Kamis, 11 November 2010

Mengubah Nasib, Menambah Rezeki dalam 99 Hari dengan Otak Kanan

Buku ini menurut saya mengumpulkan semua pengetahuan kita yang ibaratnya terserak di sekeliling, namun terabaikan. Bagi saya pribadi, beberapa isi buku ini sudah saya ketahui, bahkan dipraktekkan. Namun tetap saja ketika ia dikumpulkan dalam satu kesatuan hingga menjadi sebuah buku berjudul '7 Keajaiban Rezeki', saya terperangah. Dahsyaat!

Ippho 'Right' Santosa adalah seorang marketer muda sekaligus pakar otak kanan. Dua buku terdahulunya juga meraih sukses luar biasa, bahkan ada yang mencetak rekor MURI. Buku ketiga ini, juga membuat catatan sendiri dengan cetak ulang untuk ketujuh kalinya dalam tempo empat bulan. Ya, buku ini diterbitkan pertama kali Maret 2010 silam dan hingga Juli 2010 sudah tujuh kali cetak ulang.

Tujuh keajaiban rezeki seperti diuraikan Ippho dalam bukunya, terdiri dari Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri), Sepasang Bidadari (Lingkar Keluarga), Golongan Kanan (Lingkar Diri), Simpul Perdagangan (Lingkar Sesama) Perisai Langit (Lingkar Diri), Pembeda Abadi (Lingkar Diri) dan Pelangi Ikhtiar (Lingkar Diri).

Salah satunya yang mungkin sudah kita pahami semua adalah Sepasang Bidadari. Yang dimaksud penulis di sini adalah ridha orangtua dan pasangan. Bila Anda ingin cita-cita Anda tercapai, selaraskan doa Anda dengan doa orangtua dan pasangan. Doa banyak orang akan hal yang sama tentu tidak sama kekuatannya dengan doa seorang saja, bukan? Mengenai hal ini, Ippho memberikan contoh yang tidak jauh-jauh, karena ia sendiri membuktikannya. Kita para pembaca pun mungkin pernah membuktikan betapa doa orangtua demikian ampuh mewujudkan sesuatu yang mungkin tak terpikirkan oleh kita.

Cita-cita yang dimaksud di sini, tidak melulu menyangkut karir atau pekerjaan. Ia bisa berwujud keinginan untuk melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci, memiliki rumah yang layak, penghasilan yang cukup ataupun pasangan hidup bagi yang masih lajang. Ippho mencontohkan seseorang bernama Dee, yang ingin segera menikah, namun tak memiliki kekasih. Untuk mewujudkan cita-cita itu, ia merancang undangan di template sms, membeli ranjang ukuran double, mempercantik taman di rumah, dan lain-lain. Ia menetapkan kapan impian itu akan terjadi dan memperjelas semuanya. Ini dia konkretkan dengan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar bertemu dengan jodohnya pada bulan X dan menikah pada bulan Y. Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari 6 bulan, pertemuan pada bulan X dan pernikahan pada bulan Y itu benar-benar terjadi!

"Orang-orang sering bilang, jodoh itu di tangan Tuhan. Saya bilang, 'Itu betul dan akan tetap di tangan Tuhan selagi kita tidak berusaha mengambilnya.'"

Sesuai dengan agama yang dianutnya, Ippho menggabungkan unsur religius dengan kerja keras untuk mencapai keinginan-keinginannya. Salah-satu yang mungkin seringkali luput kita lakukan selama ini adalah Shalat Dhuha 6 rakaat untuk membuka rezeki. Rezeki juga dapat 'dipancing' dengan banyak-banyak bersedekah. Bukankah Allah sudah menjanjikan balasan yang berlipat ganda dengan bersedekah? Tentu kita sudah sering membuktikan bahwa sedekah tak pernah membuat orang jadi jatuh miskin.

Sisanya yang enam lagi, silakan dibaca sendiri dalam buku mega best seller ini. Buku ini, saya rekomendasikan untuk Anda miliki. Ya, bukan saja dibaca, tapi dimiliki. Anda tidak akan rugi. Gaya bertutur Ippho yang masih tergolong muda, cukup komunikatif, sedikit 'slebor' menurut saya, tapi enak dan segar. Buku ini juga menyinggung tentang potensi otak kanan yang luar biasa dan bagaimana orang-orang yang dominan otak kanannya dapat menguasai mereka yang lebih dominan otak kirinya.
Dengan memaksimalkan otak kanan, singkat kata, Anda dapat menguasai dunia! Satu yang menarik di buku ini, bagian awal dan akhirnya dipenuhi dengan testimoni para pembaca yang telah termotivasi. Jumlahnya lumayan dan pemberi testimoni berasal dari berbagai kalangan. Selamat membaca.

judul : 7 Keajaiban Rezeki
pengarang : Ippho 'Right' Santosa
penerbit : PT Elex Media Komputindo
jumlah halaman : 191
tahun terbit : 2010 (cetakan ke-7, Juli 2010)

peresensi Fitri Mayani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar