya. Untunglah kemudian ia melihat ada pengumuman di facebook tentang penerimaan mahasiswa baru PCR dan beasiswa dari BSM.
"Saat saya katakan pada Mama, Beliau mendukung saya 100 persen. Maka saya lengkapi persyaratannya dan mengikuti tes," katanya.
Alhamdulillah, Ikhwan diterima di sini. "Saya pikir, ini jalan terbaik dari Tuhan untuk saya. Ini waktu yang sangat tepat. Ketika Papa sudah tidak ada, saya dapat beasiswa penuh," terusnya.
Hingga saat ini, Ikhwan masih tinggal dengan ibunya. Setiap pagi, ia mengantarkan ibunya ke SMP Kalam Kudus untuk mengajar, lalu pergi ke kampusnya di Rumbai. "Mama tidak bisa bawa motor. Jadi saya yang bertugas mengantarkan Mama ke sekolahnya setiap pagi, sebelum berangkat ke kampus," katanya.
Saat ditanya apa cita-citanya, dimana ia ingin bekerja setelah tamat nanti, Ikhwan mengatakan, "Dimana saja tidak masalah. Di dalam negeri atau di luar, tidak apa-apa. Pokoknya, empat tahun lagi, saat Mama pensiun dan saya lulus, saya ingin Mama istirahat di rumah, biar saya yang kerja," katanya tegas.
Suaranya penuh percaya diri. Ada tekad kuat yang memancar dari nada bicaranya. Melihat apa yang sudah dicapainya saat ini, rasanya cita-cita mulia Ikhwan akan diraihnya.
Ikhwan juga menceritakan pengalamannya mengikuti matrikulasi selama satu semester (6 minggu) di PCR. "Sempat kaget. Dulu di SMA, sistem belajarnya keras, ternyata sampai di sini, lebih keras lagi. Tugas dari dosen cukup banyak. Kami sering tidur larut malam agar dapat menyelesaikan tugas," katanya.
Kamis (3/11/11), Ikhwan bersama delapan rekannya yang lain dari berbagai daerah di Riau, menerima beasiswa dari BSM. Beasiswa itu mencakup seluruh biaya kuliah selama masa pendidikannya. Syaratnya, IPK mereka harus di atas 3,00. Bila kurang dari itu, maka beasiswa akan diputus sementara waktu.***

Yayasan PCR dan BSM Serahkan Beasiswa Penuh untuk 9 Mahasiswa Baru

Yayasan Politeknik Chevron Riau (YPCR) bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Pekanbaru, Kamis (3/11), menyerahkan beasiswa senilai Rp100 juta untuk sembilan mahasiswa baru kurang mampu PCR. Beasiswa ini berbentuk grant, artinya semua biaya pendidikan yang ditetapkan kampus terhadap mahasiswa, ditanggung sepenuhnya oleh kedua belah pihak, hingga selesai masa kuliah.
"Tentu ada syaratnya sehingga beasiswa itu dapat berkelanjutan. Kami menginginkan para mahasiswa memiliki IPK 3,00 setiap semester. Kalau di bawah itu, beasiswa akan ditangguhkan," kata perwakilan Yayasan PCR Robinar.
Pimpinan Cabang BSM Pekanbaru Atep Heri Herlambang, mengaku sangat senang dengan program ini. Dikatakannya, ini merupakan pilot project mereka di Riau dan diharapkan menjadi pilot project pula di tingkat nasional.
"Selamat buat para penerima. Kalian adalah yang terpilihnya dari yang dipilih. Selesaikan kuliah dengan cepat dan jadilah duta yang dapat menjadikan PCR semakin unggul," pesannya pada para mahasiswa baru itu. Ia juga memesankan untuk tidak melupakan almamater mereka setelah masuk ke dunia kerja nanti.
Setelah itu, seorang dosen pembimbing para mahasiswa ini Zainal, menyampaikan laporan akademis para anak didiknya itu selama satu semester (enam pekan) matrikulasi.
"Rata-rata nilai mereka 73,13. Memang masih jauh dari ekspekstasi, tapi mereka akan mendapatkan lebih banyak setelah kuliah di sini nanti," katanya.
Zainal juga memaparkan bahwa selama masa matrikulasi, para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Riau ini, diberi pemahaman tentang sistem belajar di PCR. "Banyak yang kaget dan canggung dengan ritme perkuliahan di sini. Tapi lama kelamaan mereka akan beradaptasi dengan lingkungannya," katanya.
Ikhwanul Suenta, mahasiswa PCR yang berasal dari SMAN 9 Pekanbaru, keluar sebagai pemuncak, karena berhasil mendapatkan IPK 4. Selain Ikhwanul, masih ada delapan penerima beasiswa lainnya, yaitu Septio Wardana, Siti Iswahyuni, Timang Sugara, Rian Rivandi, Ary Surbakty, Daud Suheri, Susiyanti dan Ade Patria.
Timang Sugara, salah seorang penerima beasiswa asal Pekanbaru, menceritakan, ia mengetahui tentang pengumuman penerimaan mahasiswa baru dari kalangan kurang mampu itu melalui koran. Seorang temannya menyuruhnya membaca koran yang sudah dua hari lalu terbit dan berisi pengumuman itu. Timang segera mencarinya dan menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.
"Ternyata itu hari terakhir pendaftaran. Saya segera menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan," kenangnya.
Saat ditanya apakah ia mengalami kesulitan saat menjalani tes, Timang mengatakan tidak terlalu sulit. "Tesnya biasa saja. Saya cuma tidak bisa menjawab soal yang memang saya tidak tahu. Kebetulan saya kan jurusannya waktu SMA Kimia, jadi kalau soal Fisika lumayan tahu. Tapi kalau soal akuntansi, nah itu baru saya gak tahu," katanya sambil tertawa.
Timang, Ikhwan dan teman-temannya menerima dana Rp100 juta untuk bersama dari Yayasan PCR dan BSM. Dana itu diserahkan secara simbolis oleh Pimpinan Cabang BSM Pekanbaru Atep kepada Robinar, disaksikan Ketua Yayasan PCR Azhar.
Pemberian beasiswa di suatu lembaga perguruan tinggi merupakan suatu keharusan, merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 30 Tahun 2010 serta selaras pula dengan tujuan PCR yakni menghasilkan SDM Riau yang berkualitas. ***

Kalau Tata Sedang Suntuk






Kalau Si Tata sedang suntuk dan bosan sendirian (si kakak sedang pergi sekolah), maka tak bisa tidak, akulah sasaran tembaknya. Ia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya.

Misalnya, “Ma, adakah anak kecil yang meledek mamanya?”

“Mungkin ada.” La, logikanya, seluas ini dunia, mungkin saja kan, ada anak yang meledek ibunya?

“Siapa namanya?” pertanyaan berikutnya.

“Meneketehe?”

***



Kali lain, muncul pertanyaan lain. ”Ma, Mama pernah ketemu artis?”

”Pernah.”

”Siapa namanya?”

”Tompi.” Dia sudah tahu Tompi, secara aku menghidupkan nyaris nonstop My Happy Life semasa dia kecil dulu, sebagai teman tidurnya.

”Yang lain?”

”Itu di tivi banyak.”

”Bukan, yang Mama lihat langsung.”

Aku menyebut beberapa nama.



***




”Ma, Mama punya teman orang Kristen?”

”Punya.”

”Siapa namanya?”

”Imelda.”

”Siapa lagi?”

Aku menyebut beberapa nama lain.



Kali lain, dia sedang suntuk dan mood-ku sedang buruk. Kain-kain setinggi gunung menunggu disetrika, cuaca panas, kerongkongan kering. Fiuh!

”Ma, Mama pernah ketemu artis?”

”Tidak.”

”Bohooong... katanya pernah. Tompiiii.”

”Na itu Tata tau, kok masih nanya?” Gondok.

”Mama punya teman orang Kristen?”

”Tidak.” Gigi mulai merapat.

”Katanya Tante Imelda...”

”Kan tau tuh!”




Pertanyaan-pertanyaan lain muncul tanpa diduga. Apakah ada anak kecil yang ditangkap polisi karena melukai temannya? Adakah anak kecil yang bisa bawa motor, lalu menabrak orang di jalan? Dan lain-lain. Kalau jawabanku ’ada’, dia akan bertanya, siapa namanya. Tapi pertanyaan ’apakah aku pernah bertemu artis’, adalah pertanyaan favorit yang sudah berkali-kali aku dengar. Dan aku mulai jengkel, geram, galigaman.

Tadi pagi, sambil menyetrika, ia bertanya lagi. ”Ma, apakah Mama punya teman orang Kristen?”

”Gaak!”

”Katanya Tante Imelda....”

”....”

”Ma.”

”Mmm..?”

”Mama pernah ketemu artis?”

”Tata, kalau sekali lagi nanya ketemu artis ketemu artis, kamu Mama ’rameh’ ya!” (sambil membayangkan meremas pantatnya seperti meremas adonan donat).

Dia tertawa. ”Iya... iya.... sekarang serius. Mama jawab ya!”

”Iya! Cepat!”

”Apa... Mama pernah.... ketemu artis??”

”TATA!!!! AAARRRRGGGHHHH.......”

Mengunjungi Rumah Kelahiran Bung Hatta, Mengenang Sang Proklamator

Ini kisah perjalanan liburan Lebaran tahun lalu. Mungkin dapat menjadi inspirasi pembaca yang hendak liburan ke Sumatera Barat, tepatnya ke Bukittinggi.






Rumah kelahiran salah satu Proklamator Indonesia Bung Hatta, terletak di daerah Pasar Bawah, Bukittinggi. Mungkin hampir semua orang mengenal rumah berlantai dua semi permanen ini, karena ia memang dapat dikatakan sudah berada di wilayah pasar. Ada angkot yang lalu lalang di depannya. Tapi macetnya pasar itu membuat jengkel. Angkot, mobil pribadi dan juga bendi-bendi, berebut jalan. Belum lagi para pedagang kaki lima yang menyerobot trotoar dan parkir kendaraan yang memakan badan jalan. Sediakan stok kesabaran Anda lebih banyak dari biasanya...



Saya dan keluarga memang sudah merencanakan pergi ke Rumah Kelahiran Bung Hatta ini. Selain karena belum pernah ke sana, saya kira anak-anak perlu diisi memorinya dengan Sang Proklamator.



Pada papan nama di depan rumah, disebutkan bahwa rumah itu dibangun Pemko Bukittinggi bekerja sama dengan Universitas Bung Hatta dan diresmikan pada 12 Agustus 1995 oleh Menteri Negeri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Azwar Anas,




Si Tata yang baru bisa menulis, saya suruh menuliskan namanya di buku tamu. Dengan senang hati ia menulis baik-baik di buku itu. Kami lalu masuk ke rumah itu. Sebenarnya saat masih di teras, terdapat satu kamar berukuran kecil saja, memuat satu tempat tidur bujangan dan sebuah lemari kecil. Kamar itu disebut Kamar Bujang dan saya kira, itu kamar itu pemuda yang ditugaskan menjaga rumah.



Memasuki rumah itu, saya serasa kembali ke masa lampau. Ruangan segi empat cukup luas terhampar di depan mata. Ruang ini disekat dengan perabotan sehingga menjadi ruang tamu dan ruang makan. Kursi-kursi kayu di ruang tamunya dulu pernah saya lihat di rumah Pak Tuo (kakek saya).




Di dindingnya terdapat lukisan besar Bung Hatta. Ia seorang yang kharismatik. Ada juga ranji keluarga dari pihak ayah dan ibu Bung Hatta.



Ruangan besar itu diapit empat kamar di sisi kiri dan kanannya. Kamar-kamar itu milik mamak-mamak (paman/adik laki-laki ibu) Bung Hatta, salah satunya Mamak Saleh. Di dalamnya terdapat tempat tidur besi yang disebut kero. Di salah satu kamar, kami lihat terdapat sumur tua yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi.





Lurus dari arah pintu masuk, kita melihat jendela-jendela menuju halaman belakang. Ada taman kecil antara rumah induk dan paviliun. Dan selayaknya rumah-rumah yang kaya zaman dulu, rumah ini juga memiliki gudang padi berbentuk segi empat dengan atap runcing-runcing seperti atap rumah adat Minangkabau. Gudang padi itu terdapat di sisi kiri rumah induk.



Selain meja makan untuk tamu, terdapat lagi meja makan di ruangan kecil di bawah tangga, di bagian belakang rumah. Saya kira itu ruang makan untuk para pekerja. Kami menaiki tangga berbentuk L dan sampai di teras kecil di lantai dua. Ada bunga-bunga ditata elok di pinggir teras.



Ruang atas sama bentuknya dengan ruangan di lantai dasar. Kamar tempat Bung Hatta dilahirkan, ada di lantai ini. Terdapat pula kamar untuk pak gaeknya (saya kurang pasti, apakah pak gaek berarti kakek atau pak de?).



Di paviliunnya, berderet satu kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang bendi. Sedangkan di sisi kanan rumah, terdapat kandang kuda. Konon Bung Hatta kecil diantar dengan bendi ini ke sekolah semasa kecilnya.



Kunjungan ini cukup menyenangkan. Banyak turis yang datang. Di buku tamu tertera, mereka datang tidak saja dari seputaran Sumatera Barat, melainkan juga dari negeri tetangga dan negeri-negeri yang jauh lainnya. Sayangnya, hobi kita meminta sumbangan ala kadarnya, tetap tak terelakkan di tempat ini. Klenengan tempat para pengunjung dapat meninggalkan recehan mereka, disediakan di pintu masuk. Entah untuk siapa dana itu.



Saya kira, kalau memang pemerintah serius dan sungguh-sungguh ingin melestarikan peninggalan orang besar seperti Bung Hatta, jangan lecehkan dia dengan meminta seribu dua ribu dari pengunjung untuk alasan apapun (biasanya sih dengan alasan untuk parkir atau menggaji petugas kebersihan).



Seharusnya ada dana yang pantas untuk para pekerja yang telah menjadikan tempat itu layak untuk dikunjungi, sehingga tak ada lagi dalih mencari dana tambahan dengan menyediakan kotak amal itu. Kalau memang ingin memungut biaya masuk, lakukan secara resmi. Lagi pula, mencari dana toh bisa dilakukan dengan menjual souvenir dan sebagainya? Tentulah orang Minang yang dasarnya pedagang, punya banyak akal untuk mencari uang...

Ternyata Belajar Berenang itu Gampang

Berawal dari pesta kejutan untuk merayakan ulang tahun salah seorang gurunya di MDA pada 16 Mei silam, Rara dan kawan-kawan diajak berenang oleh si Ibu Guru ke Kolam Renang Nila, di Jalan Puyuh, Pekanbaru, sepekan kemudian (Minggu, 22 Mei 2011).


Sebelumnya kami hanya pergi ‘bermain air’ di Taman Kaca Mayang, di Jalan Jenderal Sudirman. Kolamnya hanya sebatas pinggang si Tata, kecil dan penuh sesak oleh anak-anak. Tiket masuk hanya Rp2.000.

Kolam Renang Nila mematok harga tiket masuk Rp7.000 perkepala. Aku ikut bersama Tata dalam rombongan ini. Dan selagi Rara dan teman-temannya bermain air, aku mengajarkan si Tata berenang.

Kami masuk ke kolam yang dalamnya selututku. Wajah Tata sumringah. Pelampung kuning sewaan, terlihat di sampingnya. ”Ayo belajar berenang!” ajakku.

Aku mengingat-ingat kembali pelajaran seorang guru les renang yang dulu sempat mengajarkanku teori berenang di Kolam Renang Teratai, di Padang. Oh, itu sudah puluhan tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku SMP, kalau tidak salah.


”Sandarkan tubuh ke dinding, tumpukan satu telapak kaki ke sana, lalu ambil posisi seperti sedang rukuk,” katanya. Setelah mengambil napas dalam-dalam dan menahannya di paru-paru, dorong tubuh dengan sebelah kaki yang ditumpukan itu, sehingga tubuh meluncur di air. Gerakkan kaki dari pangkal paha, bukan dari betis. Insya Allah, itu sudah separuh jalan dari yang namanya berenang.

Aku instruksikan si Tata untuk melakukan gerakan-gerakan itu. Ia masih takut-takut memasukkan kepalanya ke air. ”Nggak pa-pa Ta, kan ada Mama,” kataku berusaha menenangkannya. Aku berdiri kira-kira dua langkah dari tempat ia berdiri.

Ia pun memberanikan diri mempraktekkan teori itu. Setelah beberapa kali mencoba, berkali-kali kemasukan air di mulut, bisa juga ia meluncur. Setelah itu, kami meningkatkan pelajaran dengan menggerakkan tangan. Berhasil! Sekarang Tata sudah dapat berenang hingga jarak kira-kira empat meter tanpa mengambil napas.



Belajar sendiri


By the way (hehehe...) sebenarnya aku juga belum bisa berenang, walaupun teorinya sudah di luar kepala. Setelah Tata berani dilepas sendiri, aku memberanikan diri untuk mencoba teori renang itu. Ternyata butuh keberanian ekstra bagi makhluk darat seperti aku untuk memasukkan kepala ke dalam air. Perasaan akan tenggelam demikian kuat, padahal kenyataannya itu kolam cuma sepaha! Tapi karena malu sama anak dan umur, aku beranikan juga mencobanya. Alhamdulillah, setelah menelan air kaporit berkali-kali, hidung sakit dan telinga berbunyi seperti gendang, bisa juga aku meluncur.

Ternyata ini pelajaran yang mengasyikkan!

Si Rara, patut diancungi jempol karena sekali diajarkan, langsung berani mencoba teori renangku dan sukses. Ia memang lebih berani dari aku dalam segala hal terkait berenang ini. Walaupun belum bisa berenang pada hari pertama kami pergi itu, ia tetap masuk ke kolam yang lebih dalam, kira-kira sebatas telinganya. Kolam itu hanya dibatasi teralis dengan kolam tempat aku dan Tata belajar.



Nyaris Tenggelam

Tergoda untuk mencoba (kan sudah bisa meluncur, ;-D) aku ikut masuk ke kolam yang lebih dalam itu. Tapi buat jaga-jaga, pelampung kecil si Tata, aku bawa serta. Ternyata, begitu aku masuk dengan pelampung di tangan, kakiku tidak berhasil mencapai dasar kolam itu! Kepanikan langsung menyerangku. Pelampung itu kekecilan untuk ukuran tubuhku sehingga tidak berhasil aku masukkan dengan sempurna ke dalam tubuh. Pelampung itu menyangkut di leher, dengan posisi sebelah tangan masuk hingga ke bawah ketiak, sebelah lagi tidak. Dapat dibayangkan bukan?

Aku mencoba menggerakkan tangan, mengayuh maksudnya, dengan tujuan tepi kolam. Tapi kok malah semakin jauh ke tengah?

”Tata... ternyata kolamnya dalaam.... Mama takut!” kataku. Tata langsung pucat pasi. Cepat ia keluar dari kolam kecil itu, mengulurkan tangan ke arahku dan mulai menangis ketakutan.

”Jangan nangis Ta, ini Mama lagi usaha supaya bisa ke pinggir,” kataku. Aku sudah tak berani lagi mencari dasar kolam dengan kakiku. Waktu itu memang aku belum tahu seberapa dalam kolam itu sebenarnya. Aku juga tidak berani mengayuhkan tangan, takut malah makin ke tengah. Akhirnya aku diam saja, membiarkan air itu mengombang-ambingkanku hingga akhirnya semakin ke pinggir.

Cepat Tata mengulurkan tangan kembali dan meraih tanganku. Ditariknya aku ke pinggir dan aku benar-benar bernapas lega ketika akhirnya berhasil keluar dari sana. Tata memelukku dengan mata berkaca-kaca. ”Mama... Tata takut Mama tenggelam,” katanya lirih. Kami berpelukan.

Setelah menenangkan diri sejenak, kami lalu mencoba nyali ke kolam yang lebih dalam untuk ukuran Tata, yaitu hingga ke dadanya. Sama seperti tadi, awalnya dia takut-takut. Aku katakan, selagi ia menahan napas, maka ia tidak akan tenggelam.

”Lihat pelampung ini Ta. Dia tidak tenggelam karena ada udara di dalamnya. Begitu juga tubuh kita, selagi kita menahan napas di paru-paru kita, kita tidak akan tenggelam. Oke?”

Aku mengambil posisi, menunggu dia mulai belajar berenang lagi. Ia menentukan sejauh mana aku boleh berdiri dan tidak boleh berajak dari situ hingga ia datang. ”Jangan mundur ya Ma.”

”Ya!”

”Janji?”

”Janji.”

”Tunjuk Allah!” tantangnya.

Aku menunjuk langit. Dan itu adegan yang berkali-kali terjadi sepanjang sejarah kami belajar berenang. Sebentar-sebentar ia menyuruhku menunjuk Allah, tanda bahwa aku tidak akan berbohong dan tetap berada di posisiku hingga ia datang. Sesekali, kalau dia lupa menyuruh tunjuk Allah, aku geser kaki ke belakang, hihihi...

Kami keluar dari kolam pukul 12.00 WIB. Kulit kami langsung menghitam. Si Tata bahkan mencetak model baju renangnya di punggungnya. Si Rara tidak ada perubahan karena baju renangnya berlengan panjang. Hanya wajahnya yang kian gelap. Tapi kami santai saja. Tidak masalah kulit hitam, asal ada hasilnya. Seperti kata Kak Roma, boleh begadang asal ada perlunya, hahaha!

Sejak Minggu itu, tidak ada hari lain yang lebih ditunggu anak-anak selain Hari Minggu. Tiada Minggu yang terlewati tanpa berenang setengah hari di Kolam Renang Nila. Acara itu terinterupsi karena karena kami pergi ke Sumbar pada libur panjang lalu.

Minggu ketiga, si Papa yang kami desak untuk ikut bergabung dan mengajarkan cara mengambil napas, akhirnya mau datang. Ia mengancungkan jempol sepekan sebelumnya saat mampir untuk melihat perkembangan kemampuan berenang kami. Jadi pada minggu ke tiga, ia turun tangan mengajarkan cara mengambil napas. Rara dengan cepat menangkap pelajaran. Sekarang ia bisa berenang gaya dada. Bisa mengambil napas dengan sukses dan mampu berenang sejauh lebar kolam yang kedalamannya hingga telinganya.

Sedangkan aku, butuh beberapa menit mengumpulkan keberanian yang terserak-serak sepanjang perjalanan dari rumah ke kolam itu, dan butuh beberapa kali mengambil napas panjang, sebelum akhirnya mencoba berenang, lalu mengambil napas di tengah perjalanan. Aku perhatikan, aku berhasil mengambil napas kalau kepala dimiringkan ke kiri. Sedangkan si Rara berhasil mengambil napas bila wajah menghadap ke depan. Si Papa bisa keduanya. Si Tata, tak berani keduanya.

Tapi Tata berani masuk ke kolam dalam, menyelam selama ia mampu menahan napas dan berenang dalam jarak tiga hingga empat meter.
Lupa pakai sunblock, ini jadinya kulit punggung si Tata setelah beberapa kali berenang.



Aku melengkapi diri dengan penutup hidung dan telinga. Entah bagaimana, tanpa kedua alat bantu itu, aku gampang sekali kemasukan air ke telinga dan hidungku. Sedangkan si Tata dan Rara, santai saja. Tak pernah punya masalah dengan hidung dan telinganya.



Aku mengajarkan anak orang lain berenang

Sampai sekarang, kami sudah tujuh kali datang ke kolam itu. Kemampuan kami terus meningkat. Rara bahkan berani loncat ke dalam kolam, sementara aku tidak. Rara juga selalu menang kalau adu cepat dengan aku.

Dan sepanjang ingatanku, beberapa anak ikut aku ajar berenang. Ada anak yang datang bersama ibunya, seumuran dengan Tata. Ia duduk di pinggir kolam sendirian, sementara ibunya yang sudah tua, duduk di kursi pengunjung. Tapi ia berani mendekatiku dan minta diajarkan berenang. Dengan senang hati aku ajarkan. Si Tata sampai cemburu melihat keakraban kami, hihihi...

Pekan kemarin, seorang ibu menyuruh anaknya yang duduk di bangku kelas 1 SMP belajar berenang dengan Tata yang baru kelas 1 SD. Mungkin ia takjub melihat si Tata yang dengan berani meloncat ke kolam, lalu langsung berenang dan sekalian belajar mengambil napas. Kakaknya, entah kelas berapa, ikut minta diajarkan. Alhamdulillah, keduanya bisa minimal meluncur beberapa meter sebagai langkah awal. Tentu saja pakai teori renangku.

Pekan kemarin juga, aku mulai memaksa Tata belajar mengambil napas. Seperti yang sudah-sudah, ini hanya perkara keberanian melakukan sesuatu yang tidak biasa kita kerjakan. Ia merengek mengatakan tidak bisa. Rupanya ia sudah cukup puas bisa berenang tanpa mengambil napas. Tapi aku katakan, kalau ia bisa mengambil napas, maka ia bisa aku lepas berenang dari ujung ke ujung, di kolam renang yang dalam. Itu tak membuatnya tertarik. Akhirnya aku pakai jurus terakhir, kalau dia tidak belajar hari itu, berarti minggu depan ia akan ditinggal. Dia menurut mendengar ini. Sekali dua kali, ia cukup berani, tapi menurutku masih belum sempurna. Tapi paling tidak, ia sudah berani mencoba sesuatu yang ditakutinya selama ini.

Pekan kemarin juga, Rara menjajal kemampuan mengapung di air dalam posisi telentang. Awalnya aku lihat ada seorang perempuan yang dengan gaya mengapung di tengah kolam. ”Lihat Rara! Orang itu bisa mengapung!” seruku.

Rara mencoba dan berhasil. Sekarang ia yang bergaya di depanku, mengapung dengan santai.

Jadi, sekarang, kalau ditanya, apakah aku bisa berenang, aku menjawab, bisa! Ada yang aku ajarkan caranya? Datang saja ke kolam renang itu, kami ada di sana setiap Minggu pagi, hingga masuk Ramadhan nanti.***

Rabu, 02 November 2011

Beasiswa Pemprov Riau Akhirnya Diumumkan

Puluhan mahasiswa, Rabu (2/11) siang mendatangi Gedung Wanita di Jalan Diponegoro, Pekanbaru, untuk melihat pengumuman nama-nama penerima dana bantuan pendidikan dari Pemerintah Provinsi Riau.
Kerumunan para mahasiswa sedang memperhatikan pengumuman yang ditempel di Gedung Wanita. Foto diambil oleh Andika, fotografer Harian vokal, Rabu (2/11/11) sekira pukul 15.00

Pengumuman ini telah mengalami dua kali pengunduran dari jadwal semula. Awalnya Biro Kesra Setdaprov Riau mengatakan akan mengumumkannya pada akhir Oktober, namun kemudian diganti menjadi tanggal 2 November. Hinga Selasa (1/11) sore, Kepala Biro Kesra Alimuddin dikabarkan masih mencari Gubernur Riau untuk menandatangani berkas penerima beasiswa itu, sebelum ditempelkan di papan pengumuman di Gedung Wanita.
Saat dilihat pagi kemarin, sekira pukul sepuluh, Gedung Wanita masih sepi. Tidak ada keramaian yang menyolok, walaupun satu dua orang terlihat datang dan pergi. Petugas Satpol PP yang bertugas di gedung itu Riko, mengatakan, sejak pagi sudah sekitar 20-an orang yang datang untuk melihat pengumuman itu. Namun mereka kecewa karena ternyata pengumuman itu tidak ada.
"Tadi ada yang ngomong, pengumumannya dialihkan ke Kantor Gubernur," katanya. Sementara di Kantor Gubernur, khususnya di Biro Kesra, ditempel pula pengumuman bahwa pengumuman penerima beasiswa itu akan dilakukan di Gedung Wanita.
Seorang mahasiswa Unri enggan menyebutkan namanya, mengatakan, mendapat informasi bahwa pengumuman itu akan ditempelkan pukul dua siang itu.
Kepala Biro Kesra Alimuddin, usai rapat dengan Sekdaprov Riau, membenarkan bahwa pengumuman itu akan dilakukan siang hari itu. "Siang nanti akan diumumkan di Gedung Wanita, cek saja ke sana," katanya.
Sayangnya ia tidak dapat menyebutkan berapa jumlah mahasiswa, baik dari jenjang pendidikan Strata Satu maupun Strata Dua, yang menerimanya. "Saya tidak hafal berapa jumlahnya," katanya.
Alimuddin juga mengatakan, pengumuman dilakukan di Gedung Wanita, sementara pencairan dananya dilakukan hari ini (3/11) di Biro Kesra Setdaprov Riau.
Sebelumnya dikatakan oleh Kepala Sub Bagian (kasubag) Pendidikan Biro Kesra Setdaprov Riau Fakhrul Chacha, dari 3.044 proposal mahasiswa Strata Satu yang mengajukan beasiswa, hanya 775 proposal yang disetujui mendapatkan bantuan. Masing-masing mahasiswa menerima bantuan antara Rp1,5-2,5 juta, tergantung universitasnya.
Sementara untuk jenjang pendidikan Strata Dua dan Tiga, telah masuk 1.161 proposal dan yang diluluskan hanya 573 proposal. ***

Doa dalam Sebuah Nama

Kata Nabi Muhammad SAW, dalam nama itu ada doa. Maka orangtua diseru untuk memberi anaknya nama-nama yang indah. Harapannya, kelak nama itu akan menjadi kenyataan dalam diri si anak. Kita tentu pernah mendengar nama yang terkesan sangat 'kuat', seperti Tegar, Bangkit, Jaya, Suci dan sebagainya.
Tidak hanya manusia yang diberi nama. Bangunan-bangunan penting juga diberi nama. Seperti gedung sembilan lantai di samping Kantor Gubernur Riau, diberi nama Menara Lancang Kuning. Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau yang representatif itu diberi nama Soeman Hs, pusat kegiatan seni dan budaya diberi nama Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai) sedangkan tempat perhelatan seni budaya yang dicanangkan sebagai salah satu ikon Kota Pekanbaru di Bandar Serai itu diberi nama Anjung Seni Idrus Tintin.
Jalan, tugu, pohon, semua diberi nama. Jalan yang dulu bernama Harapan Raya, sekarang benar-benar sudah 'raya'. Dalam KBBI, raya berarti besar (terbatas pemakaiannya); alam (jagat) --; badak --; hari --; jalan --; purnama --; rimba --;
me·ra·ya·kan v memuliakan (memperingati, memestakan) hari raya (peristiwa penting): ~ Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia; ~ hari lahir; pe·ra·ya·an n pesta (keramaian dsb) untuk merayakan suatu peristiwa. Jadi Jalan Harapan Raya mungkin lebih kurang berarti jalan harapan atau jalan yang diharapkan akan menjadi jalan besar.
Sekarang, lihatlah Jalan Harapan Raya itu. Di sepanjang jalan itu bertaburan rumah toko yang ramai pengunjung. Berbagai benda dijual di sepanjang jalan itu. Wisata kuliner malam hari di jalan itu juga cukup menggairahkan. Berbagai rumah makan dan warung-warung tenda pinggir jalan, selalu ramai pengunjung.
Pertanyaannya, mengapa ada nama daerah di Duri Air Jamban? Apakah sejarah besar di balik nama itu, hingga diberi nama Air Jamban dan tak ada yang terpikir untuk menggantinya? Saya mencari-cari di kamus online, arti jamban, ternyata ini yang saya dapat; jamban adalah tempat buang air, kakus, tandas, peturasan.
Penasaran, saya cari lagi di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berharap akan menemukan pengertian lain dari jamban, supaya saya tidak berpikir negatif. Ternyata sama saja. Dan bila kita meyakini bahwa Bahasa Indonesia merupakan 'sumbangan' dari orang-orang Melayu untuk negeri bernama Indonesia ini, maka bisa jadi dalam bahasa Melayu pun jamban tidak jauh beda pengertiannya.
Lalu mengapa ada daerah yang diberi nama Air Jamban? Doa apa yang diharapkan orang-orang yang menyebut daerah itu dengan nama itu?
Masih ada lagi daerah di Duri yang menurut saya perlu di-rename. Daerah itu bernama Simpang Pokok Jengkol. Apa karena di sana dulu entah kapan, banyak pokok jengkol? Mengapa sekarang tidak kita tanam saja di sekitar persimpangan itu pohon akasia, sehingga nanti kita sebut kawasan itu Simpang Akasia?
Ada lagi di daerah Rumbai sebuah persimpangan jalan yang membingungkan para pengemudi sehingga dinamakan Simpang Bingung. Memang bingung kalau lewat sana, kemana harus membelok yang tidak melanggar rambu-rambu. Karena membingungkan itulah, beberapa ruas jalan di simpang itu diportal, sehingga tidak bisa lagi dilewati.
Sebagai provinsi yang kehidupan masyarakatnya dikatakan masih sangat kental dengan budaya Melayu dan ajaran Islam, mungkin sudah saatnya kita memikir ulang tentang nama-nama yang ada di daerah ini. Mari kita cari nama-nama yang bernilai rasa positif, penuh semangat dan mencerminkan kemelayuannya.

Senin, 13 Juni 2011

Safari Masjid

Safari Masjid

Menikmati libur panjangku, aku dan anak-anak sering membuat rencana bersama. Salah-satu yang kami sukai adalah pergi salat ke masjid. Safari masjid. Jadi, kami menjelajahi masjid-masjid yang menarik perhatian mereka.
Masjid Ikhlas di dekat rumah, tentu yang paling sering didatangi. Bila cuaca memungkinkan dan anak-anak dapat menyiapkan diri sesegera mungkin, maka kami akan pergi ke masjid yang agak jauh. Seperti pekan lalu, kami sempat mengunjungi Masjid An Namirah di Jalan Tuanku Tambusai II, tepatnya di dekat Mal SKA.
Masjid itu, terasa khas. Saat menyusuri jalan di depan masjid yang seperti lorong karena di kiri kananya berdiri deretan ruko, saya serasa sedang berada di lorong-lorong di depan Masjid Nabawi, Madinah.
Arsitektur masjid ini sepertinya juga mirip dengan Masjid Nabawi. Empat tiangnya yang tinggi, sangat menyolok dari kejauhan. Masjid ini berada dalam satu komplek dan selepas Isya, pintu pagar komplek itu ditutup.
Masjid ini bersih, menentramkan hati dan tidak panas, karena langit-langitnya cukup tinggi. Pintu masuk untuk jamaah perempuan dan laki-laki dibedakan dan antara kedua jamaah itu dipasang tirai yang benar-benar menutup akses. Saya nyaris tidak melihat siapa imam yang memimpin salat hari itu dan berapa shaf laki-laki yang terisi. Namun yang pasti, di tempat jamaah perempuan, sedikit sekali. Pemandangan ini berbeda bila tiba waktu Salat Jumat. Kendaraan roda dua dan empat yang parkir melimpah hingga ke pinggir jalan raya. Tidak jarang pula ruas jalan di depannya macet karena berdempetnya kendaraan yang parkir di sana.
Kami melaksanakan Salat Magrib dan Isya di sana. Setelah itu, Tata belajar sekilas Iqra'-nya. Ia angin-anginan. Sebentar saja sudah minta izin main tongkat dingin denga kakaknya di luar masjid. Saya sendiri menikmati suasana yang tenang itu dengan membaca Surat Ar Rahman dan Al Waqi'ah (ingat pesan mertua, hehehe...).
Saat kami datang, perkiraanku, hanya sekitar sepuluh orang jamaah perempuan yang ikut salat. Namun setelah itu, silih berganti orang berdatangan, saya kira mereka para karyawan yang baru pulang kerja. Dan ketika waktu Isya tiba, tinggal empat perempuan dewasa yang ikut salat berjamaah, ditambah dua anakku.

Masjid Fatimah
Kali lain, kami pergi ke Masjid Fatimah yang terdapat di Komplek Paus Flower Residence. Karena lumayan jauh, kami berangkat lebih awal. Kami masuk lewat Jalan Duyung yang mulus dan lurus saja hingga ke ujung.
Masjid ini, konon dibangun oleh developer Paus Flower Residence. Fatimah adalah nama ibu si pemilik tanah, yang memang berpesan agar dibangunkan masjid yang representatif di komplek itu. Saya agak terkesan dengan kompleks itu karena dulu sempat ke sana untuk survey rumah dengan si Tata. Kami naik motor berdua lalu melihat-lihat rumah yang sebagian baru dibangun itu.
Rumahnya kecil dengan sisa tanah juga kecil. Harganya sungguh tak terjangkau kantong kami, Rp265 juta untuk type 36. Tapi saat itupun masjidnya sudah siap. Di situlah letak keunggulan komplek ini, sarana umumnya disiapkan duluan sebelum rumah-rumah dibangun. Masjidnya full AC, bersih dan tenang. Halamannya luas, diberi paving blok dan tanaman pelindung yang mulai meninggi di kiri kanannya.
Kini di sana sudah ramai. Namun saat kami datang, jamaah perempuan hanya tiga orang dewasa, plus saya, serta tiga orang anak kecil (dua di antaranya tentu anak-anakku). Tiga orang dewasa itu, hanya dua yang datang dari komplek itu sedang yang satu lagi agaknya musafir karena jalur itu merupakan jalur alternatif dari Jalan Tuanku Tambusai menuju Arifin Achmad, selain Jalan Paus dan Soekarno-Hatta yang macet.
Jamaah laki-laki tidak terlihat. Yang berkesan bagi dan aku Rara saat shalat di sana, bacaan imamnya sangat jelas saat membaca Al Fatihah dan surat pendek. Enak mendengar imamnya memimpin shalat.
Selesai shalat, kami tidak menunggu waktu Isya dan langsung pulang. Beberapa pria kami lihat segera mengambil tempat di sebuah sudut teras, sepertinya akan memulai diskusi di sana.

Masjid Agung An Nur
Kamis, 26 Mei, kami pergi ke Masjid Agung An Nur. Anak-anak sebenarnya sudah akrab dengan masjid ini. Hari Minggu pagi, kami sering ke sana untuk olah raga. Hari Kamis itu, kami melihat banyak ibu-ibu yang duduk bergerombol, berbuka puasa. Hal ini menimbulkan ide si Rara.
"Bagaimana kalau Kamis depan tanggal 2 Juni, kan libur tuh, kita puasa lalu berbuka di Masjid An Nur?" Matanya berbinar.
Kami setuju. Tapi aku langsung pasang syarat, bagi siapa yang tidak penuh shalatnya, (sebenarnya ini lebih ditujukan kepada si Tata), maka ia tidak akan dibangunkan sahur. "Iyela, iyela..." katanya.
Sejak hari itu, anak-anak jadi lebih bersemangat menjalani hidup. Mereka patuh disuruh membereskan kamar, menyusun sepatu, melipat kain, bangun pagi, dan lain-lain. Si Tata juga tak susah lagi disuruh salat.
Si Rara tiap sebentar mengingatkan, "Ingat Hari Kamis!" serunya sebelum pergi MDA. "Jangan lupa Hari Kamis!" serunya kali lain dari dalam mobil saat berangkat sekolah.
Kami menyiapkan acara itu sebaik mungkin. Terutama aku, sehari sebelumnya sudah siap. Alarm disetel pukul empat pagi. Subuh buta itu, aku masakkan empat potong ayam goreng buat sahur kami berikut sayur bayam. Tak lupa masing-masing satu cangkir kopi. Aku pikir, bolehlah mereka nonton Dora The Explorer pukul lima, selesai Salat Subuh, sebagai hadiah.
Anak-anak senang bisa menonton Dora. Biasanya pagi-pagi remote tivi dikuasai si papa. Sering terjadi perebutan antara si papa dengan Tata. Yang satu ingin tahu perkembangan dunia paling mutakhir, yang satu ingin tahu perkembangan Spongebob Squarepants. Sementara televisi di rumah kami cuma satu. Hari itu si Tata dan kakaknya menang telak. Mereka puas nonton semua film anak-anak sejak pukul lima hingga pagi.
Siangnya, aku bilang, sebaiknya mereka istirahat, kalau bisa tidur, agar nanti saat berbuka puasa kembali bugar. Tapi mungkin karena pengaruh kopi atau mereka keasyikan main, tidak ada yang mau tidur siang. Bahkan aku yang ingin istirahatpun, diganggu hingga tidur siangku jadi batal.
Aku siapkan bagar buat lauk berbuka. Itu adalah sejenis makanan asam pedas daging, tapi bumbu-bumbunya ditumis dulu dan diberi sedikit kayu manis, cengkeh, dan beberapa bumbu lainnya, sehingga aromanya sangat khas. Anak-anak suka bagar itu.
Pukul setengah lima, aku memasak nasi yang kebetulan sudah habis. Anak-anak bersiap-siap. Dan ternyata apa yang aku khawatirkan, terjadi juga. Si Tata kecapekan dan segera tertidur di kursi. Tangannya masih memegang sisir.
Khawatir akan terjadi sesuatu kalau kami bertiga nekat naik motor, maka si Papa turun tangan mengantarkan pakai mobil. Tujuan pertama, Restoran Ikan Bakar Pak Ndut di Jalan Jenderal Achmad Yani, beli cah kangkung kesukaan anak-anak. Seporsi harganya Rp10.000.
Setelah itu, kami mampir ke Jalan Tjut Nja' Dhien, beli sop buah pesanan Rara dan kolak dingin buat si Tata yang sejak digendong ke dalam mobil, tetap tidak mau bangun.

Tata Seperti Sekarat
Kami tiba di halaman Masjid Agung An Nur saat pelantang masjid itu mengumandangkan ayat-ayat suci Al Quran. Si Tata masih belum bisa dibangunkan. Ia terpaksa hampir dipapah ke dalam masjid di lantai dua. Elevator tidak nyala, terpaksalah ia berjalan dengan tertatih-tatih. Aku prihatin melihatnya. Seperti orang sekarat. Mata sayu, suara nyaris tak terdengar dan ia sedikit menggigil.
"Mama... boleh minum sekarang?" rengeknya.
"Sabar Sayang, sebentar lagi ya. Dengar tuh, sudah terdengar orang mengaji, artinya sebentar lagi adzan. Rugi dong Tata..." bujukku.


Dipegangnya air mineral dengan tangan lemah dan wajah kuyu. Rara membelai punggung adiknya. Dan akhirnya adzanpun berkumandang. Semua menyantap jatah masing-masing, sop buah dan kolding. Kami lalu Shalat Maghrib berjamaah. Usai shalat, kami pergi ke halaman masjid, membentangkan selimut tua sebagai tikar, lalu mengeluarkan bekal. Tata kembali 'hidup' berkat kolding itu, dan siap untuk memulai pertengkaran dengan kakaknya, hehehe...
Mereka menyantap makan malam itu dengan lahap. Si Tata riang gembira menikmati bagar yang disebutnya 'daging lunak'. Tadi sore, Si Rara yang aku tugaskan mengisi rantang dengan nasi. Ia ternyata tidak memasukkan cukup banyak nasi. Untung aku mengantisipasi dengan melebihkan jatah nasiku, sehingga saat mereka ingin nambah, aku bisa membaginya sementara punya sendiri masih cukup mengenyangkan.


Dari masjid, terdengar ceramah agama dari seorang ustad. Judulnya sih 'Orang yang berhak menerima zakat', tapi perkiraanku, nyaris 70 persen waktu yang disediakan untuk ceramah itu, digunakan untuk membahas tentang sejarah LDII dan menegaskan bahwa organisasi itu sesat. Apaan seeeh?

Usai makan, kami menunggu waktu Shalat Isya masuk. Usai shalat, si Papa datang menjemput dan kami pulang dengan gembira. Kataku di mobil, lain kali, kalau waktu memungkinkan, boleh juga sekali-sekali mencoba shalat di Masjid Raya dekat Pasar Bawah. Anak-anak langsung memandang antusias.
"Aaa.. mantap tu Ma!" seru Rara. Baiklah, nanti kita carikan hari baiknya....

Rabu, 27 April 2011

Memburu 'Aset' Malinda di Siak

Bengkalis Journey Part 4


Saya senang sekali menulis bagian ke empat ini, karena sejak kemarin sudah tau judulnya. Simak ya!
Begitu sampai di Sungai Pakning, kota lama yang berpenduduk heterogen, Melayu, Batak, Minang dan Tionghoa itu, kami langsung tancap gas ke Pekanbaru.
Tak sempat mampir kemana-mana, semacam toko buah atau apa, buat mencari oleh-oleh. Tak ada yang berminat untuk menenteng sesuatu buat orang rumah kayaknya nih!
Kami mampir di salah satu masjid di dekat situ. Dan Bang Hasan terkurung di wc-nya. Konon kabarnya, Adit harus menggunakan jurus silatnya untuk membuka pintu wc demi Redpel kami itu. Kalau Beliau terkurung di sana, jauh juga kami para redaktur meng-ACC halaman, hahaha....
Sebenarnya jalur yang dilalui masih yang itu juga. Tapi karena tidak ada rambu-rambu, kami masih juga perlu nanya sana-sini. Sekali waktu di daerah Teluk Mesjid, mobil kami melaju kencang di jalan mulus, lalu belok kiri dengan yakin, yang ternyata menuju sebuah jembatan. Miriplah dengan jembatan Perawang. Tapi ternyata bukan. Itu jembatan Teluk masjid yang bahkan belum tersambung kedua sisinya.
Untung Bang Haspian bisa mengendalikan mobil sehingga kami tak 'mengejar' jembatan yang belum siap itu. Sempat kami PD abis meneruskan perjalanan melalui jembatan itu, alamat aku menulis catatan perjalanan ini dari alam barzah...
Kami bertanya lagi pada orang di pertigaan itu dan dibilang, terus saja, jangan belok. Di ujung jalan, ada lagi pertigaan dan kami kebingungan lagi. Tak ada rambu. Berbekal ingatan (untung tidak ada yang amnesia), kami mengambil jalur kanan dan alhamdulillah, tidak salah.
Sekitar pukul dua siang, kami sampai di Siak dan makan siang di rumah makan Tanjung Alam. Rumah makan itu sederhana dan murah. Makanannya enak sehingga banyak yang datang ke sana. Kami mengambil satu pondok di halaman rumah makan itu.
Nyaris terjadi pertumpahan darah antara Mas Eko dengan Bang Hasan yang berebut kepala ikan gabus. Mas Eko yang menang. Dan untuk mengobati 'hati yang luka', Bang Hasan berkali-kali mengatakan sebenarnya dia yang mau memakan kepala gabus itu.
Itu dia kepala gabus yang jadi rebutan dua lelaki


Menu spesial di rumah makan ini adalah siput gulai. Ada teorinya memakan siput ini. Sedot ujungnya, lalu pangkalnya. "Cobalah, bisa itu," kata Bang Hasan.

Lomba Ncut
Mas Eko menyebutnya 'ncut-ncut'. Pembicaraan berterusan tentang ncut-ncut ini. Sampai-sampai muncul ide brillian untuk menggelar 'Lomba Ncut'. Karena belum pernah ada yang mengadakan, khayalan jadi lebih jauh melambung, bisa didaftarkan ke buku rekor MURI! Bang Hasan langsung menyambar, "Aku yang menang pasti. Dari kecil ini aja makanan aku nih."
"O nggak, bisa. Mas Hasan jadi juri aja. Ini khusus buat anak-anak," Pak Gatot cepat menyadarkan sang Redpel dari mimpinya masuk MURI.
Aku sudah membayangkan ikut lomba ncut ini. Si Tata dan Rara nanti dibujuk aja agar mau aku wakilkan. Hadiah bolehlah dibagi tiga.
Melihat kami makan dengan lahap (la iyalah, secara ini sudah pukul dua siang), Pak Gatot mengingatkan, "Jangan banyak-banyak makannya, siapkan perut buat duren. Duren Siak ini terkenal enak dan tebal lo. Kita cari yang sebesar 'asetnya' Malinda Dee."
Wah, seru nih! Maka kamipun meneruskan perjalanan ke Pekanbaru sambil nengok kiri kanan dengan siaga, mencari-cari 'aset' itu. Sempat ketemu dua pedagang yang menggantungkan dagangannya di pinggir jalan. Ukuran lebih kurang sama dengan yang kita bayangkan bersama. Tapi harganya, buseeet, Rp60 ribu! Tak mau kurang satu senpun!
"Biasa itu, harga duren disesuaikan dengan APBD Siak," kata Bang Haspian di belakang kemudi. Oh, gitu rupanya. APBD Siak memang rruar biasa besarnya. Kabupaten ini punya perusahaan minyak, macam mana tak kaya? Kalau Bengkalis punya sumur minyak, Siak punya perusahaannya. Sejak otonomi daerah, Siak berkembang sangat pesat. Siak yan semula hanya sebuah kecamatan tak penting di Kabapaten Bengkalis, dulu cuma terdiri dari Istana Siak dan beberapa rumah penduduk di sekitarnya. Saya ingat beberapa tahun yang lalu ke Siak dengan speedboat, keliling kota itu hanya bisa dilakukan dengan becak. Belum banyak kendaraan di sana dan jalan-jalan sedang dibangun. Jembatan Sulthanah Latifah belum ada. Orang menyeberang Sungai Siak dengan sampan.
Saya ingat, bernegosiasi biaya keliling kota Siak dengan tukang becak itu. Biayanya Rp40 ribu. Ngos-ngosan dia membawaku berkeliling. Ya maklumlah, tak usah dibahas ya, membuka aib sendiri itu judulnya.
Tapi acara jalan-jalan itu hanya perlu waktu sekitar satu jam saja. Dengan becak lo, bukan mobil. Masih teringat, hutan-hutan raya ditebangi untuk membangun jalan, membuka keterisoliran.
Sekarang, Siak sudah cantik.

Oke, balik ke aset Malinda Dee. Bang Hasan gagal merayu penjual duren dan kami terpaksa meneruskan perjalanan dengan kecewa. Sepanjang jalan kami memperhatikan pinggir jalan, tapi tak ada lagi yang menjual duren.
Di Perawang, kami meminta izin pada pihak PT CPI (terima kasih buat Mbak Rinta dari Humas CPI), agar mengizinkan mobil kami melewati jalan mereka. Jalan Chevron menyingkat waktu perjalanan hingga setengah jam dari Perawang ke Pekanbaru, ketimbang lewat jalan umum. Mana jalan umum banyak yang rusak, pengguna jalan ugal-ugalan lagi. Pokoknya bahaya deh!
"Ada yang tahu jalannya? Setahu saya di jalan itu juga banyak belokan. Nanti kita malah nyasar ke Minas," kata Adit.
"Tenang," kataku, "Chevron ini lebih kaya dari Siak. Jadi mereka pasti punya dana untuk membuat rambu-rambu jalan."
Benar saja, tiga puluh menit kemudian, kami muncul di Rumbai. Huuf.. lega. Walau gagal mendapatkan 'aset' Malinda, tapi senang bisa pulang ke rumah. Anak-anak, emak klean pulaaang....! (tamat)