Senin, 03 Januari 2011

Puasa dan Cobaannya



Hari ini, Senin (3/1/11), kami sekeluarga sepakat untuk berpuasa. Jadi malam sebelumnya, aku kebagian repotnya. Nasi yang sudah habis, mesti dimasak. Demikian pula lauknya. Beruntung beberapa hari sebelumnya aku melakukan tindakan cerdas (hehehe...) membumbui ayam sehingga sekarang tinggal digoreng supaya warnanya tidak terlalu pucat. Malam ini, sekitar pukul setengah sebelas malam, sepulang dari kantor, aku memulai persiapan puasa besok pagi.
Ketika pukul empat kurang 10 menit alarm di hp-ku berbunyi, aku cepat bangun dan membangunkan semua anggota keluarga. Tata merengek, mengatakan, iya, ia akan bangun, tapi tunggu sebentar. Rara tak menyahut, hanya menggeliat sedikit.
Aku duluan makan sendiri. Setelah itu kembali membangunkan kedua gadis kecilku. Syukur tak perlu lama proses membangunkan ini, karena keduanya sejak sehari sebelumnya sudah berniat akan puasa hari ini. Tapi di meja makan, Tata merengek minta disuapi. Aku sedang enggan. Untung cepat dapat ide.
Hahaha...
Dengan senang hati aku mencari di dasar mangkuk, tempat ayam goreng ditaruh. Di sana, ada usus ayam goreng. "Kalau kalian mau makan sendiri, Mama kasih hadiah," kataku sambil tersenyum senang. Dua potong usus itu aku taruh di piring mereka masing-masing.
Iya, sejak beberapa waktu lalu usus goreng itu memang selalu jadi rebutan. Kegemaran makan usus itu dimulai oleh si Abang yang selalu mencari usus kalau kami sedang memasak ayam. Tak peduli digoreng atau digulai, usus selalu ditanya, mana dia? Sekali waktu, si Rara iseng mencoba memakannya dan ternyata ia suka. Lalu adiknya yang suka meniru dan tak mau kalah, juga ikut-ikutan suka.
Setelah itu, datanglah zaman berebut usus ayam. Kalau makanan baru diletakkan di atas meja dan semua sudah berkumpul untuk makan, salah seorang dari mereka akan memproklamirkan, bahwa usus ayam itu miliknya. Yang terlambat, terpaksa gigit jari.
Nah, tadi malam, sebelum menggoreng usus itu, aku sudah memotongnya jadi dua sehingga tak ada lagi perebutan usus di pagi buta ini. Anak-anak makan dengan senang hati jatah masing-masing. Si Abang memilih hanya minum air putih untuk sahurnya.
Hari ini sebenarnya mereka sudah mulai masuk sekolah. Tapi aku bilang,
tak usah datang dulu, karena biasanya mereka hanya sekolah sebentar saja, lalu pulang. Daripada berlelah-lelah, lebih baik mereka di rumah saja agar energi tak terbuang, sementara mereka sedang puasa. Demikian pula dengan Rara, karena ia sekolah siang, hari pertama ini biasanya ia datang pagi-pagi ke sekolah, hanya untuk berlari kesana kemari dengan teman-temannya, tidak bisa masuk ke kelas karena semua sedang dipakai oleh murid-murid yang memang masuk pagi (satu hal yang menjengkelkan aku sebagai orangtua).
Aku masih ingat dulu ia mengatakan sudah letih bermain di luar kelas, hilir mudik tak tentu arah, di hari pertama sekolah, sementara gurunya entah kemana. Datang sejak pukul tujuh pagi, daftar pelajaran untuk satu sementer ke depan baru didapat sekitar pukul setengah sebelas siang. Selama itu, ia dan kawan-kawannya hanya nongkrong di koridor sekolah, lalu jajan ke kantin, lari sana lari sini... Sungguh tidak efektif waktu yang terbuang. Dan saya heran dengan kebijakan pihak sekolah untuk menyuruh anak-anak datang pagi semua, sementara kelas tak mencukupi.
Belajar dari pengalaman itu, sekalian aku larang saja mereka pergi sekolah di hari pertama ini. Daftar pelajaran toh bisa ditanya pada teman.
Sekitar pukul sepuluh pagi, Rara memperlihatkan satu geraham atasnya yang sudah demikian goyah, tinggal ditarik sedikit saja pasti sudah lepas. Aku bilang, biar aku yang tarik supaya lepas. Melihat kondisinya, aku yakin dalam sekali hentakan kecil, geraham itu sudah lepas. Tapi ia masih takut-takut. Adiknya yang berdiri di
sampingnya memperhatikan, ikut jadi ngeri. Dan saat geraham itu benar-benar berhasil aku cabut, si Tata menangis.
"Kamu yang cabut gigi kok dia yang nangis?" tanyaku sama Rara. Kami tertawa. Tata menelungkupkan wajahnya ke kasur, menangis.
"Ma, nanti kalau umur Tata sudah 9 seperti kakak..."
Kalimat tak sudah itu terus yang diulang-ulangnya, sehingga aku melanjutkan dengan tak sabar, "Kalau kamu umurnya 9 tahun kakak jadi 5 tahun!"
Si Rara kembali ngakak.
"Bukaaan...maksud Tata, kalau Tata umurnya sudah 9, apa nanti giginya juga harus dicabut?"
"Iya, kalau ada yang goyah..."
"Aaa.... Tata gak mau doo...sakiiiit!"
"Jadi Tata mau umurnya 5 terus? Sekolahnya TK terus? Kamu mau, nanti temanmu si Lopez sudah kuliah, kamu tetap di TK itu, mewarnai dan main ayunan?"
Rara terpingkal-pingkal.
"Tidaaaak...." ia menjerit.
"Kalau begitu, terima resikonya. Jadi besar berarti akan ada gigi yang goyah, lalu dicabut, lalu tumbuh gigi baru yang lebih kuat. Kalau tak dicabut, justru malah jadi jelek, karena nanti tumbuh gigi yang baru, berdempet-dempet dengan gigi lama yang tak jadi dicabut. Tak apa-apa, sakit sikit biasa. Lihat kakak, santai aja

giginya baru dicabut, kenapa kamu yang nangis
Ia malu-malu. Aku dan Rara senyum-senyum geli.
Sepulang dari kantor sore itu, aku pergi mencari roti jala pesanan Rara untuk berbuka puasa nanti. Sementara adiknya minta dibuatkan nasi goreng. Jadi begitu sampai di rumah, roti jala dihidangkan di atas meja, lalu nasi goreng disiapkan di dapur. Anak-anak menghambur ke luar rumah, pergi main. Saat pelantang dari masjid menyuarakan rekaman orang mengaji, mereka baru pulang.
"Sudah siap nasi gorengnya?" tanya Tata.
"Belum Nak, sebentar lagi ya. Ayo siap-siap dulu, bantu Mama menyiapkan mejanya. Tolong bawakan piring dan gelas ya!"
Keduanya lalu membantuku. Kemudian kami bertiga menunggu adzan dikumandangkan. Biasanya di rumah kami itu, adzan terdengar bertalu-talu. Entah dari masjid mana, dinding-dinding ruko di sepanjang Jalan Tuanku Tambusai, memantulkan suara adzan hingga sangat jelas terdengar di rumah kami. Dan ketika akhirnya suara yang dinanti-nanti itu datang, kamipun berbuka puasa dengan nikmat.
Rara sudah hafal doa berbuka puasa sedangkan Tata sudah lupa. Setelah
aku pandu, ia langsung melahap nasi gorengnya. Sampai lupa minum air putih!
"Tata, air putih pun terasa nikmat kalau kita lagi puasa," kataku.
Ia menjangkau gelasnya dan meneguk isinya. Katanya kemudian, "Iya!"
Aku tidak makan nasi, hanya roti jala, lalu Shalat Maghrib duluan. Selagi
aku berzikir usai shalat, Tata datang menghampiri dengan wajah kekenyangan. "Mama, ennnak nasi goreng Mama. Tata kenyang sekali. Makasih ya Ma!"
Satu kecupan mendarat di pipiku. Alhamdulillah...
Oh ya, si Abang pulang telat, sehingga ia melewati pesta kami (lagi...).

Minggu, 02 Januari 2011

My Special Old n New Moment






Jumat (31/12) diawali dengan menyetrika sebagian pakaian, beres-beres rumah, memasak
dan mencuci. Makanan harus tersaji pukul sembilan, agar semua anggota keluarga bisa sarapan bersama. Semua pakaian kotor hari itu harus siap dicuci dan itu berarti anak-anak harus segera mandi pagi. Semua sudah harus beres pada pukul setengah sepuluh pagi, karena pukul sepuluh aku ada janji khusus membahas future big project (FB Project) bersama beberapa teman dekat.
Jadi, seperti biasa, ruar biasa sibuknya aku pagi itu. Begitu makanan terhidang, semua makan dan aku membagi tugas yang tersisa pada Rara dan Tata, yaitu memasukkan pakaian yang sudah disetrika ke dalam lemari masing-masing (Rara n Tata), menyusun sepatu semua orang ke raknya (Tata), menyiram bunga (Rara), membereskan kamar (Rara n Tata) dan membereskan buku, majalah dan puzzle (Tata).
Pukul sepuluh lewat lima menit, FB Project dimulai. How nice to meet the people who have same idea dan spirit with me. Sebenarnya FB Project usai pukul 12, tapi ternyata tanpa terasa kami terus hingga satu jam ke depan. Setelah itu, aku menelepon saudara yang akan berkunjung ke rumah. To make sure. Setelah dapat kepastian bahwa rombongan yang sedang liburan ini benar akan datang selepas Magrib, akupun meluncur mencari makanan. Ya, mereka akan makan malam di rumah.
Sembari mengendara, aku berpikir, enaknya nanti sore makan apa ya, mpek-mpek atau buah? Mpek-mpek sudah sering dimakan, terutama sejak adikku Yessi punya langganan mpek-mpek dari Palembang asli dan ia biasa royal membeli. Kalau tidak satu kardus, ya setengahnya. Segala macam jenis mpek-mpek, termasuk yang seperti bakwan, ada.
Tiba-tiba aku teringat roti jala, makanan khas Riau yang biasa dimakan dengan kare kambing atau kuah durian. Mungkin saudara-saudaraku dari Padang dan Solok Selatan, belum pernah mencicipinya. Baiklah, aku akan beli itu saja. Di belakang Kantor Gubernur, pedagang aneka makanan mulai dari lontong, kolding (kolak dingin) durian, sop buah, roti jala dan lain-lain, menjajakan makanan mereka cukup di dalam mobil. Caranya, mobil diparkir di pinggir jalan, pintu belakang dibuka, barang dagangan ditata dalam wadah yang lumayan besar dan pengunjung boleh memilih. Sebagian pedagang menyediakan bangku-bangku plastik bagi pembeli yang ingin makan di tempat.
Sejak beberapa tahun lalu Jalan Tjut Nyak Dien di belakang Kantor Gubernur itu, telah menjadi kawasan wisata kuliner makanan khas ini. Ada puluhan pedagang bermobil yang parkir di situ. Dan sejak beberapa bulan lalu, sebagian pedagang mulai menyebar ke jalan di samping Bank Indonesia.
Siang itu saya sedikit pesimis, masihkah ada yang berjualan di sana? Adakah makanan yang saya cari? Ini sudah lewat tengah hari, jalanan mulai sepi karena besok liburan. Sebagian orang mungkin hanya masuk kantor setengah hari. Para pedagang mungkin sudah mengantisipasi ini. Sejak dari pedagang pertama yang menjual sop buah, saya pelankan motor dan membaca satu demi satu spanduk para pedagang itu. Ada kolding, kolding, es buah, sop buah, lontong. Satu unit sedan tampak sepi dan sepertinya semua dagangannya hari itu telah habis. Spanduknya bertuliskan aneka makanan, termasuk roti jala kuah durian. Tapi mana orangnya nih? Sedikit kecewa, saya meneruskan perjalanan dan ternyata tak jauh dari sana, ada Pak Haji yang jualan roti jala kuah durian itu.
Lumayan, satu porsi harganya Rp7 ribu. Memang agak mahal, tapi sebanding dengan rasanya. Sebagai penyuka roti jala, baik yang dimakan dengan kare maupun kuah durian, setahuku makanan ini memang tidak pernah dijual murah.
Aku segera pulang dan memasak nasi dan lauk. Rara membantu menyiapkan piring, gelas dan mangkuk. Juga bolak-balik ke toko dekat rumah membeli tissu dan lain sebagainya, sesuai instruksiku. Sembari beres-beres, datang telpon dari kepala rombongan bahwa mereka sebentar lagi akan datang. Berarti tidak nanti malam, tapi sore. Jadilah aku semakin sibuk.
Ketika akhirnya rombongan ini datang, aku senang, semua makan dengan lahap. Bahkan mengatakan makanannya enak. Termasuk roti jalanya. Semua ludes. Alhamdulillah. Menjelang Magrib, semua pergi lagi. Kami tinggal berempat lagi.
Kami Shalat Magrib berjamaah dan si Abang memberikan kultum terakhirnya sepanjang 2010 ini. Sasaran tembak sang sniper adalah Rara, yang disuruh membuat resolusi untuk mengerjakan shalat tepat waktu, terutama Subuh, yang harus dikerjakan sebelum terbit matahari.
Setelah itu, kami masuk ke kamar dan aku bersama dua gadis kecilku, memulai acara old and new kami. Memasang henna. Tau kan. Itu hiasan di telapak dan punggung tangan, biasa dipakai para wanita Arab dan India, saat akan menjadi pengantin. Yang pertama dihias adalah aku dan Rara membantuku. Lalu Rara dan Tata. Setelah dipasang, henna harus didiamkan dulu beberapa saat hingga benar-benar kering, agar warnanya menyerap ke dalam kulit.
Tata seperti biasa, tak sabar melihat hasilnya. Jadi sebelum benar-benar kering, ia sudah lari ke kamar mandi dan mencuci tangannya. Ternyata hanya membayang sedikit saja, dan keesokan harinya sudah nyaris tak ada. Sedang aku, tak lama kemudian tertidur pulas karena kecapekan.
Keesokan harinya, semua kecuali aku, bangun kesiangan. Si pengusul dan pemilik resolusi, Shalat Subuh berjamaah setelah terbit matahari. Pelanggaran pertama, beberapa jam saja setelah resolusi itu dibuat...

Jumat, 24 Desember 2010

Tak Ada yang tak Mungkin bagi Allah


Saat ujian mid semester lalu, Rara jatuh sakit. Sehari setelah ujian, ia merasa pusing dan suhu tubuhnya meninggi. Hari Selasa, ia tidak masuk sekolah. Ia tetap berada di ranjang dengan suhu tubuh di atas normal. Hari Rabu, setelah minum obat penurun panas, plus ditempeli daun jarak (ini pengobatan tradisional yang terbukti ampuh menarik panas dari tubuh seseorang), suhu tubuhnya turun sebentar, lalu naik lagi. Hingga akhirnya musim ujian berakhir, ia masih terbaring di tempat tidur.
Ujian susulan kemudian terpaksa ia jalani. Dan kami semua dapat memaklumi nilai-nilainya terjun bebas di bawah standar. Ada 4, 5, 6 dalam buku rapornya. "Jangan marah ya Ma," katanya.
Aku saat itu sedang membuka komputer, surfing. Kukatakan, ia dapat mengubah nilainya menjadi jauh lebih baik, asalkan ia rajin belajar dan tidak lupa berdoa pada Allah. Kukatakan padanya, ia terlahir bukan sebagai anak idiot. Ia cerdas dan hanya perlu banyak latihan. Bahkan orang-orang yang semasa kecilnya pernah dicap bodoh pun, berkat ketekunannya, bisa mengubah dunia.
"Einstein itu dulu pernah diusir dari kelas oleh gurunya karena dianggap terlalu lambat menangkap pelajaran. Tapi berkat didikan ibunya, ia berhasil meraih hadiah Nobel. Dan itu bukan sembarang hadiah," kataku.
Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh. "Berdoalah pada Tuhan. Tidak ada yang tak mungkin bagi Allah. Allah bisa membuat apa saja. Lebih lebih dari tukang sulap manapun. Lihat tsunami, ia membuat orang kaya jatuh miskin dalam hitungan detik. Kalau Allah bisa membuat kita miskin dalam hitungan detik, Ia pun dapat membuat kita jadi kaya dalam hitungan detik. Demikian juga dengan pintar. Allah pasti bisa membuat kita jadi pintar, asalkan kita selalu berusaha dan berdoa padanya. Allah sudah berjanji, 'mintalah padaKu, PASTI Aku akan memberikannya'. Itu janji Allah dan itu PASTI dapat dipercaya. Masa minta aja gak mau?"
Diam-diam, akupun memanjatkan doa demi kesuksesannya. Selama ini doanya umum dan standar saja, sekarang lebih spesifik. Sejak pembicaraan kami itu, aku melihat ada perubahan Rara. Ia tak perlu dipaksa lagi untuk belajar. Ia mulai tertib belajar pada malam hari sesuai jadwal yang aku berikan. Ia juga mulai rajin bertanya padaku bila ada hal-hal yang tidak diketahuinya. Bila kami sama-sama tidak mengetahui jawabannya, dengan senang hati kami mencarinya di Google. Dari dia aku mengetahui ada pola hubungan antar hewan selain simbiosis mutualisme, yaitu simbiosis komensalisme (satu untung satu tak rugi) dan simbiosis parasitisme (satu untung satu rugi).
Aku mulai mengulang kembali pelajaran Arab Melayu dan berpacu dengannya membaca tulisan tanpa baris (apa ini yang disebut Arab gundul?). Ia mengajarkan padaku metode membagi bilangan prima yang rasanya tak pernah kupelajari dulu. Ia mengingatkan kembali skala di peta, letak Tenggara, Barat Daya, Barat Laut dan Timur Laut, sungai terpanjang di Indonesia, kota penghasil minyak bumi, kabupaten tempat Candi Muara Takus, dan sebagainya.
Beberapa pekan menjelang ujiang semester, ia bertanya, bolehkah ia memiliki handphone Nexian seharga Rp300 ribu sebagai hadiah nilai di rapornya? Aku tanya, rangking berapa targetnya? Berapa kira-kira ia sanggup? Dia memutar-mutar bola matanya. "Hm...enam," jawabnya kemudian.
"Oke, Mama akan membelikan Nexian bila kamu bisa dapat rangking 6."
"Kalau enam setengah?"
Apa benar ada rangking enam setengah?
"Tak ada cerita!"
Ia mengkerut, lalu pergi. Musim ujianpun tiba. Ia mulai sibuk belajar. Kami pelajari
kembali bab per bab. Kami memperhatikan dengan lebih serius bagian yang tak dimengertinya. Mengerjakan semua latihan, memperkirakan soal-soal yang akan muncul, dan lain sebagainya. Sering saat aku pulang dari kantor sekira pukul setengah sebelas malam, kulihat ia tertidur dengan buku pelajaran terbuka di sampingnya. Aku juga selalu mengingatkan ia untuk tidak meninggalkan shalat dan berdoa secara khusus. Bahkan ia minta dibangunkan untuk Shalat Tahajud dan bila sempat sebelum pergi ke sekolah, mengerjakan 6 rakaat Shalat Dhuha. Sehabis Shalat Maghrib berjamaah, ia membaca Ar Rasyid 100 kali.
Ketika tiba hari penerimaan rapor, aku dan dia sama berdebarnya. "Jantung Rara
serasa mau copot," katanya. Aku mengerjakan Shalat Dhuha 6 rakaat dulu sebelum berangkat dan Rara memasang nazar, shalat sunat dua rakaat bila berhasil mencapai rangking 6.
Kami pergi dengan motorku ke sekolahnya. Si Tata ikut pula. Sepanjang jalan aku berdoa, semoga harapannya tercapai. Ia telah melakukan segala syarat untuk mencapainya. Dan sebenarnya aku juga berdoa, semoga darahku tidak langsung naik bila melihat hasil usahanya tidak sesuai target.
Kami masuk ke kelasnya. Ia mencarikan aku duduk di depan sementara ia sendiri duduk di belakangku. Wali kelasnya sedang melayani seorang bapak. Si anak, teman sekelas Rara, tampak cemberut. Bapak itu tampak geleng-geleng kepala. Lalu Rara dipanggil. Aku ikut maju. Buku rapor dibentangkan di atas meja dan guru itu menerangkan isinya. Ia mengatakan semua pelajaran tuntas dan nilai-nilai Rara di atas target. Selain itu, ia mengatakan, Rara sering sakit kepala di kelas, lalu tertidur. Aku katakan, mungkin ia kelelahan, karena paginya harus sekolah di madrasah diniyah awaliyah (MDA).
Bahkan MDA itu lebih duluan menggelar ujian semester ketimbang sekolah negeri. Kami melihat rangkingnya. Tertulis di situ VI (enam). Aku dan Rara saling berpandangan dengan mata terbelalak dan senyum lebar.
Alhamdulillah!
Namun bukan itu yang membuatku haru. Saat kami pergi ke parkiran, kata-kata pertama yang terlontar dari mulutnya terkait rangking itu adalah, "Ternyata tak ada yang tak mungkin bagi Allah." Kata-kata yang dulu pernah aku ucapkan, yang saat ini tak teringat lagi, namun masih terang benderang dalam ingatannya. Ia tak menepuk dada, itu semua berkat kerja kerasnya, tapi Allah, hanya Allah yang dipujinya....I am proud of you Sweety, always....

Ayo Membatik Bersama Dekranasda Riau



Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Riau, turut berpartisipasi dalam Riau Women Ekspo dengan membuka stand aneka hasil batik Riau dan kerajinan lainnya. Selain itu, dibuka pula kursus kilat cara membatik, di salah satu stand di sisi kiri arena pameran kerajinan.
Sabtu (18/12) sore, saat saya dan anak-anak berkunjung, sebenarnya kami tidak tahu kalau di situ ada kursus membatik juga. Saat mengunjungi stand Dekranasda Riau, kami bertemu Ibu Lely yang memberitahu dengan senang hati, "Di samping kiri ada kursus membatik lo.Kalau mau belajar membatik seperti Michelle Obama, bisa." Anak-anakku langsung berdiri antenanya. Sebenarnya aku juga. Tapi aku masih harus pergi ke stand-stand lain untuk bahan tulisanku. Jadi aku abaikan dulu keinginan mereka. Tapi kiranya itu tak berhasil. Selagi ada kesempatan bersuara, selalu itu yang dikatakan anak-anak itu, kapan kita pergi ke tempat belajar membatik? Mengalahlah emaknya ini. Apa boleh buat deh.
Sebenarnya saat tiba di stand itu, aku serahkan saja keduanya pada dua orang penjaga stand, sementara aku sendiri langsung menyeberang ke depan stand itu, mengunjungi stand bunga-bunga cantik ijo royo-royo menarik hati. Sayangnya harganya nauzubillahiminzalik..pending, pending.....
Aku putar haluan, kembali ke stand kursus membatik itu. Di sana terlihat dua pembatik Dekranasda Riau Nuh dan Siti, sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membatik. Lima kompor kecil, kuali kecil, canting, lilin khusus batik, dan keperluan membatik lainnya, diletakkan di tiga stand yang dijadikan satu, sehingga terkesan luas. Para pengunjung yang ingin tahu cara membatik, dapat belajar di sini dan dikenakan biaya murah, hanya Rp7 ribu.
Nuh (perempuan dan sebenarnya bernama Nur, tapi karena salah tulis, jadilah ia Nuh) lulusan SMKN 4 Pekanbaru, mendampingi Rara dan Tata dan menerangkan cara memegang dasar kain yang telah digambar dengan pensil, cara memegang canting dan cara melukis dengan cairan lilin khusus di permukaan kain itu.
"Kainnya harus dipegang dengan posisi miring, supaya lilinnya tidak menumpuk di satu titik. Jangan mengambil cairan lilinnya terlalu banyak, karena ia gampang dingin dan membeku," katanya.
Permata (Tata) dan kakaknya Lira (Rara), mendengarkan dengan seksama dan memperhatikan baik-baik cara Nuh membatik. Sepertinya mudah dan mereka mulai memegang canting masing-masing. Cairan diambil, sedikit saja, lalu ditempelkan ke pinggiran kuali kecil tempat lilin itu dipanaskan. Tujuannya, agar cairan lilin di bagian bawah canting tidak ikut terbawa, karena dapat jatuh dan mengotori kain.
Mungkin karena baru kali pertama dan tak punya persepsi apa-apa, si Kiting langsung mengambil cairan lilin agak banyak sehingga saat ujung canting menyentuh kain, lilin itu langsung keluar dari ujung canting dan membentuk sebuah bulatan.
Sementara kakaknya, Lira, berusaha sehati-hati mungkin, namun hasilnya juga tidak terlalu baik. Siti dan Nuh saling tersenyum. Dikatakan Siti, mereka sering menerima siswa bahkan mahasiswa yang ingin praktek membatik di Dekranasda Riau. Tidak sedikit siswa TK seperti Permata, yang belajar membatik. Dan sepanjang kemarin saja, sedikitnya 15 orang mengambil kursus kilat ini terdorong oleh rasa penasaran akan proses membatik itu.
Cairan lilin ini digunakan untuk memblok kain sehingga saat diberi warna, tidak tersebar kemana-mana. Jadi, kita harus memastikan bahwa lapisan lilin ini benar-benar menyerap ke dalam kain, sampai ke bagian belakang. Bila tidak, saat diberi warna, bisa menyebar ke tempat-tempat yang tidak diinginkan," terang Siti pula.
Aku memandang sepele. Sepertinya memang mudah. Tapi setelah dicoba, ampun.. memang susah. Hasil karyaku tidak lebih baik dari kedua anak kecil itu.
Ada beberapa motif bunga yang dapat dipilih para pengunjung yang ingin belajar membatik di sini. Umumnya bunganya besar-besar dan tidak terlalu banyak sehingga proses belajar ini tidak memakan waktu terlalu lama.
Setelah seluruh motif di selembar kain putih berukuran sekitar 20x20 cm itu selesai diberi cairan lilin, proses selanjutnya adalah mewarnai. Ada beberapa pilihan warna yang tersedia di sini dan pengunjung dapat memilih warna yang disukainya.
Berhubung ini hanya pengenalan proses membatik, hasil karya para pengunjung disarankan untuk tidak dipakai ataupun dicuci, karena proses mempermanenkan warna tidak dilakukan di arena RWE itu. Kata Nuh, mungkin lebih baik hasil kursus itu dibingkai saja, sebagai kenang-kenangan.
Komentar Lira setelah selesai kursus, "Ternyata membatik itu tidak gampang."
Memang, dan wajar bila batik handmade berharga mahal karena proses pembuatannya memerlukan waktu yang tidak sebentar, kesabaran yang tidak sedikit dan proses yang tidak sederhana. Membeli batik handmade sama dengan menghargai hasil karya orang lain, menghargai kebudayaan bangsa sendiri, sekaligus menghargai manusia yang bergelut di bidang ini. (Fitri Mayani)

Kenali Dosa Anda Mengelola Keuangan


Judul : 5 "Dosa" dalam Mengelola Keuangan
Pengarang : Stephanus Rudi Ok
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun terbit : 2010
Jumlah halaman : 98

Buku ini mengupas lima 'dosa' yang kita lakukan tanpa sadar dalam mengelola keuangan sehingga berdampak pada perekonomian. Dosa pertama adalah memaknai income yang telah diperoleh maupun yang sedang dikejar menjadi sangat penting dan segala-galanya dalam hidup.
Dosa kedua adalah kesalahan dalam mengelola penghasilan dan pengeluaran. Berapa besar yang mampu Anda hasilkan saat ini, sebagian besar adalah hak masa depan Anda, karena tidak seorang pun berencana untuk gagal tetapi seringkali orang gagal dalam membuat rencana. Kiat yang ditawarkan penulis dalam buku ini adalah, menentukan periode belanja kebutuhan rumah tangga dari sebulan sekali menjadi 2,3, atau 4 kali sebulan, sehingga tak perlu terlalu banyak menyetok barang di rumah. Pilihlah barang dengan kualitas baik meskipun dari segi harga sedikit lebih mahal, khususnya untuk barang-barang yang jarang dipakai atau dikonsumsi. Pilihlah harga yang lebih ekonomis untuk barang yang sering dikonsumsi, tentunya dengan kualitas yang sama dan hindarkan terpancang pada merek tertentu saja.
Dosa ketiga adalah tidak mengelola keuangan lebih dini untuk mempersiapkan masa pensiun saat kita berada pada usia produktif. Hal ini perlu dilakukan karena pemerintah tidak menjamin peningkatan kesejahteraan pascapensiun, jaminan sosial yang diselenggarakan pemerintah masih merupakan alat pelengkap, tak tersedianya fasiliats umum yang memadai untuk para lansia, meningkatnya biaya hidup dari tahun ke tahun, ketidakpastian kondisi perekonomian dan finansial di masa mendatang dan kondisi fisik dan produktivitas yang semakin menurun dari waktu ke waktu.
Dosa keempat adalah kesalahan membuat keputusan investasi. Sebagian orang berinvestasi hanya untuk mengejar hasil yang luar biasa tanpa mempertimbangkan resiko yang bakal terjadi. Di buku ini penulis memberikan beberapa contoh yang dapat dipelajari pembaca.
Dosa kelima adalah buruknya hubungan vertikal dengan Tuhan. Apa yang kita raih hari ini sudah pasti adalah pemberian dari Tuhan juga. Penemu teknologi telekomunikasi Alexander Graham Bell, mengatakan, "Kekuatan apa ini tidak dapat kukatakan, yang kutahau adalah bahwa ini ada dan menjadi nyata hanya bila seseorang berada di titik dimana ia mengetahui apa yang diinginkannya dan bertekad untuk tidak berhenti sampai ia menemukannya."
Buku petunjuk ini cukup lumayan untuk dibaca, karena kiat-kiat mengelola keuangan yang disampaikannya terasa mudah dijalankan. Hanya sayang, beberapa ilustrasi yang diberikan, kurang dibahas panjang, sehingga pembaca bisa terseret dalam pemahaman yang beragam dan bisa jadi itu tidak sesuai dengan keinginan sang penulis. Selain itu, ada beberapa kesalahan tulis di buku yang terasa mengganggu. Baru pada paragraf ketiga di halaman 2 (dalam istilah saya, seperti pengantin baru berbuat kesalahan di masa bulan madu), sudah muncul salah tulis. Selain itu, ada lagi kesalahan penggunaan tanda kutip dua ("), yang seharusnya hanya digunakan untuk menuliskan kutipan kalimat langsung. Dalam buku ini, penulis menggunakannya juga untuk memberi penegasan pada kata-kata yang menurutnya layak mendapat perhatian pembaca, seperti "status diterima" dan beberapa contoh lainnya, judul seminar yang sudah dicetak miring (italic) namun juga diberi tanda kutip dua dan lainnya.
Meskipun demikian, isinya patut Anda ketahui dan terapkan, agar tidak besar pasak daripada tiang.
Peresensi Fitri Mayani, penikmat buku, tinggal di Pekanbaru

Hadiah dari Anakku di Hari Ibu



Jauh-jauh hari sebelum tanggal 22, si Rara sudah tak sabar menghitung hari. Ia ingin memberi kejutan (apakah masih kejutan namanya kalau diomong-omongin gitu?). Jadi pas hari H, begini skenarionya, aku jemput ia ke sekolah, lalu kami pergi ke toko swalayan barang-barang murah meriah (biasalah, sesuai kemampuan kantongnya, of course).
"Nanti Mama tunggu aja di luar ya, biar Rara yang pilihkan hadiahnya," katanya.
Aku setuju. Adiknya ikut masuk ke dalam toko. Aku menunggu di luar, mencari tempat berteduh dari teriknya matahari. Ini sudah pukul 12 siang. Lapar, panas, fiuh...
Beberapa menit kemudian, ia muncul, malu-malu dan ragu-ragu...
"Ada apa? Buruan, panas nih!" kataku.
"Hm...Mama ngintip ya?"
"Nggak, ayo cepat aja!" kesabaran mulai turun.
"Ng...ada yang mau Rara belikan, tapi Mama sudah punya tiga...." katanya.
Apa sih yang aku punya sampai tiga biji? Aku memutar otak...apa ya? Panci? Gelas? Piring? Itu semua lebih dari tiga yang kami punya. Tas? Ah, masak ia mau membelikan tas?
"Mama, Mama, Tata boleh beli sesuatu?"
Nah, ini dia anak satu lagi. Tak tau emaknya lagi mikir, langsung aja main todong! Pikiranku yang sedang menjelajahi seisi rumah, mencari barang-barang milik pribadiku yang jumlahnya tiga, jadi buyar.
Lalu Rara menawarkan solusi, "Atau Mama pilih aja salah satu, nanti Rara yang bayar," katanya.
"Memang apa yang Rara mau belikan?" aku penasaran.
"Dompet," ia malu-malu.
Eh, ternyata aku memang punya tiga dompet. Satu aku beli di Pasar Bawah, terbuat dari kulit, sebesar telapak tangan, sangat elastis dan tidak menyesak di dalam kantong. Satu lagi hadiah dari kakak ipar, pas mau Lebaran kemarin, yang sekarang selalu aku pakai karena punya tiga bagian berbeda di dalamnya. Dan yang terakhir, dompet kecil tempat aku menaruh hp, sedikit uang,untuk keperluan pergi ke warung beli cabe atau kerupuk atau mie instan, dll.
Akupun masuk dan mulai berkeliling. Karena akan Natal, toko itu dipenuhi pernak-pernik Natal. Aneka rupa. Dan aku berhenti di counter aneka jam dinding. Di kamar Rara yang biasa kami gunakan untuk leyeh-leyeh siang hari, belum ada jamnya. Jadilah aku pilih itu sebagai hadiah Hari Ibu. Harganya Rp20 ribu dan Rara membayarkannya.
Dan si Tata, tak mau kalah juga mau membeli sesuatu. Tapi tentu saja bukan untukku, melainkan untuk dirinya sendiri. Maka ia pun menenteng pulang satu telepon mainan yang berbunyi kalau dipencet tombol-tombolnya. Padahal mainan sejenis kalau tak salah sudah tiga atau empat kali dibeli di waktu-waktu yang lalu. Entah dimana kini bangkai-bangkainya.
Sesampai di rumah, jam itu kami pasang. Bunyinya lumayan...Oh ya, dompet yang semula akan dihadiahkan Rara untukku, tetap dibeli, tapi untuk dia. Melihat gambar boneka Hello Kitty di luarnya dan warnanya yang pink, maklumlah kita, siapa sebenarnya yang ingin memiliki dompet itu. Hm...
Selamat Hari Ibu Yani....

Sabtu, 04 Desember 2010

Kisah Mata-mata Ganda Perang Dunia I Berdarah Indonesia


judul : Namaku Mata Hari
penulis : Remy Sylado
penerbit : Gramedia Pustaka Utama
tahun terbit : Oktober 2010
jumlah halaman : 559

'Aku tidak boleh menyangkal pada suara hatiku, bahwa alasan yang mendorong kemauanku untuk menjadi pelacur adalah bakat.
Jangan kaget. Memang aku berpendapat begitu. Bahwa menurut pandanganku, bakat jalang-sundal-lacur adalah, percayalah, urusan Tuhan juga, bukan hanya iblis. Sulit memisahkan wilayah Tuhan dan wilayah iblis di dalam diri manusia, kalau yang dijadikan tempat persinggahan fitrah kebajikan dan fiil kejahatan, adalah hati manusia, dan hati manusia selamanya tidak swatantra.'
Itulah penggalan novel ini di halaman 9-10. Mungkin bagi sebagian kita, sulit menerima pengakuan yang sedemikian terus-terang, apalagi bila mengingat bahwa saat itu, sang tokoh tengah menunggu masa-masa pelaksanaan hukuman mati atas dirinya, dengan tuduhan menjadi mata-mata ganda.
Ini memang kisah tentang seorang penari eksotis (demikian sebuah literatur menyebutnya) -jadi bukan erotis- bernama Mata Hari. Perempuan peranakan Belanda-Indonesia ini, sembari menari berkeliling Eropa, juga menjalankan misi mata-mata ganda, Prancis dan Jerman, pada masa Perang Dunia I. 'Bonus' yang nyaris selalu ia nikmati dari traveling seni ini adalah perselingkuhan dengan berupa-rupa lelaki kelas atas, mulai dari petinggi militer hingga pejabat pemerintahan. Walaupun akhirnya ia 'dijebak' sehingga harus menjalani hukuman mati di hadapan regu tembak, namun Mata Hari tetap dengan keyakinannya, bahwa bakat jalang-sundal-lacurnya adalah urusan Tuhan juga.
Mata Hari menjadi menarik dibaca karena penulisnya seolah menyelami jiwa kewanitaan tokoh utamanya. Tidak hanya itu, berbeda dengan novel sebelumnya tentang Mata Hari, novel ini juga mengisahkan tentang penggalan hidupnya yang jarang terekspos, yaitu ketika ia beberapa tahun menetap di Ambarawa dan Batavia, sebagai istri seorang opsir Belanda Rudolp McLeod.
Di Indonesia ia mendapatkan nama Mata Hari, khususnya dari babunya Nyai Kidhal, yang kelak diselingkuhi sang suami hingga hamil. Nama itulah yang terus dibawanya hingga mati sehingga sebagian orang melupakan nama aslinya. Di Indonesia pula, tepatnya di Candi Borobudur melalui relief-relief di dindingnya, ia mempelajari tarian-tarian yang kelak dibawakannya di benua Eropa.
Mata Hari terlahir dengan nama Margaretha Geertruida Zelle pada 1876. Di usia 14 tahun, saat pertama kali mendapatkan haid, ia telah 'mengeksplorasi' tubuhnya sedemikian dan mendapatkan kesenangan dan gagal mempertahankan keperawanan pada usia 16 tahun. Margaretha menikahi lelaki yang jauh lebih tua darinya bernama John Rudolp McLeod pada 1895. Namun setelah mendapatkan dua orang anak, Margaretha kembali ke Belanda untuk mengurus perceraiannya dengan sang suami dan mengembangkan karir sebagai penari eksotis profesional.
Pergaulannya dengan pria-pria berpengaruh, ternyata telah mendorongnya untuk terlibat dengan dunia politik dan perang. Berbagai informasi dari 'dialog bantal', demikian ia menyebut perselingkuhan itu, ternyata dapat berubah menjadi uang yang cukup menggiurkan baginya. Ya, Mata Hari menjual semua informasi yang didapatnya dari pihak Perancis ke pihak Jerman dan sebaliknya. Namun toh akhirnya ia terjebak dan harus menjalani hukuman mati di depan regu tembak.
Kisah hidup Mata Hari sendiri cukup dramatis, demikian pula kisah petualangannya di masa Perang Dunia I. Tidak heran, artis kenamaan Greta Garbo pun pernah berperan sebagai Mata Hari dalam film yang berkisah tentang tokoh mata-mata cantik ini. Bagi pembaca yang penasaran, foto-foto Mata Hari dapat dicari di mesin pencari di internet. Demikian pula dengan foto-foto Greta Garbo saat berperan sebagai Mata Hari dalam film yang diproduksi sekitar tahun 1939 lalu.
Sebagai penulis dan jelas-jelas menceritakan kisah hidup seorang pelacur, syukurnya Remy Sylado tidak terjebak untuk menulis novel ini menjadi 'kacangan' dan vulgar. Bagi saya pribadi, tak ada yang terlalu vulgar dikisahkan Remy dalam buku ini perihal 'dialog bantal' Mata Hari dengan para lelakinya.
Satu lagi yang menarik, Remy hampir selalu menyisipkan penggalan puisi di akhir setiap bab. Tak ketinggalan, buku ini juga dilengkapi foto-foto Mata Hari dalam berbagai pose. Selain itu, Remy memberikan catatan kaki tentang beberapa lokasi cerita yang bersetting awal abad ke-20, sehingga pembaca dapat memperkirakan, dimana tepatnya lokasi-lokasi yang pernah didatangi Mata Hari. Dan sebagai seorang sastrawan, Remy juga memasukkan ke dalam novel itu aneka kata-kata yang kurang lazim kita dengar sekarang ini. Mungkin ada baiknya pembaca melengkapi diri dengan Kamus Bahasa Indonesia, untuk mencari arti beberapa kata dalam novel ini. Selamat membaca.

peresensi Fitri Mayani, seorang jurnalis dan penikmat novel