Kamis, 05 Februari 2009

Menjemput Kerinduan

Kupegang tangan keriput kurus itu kian kuat. Kurasakan lututku menggigil oleh perasaan yang entah apa. Pemandangan di depanku sungguh telah menimbulkan efek yang luar biasa pada jiwa dan ragaku.
„Bapak, itu Ka’bah... Akhirnya kita sampai juga di sini. Aku ...“ aku tak sanggup lagi berkata-kata. Mulutku tercekat oleh isak yang menggumpal di kerongkongan. Kugenggam jemari Bapak kian kuat, berusaha mencari pertolongan karena kurasa tubuhku akan jatuh. Lututku masih gemetar.
Bangunan itu, tinggi besar, kuat kokoh, penuh kharisma. Terselubung oleh selimut hitam yang klasik, seolah menyembunyikan sesuatu yang amat rahasia di dalamnya. Dan di sekelilingnya, ribuan orang hanyut dalam arus putaran searah yang teratur. Seperti planet, bulan dan gemintang, berputar mengelilingi matahari. Mereka tawaf, seperti manusia-manusia di sekeliling Ka’bah itu.
Aku terpana di sana. Kehilangan kata-kata. Bahkan lupa pada serangkaian doa yang telah kupelajari sebelum perjalanan ini. Perjalanan menjemput kerinduan yang sepanjang usiaku, terus memanduku.
Kuhapus air mataku dan kulihat Bapak juga menghapus air matanya. Perlahan-lahan kami melangkah memasuki areal tawaf, di tengah Masjidil Haram yang suci itu. Lantainya terbuat dari pualam putih yang indah. Bersih, mengilap, dan dingin.
“Terasa lantainya dingin Pak?” tanyaku.
“Iya, Gadis, dingin.”
“Dan itu zam-zam! Subhanallah! Bapak mau kuambilkan segelas zam-zam?“ aku berseru. Bapak menggumam tak jelas. Tapi aku mengerti maksudnya. Kulepaskan pegangan dan berkata,“Tunggu di sini!“
Nyaris berlari, aku pergi ke deretan galon yang berisi air zam-zam. Air suci yang dijamin Allah akan terus ada, membasahi kerongkongan jamaah haji dan umrah, hingga hari terakhir umat manasia tiba.
Kuambil dua gelas plastik dan mengisinya dengan zam-zam. Penuh. Satu kuberikan pada Bapak yang masih berdiri di tempatnya. Kulihat senyum tersungging di bibir tua itu.
Kami lalu mencari Hajar Aswad, lalu mengangkat tangan, melambai ke batu surga itu, dan menyeru, bismillahi allahuakbar!
Lalu kami masuk ke dalam arus manusia. Mulutku tiada henti mengucap puji-pujian pada Allah, Tuhan semesta alam itu.“Alhamdulillah, ya Rahman, ya Rahiim, akhirnya Kau sampaikan juga niatku untuk datang ke sini bersama bapakku,“ bisikku dalam hati.
Kulihat Bapak di sampingku. Mulutnya terkatup. Kacamata hitamnya terlihat miring. Perlahan kuperbaiki posisi kaca mata itu.
„Pak, apa yang Bapak baca?“ tanyaku di telinganya yang mulai pekak.
„Tak ada,“ jawabnya singkat.
„Berzikirlah Pak, berzikir. Pujilah Allah, karena dengan izinNyalah kita dapat sampai di sini.“
„Apa yang harus kusebut?“
„Apa saja, alhamdulillah, subhanallah, allahu akbar...“
„Alhamdulillah, subhanallah, allahu akbar.“
Lalu laki-laki itu diam, menutup rapat mulutnya lagi.
„Jangan berhenti Pak, jangan berhenti..“
„O, bukan sekali saja?“
Aku menghela napas dalam-dalam, menahan bungkahan besar di rongga dada yang terasa menyesakkan.
Kami sampai di Rukun Yamani. Di sudut itu, batu Ka’bah sengaja tidak ditutupi dengan selubungnya guna memberikan kesempatan pada para jamaah untuk menyentuhnya. Kulihat orang-orang berusaha menyentuh batu itu dengan telapak tangan mereka lalu mengusapkannya ke wajah. Ada pula yang menciumnya dengan berurai air mata.
Kupegang bapak kian erat dan mulai melangkahkan kaki satu demi satu menuju batu itu. Kuulurkan tangan dan menyentuhnya. Seperti yang diperbuat orang-orang, akupun mengusapkan tanganku ke wajah. Wanginya masuk ke rongga hidung, turun ke hati, melekat dalam ingatanku, bahkan hingga hari ini.
Setelah itu susah payah kutarik bapak yang semula berada di belakangku. Kudorong tangannya ke arah depan sambil berkata, „Sentuh batu Ka’bah itu Pak, lalu usapkanlah ke wajah.“
Bapak menurut. Ia melakukannya dua kali sebelum tubuhnya yang ringkih didorong orang hingga kami berdua nyaris jatuh.
Kami lalu meneruskan tawaf hingga genap tujuh putaran. Usai melaksanakan shalat dua rakaat dan berdoa di tempat-tempat yang disebutkan dalam buku panduan, kami menuju Safa dan Marwa untuk melakukan sa’i. Ibadah ini adalah napak tilas perjuangan Siti Hajar yang berusaha mendapatkan air bagi putranya Ismail yang kehausan.
Setelah itu, kami menggunting rambut sesuai syariah. Bapak kusarankan untuk mencukur habis rambutnya yang telah memutih itu. “Tapi besok pagi saja ya Pak, sekarang kita istirahat dulu,” kataku. Kulihat waktu sudah pukul setengah tiga dinihari.
“Tak apa,” jawabnya singkat.
Kami kembali ke hotel. Bapak kuantar langsung ke dalam kamarnya. Begitu yakin bapak bisa beristirahat dan bantuanku tidak lagi diperlukan, aku masuk ke kamarku sendiri. Aku terlelap beberapa menit setelah menyentuh kasur.
Pukul empat dinihari, pintu kamarku digedor seseorang.
„Gadis, Gadis!“
Aku terbangun dan segera keluar kamar.
„Ada apa Pak?“
„Tidak ke masjid kau? Sebentar lagi subuh.“
„O ya, tunggu sebentar. Bapak sudah siap?“
„Aku bahkan sudah tahajjud di kamar.“
Aku bergegas dan tak lama kemudian kami berdua sudah dalam perjalanan menuju Masjidil Haram.
Seperti biasa, mulut lelaki itu terkatup rapat. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Kaca mata hitam masih setia bertengger di pangkal hidungnya. Aku tergelitik untuk bertanya, „Apa yang Bapak baca selama perjalanan ini?“
„Tak ada.“
„Berzikirlah Pak, berzikir. Jangan lewatkan sedetikpun tanpa mengingat Allah. Semua kelak akan dipertanggungjawabkan, termasuk setiap helaan napas kita, setiap detak jantung kita.“
„Ah, jangan kau mulai mengajari aku lagi!“
Bapak memang tidak biasa berzikir. Sepanjang hidupnya, lelaki buta huruf itu lebih banyak berdendang pantun, menceritakan kisah-kisah dari masa lalu untuk generasi abad ini. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, di sepanjang aliran Sungai Rokan. Kisah-kisah masa lalu itulah yang disebut-sebutnya sepanjang hari. Itulah yang dihapalnya.
Dan sama seperti sebagian besar lelaki paruh baya di kampung kami, dan kampung-kampung di sekitarnya, Bapak suka duduk di lepau. Para lelaki tua itu menyeruput kopi, menghisap rokok dengan nikmat, mengulang-ulang cerita usang yang sama atau menyalah-nyalahkan anak muda jaman sekarang yang tidak mereka mengerti jalan pikirannya. Mereka shalat, namun enggan mengaji. Mereka berpuasa, namun sering lupa bersedekah. Begitulah Bapak, dan sebagian besar lelaki paruh baya berpendidikan rendah di daerah itu.
Sementara itu kaum perempuan harus pandai-pandai membagi waktu antara ladang dan dapur, antara rumah dan pekarangan, antara anak dan suami. Merekalah yang sebenar-benar kepala rumah tangga. Seorang ‚perdana menteri’ yang mengatur segalanya, sementara ‚raja’ hanya duduk menjadi simbol dan menerima layanan paling istimewa.
Penghasilan Bapak amat sangat tak seberapa dari kerja sebagai tukang koba. Adalah sebuah kemustahilan baginya bisa menginjak tanah suci. Ia tak pernah membayangkan suatu hari akan sampai di sana. Ia lupa dengan kun fayakunnya Allah. Mungkin karena itu ia tak begitu yakin saat kukatakan kami berdua akan berangkat ke Tanah Suci untuk beribadah umrah.
Keprihatinanku dan ibu telah mendorong kami berdua untuk menabung sedemikian ketat agar ada uang untuk memberangkatkan bapak pergi umrah. Tidak jarang kami bertiga hanya makan dengan sebutir telur dadar. Supaya bapak tidak bertanya, kami hanya mengambil secuil, lalu bagian yang paling besar kami letakkan di piring bapak. Lelaki itu makan dengan lahapnya tanpa bertanya.
Dan kini, siapa kira, seorang tukang koba, yang kini mulai sepi panggilan untuk berdendang pantun, bisa sampai ke Tanah Suci.
„Hati-hati kau di sana, Gadis. Bersabarlah menghadapi Bapak. Engkau tahu sendiri seperti apa wataknya,“ pesan Mak sebelum kami berangkat. Mak memilih tidak ikut, menahan kerinduannya sendiri pada Ka’bah, demi bapak. Demi lelaki yang dipilihnya dengan sadar sebagai pemimpinnya dalam rumah tangga kecil yang mereka bina selama lebih dari tiga puluh tahun.
Sesungguhnya ada alasan lain yang sama-sama kami mengerti, namun tak pernah kami ucapkan. Sama-sama kami rasakan, namun tak sanggup kami lontarkan karena itu akan sangat menyakitkan.
Kini kukatakan, walau dengan berat hati, rahasia itu; Bapak tidak pernah memperlakukan Mak secara hormat. Bapak selalu berlaku bak raja di rumah kami, walaupun di luar rumah ia merendahkan dirinya sedemikian rupa untuk mengharap belas kasihan orang. Ia tidak bisa menerima petunjuk kami, ia tidak menerima perkataan kami, walaupun itu benar adanya. Ia hanya dapat menerima kebenaran dari orang lain, di luar keluarganya sendiri.
Kadang aku bertanya dalam hati, mengapa Mak mampu bertahan hingga hampir tiga puluh tahun dengan bapak? Apa istimewanya lelaki keras kepala dan kasar itu?
Kucium punggung tangan Mak di bandara, membiarkan keharuan meliputi kami. Air mata kami jatuh satu-satu. Bapak kulihat tenang-tenang saja. Dari raut wajahnya aku menduga, setakat ini ia masih belum mengerti betul apa tengah terjadi. Ia masih belum paham, perjalan apa yang akan ditempuhnya selama 11 hari ke depan. Sejauh mana ia akan pergi dari Sungai Rokan, sungai yang setia mendengarkan dendang-dendangnya selama ini. Sungai yang menjadi saksi ketunakannya pada pelestarian tradisi itu, walaupun sudah tak banyak yang menikmati.
„Doakan kami terus Mak, jangan pernah bosan, doa Mak akan sangat membantu aku dan Bapak,“ bisikku di telinga Mak.
„Oh... tak pernah aku bosan mendoakanmu Nak, juga bapakmu. Tak pernah aku bosan...“ Mak tersedu. Aku memeluk Mak kian erat.
Dan kini, kembali aku dan Bapak mengeliling Ka’bah. Bapak terus dalam perhatianku. Tangan kami tak pernah lepas. Sekali terlepas, Bapak langsung berteriak memanggilku.
Ini adalah tawaf kami yang ke tiga. Aku merasa nikmat menjalaninya. Hanyut dalam arus manusia, memuji-muji Allah, memohon, meminta, mengadu, menangis, tiada henti. Kunikmati setiap detik yang kujalani di sana. Kupandu terus Bapak agar tidak hanyut dengan pikirannya sendiri.
Hari itu, kami telah berada sejak pukul setengah tiga dinihari di Masjidil Haram. Kami tawaf begitu sampai, pengganti tahyat masjid. Usai itu masih cukup waktu bagi kami untuk melakukan berbagai macam shalat sunat. Usai Subuh, aku berniat untuk tawaf lagi, berzikir lagi sambil memandang dengan cinta Ka’bah itu.
“Mengapa kita harus tawaf lagi Gadis? Pulang sajalah ke hotel, istirahat, makan, minum, aku lapar!” kata Bapak sambil menghentikan langkahnya. Ia berdiri mematung di tempatnya.
“Sabarlah Pak, lebih baik kita di sini saja. Ada zam-zam yang bisa mengenyangkan dan menghilangkan dahaga. Bapak tunggu di sini saya ambilkan,“ bujukku. Aku teringat kisah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang kehabisan bekal perjalanan, lalu meminum zam-zam untuk mengenyangkan perutnya.
„Tidak, perutku lapar. Aku mau nasi! Pulang sajalah. Kau menyiksaku, aku lapar!“ lelaki itu mulai kasar.
Aku tak mau bertengkar karena masalah sepele, apalagi di depan Ka’bah ini. Maka kuturuti kehendak lelaki tua itu walaupun hatiku terasa perih. Kami kembali ke hotel dan menikmati sarapan. Mak, jangan pernah berhenti mendoakan agar aku tetap dalam kesabaranku, batinku.
Ternyata memang baru kami berdua yang kembali ke hotel sepagi itu. Rombongan yang lain rupanya masih ingin berlama-lama di Masjidil Haram. Kami makan dalam diam. Setelah itu, aku bertanya pada Bapak, kemana kami setelah ini.
„Aku mau tidur di kamar. Istirahat. Nanti pas Zuhur saja kita kembali ke sana.“
Kuantarkan Bapak ke kamarnya. Setelah itu, aku pergi. Tujuanku hanya satu. Aku ingin melepaskan sesak di dada ini. Tidak ada tempat lain.
Aku berjalan di antara arus manusia. Kuat kutahan sesak di dada. Kian lama kian cepat langkahku. Bahkan semakin dekat aku ke bangunan persegi hitam besar penuh kharisma itu, semakin cepat aku berjalan. Dan tanpa terasa, aku telah berlari kepadanya.
Tiba di depannya, aku tak sanggup lagi menahan sesakku. Aku jatuh tertelungkup di marmer putih itu, di depan Ka’bah, di Hijir Ismail, di antara kaki-kaki besar jamaah yang lain. Aku menangis tersedu-sedu. Air mata terasa hangat di wajahku.
„Ya, Allah, ya Rahman, ya Rahiim... hanya kepadaMu aku menyembah, dan hanya kepadaMu aku mengadu. Lihatlah aku, hambaMu yang lemah ini, yang serasa tak sanggup lagi memandu bapakku. Lihatlah aku, betapa tidak sabarnya aku menghadapi orangtuaku sendiri. Dan lihatlah bapakku, yang lebih memilih tidur di kamarnya daripada di rumahMu yang suci. Tolonglah aku, ya Allah, Tuhan yang diseru oleh seluruh alam. Tolonglah bapakku. Engkau yang paling tahu, apa yang terbaik bagi kami. Apa yang terbaik bagi bapakku. Ya Allah, apa lagi yang harus aku dan Makku lakukan, demi menolong bapak? Telah kami bawa ia ke rumahMu yang suci, demi mencari hidayahMu. Telah kami bujuk ia meninggalkan urusan dunianya, demi mendapatkan kelipatan yang berlimpah pahala setiap ibadah di Masjidil Haram ini. Bukakanlah mata hatinya, ya Tuhan yang kusembah siang dan malam, jangan Kau butakan, seperti telah Kau butakan mata fisiknya..“


Pekanbaru, 30 Juni 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar