Jumat, 24 Desember 2010

Hadiah dari Anakku di Hari Ibu



Jauh-jauh hari sebelum tanggal 22, si Rara sudah tak sabar menghitung hari. Ia ingin memberi kejutan (apakah masih kejutan namanya kalau diomong-omongin gitu?). Jadi pas hari H, begini skenarionya, aku jemput ia ke sekolah, lalu kami pergi ke toko swalayan barang-barang murah meriah (biasalah, sesuai kemampuan kantongnya, of course).
"Nanti Mama tunggu aja di luar ya, biar Rara yang pilihkan hadiahnya," katanya.
Aku setuju. Adiknya ikut masuk ke dalam toko. Aku menunggu di luar, mencari tempat berteduh dari teriknya matahari. Ini sudah pukul 12 siang. Lapar, panas, fiuh...
Beberapa menit kemudian, ia muncul, malu-malu dan ragu-ragu...
"Ada apa? Buruan, panas nih!" kataku.
"Hm...Mama ngintip ya?"
"Nggak, ayo cepat aja!" kesabaran mulai turun.
"Ng...ada yang mau Rara belikan, tapi Mama sudah punya tiga...." katanya.
Apa sih yang aku punya sampai tiga biji? Aku memutar otak...apa ya? Panci? Gelas? Piring? Itu semua lebih dari tiga yang kami punya. Tas? Ah, masak ia mau membelikan tas?
"Mama, Mama, Tata boleh beli sesuatu?"
Nah, ini dia anak satu lagi. Tak tau emaknya lagi mikir, langsung aja main todong! Pikiranku yang sedang menjelajahi seisi rumah, mencari barang-barang milik pribadiku yang jumlahnya tiga, jadi buyar.
Lalu Rara menawarkan solusi, "Atau Mama pilih aja salah satu, nanti Rara yang bayar," katanya.
"Memang apa yang Rara mau belikan?" aku penasaran.
"Dompet," ia malu-malu.
Eh, ternyata aku memang punya tiga dompet. Satu aku beli di Pasar Bawah, terbuat dari kulit, sebesar telapak tangan, sangat elastis dan tidak menyesak di dalam kantong. Satu lagi hadiah dari kakak ipar, pas mau Lebaran kemarin, yang sekarang selalu aku pakai karena punya tiga bagian berbeda di dalamnya. Dan yang terakhir, dompet kecil tempat aku menaruh hp, sedikit uang,untuk keperluan pergi ke warung beli cabe atau kerupuk atau mie instan, dll.
Akupun masuk dan mulai berkeliling. Karena akan Natal, toko itu dipenuhi pernak-pernik Natal. Aneka rupa. Dan aku berhenti di counter aneka jam dinding. Di kamar Rara yang biasa kami gunakan untuk leyeh-leyeh siang hari, belum ada jamnya. Jadilah aku pilih itu sebagai hadiah Hari Ibu. Harganya Rp20 ribu dan Rara membayarkannya.
Dan si Tata, tak mau kalah juga mau membeli sesuatu. Tapi tentu saja bukan untukku, melainkan untuk dirinya sendiri. Maka ia pun menenteng pulang satu telepon mainan yang berbunyi kalau dipencet tombol-tombolnya. Padahal mainan sejenis kalau tak salah sudah tiga atau empat kali dibeli di waktu-waktu yang lalu. Entah dimana kini bangkai-bangkainya.
Sesampai di rumah, jam itu kami pasang. Bunyinya lumayan...Oh ya, dompet yang semula akan dihadiahkan Rara untukku, tetap dibeli, tapi untuk dia. Melihat gambar boneka Hello Kitty di luarnya dan warnanya yang pink, maklumlah kita, siapa sebenarnya yang ingin memiliki dompet itu. Hm...
Selamat Hari Ibu Yani....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar